Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.234. Salting


__ADS_3

Kriekkkkk


Yure kembali ke kamar, setelah ngobrol dengan Meiza.


"Kamu darimana?' tanya Ezka yang ingin mengetes kejujuran suaminya.


"Dari balkon. Tadi ngobrol dengan Meiza. Hampir saja dia mau kembali ke London. Untunglah dia masih mau mendengarkan ucapanku, dan tidak jadi pergi ke London." Jawab Yure.


"Tentu saja dia akan mendengarkanmu. Dia sangat menyukaimu," ujar Ezka.


"Jangan bilang kamu cemburu?"


"Aku? cemburu sama dia? mana mungkinlah. Meskipun dia menyukaimu, tapi bagiku dia sama sekali bukan saingan cinta bagiku." Jawab Ezka.


Yure memeluk Ezka dari arah belakang, dan mencium punggung mulus istrinya itu.


"Percayalah. Meskipun gadis itu bukan Meiza, tapi wanita yang aku cintai hanyalah dirimu seorang," ujar Yure.


"Gombal." Jawab Ezka.


"Mau bukti?" tanya Yure dan langsung meraba pa*a Ezka.


"Sayang. Aku lelah. Lagian kasihan juga dengan anak kita kalau terlalu sering di jenguk," ujar Ezka.


Yure segera menjauhkan tangannya. Terkadang dirinya lupa, kalau saat ini Ezka tengah mengandung buah hatinya.


Sementara itu di kamar berbeda. Moza tampak mengerutkan dahi saat berbalik badan menemukan Meiza yang tengah menyeret kopernya.


"Kamu nggak jadi pergi?" tanya Moza.


"Kak Yure melarangku pergi." Jawab Meiza datar.


"Kamu nemuin kak Yure? yang benar saja. Meiza, tolong kamu hargai kak Ezka. Bagaimana perasaannya saat tahu suaminya bicara dengan gadis yang mengincar suaminya,"


"Jadi maksudmu sampai kapanpun aku tidak boleh bicara dengan kak yure?"tanya Meiza.


"Eh? bu-bukan begitu. Aku bingung harus berkata seperti apa padamu, tapi yang pasti aku ingin mulai saat ini kamu lupakan kak Yure." Jawab Moza.


Meiza tidak menanggapi ucapan Moza. Gadis itu lebih memilih diam dan rebahan di atas ranjang dan membelakangi Moza. Moza hanya bisa menghela nafasnya, saat melihat tingkah saudara kembarnya itu.


Malam sudah meninggalkan senja. Suasana meriah tampak di salah satu hotel berbintang. Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Ezka dan Yure yamg dihadiri oleh ribuan undangan.


Meiza tampak menikmati segelas minuman di salah satu sudut ruangan. Gadis cantik calon dokter itu menatap ke arah pelaminan. Sorot matanya hanya tertuju pada satu arah, yaitu pada Yure yang tampak senyum semringah saat orang-orang datang bergantian mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Meiza meninggalkan sudut ruangan dan mencari ketenangan disalah satu tempat yang memiliki sebuah taman kecil dan air mancur. Suara gemericik air yang mengalir dari air mancur itu membawa sedikit ketenangan dihatinya. Namun tetap saja perasaan gadis itu tidak bisa di bohongi, hatinya sedang sedih saat ini.


"Lagi patah hati?"


Seorang pria yang berada di salah satu sudut gelap menyapa Meiza yang tengah menangis.


"Kamu...."


"Sudah besar masih saja cengeng. Kalau Moza yang begini mungkik aku dapat memaklumi. Tapi gadis datar, dingin, dan galak kayak kamu, rasanya nggak pantas kalau cengeng begitu,"


Meiza menyeka air matanya. Dia sedikit malu, karena ketahuan menangis oleh anak sahabat papanya itu.


"Kamu kapan nyampe?" tanya Meiza.

__ADS_1


"Jam 5 sore tadi. Tapi kamu sedang ke salon tadi. Sayang loh, dandanan Salon kalau kamu rusak dengan tangisan," ujar Anser.


"Lepaskan kak Yure," sambung Anser.


"Eh? ka-kamu tahu darimana?" tanya Meiza malu.


"Tidak penting tahu darimana. Tapi sekarang situasi sudah berbeda. Kadang tidak berjodoh dengan orang yang kita inginkan pasti Tuhan akan memberikan alasannya. Suatu saat kamu pasti akan mengerti." Jawab Anser.


"Terima kasih. Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Meiza berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Hampir mau lulus. Kalau tidak ada halangan dua bulan lagi akan wisudah." Jawab Anser.


"Apa nggak lanjut ngambil spesialis?" tanya Meiza.


"Rencananya mau lanjut ambil spesialis kandungan. Kamu kapan wisudah? apa mau lanjut juga?"


"Tahun depan lulus. Rencananya mau ambil spesialis anak-anak." Jawab Meiza.


Mendengar jawaban Meiza, Anser jadi tertawa keras.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Meiza dengan bibir mengerucut.


"Nggak cocok. Yang ada anak-anak malah ketakutan melihat wajahmu yang seram itu." Jawab Anser.


Pukkkk


Meiza memukul pundak Anser lumayan keras.


"Ya kan beda kalau ngadapin pasien langsung. Masak iya dengan anak-anak galak juga? sama kamu baru boleh galak," ucap Meiza denga bibir mengerucut.


"Ihhh....gemes banget deh lihat muka kamu," ujar Anser sembari mencubit pipi Meiza dengan gemas.


"Kemana?"


"Kemana ajalah. Yang penting jangan disini. Boring banget " Jawab Meiza.


"Tunggu aku bilang mama papa dulu," ujar Ansser.


"Ya elah Ser. Anak baik-baik banget sih kamu? nanti mereka juga nelpon kalau lihat kamu nggak ada," ucap Meiza.


"Ya udah ayo." Jawab Anser.


Dua insan itu pergi entah kemana. Mereka ingin menikmati malam kota J, sebelum akhirnya pulang ke negara tujuan mereka masing-masing.


"Terima kasih tuan," ujar Gadlyn saat Rakha menurunkan gadis itu tepat di depan rumahnya.


Gadis yang sedang mengenakan gaun malam berwarna hitam itu tampak mempesona di mata Rakha. Beberapa jam yang lalu, Rakha memang mengajak Gadlyn sebagai pasangannya untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Ezka dan Yure.


"Langsung tidur. Besok akan aku jemput lagi," ujar Rakha.


"Tuan. Apa sebaiknya saya beli motor lagi saja. Saya tidak enak kalau terus merepotkan tuan setiap hari," tanya Gadlyn.


"Aku akan membelikanmu motor, tapi tidak untuk kamu pergi ke kantor. Kalau ke kantor tetap akan ku jemput setiap hari." Jawab Rakha.


"Sebenarnya ada apa dengan pria ini? kadang aku merasa dia ini seperti menyukaiku. Tapi kalau menyukaiku, kenapa nggak pernah mengatakannya padaku?" batin Gadlyn.


"Terserah tuan saja." Jawab Gadlyn sembari membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Besok kita harus berangkat lebih pagi. Besok kita akan menandatangani kontrak dengan rekan bisnis baru," ujar Rakha.


"Baik tuan." Jawab Gadlyn.


Rakha segera menjalankan mobilnya setelah menghidupkan klakson sebanyak satu kali.


"Gadlyn," seorang pria yang mengenakan hody berwarna hitam menyeru nama Gadlyn.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Gadlyn.


"Tentu saja mau nungguin kamu. Tadi aku sedikit terlambat saat pria itu keburu membawamu pergi." Jawab Reno.


"Aku nggak punya urusan lagi sama kamu. Jadi pulang saja deh," ujar Gadlyn sembari berbalik badan.


Tap


Tangan Gadlyn di cengkram oleh Reno.


"Aku tidak percaya kalau kamu tidak punya perasaan apa-apa lagi sama aku. Aku tahu kamu dan Rakha tidak memiliki hubungan apapun. Kejadian tempo hari sengaja kamu lakukan , karena kamu masih marah sama aku kan?" tanya Reno.


"Kenapa nggak mungkin? aku memang sedang menjalin hubungan dengan dia," ucap Gadlyn.


"Tentu saja nggak mungkin. Siapa yang tidak mengenal Rakha Hawiranata. Pengusaha nomor satu di kota J. Pasti banyak gadis cantik dan kaya yang bersedia menaiki ranjangnya. Sedangkan kamu siapa? jadi Gadlyn, aku harap kembali saja padaku. Aku benar-benar minta maaf padamu, aku baru sadar kalau kamulah cinta sejatiku," ujar Reno.


"Meskipun aku nggak mungkin sama dia. Tapi aku lebih nggak mungkin sama kamu. Jadi aku harap kamu menjauhlah dari hidupku!" hardik Gadlyn.


"Kesombonganmu akan reda kalau kamu sudah melewati malam denganku," Reno menyeringai dan kemudian menyeret Gadlyn agar masuk kedalan mobilnya.


Gadlyn berusaha meronta dan meminta tolong, namun mulutnya dibekap oleh Reno.


Bugh


Bugh


Bugh


"Sudah kuperingatkan padamu waktu itu, jangan pernah ganggu wanitaku. Tapi kamu masih melakukannya? lihatlah besok, kamu akan tahu sedang berhadapan dengan siapa!" hardik Rakha.


Reno segera melarikan diri. Sementara Gadlyn terisak karena ketakutan.


Grepppppp


Rakha membawa Gadlyn kedalam pelukkannya, untuk menenangkan gadis itu.


"Husssttt...sudah tenanglah, dia sudah pergi," ucap Rakha.


"Aku sangat takut. Hikz...."


"Ada aku disini," ujar Rakha.


Cup


Untuk pertama kalinya tanpa sadar Rakha mencium kening Gadlyn, yang membuat tubuh gadis itu menegang seketika.


"A-Aku pulang. Ini ponselmu," ujar Rakha yang baru sadar dengan tindakkannya.


Setelah ponsel itu di raih oleh Gadlyn, Rakha bergegas masuk mobil tanpa menoleh lagi. Pria itu cukup malu dengan apa yang sudah dia lakukan. Sementara Gadlyn jadi bengong, atas tindakkan yang Rakha lakukan padanya.

__ADS_1


To be continue🤗🙏


__ADS_2