Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.114. Ketegangan


__ADS_3

"Arin. Si kembar nangis tuh," ujar Sera yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Ezra.


Marinka dan Ezra menoleh seketika kearah Sera, Sera yang baru sadar jadi ikutan mematung.


"Kebetulan kampret macam apa ini?" ucap Yuda lirih


Glekkkk


Marinka menelan air ludahnya yang terasa penuh berkumpul ditenggorokkannya. Suasana mendadak hening dan tegang. Jika ada alat pengukur tegangan listrik, tentu tegangan saat ini melebihi dari 220 volt.


Ezra perlahan mendekat kearah Marinka, namun diluar dugaan, wanita itu malah berusaha ingin kabur.


"Dek. Tunggu! jangan tinggalin abang lagi dek, please..." air mata Ezra dan Marinka sama-sama sudah terjun bebas.


Marinka semakin memperbesar langkahnya, namun langkah itu terhenti saat seseorang menyerukan namanya.


"Arin," seru Ando.


"Astoge...asli ini mah kebetulan yang memang benar-benar kampret," batin Yuda.


Sera hanya bisa menutup mulutnya, karena suasana semakin terasa tegang saat Ando datang dengan membawa sebuket bunga.


Marinka bergegas menghapus air matanya, karena dia tidak ingin Ando melihatnya. Ando berjalan melewati Ezra yang sudah menyeka air matanya secepat kilat.


"Arin kemarilah! aku ingin mengenalkanmu dengan sahabatku yang pernah kamu bantu waktu itu," Ando menyeret tangan Marinka pelan.


Jangan ditanya bagaimana Ezra saat ini, wajah pria itu menggelap saat melihat Ando dengan leluasa memegang tangan istrinya.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu." sambung Ando.


"Kak...a-aku..." Marinka terbata.


"Hussssttt...kamu diam dulu ya? pokoknya jangan bicara sebelum aku selesai bicara."


Marinka menekan perasaannya dalam-dalam. Entah mengapa dia bisa merasakan aura Ezra mulai tidak enak di lihat.


"Astoge...Ando...sebaiknya kamu tutup mulutmu itu. Apa kamu tidak tahu, singa didekatmu itu sedang kelaparan?" batin Yuda.


"Aduhh...bagaimana ini, apa benar-benar akan terjadi perang?" batin Sera sembari menggigit-gigit kukunya.


"Emm...pertama-tama ini untukmu," Ando menyodorkan sebuket bunga mawar merah itu kehadapan Marinka.


Marinka melirik kearah Ezra yang sudah berwajah merah padam.

__ADS_1


"Ando," suara Ezra cenderung rendah, tapi gigi-gigi pria itu sudah bergemeratuk tanpa Ando sadari.


"Sebentar ya Zra. Jangan ganggu moment gue dulu, gue kan udah bilang di telpon tadi."


"Kak...a-aku,"


"Kamu diam dulu ya Rin. Biar kakak selesaikan dulu ngomongnya, mumpung lagi nggak gugup hufffftttt," ujar Ando, yang ternyata masih saja sedang gugup saat ini.


"Rin. Kakak tahu ini terlalu cepat buat kamu, tapi kakak pengen kamu tahu kalau kakak sebenarnya suka sama kamu. Kakak nggak mau ngajakin kamu pacaran, karena kita sudah sama-sama lewat dari masa itu. Kakak ingin langsung ngajakin kamu tunangan, setelah itu kita menikah."


"Tapi kak aku..."


"Kamu jangan buru-buru menolakku ya? pikirkan dulu matang-matang. Paling tidak lakukan semuanya demi anak-anak."


Ezra mengepalkan tangannya dengan erat. Tapi dahinya mengerut saat Ando menyebutkan kata anak-anak. Ezra kemudian melihat kearah Sera, mencoba mengingat-ingat hal yang banyak dia lewatkan sebelumnya. Sera yang ditatap dengan tatapan intimidasi, merasa batinnya tertekan.


"Aku sengaja mengatakan perasaanku dihadapan teman-temanku dan juga dihadapan temanmu, biar mereka yang jadi saksinya, bahwa aku serius sama kamu." ucap Ando.


"Kamu terima ya bunganya?"


Tangan Marinka bergetar saat akan meraih bunga itu dari tangan Ando.


Tap


Bunga yang indah dengan warna merah kehitaman itu berakhir di tong sampah, saat Ezra melemparnya.


Hap


Yuda dan Sera sama-sama menutup mulut mereka, saat melihat reaksi tak terduga dari Ezra. Tidak jauh berbeda dengan Yuda dan Sera, Ando dan Marinka pun terkejut. Namun yang paling syok disini adalah Ando, pria itu merasa tersinggung dengan prilaku sahabatnya itu.


"Kamu apa-apaan si Zra? nggak sopan tahu nggak? ada waktunya bercanda dengan serius, aku benar-benar malu tahu nggak dengan sikapmu ini. Rin, maaf temanku bercanda...dia..."


"Apa kamu sudah selesai dengan acara tembak menembakmu itu?" tanya Ezra.


"Zra...kamu..."


"Sebaiknya kamu yang dengarkan aku baik-baik ," Ezra menyela ucapan Ando.


"Apa kamu tahu wanita yang ingin kamu nikahi ini siapa?" tanya Ezra sembari mengarahkan jari telunjuknya pada Marinka, sementara Ando mengerutkan dahinya saat mendengar nada bicara Ezra terdengar begitu serius.


"Dia istri sahabatmu ini, istri yang dia cari berbulan-bulan, namun ternyata dia bersembunyi dirumah sahabatnya sendiri," ujar Ezra sembari menepuk dadanya berulang kali.


Sesak, itulah yang Ezra rasakan saat ini. Bukan Ezra tidak kasihan dengan sahabatnya, tapi untuk Marinka, dia tidak mungkin menyerahkan wanita yang dia cintai itu pada orang lain.

__ADS_1


Jangan ditanya bagaimana reaksi Ando saat ini. Mata pria itu seakan ingin lepas dari porosnya. Matanya kemudian perlahan meredup, dengan tatapan mata kosong Ando berbicara lirih.


"Sera. Tutup butiknya!" perintah Ando, pria itu tidak ingin pembicaraan mereka ditonton oleh banyak orang nantinya.


Sera bergegas menutup butik, dibantu oleh Yuda.


Sementara itu tubuh Marinka terasa panas dingin. Dia tidak pernah menginginkan berada dalam posisi yang rumit.


Dan disinilah mereka pada akhirnya, mereka berlima duduk diruangan Marinka, ruang yang dipakai sebagai ruangan kerja wanita itu.


"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu patah hati diawal, tapi kamu tahu sendiri cerita rumah tanggaku gimana," ujar Ezra.


"Tapi dia sudah memilih meninggalkanmu, jadi kamu relakan saja dia untukku," ucap Ando.


"Tidak bisa. Sampai kapanpun dia tetap milikku," ujar Ezra.


"Apa kalian tidak bisa berhenti berdebat? apa kalian menganggap aku ini seperti sebuah barang yang bisa kalian lempar kesana kemari? asal kalian tahu saja, tidak ada salah seorangpun dari kalian yang akan aku pilih. Karena kalian itu sama saja, tukang mematahkan hati wanita." ucap Marinka berapi-api.


"Mematahkan hati wanita? kapan?" tanya Ando kebingungan. Sementara Ezra hanya terdiam. dia tahu siapa yang wanita itu maksudkan.


"Hah...lagi-lagi harus mengalami hal seperti ini. Kenapa si Zra? sejak dulu semua wanita selalu memilihmu?" sambung Ando dengan wajah muram.


"Siapa yang memilihnya?" tanya Marinka.


"Dek. Izinkan Abang bicara empat mata denganmu ya? kita selesaikan masalah kita berdua ya?" ujar Ezra dengan wajah memelas.


"Bang. Urusan kita sudah selesai sejak 7 bulan yang lalu. Hubungan kita sudah selesai bang, adek mohon jangan libatkan adek lagi dengan Jihan, adek tidak mau berurusan dengan istrimu yang mengerikan itu."


"Itulah abang ingin membahasnya berdua denganmu. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan."


"Nggak bang. Menurut Adek tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan, hubungan kita sudah selesai. Kita bukan suami istri lagi secara agama dan negara."


"Kamu salah dek, mungkin secara agama kita memang bukan suami istri lagi, tapi secara negara abang tidak pernah menceraikanmu. Karena surat cerai itu tidak pernah sampai kepengadilan," ucap Ezra.


Marinka mengerutkan dahinya, wanita itu terlihat kebingungan mendengar ucapan Ezra.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


Yukkkk teman-teman baca karya Author yang lain. Yang nggak kalah seru tentunya🤭🤭🤭


🌟SUAMIKU CEO GANAS


🌟SARLINCE(CINTA SEPIHAK)

__ADS_1


🌟BELENGGU MAFIA LAPUK


__ADS_2