
Rakha memindahkan tatapan dinginnya dari Ilyas, dan berubah jadi wajah yang lembut saat melihat Moza. Perlahan Rakha mendekat kearah Moza dan membelai wajah cantik adiknya itu.
"Bagaimana keadaanmu. Hem? apa masih sangat sakit?" tanya Rakha.
Sungguh Moza sangat terharu saat ini. Pasalnya dia tidak pernah melihat Rakha sangat perhatian dengan adik-adiknya, karena Rakha pribadi yang cuek.
"Masih kak." Jawab Moza.
"Perbanyak istirahat dan teratur minum obat," ujar Rakha.
"Iya kak." Jawab Moza.
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Ilyas berdering. Semua orang melihat kearahnya termasuk Meiza.
"Maaf. Aku angkat telpon dulu," ujar Ilyas.
Ilyas melangkah keluar ruangan dan mencari tempat aman untuk menelpon.
"Kamu belum melenyapkan wanita itu?" tanya Seorang pria di seberang sana.
"Maaf kak. Aku sudah katakan padamu, aku tidak mau terlibat lagi. Mereka orang baik, aku tidak bisa melakukannya. Aku merasa tersiksa saat melakukan hal yang bertolak belakang dengan nuraniku." Jawab Ilyas.
"Dasar brengsek! kamu benar-benar ingin menghianatiku hah? kamu sadar tidak dulu dirimu itu siapa? kamu cuma anak yatim piyatu yang aku pungut dan aku sekolahkan. Kamu sudah berjanji akan membantuku menjalankan misi, dan kamu menyanggupinya,"
"Tapi aku tidak tahu kalau misi yang kakak maksud membunuh orang. Aku tidak bisa lagi membantu kakak. Aku tidak mau lagi menjadi pion kakak. Soal biaya pendidikkanku, anggap saja aku berhutang padamu. Aku akan menggantinya nanti,"
"Menggantinglya? sombong sekali kamu. Apa karena kamu sudah masuk dalam keluarga orang kaya, jadi kamu merasa diatas angin?"
__ADS_1
"Tidak kak. Aku tidak akan menggunakan uang mereka. Aku akan memakai uang hasilku bekerja selama ini." Jawab Ilyas.
"Heh...Ilyas. Kamu tahu betul orang seperti apa diriku ini. Apa kamu pikir aku akan membiarkan seorang penghianat hidup dengan tenang? kamu terlalu berbangga hati. Apa kamu pikir keluarga Hawiranata akan membiarkanmu begitu saja, saat mereka tahu kamulah yang berperan sebagan peran pembantu mencelakai putrinya?"
"Aku tahu kamu yang seperti ini karena lemah oleh wanita itu bukan? jangan bodoh. Setelah satu persatu keluarga itu kita singkirkan, kita bisa menguasai semua hartanya dengan memperdaya istrimu itu. Dan kamu masih bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari dia,"
"Aku tahu resikoku sangat besar. Aku juga merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Moza. Tapi kak, aku benar-benar ingin berhenti karena aku sungguh-sungguh jatuh cinta pada Meiza. Aku tidak bisa menghianati kepercayaannya lagi. Dia sangat baik padaku, keluarganya juga baik padaku. Terutama papa Ezra, orang sebesar itu mau menerimaku sebagai menantunya, tentu beliau merupakan orang yang berjiwa besar."
"Lupakanlah dendammu di masa lalu kak. Agar hidupmu juga merasa damai," sambung Ilyas.
"Dasar brengsek. Anak kemarin sore sudah berani menceramahiku? kamu pikir kamu itu sudah hebat? lihat saja, aku akan menghancurkan semua mimpi-mimpimu bersama keluarga laknat itu,"
"Dan aku orang yang pertama kali yang akan menggagalkan semua rencana kakak." Jawab Ilyas.
"Ilyas. Kamu tunggu saja, kamu akan melihat wanita yang kamu cintai itu mati di depan matamu!"
Tuttt
Tuttt
"U-Uda...." bibir Ilyas bergetar.
"Apa kamu pikir karena kamu sudah insyaf, aku akan melepaskanmu begitu saja?" tanya Rakha.
"Maaf," ujar Ilyas tertunduk.
"Simpan kata-kata maafmu untuk menghadapi keluarga Hawirana yang sebenarnya. Tunggu sampai Moza sembuh, kamu akan mendapatkan hukumanmu sendiri,"
"Ilyas. Mari kita melanjutkan permainan seru ini. Aku akan memberimu kesempatan lari sejauh mungkin. Jika kamu berhasil kabur, maka aku akan melepaskanmu. Tapi kalau kamu masih bisa tertangkap olehku, maka nyawamu berada dalam genggamanku," sambung Rakha.
"Tidak uda. Aku tahu aku salah, dan sudah memanfaatkan kepercayaan Meiza. Tapi aku benar-benar mencintai Meiza. Aku tidak bisa menghianatinya lagi. Apapun hukuman yang akan kalian berikan, aku akan menerimanya. Aku tidak akan kabur, meskipun kalian akan membunuhku sekalipun." Jawab Ilyas.
"Heh...apa kamu pikir keluarga Hawiranata sangat dermawan? Ilyas, kamu tidak tahu siapa keluarga Hawiranata sebenarnya," ujar Rakha.
__ADS_1
"Aku tahu. Keluarga Hawiranata selain pengusaha merupakan mafia terbesar di kota J. Aku tidak memeberitahu orang yang menyuruhku tentang fakta itu."
"Oh...apa karena kamu tahu keluargaku adalah keluarga mafia, jadi kamu berubah pikiran dan insyaf tiba-tiba?"
"Tidak aku tahu semuanya sejak lama. Aku melakukannya karena Aku mencintai Meiza. Aku tidak bisa membuatnya terluka saat dia tahu, aku ikut andil membuat Moza celaka." Jawab Ilyas.
"Sebaiknya simpan saja kata-kata cintamu itu. Meiza tidak kejurangan cinta keluarganya. Bahkan dia masih bisa mendapatkan pria lain dengan mudah, setelah bercerai denganmu nanti."
Deg
Jantung Ilyas seperti hendak berhenti berdetak saat mendengar ucapan Rakha yang terdengar menakutkan di telinganya.
Brukkkkk
Ilyas berlutut di kaki Rakha, sembari menangkupkan kedua tangannya dengan lelehan air mata.
"Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Meiza Uda. Aku sangat mencintainya. Berilah aku hukuman apapun, asal jangan pisahkan aku dengannya. Tolong...." tubuh Ilyas bergetar karena terisak.
"Tidak ada gunanya air matamu itu di hadapanku. Wanita di keluarga Hawiranata tidak selemah itu hanya karena mencintai seorang pria penipu sepertimu. Kamu tidak mengenal Meiza dengan baik. Dia sanggup mencintai seseorang dengan hidupnya, tapi dia juga sanggup membenci seseorang dengan hidupnya, apalagi karena sudah menghianati dirinya,"
"Jadi Ilyas. Kita lanjutkan saja permainan menarik ini. Kita akan lihat, seperti apa keputusan Meiza untuk pecundang sepertimu," sambung Rakha.
Rakha kemudian berbalik badan dan meninggakkan Ilyas seorang diri yang sedang menyesali perbuatannya.
Kriekkkk
Ilyas kembali masuk dalam ruangan Moza, dan semua orang menoleh kearahnya termasuk Rakha.
"Sayang. Bisa kita pulang sekarang?" bisik Ilyas sembari menggenggam erat tangan Meiza.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Meiza tampak khawatir.
"Tidak. Aku sangat lelah." Jawab Ilyas.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Meiza.
Meiza dan Ilyaspun berpamitan. Disepanjang perjalanan pulang Ilyas hanya diam saja. Ilyas hanya menatap luar jendela sembari melamun. Meiza kemudian merebahkan kepalanya di pundak Ilyas. Ilyas mencium puncak kepala Meiza, dan menggenggam erat tangan Meiza, seolah takut kehilangan istrinya itu.