
Sudah dua bulan saat pertemuan Marinka dan Veronica kala itu, maka sudah dua bulan pula gadis itu menjadi asisten pribadi Marinka tanpa membuat pergerakkan apapun. Jangan ditanya sudah berapa sering Veronica bertemu dengan Ezra, saat Marinka mengajaknya singgah kerumahnya.
"Ughhh...malas sekali, lagi-lagi jenis ulat sagu. Apa dia pikir bisa menggodaku dengan kecantikkannya itu? apa dia itu buta? mana mungkin aku meninggalkan istri sempurna demi ulat sagu tidak jelas," batin Ezra.
Ezra berpura-pura tidak melihat, saat Veronica diam-diam mencuri pandang kearahnya. Ezra berpura-pura sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan keberadaan Veronica diseberang tempat duduknya.
"Nah...Vero, ini berkasnya. Kamu bisa kerjakan dirumah saja," ujar Marinka yang baru saja tiba dari ruang kerja untuk mengambil sebuah berkas yang akan dikerjakan oleh Veronica.
"Baik Bu. Saya permisi, tuan...." ucap Veronica.
"Emm." ujar Ezra tanpa melihat kearah orang yang menyapanya.
Veronica melangkah pergi meninggalkan kediaman Ezra. Marinka menjatuhkan bokong disebelah suaminya.
"Sepertinya abang tidak menyukai asistenku," ujar Marinka sembari masuk kedalam dekapan suaminya.
"Darimana kamu mendapatkan asistenmu itu? terlihat sekali jenisnya seperti ulat sagu," tanya Ezra.
"Ulat sagu?"
"Ya sejenis wanita penggoda, yang menggunakan kecantikkan untuk menggaet mangsa."
"Apa dia menggoda abang?"
"Kenapa memangnya kalau dia menggoda abang?" tanya Ezra yang ingin melihat tingkat kecemburuan istrinya itu.
"Pertama aku akan memecatnya. Kedua, adek pasti bersikap impulsif."
"Bersikap impulsif? bersikap seperti apa?"
"Jangan dikira dua kali suami direbut pelakor, tidak membuatku jera dan masih bersikap naif. Abang itu suamiku, papanya anak-anak. Aku tidak akan lagi membiarkan si ulat sagu mengusik ketenangan keluagaku.Bila perlu ku gunduli kepalanya dan kucakar wajahnya."
Ezra tertawa keras saat mendengar ucapan Marinka. Dia tidak bisa membayangkan saat istrinya yang lemah lembut itu bersikap impulsif seperti yang dia katakan itu.
"Jadi bang, apa abang yakin dia menggodamu? kalau iya, aku akan memecatnya sekarang juga," tanya Marinka.
"Apa kamu tidak merasa repot saat kehilangan asistenmu itu? sejujurnya aku sering mendapatinya mencuri-curi pandang kearah abang, dan abang tidak menyukai itu."
"Adek bisa mencari asisten lain. Dia memang handal, tapi itu tidak berguna kalau sampai dia merebut suamiku. Aku akan menyingkirkan dia lebih awal."
"Kalau dia memang cukup handal, sebaiknya tunggu sampai Regia selesai masa nifas 3 minggu lagi. Setelah itu kamu bisa pecat dia,"
"Apa itu tidak berbahaya bang? adek takut abang tergoda sama dia."
"Aih...apa yang adek pikirkan. Memangnya wanita cantik cuma dia saja? selama adek meninggalkan abang waktu itu, ada banyak wanita cantik disekitarku. Tapi abang sama sekali tidak tertarik. Abang cuma fokus dengan satu tujuan hidup, yaitu adek seorang."
"Jadi jangan pernah meragukan abang lagi. Abang sudah bahagia bersamamu. Bahkan meskipun ada ribuan wanita cantik telanjang didepan abang, abang sama sekali tidak akan tergoda,"
"uhhh...so sweet banget sih bang. Hati adek jadi melumer," ujar Marinka terkekeh.
Cup
Ezra mengecup sekilas bibir istrinya itu, dengan kedua tangan masih berada dikedua sisi wajah Marinka.
"Adek nggak usah khawatir ya? nggak ada yang bisa memisahkan cinta kita, kecuali kematian. Adek itu berlian bagiku, jadi abang nggak mungkin menukarnya dengan seng berkarat."
"Seng berkarat? baru dengar istilah itu. Biasanya orang akan bilang, menukar berlian dengan tembaga. Kok jadi seng berkarat?"
"Itu karena abang benar-benar tidak menyukai wanita yang lainnya lagi."
"Oke baiklah, alasannya diterima." ucap Marinka dengan wajah yang menggemaskan.
__ADS_1
"Jadi untuk sementara bersabarlah dulu, bersikap santai dan berpura-pura tidak tahu saja," ujar Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk dan kembali masuk dalam pelukkan suaminya.
"Bang,"
"Hem?"
"Apa jalan-jalan dengan kapal pesiar minggu depan, jadi?" tanya Marinka.
"Jadi dong. Abang nggak mungkin membiarkan belahan jiwaku kecewa. Emang udah pengen banget ya naik kapal pesiar?"
"Emm." Marinka mengangguk.
"Sabar ya? cuma akhir pekan yang nggak sibuk. Pokoknya minggu depan aku pastikan kita akan jadi jalan-jalan dengan kapal pesiarnya."
"Makasih ya bang?"
"Sama-Sama sayang,"
"Adek mencintaimu,"
"Abang lebih mencintaimu,"
Cup
Ezra kembali melabuhkan ciuman dibibir istrinya itu. Mereka lupa sedang berada dimana saat ini, para pelayan yang tidak sengaja melihat jadi tersipu malu saat melihat adegan romantis itu.
"Mama..." Teriak Ezka dari atas tangga, yang membuyarkan adegan mesra itu.
"Astaga bang, apa putri kita melihatnya?" bisik Marinka setelah mendorong dada suaminya.
"Nggak tahu." Geleng Ezra.
Marinka dan Ezra menghela nafas lega, karena sepertinya putri kesayangannya itu tidak melihat adegan yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.
"Hari minggu sayang." Jawab Marinka.
"Hali minggu? itu kapan?" tanya Ezka.
"Pokoknya tinggal 5 hari lagi." Jawan Ezra.
"Hole...sebental lagi ya Pa?" tanya Ezka.
"Iya dong." Jawab Ezra.
Ezra menggendong putrinya dan membawa putrinya itu naik keatas bersama Marinka untuk beristirahat.
*****
Rakha mengerutkan dahinya saat melihat Veronica menelpon disalah satu sudut ruangan rumahnya. Namun setelah itu dia pergi keruang tamu sembari bermain ponsel, karena dirinya sedang menunggu Marinka dan adiknya turun kebawah.
Tap
Tap
Tap
Marinka dan Ezka turun lebih dulu dengan membawa sebuah tas ditangannya.
"Kamu sudah siap?" tanya Marinka pada Veronica.
__ADS_1
"Sudah bu. Terima kasih sudah memberi kesempatan pada saya, untuk ikut jalan-jalan pakai kapal pesiar," ujar Veronica.
"Iya. Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu," ucap Marinka.
"Baiklah saya mengerti."
Tap
Tap
Tap
Ezra turun dengan langkah tergesa-gesa.
"Kenapa bang? kenapa abang terburu-buru?" tanya Marinka.
"Abang harus kekantor sebentar, terjadi sesuatu disana. Abang harus memastikannya."
"Jadi kita batal berangkat nih?" tanya Marinka.
"Ya nggak dong. Kalian berangkat saja lebih dulu. Nanti abang nyusul ya? kamu tidak usah khawatir, akan ada orang-orangnya abang, yang akan menjaga kalian."
"Abang cepat nyusul ya? kira-kira masalahnya gawat nggak bang? kalau memang gawat, kita batalkan saja jalan-jalannya, bisa diganti lain waktu."
"Jangan. Kasihan anak-anak akan kecewa nanti," ujar Ezra sembari mengusap puncak kepala Marinka.
"Ya udah. Kami berangkat duluan ya bang? abang cepat nyusul."
Greppppp
Ezra tiba-tiba memeluk Marinka dengan erat, Marinka jadi mengerutkan dahinya karena merasa ada hal aneh yang terjadi dengan suaminya. Sementara itu, Veronica tampak tidak senang melihat semua adegan yang terpampang nyata dihadapannya.
Setelah menyita cukup waktu, Marinka dan rombongan tiba di pelabuhan. Marinka memang tidak membawa banyak orang dalam liburan itu. Hanya terdiri dari Veronica, dua anaknya, dan 6 orang kepercayaan suaminya.
Tidak butuh waktu lama bagi nahkoda untuk membuat kapalnya berada di laut lepas. Meski kapal itu kecepatannya lebih lambat dari kapal kecil, tapi nyatanya tanpa terasa mereka sudah berada ditengah laut. Terlihat juga ada beberapa kapal nelayan yang melintas, dan juga tampak beberapa kapal asing yang entah Marinkapun tidak tahu siapa pemiliknya.
"Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?" tanya Veronica, saat mereka sedang berada diatas kapal bagian atas.
Marinka menatap laut lepas, dengan tangan berpegangan di pagar pembatas.
"Vero. Sepertinya awal bulan nanti kamu harus resign dari pekerjaan kamu ini,"
"Kenapa? apa pekerjaan saya kurang bagus?"
"Bukan itu, pekerjaanmu sangat bagus. Tapi temanku sudah bisa mulai bekerja awal bukan. Sementara itu belum ada lowongan lain untuk posisimu saat ini. Tapi nanti saat ada lowongan lagi, aku akan menghubungimu kembali." Jawab Marinka. Marinka ingin memberhentikan Veonica secara halus, agar gadis itu tidak merasa sakit hati.
"Mau mati aja, masih sempat sombong!" ujar Veronica tiba-tiba yang membuat Marinka jadi mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu bicara tidak sopan seperti itu? sepertinya memang benar apa yang dikatakan bang Ezra, kamu itu punya niat yang nggak baik."
"Memang benar. Sebab aku menginginkan suamimu. Sayang sekali suamimu tidak bisa melihat kematianmu yang mengenaskan. Tapi biar aku beritahu padamu sebuah rahasia besar, aku pikir orang mati tidak akan bisa juga menguak rahasia, jadi tidak ada salahnya aku memberitahumu agar kamu tidak mati penasaran." Marinka mengerutkan dahinya saat Veronica berjalan mendekatinya, hingga jarak dirinya hanya tinggal sedepa saja.
"Jihan telah kembali, dan akan merebut apa yang seharusnya jadi miliknya." Veronica menyeringai.
"Ji-Jihan...kamu Jihan?" bibir Marinka bergetar.
Jihan kemudian memberi isyarat dengan jari tangannya. Dan hal tak terdugapun terjadi.
DOOR
Sebuah peluruh mengenai kepala Marinka bagian samping. Melihat itu Jihan bergegas menyeret Marinka dan menjatuhkannya dari atas kapal.
__ADS_1
Byuuurrrrrrr