Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.272. Musibah


__ADS_3

"Mau jalan kemana kita hari ini?" tanya Anser.


"Tentu saja menyelam. Disini wahana menyelam jadi pilihan utama setiap turis yang datang buat liburan ataupun orang-orang yang ingin berbulan madu." Jawab Moza.


"Menyelam? apa pantai disini cukup bersih?" tanya Anser.


"Apa yang kamu katakan? pantai disini sangat terkenal. Tentu saja pantainya harus dijaga kebersihannya, agar dapat menarik para pengunjung. Kamu tidak perlu khawatir, aman kok." Jawab Moza sembari mengganti pakaiannya dengan pakaian menyelam yang sudah disiapkan tim.


Greppppp


Anser memeluk Moza dari belakang. Pakaian yang ketat membalut tubuh Moza, membuat Anser cukup bernafsu melihat istrinya itu.


"Bagaimana kalau kita nggak usah menyelam?" bisik Anser.


"Ke-Kenapa? aku sudah lama pengen menyelam. Aku penasaran dengan isi biota laut. Kalau kamu tidak mau berenang, kamu tunggu di daratan saja." Jawab Moza.


"Kita di kamar saja. Bermesraan di kamar lebih baik bukan?" goda Anser.


"Ih....Ans..." Moza mencubit tangan Anser dengan wajah yang sudah merona.


"Iya...iya kita berenang," ujar Anser sembari menarik hidung mancung Moza.


Merekapun keluar dari ruangan ganti setelah sama-sama mengganti dengan pakaian menyelam. Setelah sampai di tempat tujuan, merekapun mulai menyelam. Mereka berkomunikasi lewat isyarat tangan, saat sedang menikmati keindahan laut didalam sana.


Namun hal yang paling berkesan adalah, saat mereka tiba di permukaan laut. Tiba-Tiba Anser melepas alat bantu oksigen, dan kemudian mengajak Moza berciuman. Saat itu sangat romantis Moza rasakan.


"Suka?" pertanyaan konyol keluar dari mulut Anser.


"Emm. Terkesan romantis meskipun palsu." Jawab Moza dan berenang kearah kapal yang mereka tumpangi sebelumnya.


"Kok palsu? ciuman tadi kan beneran?" tanya Anser sembari menyusul istrinya.


"Ciumannya asli. Tapi hati kamu yang palsu." Jawab Moza sembari meraih dua helai handuk. Yang kemudian satu helai dia lemparkan kearah Anser.


"Suatu saat hatiku juga asli. Tunggu saja tanggal mainnya," ujar Anser.


"Dan saat itu tiba. Mungkin aku tidak akan ada lagi di dunia ini." Jawab Moza.


Deg


Jantung Anser terasa dipukul pakai palu. Ada rasa takut yang menjalar tiba-tiba di hatinya.


Anser mendekat kearah Moza dan kembali mencium istrinya itu untuk menenangkan debaran di hatinya.


"Jangan bicara sembarangan lagi," ujar Anser.


"Kenapa? apa kau takut?" tanya Moza.


"Ya." Jawab Anser.

__ADS_1


Moza tersenyum mendengar jawaban Anser. Senyum yang tidak bisa diartikan oleh Pria itu. Kapal mulai bergerak maju setelah memperoleh perintah dari Anser. Merekapun kembali kedaratan. Namun saat kapal sedang menepi, seseorang yang tidak dikenal berlari kearah Moza dan Anser. Pemuda itu berlari karena ada dua orang yang mengejarnya.


Brukkkkk


Pria itu menabrak Anser, hingga Anser terjatuh diatas pasir.


"Hey...apa yang kamu lakukan?" hardik Anser.


Dua orang yang mengejar pria itu menghampiri Anser.


"Maafkan dia kawan. Kami sedang mengejarnya karena dia itu sedikit megalami gangguan jiwa,"


Pria yang menabrak Anser perlahan mendekat, namun tanpa di duga semua orang, pria itu mengeluarkan sebilah pisau.


"Kamu selingkuhan pacarku kan?"


Pria yang mengalami gangguan mental itu bergerak ingin menikamkan pisaunya kearah Anser. Namun dengan sigap Moza memberi tendangan pada pria itu.


Brukkk


Pria itu terjatuh namun segera bangkit dengan meraih pisaunya kembali.


"Apa yang kalian lakukan? kalian hanya diam saja? dimana pihak keamana pantai ini? kenapa bisa kecolongan ada orang bawa senjata tajam di tempat pariwisata seperti ini," ujar Moza yang masih memasang kuda-kuda.


"Oh jadi kamu membela selingkuhanmu ini?" tanya pria itu.


"Ckk...paling susah menghadapi orang gila. Kalau bukan orang gila sudah kuremukkan tulang belulangnya," ucap Moza lirih.


"Bagaimana ini?" tanya Salah seorang petugas rumah sakit jiwa.


"Kamu buat laporan pada keamanan." Jawab Temannya.


Pria itupun bergegas melapor. Kebetulan tempat itu sedikit agak sepi karena matahari sudah hampir terbenam.


"Anser awas!"


Brukkkk


Jlebbbb


Anser terjatuh karena di dorong kuat oleh Moza. Sementara Moza harus mendapat luka tusukkan dibagian perutnya.


"Mo-Moza," bibir Anser bergetar.


Namun ada yang aneh dari pria yang mengalami sakit mental itu. Setelah melihat Moza terluka, Pria itu bergegas pergi bersama pria yang mengaku dari petugas rumah sakit jiwa. Dari kejauhan Anser bisa melihat kedua orang itu menaiki sebuah mobil jip yang disupiri oleh salah seorang dari mereka.


Anser bergegas menggendong Moza, dengan lutut gementar.


"Moza kumohon bertahanlah," ujar Anser dengan lelehan air mata.

__ADS_1


"A-Ans. Maukah kamu mengabulkan permintaanku sebelum aku pergi?" tanya Moza.


"Apa yang kamu katakan. Kamu akan baik-baik saja. Dasar bodoh! kenapa kamu menghadang pisau itu? apa kamu pikir kamu punya 9 nyawa?" oceh Anser sembari terus berlari sembari menggendong Moza.


"Aku mencintaimu Anser. A-Aku mencintaimu,"


Setelah mengatakan itu Moza tidak sadarkan diri. Anser bertambah panik. Pria itu semakin menambah kecepatan larinya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, Anser berhasil membawa Moza kerumah sakit. Anser segera menghubungi Meiza. Anser juga menghubungi kedua orang tua Moza dan juga kedua orang tuanya.


Anser mondar-mandir di depan ruang operasi. Tangannya sudah terasa dingin. Meiza dan Ilyas tampak diam saat memperhatikan Anser yang terlihat panik luar biasa.


"Bagaimana keadaan Moza?" tanya Ezra yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


Ezra datang bersama Marinka dan juga Rakha.


Brukkkk


Anser berlutut di depan Ezra, dengan tubuh bergetar karena terisak.


"Maafkan Anser pa. Kalau bukan karena ingin melindungi Anser, Moza pasti akan baik-baik saja." Jawab Anser.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Ezra.


"Tidak tahu. Dua orang mengaku sebagai petugas rumah sakit jiwa. Dan satu orang seperti sedang mengalami sakit mental. Tapi ternyata mereka berkomplot ingin membuat kami celaka." Jawab Anser.


"Apa ada barang kalian yang mereka rampas?" tanya Ezra.


"Tidak ada." Jawab Anser


"Berdirilah! Ini bukan salahmu. Ini berarti perbuatan disengaja," ujar Ezra.


"Rakha. Kamu selidiki hal ini," sambung ERa.


"Iya Pa." Jawab Rakha.


Kriekkkkk


Seorang suster keluar untuk memberitahu sesuatu.


"Apa diantara keluarganya nona Moza ada yang bergolongan darah AB? stok darah AB sedang kosong," ujar suster.


"Saya. Ambil punya saya. Saya Papanya," ujar Ezra.


"Jangan pa. Anser juga bergolongan darah AB. Biarkan Anser yang mendonor darah buat Moza," ucap Anser.


Pukkk


Pukkk


"Anak baik. Moza akan baik-baik saja karena punya suami sebaik kamu," ujar Ezra.

__ADS_1


Anserpun pergi bersama suster untuk mengambil darah yang Moza perlukan. Setelah selesai, dua kantong darah yang didapatpun langsung suster bawa demi kelangsungan hidup Moza.


__ADS_2