
Rakha mengusap puncak kepala Gadlyn yang tengah tertidur. Merasa ada yang menyentuh, Gadlyn perlahan membuka matanya dan medapati Rakha ada di depannya.
"Sudah bangun?" tanya Rakha.
"Karena ada yang membangunkan." Jawab Gadlyn dengan wajah datar.
Rakha melihat raut wajah Gadlyn yang datar dan dingin, tentu saja tidak senang.
"Ada apa dengan wajahmu itu? apa kamu marah padaku? tapi marah kenapa?" tanya Rakha.
"Ugghhhh harimau ini mana peka aku marah kenapa?" batin Gadlyn.
Rakha meraih dagu Gadlyn yang sudah memalingkan wajahnya itu.
"Jangan suka membiarkan masalah berlarut-larut. Jika kamu merasa ada keluhan, sebaiknya kamu cepat mengatakannya padaku. Apa aku punya salah padamu?" tanya Rakha.
"Rakha. Aku tidak tahu sebenarnya kamu itu meganggapku apa. Dan hubungan kita ini mau kamu bawa kemana. Saat ini kita hanya menjalaninya karena sama-sama mempunyai perasaan bukan? tapi satu hal yang tidak aku suka. Aku memamg miskin, mamaku juga punya masalalu yang buruk dengan keluargamu. Tapi bukan berarti aku akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya, terlebih itu di depanku." Jawab Gadly .
"Siapa yang menginjak harga diri mamamu?" tanya Rakha.
"Tentu saja kamu. Terlihat sekali kalau kamu hanya menginginkan aku, tapi tidak dengan orang tuaku. Rakha, aku memang mencintaimu. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu menghina orang tuaku. Sekarang aku benar-benar sadar, kalau dinding pemisah kita sangat tebal. Sekarang aku juga baru sadar, kalau dilihat dari segi apapun kita ini sangatlah tidak cocok."
"Apa maksudmu tidak cocok?" tanya Rakha.
"A-Aku...aku mau kita putus saja!" Gadlyn mengatakannya dengan mata terpejam. Gadis itu tidak ingin menatap mata Rakha.
"Katakan dengan menatap mataku, jika memamg kamu mau putus denganku," ujar Rakha.
Bukannya menjawab, Gadlyn malah memalingkan wajahnya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Rakha kembali meraih dagu Gadlyn dan melihat gadis itu tengah menangis.
"Mulutmu, dengan air matamu ternyata tidak sejalan. Terlebih dengan hatimu," ujar Rakha sembari mengusap air mata Gadlyn dengan ibu jarinya.
"Aku tidak suka kamu memperlakukan mamaku seperti kemarin. Kalau kamu tidak bisa menghargainya dan cuma menginginkan aku saja, tentu pemikiran kita tidak sejalan. Aku mau priaku mencintaiku dan menghormati orang tuaku. Hikz...." Gadlyn terisak.
"Maaf," Rakha membawa kepala Gadlyn dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud menghina orang tuamu. Aku tahu aku salah dan tidak peka. Aku akan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. Dimaafkan tidak?" tanya Rakha yang membuat Gadlyn rasanya ingin tertawa mendengarkan ucapan maaf dari Rakha.
"Harimau ini benar-benar orang yang kaku. Apa aku bisa merubah pola pikirnya yang kaku itu? minta maaf tapi terdengar maksa," batin Gadliyn sembari menyeka air matanya.
"Aku pikir-Pikir dulu." Jawab Gadlyn usil.
"Kok pikir-pikir? apa otakmu terlalu lemot? hanya tinggal memaafkan saja pakai acara pikir-pikir," ucap Rakha.
Gadlyn memutar bola mata dengan malas. Sesuai dugaannya, pria yang berada di depannya ini pria kaku dan perlu banyak di poles.
"Kamu mau minta maaf apa mau ngajak tawuran?" tanya Gadlyn kesal.
"Maaf," ucap Rakha.
"Ya Tuhan...sepertinya aku harus merubah profesiku. Sepertinya profesiku sekarang sudah berganti jadi pawang harimau," batin Gadlyn.
"Apalagi yang dipikirkan gadis ini? apa otak kecilnya ini banyak muatannya? dahinya sampai mengkerut begitu, seolah pusing mikirin hutang negara. Apa serumit ini punya pacar? apa semua gadis memang seperti ini? rasanya lebih baik menghadapi ribuan klien, daripada menghadapi seorang wanita," batin Rakha.
Ctakkkk
"Apa yang kamu pikirkan? mikir mau putus lagi? awas saja kalau mulutmu itu berani bilang putus lagi," ujar Rakha.
"Kenapa emangnya?" tanya Gadlyn.
"Aku tidak keberatan kalau kamu di karantina bersama buaya." Jawab Rakha.
Gadlyn melirik sinis kearah Rakha, dengan bibir mengerucut.
"Kamu ini sebenarnya ngajakkin aku pacaran, apa mau cariin buaya peliharaanmu makanan? mulutmu sadis banget, kalah dari mulut emak-emak kreditan yang nggak dibayar utang," tanya Gadlyn.
Rakha menghela nafas, sembari memijat keningnya. Belum genap dua hari mereka berpacaran, tapi mereka sudah sering bertengkar.
"Sebenarnya masalah utama kita tadi apa ya? kamu tidak ingin orang tuamu ditindas, tapi kenapa jadi merambat ke emak-emak tukang kredit? kamu sering kredit sama tuh emak-emak? nggak bayar lagi, begitu?"
"Eh? kenapa jadi aku yang ngutang kreditan di emak-emak? emak siapa sih?" gerutu Gadlyn.
__ADS_1
Rakha kembali menghela nafas. Dia mencoba belajar memahami sisi wanita yang belum dia ketahui. Rakha meraih kedua tangan Gadlyn dan menciumnya.
"Gadlyn. Aku ini sangat minim pengalaman tentang wanita. Aku tidak pernah berpacaran sebelumnya. Kamu adalah cinta pertamaku dan aku harap juga jadi cinta terakhirku. Kalau kamu mendengarku berkata yang tidak-tidak, tegurlah aku dengan jelas. Jangan main kode-kode apalagi teka-teki. Karena aku pasti tidak akan peka, bisa jadi malah akan marah."
"Semoga kamu bisa memahami kekuranganku, begitu juga sebaliknya. Aku tidak paham cinta seperti apa yang kamu inginkan, tapi aku bisa pastikan kalau aku hanya ingin mencintaimu saja,"
"Astaga...harimauku baru minum teh kebanyakkan gula. Oh...manisnya pacarku, heheheh," batin Gadlyn.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? kamu dengar tidak apa yang aku katakan?" tanya Rakha.
"Eh? dengar kok." Jawab Gadlyn.
"Apa yang kamu dengar?" tanya Rakha.
"Intinya kamu hanya mencintaiku saja kan? terima kasih ya sudah mencintaku, a-aku juga mencintaimu," ucap Gadlyn sembari tersipu.
Rakha kembali meraih dagu Gadlyn dan melabuhkan ciuman lembut disana. Gadlyn merangkul leher Rakha dengan kedua tangannya dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Sementara itu Karin yang baru tiba di dekat ruangan itu, terpaksa harus melihat adegan yang membuatnya menutup mulut itu. Beberapa pertanyaan muncul di benaknya. Karin sudah tidak sabar ingin mempertanyakan hal itu pada putrinya.
Karin menutup pintu yang sedikit terbuka itu. Karin kemudian mengetuk pintu, seolah dirinya tidak tahu apa-apa. Rakha dan Gadlyn yang mendengar ketukkan itu jadi melepaskan pagutan mereka. Rakha membantu Gadlyn untuk menyeka sisa ciuman mereka di bibir gadis itu.
Krieekkkkk
Karin membuka pintu itu dan memasang senyum terbaiknya.
"Apa tuan sudah lama datang?" tanya Karin.
Rakha melirik ke arah Gadlyn. Gadis itu seolah sedang menunggu kata-kata yang sangat dia harapkan.
"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja Rakha. Aku sudah lama datang, sekarang mau berpamitan pulang." Jawaban Rakha membuat senyum Gadlyn mengembang. Dan rakha sangat suka melihat kekasihnya itu bisa tersenyum kembali.
"Aku pulang," ujar Rakha sembari melirik kearah Gadlyn yang mengangguk.
Rakha mengangguk ke arah Karin, dan dibalas anggukkan yang sama oleh wanita itu. Rakha melangkah keluar dan menutup pintu setelahnya.
__ADS_1
Jangan ditanya bagaimana reaksi Karin saat melihat pintu itu sudah tertutup. Rentetan pertanyaan langsung terlontar, hingga Gadlyn jadi bingung harus menjawab yang mana.