Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.116. Kesempatan Fiktif


__ADS_3

"Bang...seandainya waktu itu Jihan tidak menghianatimu, dan menjadi wanita baik seperti yang abang inginkan, mungkinkah abang akan berada disini mencariku? mungkinkah rasa cinta yang abang bilang itu akan muncul? mungkinkah abang tahu kalau abang memiliki anak?" tanya Marinka sembari menembus tatapan mata Ezra dengan dalam.


Bibir Ezra kelu seketika. Pria itu tahu pertanyaan Marinka adalah pertanyaan mematikan. Ezra kembali menjatuhkan lututnya ke lantai dan kemudian memeluk kedua kaki Marinka.


"Abang tahu abang salah dek. Tapi tidak kah adek juga berpikir? mungkin saja Tuhan membongkar semua kebusukkannya agar abang tahu dan memang kita tidak ditakdirkan untuk berpisah. Kemudian adek pergi selama 7 bulan dari kehidupan abang...itu merupakan siksaan dan pelajaran yang diberikan Tuhan untukku. Abang sudah menerima itu,"


"Dek. Abang tahu, luka yang abang berikan padamu tidak mungkin bisa sembuh hanya dengan kata maaf dari abang. Tapi abang mohon, adek bisa berlapang dada memaafkan abang. Abang janji akan memperbaiki semuanya, kita bisa membangun hubungan kita dari awal lagi."


Ezra mendongakkan kepalanya, menatap Marinka dari bawah.


"Maaf bang. Adek butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang abang berikan. Adek akui perasaan adek masih sagat besar ke abang, tapi bukan berarti adek mau kembali begitu saja. Dan bukan tidak mungkin suatu saat abang akan menghianati adek juga,"


Ezra perlahan berdiri, membuat jarak yang terlampau dekat dengan Marinka.


"Tidak masalah kalau adek membutuhkan waktu, abang akan menunggu adek dengan sabar."


"Apa abang mau menunggu meskipun itu setahun dua tahun atau bahkan mungkin 50 tahun?"


"Ya. Abang akan menunggumu, bagiku adek dan anak-anak merupakan pelengkap hidup abang. Abang tidak menginginkan yang lainnya lagi."


"Tapi adek nggak mau kembali ke negara I, adek ingin menyelesaikan kuliah disini."


"Tidak masalah. Biar abang yang mengunjungimu dan anak-anak seminggu sekali,"


Marinka menghela nafas panjang, tidak mudah membuat pria didepannya itu menyerah.


"Kenapa? apa adek ingin membuat abang mundur dengan membuat berbagai alasan?" tanya Ezra.


Marinka tidak menjawab ucapan Ezra, pria itu seolah tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Dengar, meskipun adek menghunuskan pedang ketubuhku sekalipun, abang tidak akan mundur. Abang rela mati ditanganmu, asalkan itu bisa menghapus dosa-dosa abang padamu."


"Apa abang mengira perkataanmu bisa membuat hati adek meleleh?" tanya Marinka. padahal yang sebenarnya, hati Marinka yang lembut merasakan demikian.


"Bu-Bukan begitu. Abang nggak bermaksud ingin bermain kata-kata, agar membuat adek jadi terkesan. Tapi itu benar-benar dari lubuk hati abang yang paling dalam."


"Kalau begitu berjuanglah. Buktikan kalau abang memang sungguh-sungguh,"


"Ya. Abang janji akan membuat adek jatuh cinta lagi pada abang."

__ADS_1


"Tapi abang juga harus ingat, ini bukan kesempatan yang sebenarnya. Bisa dibilang ini adalah kesempatan fiktif. Kalau dalam perjalanan pembuktian abang berulah lagi, maaf saja kesempatan abang harus hilang begitu saja. Abang harus rela melepaskan adek dan anak-anak."


"Ya. Abang janji tidak akan mengecewakan adek lagi. Emmm...dek...bolehkah abang memelukmu?" tanya Ezra.


"Abang sangat merindukanmu, apa adek tahu? kebiasaan kita tidur yang saling berpelukkan membuat abang benar-benar merasa kehilangan. Jadi izinkan abang memelukmu sekali saja,"


Marinka menatap mata Ezra, tatapan mata sendu dan menghiba. Marinka kemudian menganggukkan kepalanya. Jauh dilubuk hatinya dia juga ingin memeluk pria dihadapannya itu.


Greeeeppppp


Tanpa menunggu berlama-lama, Ezra memeluk Marinka dengan erat.


"Abang merindukanmu dek," ujar Ezra namun ditanggapi diam oleh Marinka. Marinka tidak ingin Ezra tahu, bahwa dia lebih merindukan pria itu.


"Jadi kita sekarang statusnya pacaran dulu ya dek?" tanya Ezra.


"Ya. Kalau abang lulus ujian dariku, adek ingin dilamar dan dinikahi ulang."


"Akan abang lakukan. Abang akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia didunia," ujar Ezra sembari mengeratkan pelukkannya."


Marinka melepaskan pelukkan Ezra dari dirinya. Dia tidak ingin hilang kendali atas diri pria itu.


"Kita akan bicara dengan dia,"


"Ya udah ayo kita keluar, tidak enak dengan mereka."


"Emm." Ezra mengangguk sembari tersenyum.


Ezra dan Marinkapun pergi keluar, menemui Ando, Sera dan Yuda yang sedang menunggu mereka selesai diskusi.


Ando menatap Marinka, yang matanya sudah bengkak karena menangis. Pria itu segera menghampiri Marinka, entah mengapa dia sangat berharap Marinka menolak Ezra kembali.


"Apa dia menyakitimu?" tanya Ando yang membuat hati Ezra memanas.


"Pertanyaan macam apa itu? apa kamu mengenalku sebagai seorang pria yang sering menyakiti wanita?"


"Kenapa kamu sensitif? kalau tidak merasa, tidak usah marah." ujar Ando.


"Abang, kak Ando. Kita duduk dulu ya? kita bicarakan semuanya baik-baik," ujar Marinka.

__ADS_1


Mereka pun duduk bersama, suasana sejenak hening, sampai Marinka bersuara kembali.


"Kak ando. Aku minta maaf kalau sudah mengecewakan kakak. Tapi aku sudah memutuskan akan memberikan bang Ezra kesempatan berjuang."


"Maksudnya kesempatan berjuang bagaimana?"


"Kesempatan untuk dia sungguh-sungguh membuktikan keseriusan dia untuk melanjutkan hubungan kami. Tapi kalau ditengah jalan dia gagal, aku juga nggak balikkan sama dia."


"Apa itu artinya masih ada kesempatan buat kakak?" tanya Ando.


"Eh...maksud pertanyaanmu itu apa. kamu mau nusuk aku dari belakang? bagaimana mungkin kamu bisa mengharapkan istri sahabatmu sendiri?" ujar Ezra memanas.


Yuda memijat keningnya, Ando benar-benar tidak memiliki kesabaran.


"Pria bodoh ini, bisakah dia menunggu benar-benar sampai akhir? dia kan bisa nunggu sampai Ezra benar-benar gagal. Kenapa harus menanyakan hal sensitif itu sekarang? benar-benar cari mati ini anak," batin Yuda.


"Aku hanya ingin memastikan. Jika kamu gagal, aku masih memiliki kesempatan," ujar Ando.


"Meskipun aku gagal, aku nggak akan membiarkan siapapun merebut dia dariku. Karena aku nggak akan membiarkan anak-anakku memiliki papa tiri," hardik Ezra.


"Pretttt...itu mah sama aja kamu memaksa, berhasil atau tidak kamu tetap ingin mengungkung Marinka dalam duniamu," batin Yuda.


Marinka menghela nafas mendengar perdebatan Ando dan Ezra. Walau bagaimanapun Ando sudah banyak membantunya selama ini dan sangat baik kepadanya.


"Ya. Siapapun akan memiliki kesempatan. Baik itu abang, kak Ando, ataupun pria diseluruh dunia ini."


"Dek..." Ezra keberatan.


"Bang. Itu sudah jadi keputusanku. Kalau abang mau bersaing silahkan, tapi kalau nggak mau juga tidak masalah. Abang bisa pergi dari sini,"


Ezra tertunduk lesu. Bersaing dengan Ando tentu saja agak berat baginya. Ando memiliki akses bertemu lebih sering dari dirinya, yang memberi peluang besar bagi pria itu untuk merebut hati Marinka.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat, abang nggak mau adek tinggal disini lagi."


"Maksudnya apa? waktu kamu membuang dia, dia memang sudah disini sejak lama." ucap Ando keberatan.


"Kamu ralat kata-katamu itu. Aku nggak pernah membuang dia. Jangan bicara sembarangan," hardik Ezra.


Marinka, Yuda dan Sera hanya bisa memijat kepala mereka yang sama sekali tidak pening. Kedua pria itu benar-benar membuat sakit kepala mendengar perdebatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2