
Galang tiba dirumahnya tepat pada pukul 5 sore. Hanya selang 2 menit saja, kedua orang tua Galang juga tiba dikediamannya. Galang melihat sinis ke arah Karin, saat pria itu melihat kehadiran wanita itu didepan pintu rumahnya.
"Mas sudah pulang?" tanya Karin sembari mengulurkan tangannya hendak mencium tangan suaminya.
Keadaan seperti itu nyaris tidak pernah wanita itu lakukan dengan tulus selama 4 tahun pernikahan mereka. Karin akan melakukannya jika sedang ada maunya saja.
"Ya." Jawab Galang, tanpa menyambut uluran tangan Karin.
Sang pelayan membuka pintu, karena melihat galang sudah berada didepan pintu.
"Silahkan masuk Ma, Pa," ujar Galang yang masih bersikap sopan pada kedua orang tua Karin.
Merekapun masuk kedalam rumah, disusul dengan kedua orang tua galang yang baru tiba dua menit yang lalu. Kini mereka duduk bersama diruang tamu, untuk menyelesaikan masalah antara Galang dan Karin secara baik-baik.
"Galang. Mama dan Papa ikut kesini karena ingin meminta maaf padamu. Karin sudah menceritakan semuanya pada kami. Maaf kan dia Galang, dia memang sudah melakukan kesalahan, tapi kamu juga tahu manusia tidak ada yang sempurna. Pasti pernah melakukan salah dan khilaf." ujar Paulin.
"Manusia memang tempatnya salah dan khilaf, tapi bagiku kesalahan Karin sudah sangat fatal. Jadi maaf saja, aku tidak bisa memaafkannya." Jawab Galang.
"Galang. Sebenarnya ini ada apa? mama dan papa jadi bingung, sebenarnya Karin sudah melakukan kesalahan apa hingga kamu jadi semarah ini?" tanya Rini.
"Kamu yang akan menjelaskan, atau aku yang akan menjelaskan?" tanya Galang pada Karin.
Tentu saja Karin terdiam. Wanita itu bahkan tidak berani melihat kearah mertuanya, yang sudah bersikap baik padanya setelah dirinya menikah resmi dengan putranya.
"Baiklah. Sepertinya kamu sendiri tidak
sanggup menjelaskannya, jadi biarkan aku saja yang membongkar semuanya. Jadi Ma, Pa, Karin ini sudah berselingkuh dibelakangku." ujar Galang.
"Apa???" Rini dan Surya terkejut mendengarnya.
"Galang. Sebelum menuduh istrimu yang tidak-tidak, sebaiknya kamu selidiki dulu dengan benar. Mana mungkin Karin melakukan itu," ujar Rini.
Galang tersenyum sinis mendengar ucapan Rini. Karena sejujurnya, dirinyapun tidak menyangka Karin melakukan itu dibelakangnya.
__ADS_1
"Galang juga berharap itu semua adalah mimpi. Tapi Galang tidak perlu menyelidikinya lagi, karena Galang sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri dia sedang berbuat mesun dengan pria lain."
"Kalian bisa membayangkan betapa hancurnya perasaanku saat itu. Kalian tahu sendiri aku sudah memberikan apapun untuknya, mengorbankan segalanya untuk dia, termasuk mengorbankan rumah tanggaku dengan Marinka. Tapi apa balasannya? yang aku dapat cuma penghianatan," sambung Galang tertunduk sedih.
"Karin apa itu benar?" tanya Rini dengan pandangan merendahkan.
Karin tidak sanggup menjawab dengan bibirnya, wanita itu hanya mampu mengangukkan kepalanya dan tertunduk malu.
"Heh...ternyata aku terlalu memandang tinggi dirimu Karin. Aku pikir punya menantu berpendidikkan tinggi akan menjamin kebaikkan tingkah lakunya, tapi ternyata aku salah. Setelah aku pikir-pikir, Marinka jauh lebih baik daripada kamu meskipun pendidikkannya cuma sebatas SMA."
"Mama tenang saja. Aku akan berusaha membawa dia kembali kerumah ini. Apa mama tahu? Marinkalah yang membantuku membongkar semua kebusukkan Karin."
Mendengar itu Paulin dan Karin saling berpandangan. Mereka seolah ingin bicara lewat tatapan mata mereka.
"Benarkah? itu berarti dia masih mencintaimu, karena dia masih mau membantumu. Sekarang terserah kamu saja, mama dan papa akan mendukung apapun keputusanmu," ujar Rini.
"Jeng. Seharusnya kita bantu membuat mereka berbaikkan. Kenapa Jeng seolah ingin memisahkan mereka?" ujar Paulin.
"Aku sudah memutuskan. Karin, mulai saat ini kamu bukan istriku lagi!" ucap Galang.
Jderrrrr
Ucapan Galang laksana petir di siang hari bagi Karin. Tubuh wanita itu bahkan bergetar, bukan karena dia takut kehilangan Galang, tapi dia takut kehilangan semua kemewahannya selama ini.
"Nggak mas. Kamu nggak bisa melakukan itu sama aku. Ingat anak kita Mas," ujar Karin sembari bersimpuh di hadapan Galang.
"Ingat anak? apa saat kamu melakukan itu kamu ingat anak? seharusnya kamu pikirkan segala resikonya sebelum kamu bertindak. Tapi kenyataannya apa? kamu tidur dengan pria itu berkali-kali," hardik Galang.
"Aku minta maaf sama kamu mas, please cabut kata-kata mas itu. Aku nggak mau pisah dari kamu mas, aku sangat mencitaimu."
"Omong kosong!" Galang menghempaskan tangan Karin yang menggenggam tangannya.
"Cinta apa yang kamu bicarakan? kamu tidak mencintaiku, kamu cuma cinta dengan uangku! Karin, terima kasih untuk semua rasa sakit yang kamu berikan. Tapi maaf, rasa cintaku sudah menguap begitu saja, sejak aku melihatmu dengan pria itu di depan mataku."
__ADS_1
Karin terisak, dia sangat merutuki kebodohannya.
"Sekarang kamu duduk manis saja dirumah, tidak lama lagi surat cerai akan datang kerumahmu. Tanda tangani segera, dan kita akan bertemu di pengadilan."
"Mas. Please beri aku kesempatan sekali saja mas, aku benar-benar menyesal mas," ujar Karin tergugu.
"Maaf Karin. Tapi tempatmu akan segera digantikan oleh Marinka kembali,"
"Dari tadi Marinka, Marinka, Marinka terus yang kamu bahas, dia nggak mungkin bersama kamu. Karena dia...."
"Karin!" hardik Paulin, wanita parubaya itu tidak ingin Karin membongkar semua yang mereka lakukan hanya karena dia sedang tertekan saat ini.
"Galang. Tolong pikirkan lagi baik-baik, bagaimana nasib anak kalian kalau kalian sampai berpisah," ucap Herman yang mulai membuka suara.
"Seharusnya kalian tanyakan itu pada diri kalian sendiri. Coba posisikan kejadian ini di anak kalian sendiri. Kalau menantu kalian yang berkhianat, apa kalian masih mau menerimanya?" tanya Surya.
"Kalian ini seperti kebakaran jenggot, karena merasa tidak akan ada yang menyokong hidup kalian lagi. Begitu kan?" ujar Rini.
"Maaf ya hubungan kita cukup sampai disini. Tapi aku nggak akan ngelarang kamu kalau mau ketemu anak kita. Kamu bisa mendatanginya kapan saja," ujar Galang.
"Jadi kamu mau misahin aku dari anakku mas? nggak bisa, hak asuh dia harus jatuh ke tanganku mas." ucap Karin.
"Apa kamu pikir pengadilan akan mengabulkan permintaan seorang ibu yang memilikki tabiat buruk? mimpi saja kamu! aku yakin Marinka jauh lebih baik saat mengurus anak kita, tidak seperti kamu yang 99% mempercayakan semuanya pada baby sitter. Jadi tidak usah sok jadi ibu yang baik kamu,"
"Heh...Galang, lihat saja. Kamu akan nangis darah saat tahu Marinka sudah mati, dan kamu pasti minta balikkan lagi denganku." batin Karin.
"Bagaimana kalau Marinka tidak ditemukan?" tanya Karin.
"Apa kamu berpikir aku akan kembali padamu? jangan harap! aku tampan, dan aku kaya. Bahkan aku masih bisa mendapatkan seorang perawan daripada harus balikkan sama kamu." ucap Galang dengan kasar.
"Sepertinya sudah jelas, dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Jadi sebaiknya kita kawal saja mereka hingga ke pengadilan," ujar Rini.
Paulin, Herman dan Karin segera bangkit dari tempat duduk. Merekapun pergi dari rumah Galang dengan membawa amarah karena merasa terhina.
__ADS_1