Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.204. Jodoh Akan Datang Sendiri


__ADS_3

Yure memutuskan pulang kerumah kedua orang tuanya. Dia bertekad ingin bicara serius tentang perjodohan yang dia pikir sangat konyol dan membuat dia trauma itu. Untuk memuluskan misinya itu, Yure membawa martabak keju kesukaan Regia.


"Ah...Yugie, kemarilah nak! ini abangmu bawa martabak," seru Regia dari arah ruang tamu.


Mendengar itu Yugie bergegas turun, martabak keju merupakan kesukaan regia dan dirinya.


"Tumben abang pulang? sekedar lewat apa nginap bang?" tanya Yugie seorang pria yang berprofesi sebagai polisi itu.


"Nginap. Dengar-Dengar ada yang kangen sama abang." Jawab Yure.


"Abang sih jarang pulang. Punya saudara tapi kayak berasa nggak punya. Tahu gitu mending Yugie jadi anak tunggal aja," ujar Yugie sembari menikmati martabak keju yang begitu lumer dimulutnya.


"Kamu jadi nemuin jodohmu itu?" tanya Regia sembari mengunyah martabak.


"Jadi. Itulah sebabnya Yure datang kesini, Yure mohon mama sama papa jangan lagi deh pakai acara jodoh-jodohin kayak gitu."


"Loh kenapa memangnya?" tanya Regia penasaran.


"Yang datang tadi gadis penipu." Jawab Yure.


"Gadis penipu?" tanya Regia dan Yugie bersamaan, hingga martabak yang akan masuk kedalam mulut, jadi menggantung diudara.


"Foto yang dia kasih 7 tahun yang lalu, sangat cantik dan lansing. Apa mama tahu siapa yang datang?"


"Siapa?" tanya Yugi dan Regia bersamaan.


"Gapura kecamatan." Jawab Yure.


"Gapura kecamatan?" yugie dan Regia masih kebingungan, yang membuat Yure kesal setengah mati menjelaskan pada dua mahluk didepannya itu.


"Gentong ma...gentong. Heeggghh..." Yure memperagakan dengan tangannya dan memggembungkan mulutnya.


"Bahkan hidungnya sudah berubah lebar seperti jambu aer," sambung Yure.


Mendengar itu Yugie tak kuasa menahan tawanya, hingga Yure yang kesal melihat mulut Yugi yang lebar jadi menjejalinya dengan martabak.


"Pokoknya hentikan semua kekonyolan ini. Nggak dicari juga, jodoh akan datang sendiri," ujar Yure.


"Kok nyalahin mama? kan kamu sendiri yang memilih foto itu. Lagian nggak semua foto itu yang datang seperti itu kan? kamu juga nggak boleh ngatain orang, itu body shamming namanya. Ada pasalnya loh,"

__ADS_1


"Pokoknya apapun itu Yure nggak mau ma. Yang benar aja dong ma, Yure ini tampan dan mapan. Jadi nggak mungkinlah nggak laku. Mama takut amat," ujar Yure.


"Tentu saja takut, kecuali kamu dalam seminggu ini bawa calon istri kerumah, barulah mama percaya. Begini saja, bagaimana kalau kamu ikuti 2 kencan buta lagi. Kalau memang dua gadis itu tidak cocok, mama tidak akan memaksamu lagi," ucap Regia.


"Oke deal," Yure antusias.


Yure sangat senang, karena sebentar lagi dia bisa lepas dari perjodohan konyol itu. Pria itu pun beranjak dari tempat duduknya dan mengacak-acak rambut adiknya sebelum pergi ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, dia tidak tahan untuk tidak mengabari Rakha.


"Gimana hasil introgasi dari ibu negara?" tanya Yure.


"Sesuai kesepakatan yang kita rencanakan, aku diberi kesempatan dua kali lagi mengikuti kencan buta konyol itu," ujar Rakha.


"Sama. Kamu tenang saja, kalau dua gadis itu tidak cocok sama kita, kita bisa lepas dari perjodohan sito nurboyo itu."


"Sito nurboyo? siapa itu?" tanya Rakha.


"Karena kita pria, jadilah kita sito nurboyo. Kalau kita wanita, sudah jelas kita jadi siti nurbaya ditahun ini," yang membuat Rakha terkekeh saat mendengar penjelasan Yure.


"Aku juga heran, kenapa orang tua kita begitu mengkhawatirkan tentang jodoh kita, padahal kita ini bukan nggak ada niat kearah situ. Tapi kan memang belum nemu yang sesuai saja," ujar Rakha.


"Betul. Apa kamu tahu? aku sempat stres, membayangkan saat gapura kecamatan itu sampai berhasil unboxing diriku yang bertubuh seadanya ini. Aku rasa pinggangku bisa patah tiga gara-gara dia,"


*****


"Hadeh...kenapa nasibku apes banget ya?" bisik Yure pada Rakha.


Saat ini dirinya memang tengah ditemani Rakha untuk menemui gadis kencan butannya. Rakha hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tagannya, agar tawanya jangan sampai meledak dan membuat gadis didepan mereka jadi tersinggung. Dia tahu betul apa yang ada dipikiran Yure saat ini, namun dia berpura-pura bodoh.


"Kenapa?" tanya Rakha berbisik.


"Kemarin yang datang gapura kecamatan, kenapa hari ini burung kutilang? apa dunia ini sangat membenciku? kenapa sial sekali," bisik Yure.


"Burung kutilang darimana? lihatlah dia sangat langsing," ujar Rakha yang menahan tawanya.


"Ini kelewat langsing bro. Lihatlah tulang pundaknya itu sangat menonjol dan runcing. Aku bahkan ngeri takut tertusuk," bisik Yure.


"Lihatlah betisnya itu, aku bahkan mengira itu tulang ayam upin dan ipin," sambung Yure.

__ADS_1


Sungguh Rakha sebenarnya tidak tahan untuk tidak tertawa. Dia hanya bisa tertunduk dengan tubuh bergetar, karena menyembunyikan tawanya itu.


Setelah menemui gadis kencan Yure, Rakha dan Yure memutuskan untuk pulang.


"Sebenarnya aku ngeri mau buat laporan sama mama, tapi mau bagaimana lagi? semua gadis yang kita temui, nggak ada yang beres," ujar Yure sembari nyetir mobilnya.


"Iya. Saat kita bilang, mereka selalu mengatakan bahwa itu hanya alasan kita saja. Padahal cari istri juga meski nggak sempurna, juga harus serasi dengan kita. Standarku minimal kayak mamaku," ujar Rakha.


"Busyet...kayak tante Marinka mah terlalu tinggi Ka. Tante Marinka mah sudah kayak bidadari," timpal Yure.


"Stop!" Rakha tiba-tiba menyuruh Yure untuk menghentikan mobilnya, yang membuat Yure terkejut dan mengerem mendadak.


"Ada apa?" tanya Yure.


Tanpa menjawab, Rakha langsung turun dan menolong seseorang yang jatuh dari motor. Gadis itu tidak lain adalah Gadlyn. Gadis itu bahkan sedang menangis berteriak karena terlalu kesal dan meluapkan perasaannya.


"Apa kamu sudah gila? dan mau nyusul ayahmu dirumah sakit jiwa?" tanya Rakha.


Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, Gadlyn mendadak berhenti menangis dan menoleh kebelakang. Dapat Rakha lihat air mata Gadlyn membasahi seluruh wajahnya, dengan isak tangis yang masih tersisa.


"Berdiri!" ucap Rakha.


Gadlyn berusaha berdiri, namun kaki gadis itu sepertinya terkilir. Tanpa basa basi Rakha menggendong Gadlyn dan membuatnya masuk kedalam mobil.


"Kotak P3K!" perintah Rakha dengan wajah datar.


Yure yang mengerti langsung mengambil kotak P3K dan menyodorkannya pada Rakha.


"Buka!" ucap Rakha.


"Eh?" Gadlyn bingung sembari mengusap air matanya.


"Masih mau berpikiran kotor? aku bilang buka sapu tangan di kakimu itu," ujar Rakha.


Gadlyn segera membuka sapu tangan yang sempat dia balutkan di kakinya setelah terjatuh. Rakha segera membersihkan luka Gadlyn, dan mengoleskan betadhine karena luka Gadlyn tidak begitu parah.


"Kalau tidak bisa naik motor, sebaiknya naik transportasi umum saja. Sudah berapa kali kamu terluka gara-gara jatuh dari motor?" omel Rakha.


"Bukannya tidak bisa naik motor, tapi ini karena disengaja. Karena...ah...sudahlah, tuan tidak akan mengerti masalahku apa," ujar Gadlyn kembali menangis.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu menangis? hapus air matamu! jangan pernah menangis didepanku, apa kamu mengerti?"


Gadlyn bergegas menghapus air matanya, karena dia cukup takut mendengar suara Rakha yang dingin dan menggelegar. Sementara itu Yure yang sudah tahu apa yang harus dia lakukan, segera memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki kecelakaan yang dialami oleh Gadlyn.


__ADS_2