
"Aku menelponmu bukan ingin mendengar suara tawamu, jadi bagaimana ini solusinya?" tanya Yure.
"Solusi apa yang kamu cari? bukankah kamu bilang ingin mencobanya jika orang tuamu juga menjodohkanmu?"
"Ya. Tapi aku tidak menyangka kalau bakal secepat ini. Aku pikir dua atau tiga tahun lagi." Jawab Yure.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi nggak apalah, anggap penjajakkan. Lagipula selama ini kita memang nggak pernah ngobrol dengan seorang wanita untuk membicarakan hal yang menyangkut urusan hati. Jadi anggap saja ini latihan dan juga menyenangkan hati orang tua kita," ujar Rakha.
"Kamu benar. Oh ya bagaimana tanggapan tante Marinka tentang kencanmu hari ini?" tanya Yure.
"Mereka menyuruhku kencan buta lagi besok." Jawab Rakha yang membuat Yure jadi terkekeh.
"Ya sudah begini saja. Besok aku akan menemanimu buat pergi kencan, setelahnya gantian kamu yang temani aku menemui gadis kencan butaku," ujar Yure.
"Oke deal." Jawab Rakha.
Setelah berbincang banyak hal, Rakha dan Yure mengakhiri perbincangan itu. Sementara itu ditempat berbeda Ezka tengah berkencan dengan kekasihnya di salah satu kafe. Alex, seorang casanova yang mengaku sebagai anak salah seorang pengusaha sukses, padahal dia hanyalah seorang mahasiswa yang di DO dari salah satu universitas. Dia juga bukan anak seorang pengusaha, hanya bermodalkan ketampanan dia selalu berhasil memikat lawan jenisnya termasuk Ezka seorang gadis polos yang hanya tahu berbisnis saja.
Hampir satu tahun berkencan, Ezka sama sekali tidak tahu prilaku kekasihnya itu. Pria yang selalu bersikap romantis itu bisa menaklukkan hati Ezka, hanya dengan hadiah-hadiah kecil. Sementara Ezka harus membayar mahal atas penipuan berkedok cinta itu dengan memberikan berbagai materi dan hadiah mahal untuk menyenangkan hati sang pujaan hati.
"Bagaimana? suka hadiahnya?" tanya Ezka pada Alex yang baru saja menghadiahi kekasihnya sebuah motor sport yang sudah lama dia inginkan.
"Makasih ya sayang. Ini hadiah ulang tahun yang paling berkesan buat aku," ujar Alex sembari mencium tangan Ezka yang membuat gadis itu jadi tersipu.
"Sama-Sama. Pokonya mulai sekarang setiap berkencan kita pakai motor ini saja, biar lebih romantis," ujar Ezka.
"Iya." Jawab Alex.
"Sayang. Malam minggu nanti temanku ingin merayakan ulang tahunku, apa kamu mau ikut?" tanya Alex.
"Dimana?" tanya Ezka.
"Salah satu klup terkenal di kota J." Jawab Alex.
"Waduh klub malam ya? maaf ya, sepertinya aku nggak bisa. Mama, papa pasti tidak akan kasih izin keluar." Jawab Ezka.
"Yah...kok gitu? kalau kamu nggak ikut, mana seru. Aku akan di ejek teman-temanku, masa yang ultah nggak bawa pacar? kalau mereka ngasih aku cewek lain, apa kamu rela?"
"Eh?" Ezka jadi dilema mendengar ucapan Alex.
__ADS_1
"Gadis bodoh ini enak sekali dikibulin. Aku benar-benar menang banyak dari cewek ini, selain sebagai ATM ku, aku bisa mendapatkan hal lain nanti. Kali ini nggak boleh gagal, dia harus jadi milikku seutuhnya dan dia tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman tanganku," batin Alex.
"Aku pikirin ntar deh." Jawab Ezka.
"Usahakan ya sayang, please...." Alex memasang wajah memelas, wajah yang dibuat sedemikian rupa, sehingga Ezka sering tertipu.
Selama ini Ezka memang selalu membatasi dirinya dengan Alex. Meski dia mencintai pria itu, Ezka tidak mau dibilang cinta buta dan rela menyerahkan apa saja termasuk keperawanannya. Baginya cinta harus rasional, dan harus dalam tahap wajar. Ezka bahkan tidak pernah mengizinkan Alex untuk mencium dirinya, karena dia selalu ingat pesan Marinka.
*****
Gadlyn harap-harap cemas menanti respon dari Rakha. Pasalnya saat ini dia tengah berada di hadapan Rakha, setelah meletakkan secangkir teh buatannya di atas meja kerja pria itu.
"Ba-Bagaiamana? apa sekarang sudah pas?" tanya Gadlyn antusias.
Rakha meletakkan cangkir teh itu diatas piring tatakkan. Rakha akui rasanya memang sedikit lebih baik dari sebelumnya, meskipun masih belum bisa memenuhi sesuai seleranya.
"Kamu bisa memasukkan ukuran gula ini saat membuat kopi untukku. Tapi kalau untuk membuat teh, ini masih terlalu manis. Tapi aku akui ini jauh lebih baik dari yang kemarin."
"Benarkah?" tanya Gadlyn gembira.
"Apa dia segembira itu hanya karena bisa bikin teh lebih baik? gadis ini sangat jauh jika dibandingkan mama. Jaman sekarang dimana aku bisa menemukan gadis sempurna seperti mama?" batin Rakha.
"Iya tuan. Saya akan selalu belajar, sampai tuan suka dengan teh buatan saya."
Rakha tidak menjawab ucapan Gadlyn, dia seolah cuek dan kembali sibuk dengan laptopnya. Namun saat Gadlyn keluar dan menutup ruangan itu, Rakha menarik sudut bibirnya nyaris tak terlihat.
Rakha melihat arloji dipegelangan tangannya, kemudian segera membereskan meja kerjanya dan pergi menyambangi ruangan Yure.
"Ada apa?" tanya Yure yang lupa tentang kencan buta itu.
"Kita harus pergi sekarang. Sebentar lagi jadwalku bertemu dengan gadis itu," ujar Rakha.
"Astoge...aku benar-benar lupa. Kalau sampai aku tidak menemui gadis itu, pasti bibir mama akan sampai kehidungnya," ucap Yure sembari membereskan meja kerjanya.
Setelah berbincang disepanjang perjalanan, Mereka akhirnya tiba di restaurant tempat Rakha kencan buta kemarin. Entah sudah janjian atau bagaimana, Yure juga kencan buta ditempat itu, hanya jam kencannya saja yang berbeda. Jadilah kali ini Yure yang menemani Rakha lebih dulu untuk menemui gadis pilihan orang tuanya itu.
Rakha menatap gadis didepannya, tidak berbeda dari gadis yang kemarin, kali ini menurutnya bahkan lebih parah.
"Bagaimana?" bisik Yure.
__ADS_1
"Menurutku skip." Bisik Rakha.
"Sama. Apa kamu lihat bibirnya itu?" bisik Yure.
"Kenapa?" tanya Rakha.
"Sudah macam gulungan karpet. Tebal tak terkira," bisik Yure.
"Setuju. Lagipula lipstiknya terlalu merah, bahkan kalah merah dari orang berdarah biru."
"Eh? apa hubungannya?" tanya Yure.
"Hussttt diam," bisik Rakha.
Sementara gadis didepannya tampak tersipu. Gadis itu mengira kedua pria didepannya sedang membicarakan tentang kecantikkannya. Setelah bicara basa basi, seperti biasa Rakha dan Yure pergi dengan membuat alasan selogis mungkin. Untuk mempersingkat waktu, Yure segera menemui gadis yang akan dijodoh dengannya.
Saat memasuki ruangan itu Yure dan Rakha terlihat bingung. Karena didalam ada seorang gadis yang sama sekali tidak sesuai dengan yang ada di foto.
"Apa ini benar anda?" tanya Yure sembari meletakkan selembar foto dihadapan seorang gadis yang terlihat tampak duduk dengan tenang.
"Benar. Maaf ini foto saya 7 tahun yang lalu." Jawab Gadis itu tersipu.
Yure menelan air ludahnya, bayangan-bayangan liar langsung menari di pikirannya.
"Habislah kau," bisik Rakha sembari menahan tawanya.
"Apa ini termasuk unsur penipuan? kenapa difoto sangat cantik dan langsing? sedangkan didunia nyata, sudah seperti gapura kecamatan," bisik Yure.
"XXL. xtra, xtra large," bisik Rakha menahan tawanya.
"Ayo kita ambil langkah seribu. Aku sangat ketakutan ini," bisik Yure.
"Jangan begitu. Main tampan saja," ucap Rakha.
"Main tampan?" Yure kebingungan.
"Kita kan pria tampan, jadi mainnya main tampan. Nggak mungkin aku bilang main cantik kan?"
Yure menepuk dahinya dan segera menyeret Rakha keluar untuk segera kabur dari tempat itu. Sementara gadis bertubuh tambun itu berteriak kesal, karena tidak mendapatkan traktiran makanan setelah dirinya ditolak.
__ADS_1
TO BE CONTINUE....🤗🙏