
"Apa anda memiliki keturunan keraton? soalnya nama anda seperti nama bangsawan," ujar Rafly.
"Bangsawan apanya? mana ada anak seorang bangsawan dibesarkan dipanti asuhan, kemudian di pungut orang asing," ucap Marinka sembari tersenyum miris.
"Aduh...jadi nggak enak ini pembahasannya," ujar Rafly.
"Tidak masalah, nanti saya juga akan membuat pesan untuk keluarga saya di luar sana." Jawab Marinka.
"Baiklah. Kalau gitu kita kembali ke topik, untuk pertanyaan kita pada tuan Galang. Tuan Galang, bagaimana pendapat anda tentang kasus yang dialami mbak MD? mulai dari kasus perselingkuhan, KDRT, dan kemudian bisa sukses seperti sekarang ini?" tanya Rafly.
Galang mengalihkan pandangannya dari Karin, dan kemudian beralih menatap Marinka. Namun Marinka berpura-pura tidak tahu kalau Galang sedang menatap kearahnya.
"Pria sampah ini. Berani-Beraninya dia menatap istriku begitu, dia milikku bangsat!" batin Ezra.
Ezra hendak menegur prilaku Galang, namun Marinka memberi kode dengan menggenggam tangannya. Ezra terpaksa bersabar, meskipun dadanya akan meledak.
"Kamu harus dihukum dengan keras, karena sudah membiarkan pria lain menatapmu dengan cara seperti itu," bisik Ezra.
"Karena hari ini aku sangat senang, aku akan memberimu sebanyak yang abang mau," bisik Marinka yang kemudian mengedipkan mata nakalnya.
Melihat kemesraan Ezra dan Marinka, Galang merasakan sesak didadanya. Cemburu yang terbilang sangat terlambat itu, tiba-tiba membakar hatinya.
"Menurutku wanita sepertinya, wanita yang sangat luar biasa. Andai wanita seperti dia masih banyak stok di dunia ini, pasti para pria akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya, termasuk saya."
"Wait...apa anda tidak akan takut perang dunia dengan istri anda dirumah?" tanya Rafly sembari terkekeh.
"Saya sudah bercerai dengan istri saya, jadi saya bebas untuk mendapatkan wanita yang saya mau." Jawab Galang dengan wajah datar dan matanya tak lepas dari wajah Marinka.
Greppppp
Ezra menggenggam erat tangan Marinka, bahkan genggaman itu terlampau keras dan menyakitkan bagi Marinka. Pria itu benar-benar terbakar api cemburu saat ini.
__ADS_1
"Lalu menurut anda bagaimana dengan pelaku?" tanya Rafly.
"Pria itu memang tidak bermoral, bajingan, mungkin darahnya juga halal untuk di bunuh. Menyia-nyiakan wanita seperti dia, pasti pria itu akan menyesalinya seumur hidup." Jawab Galang.
"Memang iya. Aku yakin pria itu akan menyesal, secara mbak MD selain mendapatkan pria yang tampan dan mapan, dia juga sudah sukses sekarang," ucap Rafly.
"Lalu bagaimana pendapat mbak Karin dari segi pandangan sesama wanita? apa pendapat mbak tentang pelakor itu?" tanya Rafly.
Karin menelan ludahnya, suaranya seakan tersangkut di tenggorokkannya. Dengan wajah pucat dan bibir bergetar, Karin mulai menyuarakan pendapatnya.
"Se-Sebagai sesama wanita seharusnya wanita itu tidak boleh melakukan hal sekejam itu. Me-Merebut suami kakaknya dan melakukan tindakan yang tidak bermoral." Jawab Karin terbata.
"Apa anda tergolong orang yang percaya akan karma?" tanya Rafly.
"Ya."
"Menurut anda, karma apa yang bagus untuk wanita seperti itu?" tanya Rafly.
"Mungkin bagusnya wanita itu di selingkuhi suaminya juga dan kemudian di ceraikan." Jawab Karin dengan wajah tertunduk.
Ingin rasanya Marinka tertawa keras mendengar ucapan Karin. Sementara Galang pria itu hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Karin.
"Kembali pada mbak MD. Apa yang ingin anda katakan pada dua sejoli yang nggak bermoral itu? anggap saja mereka berdua sedang menonton tayangan ini?"
Marinka tersenyum sebelum membuka suaranya. Wanita itu kemudian melirik Galang dan Karin dengan ekor matanya.
"Apa ya? emmm....mungkin dari mantan suami dulu kali ya?"
"Ya silahkan...apa yang ingin anda katakan pada mantan suami anda?"
"Aku ucapkan terima kasih pada anda, anda sudah mencampakkanku untuk di pungut oleh orang yang lebih segalanya dari anda. Aku sangat bersyukur untuk itu, karena kalau seandainya aku masih bertahan waktu itu, aku tidak akan merasakan hidup bahagia seperti sekarang ini. Aku percaya, Tuhan akan membalas semua perbuatan buruk yang anda lakukan padaku."
__ADS_1
Galang tertunduk mendengar semua ucapan Marinka. Bahkan tubuhnya sedikit bergetar, ada sedikit rasa takut yang bergelayut di hatinya.
"Dan untuk mantan maduku. Ambil saja, rebut saja suamiku atau suami siapapun yang kamu mau selagi kamu mampu. Tapi aku pastikan waktumu tidak lagi banyak, sebentar lagi senyummu itu tidak akan pernah terbit lagi dari bibirmu. Karena Tuhan pasti akan menghukummu dengan keras," ujar Marinka.
Tubuh Karin gemetar, dia tahu Marinka sudah jadi orang hebat saat ini. Terlebih dia memiliki suami yang berpengaruh, Karin menyadari masa depannya sudah benar-benar akan hancur sebentar lagi.
"Apa rencana anda selanjutnya? anda kan sudah tahu, bahwa kasus ini sudah masuk ranah pembunuhan berencana, apa anda akan melaporkan kasus ini ke pihak berwajib?" tanya Rafly.
"Kalau saya mau, saya sudah melakukannya sejak dulu. Tidak harus menunggu sampai waktu 4 tahunan seperti ini." Jawab Marinka.
"Benar juga. Lalu apa anda akan melepaskan dia begitu saja?" tanya Rafly.
"Tentu saja kalau salah harus di hukum. Tapi saya punya cara sendiri untuk menghukum orang-orang seperti itu."
"Apa anda akan melakukan hal yang sama?"
"Hal yang sama seperti apa maksudnya? membakar mereka hidup-hidup? itu sangat tidak manusiawi mas Rafly. Meski saya membenci dia, saya tidak mungkin melakukan hal nggak bermoral begitu. Lalu apa bedanya aku sama dia. Iya kan?"
"Benar-Benar," Rafly membenarkan ucapan Marinka.
"Lagipula dia nggak akan sanggup menahan sakit saat kulit dia terbakar. Bahkan jujur saja, sampai sekarang aku masih suka mimpi buruk tentang hal itu. Kejadian itu selalu masuk dalam mimpiku secara berulang dan membuatku merasa trauma. Kalau melihat api yang besar, aku selalu teringat kejadian itu dan badanku gemetaran." Ezra menatap Marinka, dia percaya dengan apa yang istrinya itu katakan. Karena Ezra memang sering mendengar Marinka yang tengah mengalami mimpi buruk, tapi dia tidak tahu didalam mimpi itu Marinka tengah ketakutan karena kebakaran itu.
"Lalu apa yang akan anda lakukan?"
"Pertama-Tama aku akan mendengar dulu apa komentarnya setelah tahu tentangku, kalau tindakkannya tidak sesuai keinginanku, baru aku akan bersuara."
"Marinka benar, aku harus bicara dengannya. Aku memang bersalah padanya, perbuatanku juga tidak bisa dimaafkan. Tapi sepertinya ada yang salah setelah mendengar ceritanya. Ceritanya itu seolah-olah aku yang sudah menyuruh orang untuk menghabisinya. Ini harus di klarifikasi, aku tidak ingin kena imbas atas apa yang tidak pernah aku lakukan," batin Galang.
"Entah mengapa aku merasa ini semua ada hubungannya dengan Karin,
Galang menatap ke arah Karin kembali, dan wanita itu hanya bisa tertunduk ketakutan.
__ADS_1