Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.96. 500 Milyar


__ADS_3

"Bagaimana kata dokter?" tanya Ando.


"Mereka semuanya sehat. Aku disarankan untuk banyak memakan buah dan sayur."


"Apa jenis kelaminnya sudah kelihatan?"


"Belum. Lagipula aku tidak perduli dengan jenis kelaminnya, bagiku perempuan atau laki-laki sama saja."


"Aku sudah tidak sabar menanti kelahiran mereka, pasti mereka sangat lucu dan menggemaskan." ujar Ando.


"Bang. Apa saat kamu tahu kehamilanku, kamu akan sama antusiasnya seperti kak Ando? atau kamu malah akan menyuruhku untuk menggugurkannya? atau kamu akan mengambil mereka dariku dan membesarkannya bersama Jihan?"


"Tidak! aku tidak akan membiarkan abang mengambil mereka dariku. Aku akan memperjuangkan anak-anakku sampai tetes darah penghabisan."


"Kak. Apa aku boleh minta bantuanmu lagi?" tanya Marinka.


"Apa?"


"Entah mengapa aku sangat takut suatu saat mantan suamiku akan mengambil anak-anakku dari sisiku. Apa kakak mau membantuku agar hak asuh bisa jatuh ketanganku?"


"Kamu tenang saja. Kakak akan selalu membantumu,"


"Makasih kakak. Meskipun sebenarnya dia tidak tahu tentang kehamilanku, tapi aku masih sedikit khawatir."


"Dia tidak tahu kamu hamil?"


"Emm. Aku menyembunyikannya dari dia. Aku tidak ingin saat anakku lahir, dia membesarkan anak-anakku dengan wanita lain."


"Kalau dia tidak tahu, itu akan lebih mudah. Dia tidak akan tahu kalau kamu pernah hamil dan melahirkan. Yang tahu cuma kamu, aku, Sera dan Rehan."


"Aku juga berharap begitu, bukannya aku jahat, tapi aku tidak ingin dipisahkan dengan anakku." ucap Marinka.


"Kakak mengerti. Kalau aku yang jadi mantan suamimu, aku tentu tidak akan tega memisahkan seorang anak dari seorang ibu. Tapi tidak apa, waspada sangat diperlukan."


"Emm."


"Oh ya, Sera tadi pesan apa ya buat makan siang dia?"


"Apa saja. Dia bukan tipe gadis yang pilih-pilih dengan makanan."


"Baiklah, kita beli bawa pulang saja. Jadi kita bisa makan siang bersama."


"Emm." Marinka mengangguk.


Sementara itu, di belahan dunia berbeda, Jihan sedang menatap selembar cek di tangannya. Saat ini gadis itu sedang berdiri tepat disalah satu bank terlaris dinegara I.


"Aku akan lihat, apa Ezra pria yang sangat perhitungan? seharusnya dia membiarkan aku mencairkan uang ini kan? kalau tidak, sungguh aku akan menghancurkan hidup pria itu, seperti dia menghancurkan hidupku." ucap Jihan lirih.


Jihan melangkah masuk kedalam bank, setelah mendapat nomor antrian, Jihan menunngu beberapa saat.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya ingin mencairkan cek ini,"


Pegawai bank itu meraih selembar cek yang Jihan sodorkan, dan cukup terpanah saat melihat nominal yang akan dicairkan.

__ADS_1


"Maaf, boleh kami lihat kartu identitas anda?"


Jihan menyodorkan kartu identitasnya pada pegawai itu. Pegawai itu mengerutkan dahinya saat melihat identitas Jihan, berbeda dengan si penerima cek.


Pegawai itu kemudian mengkonfirmasi pada orang yang memberikan cek.


"Dengan tuan Ezra Hawiranata?"


"Ya saya sendiri,"


"Tuan. Kami dari pihak bank ingin mengkonfirmasi sebuah cek yang akan dicairkan seseorang atas nama Marinka. Apa betul tuan pernah memberikan cek itu?"


"Ya betul."


"Tapi saat ini yang akan mencairkan cek itu nona yang bernama Jihan, dengan tidak membawa surat kuasa apapun dari nona Marinka."


"Itu karena cek itu sudah di curi oleh orang yang bersangkutan. Jadi anda tolak saja jika dia ingin mencairkan cek itu."


"Baik tuan. Terima kasih atas infonya, selamat pagi."


"Pagi."


Ezra tertawa keras saat membayangkan ekspresi putus asa diwajah Jihan, saat pihak bank menolak untuk mencairkan cek yang gadis itu bawa.


"Maaf bu Jihan. Si pemberi cek menolak anda yang mencairkan ceknya, karena cek itu milik ibu Marinka."


"Tunggu sebentar, biar saya konfirm dulu dengan si pemberi cek,"


Jihan kemudian membuat panggilan untuk Ezra. Ezra yang berniat ingin menghina Jihan, dengan senang hati menerima panggilan itu.


"Hallo,"


"Memangnya kenapa? itu uangku yang aku berikan untuk Marinka. Apa selain serakah, kamu juga tidak bisa membaca? tahu diri dan tahu malu sedikit kamu. Jangan pernah mengambil sesuatu yang memang bukan hak mu."


"Apa kebersamaan kita selama ini sama sekali tidak ada artinya untukmu? minimal berikan aku sedikit kompensasi sebagai kenang-kenangan terakhir."


"Uang 500 milyar terlalu besar untuk uang kompensasi. Malah seharusnya aku yang minta ganti rugi padamu. Bukan kah selama ini kamu selalu memperdayaku? setelah ku ingat-ingat, aku sudah menghabiskan nyaris 200 milyar selama kita berhubungan."


"Tapi uang itu...."


Iihan tidak meneruskan kata-katanya, dia tidak ingin Ezra tahu, bahwa uang pemberian pria itu sudah raib di peras seseorang.


"Kenapa?"


"Tidak. Tolong kamu acc saja cek 500 milyar itu."


"Dasar wanita tidak tahu malu,"


Ezra mengakhiri panggilan itu, sehingga membuat Jihan jadi kesal setengah mati. Gadis itu kemudian keluar dari tempat itu sembari merobek cek yang berjumlah fantastis itu.


"Harapanku satu-satunya tinggal uang 160 milyar itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan uang itu kembali. Beraninya gadis culun itu merampas uangku. Apa dia menganggap dirinya itu sudah pintar? lihat saja bagaimana caraku memberimu pelajaran." ucap Jihan lirih.


"Apa kamu sudah gila?" tanya Yuda.


"Aku sangat senang hari ini. Wanita tidak tahu malu itu benar-benar ingin mencairkan cek itu."

__ADS_1


"Lalu?"


"Tentu saja pihak bank mengkonfirmasinya lebih dulu padaku. Apa kau tahu? wanita itu langsung menelponku agar minta di acc."


"Ulat sagu tidak tahu diri. Masih saja ingin mencari lebih. Rasanya ingin sekali aku membenamkan wajahnya kedalam comberan."


"Lalu bagaimana dengan Regia?"


"Dia masih mendiamkanku."


"Apa kamu masih tidak ingin mengakui, kalau kamu itu menyukai dia? kalau kamu memang tidak menyukai dia, aku akan menjodohkan dia dengan temanku yang lain."


"Apaan sih Zra. Sejak kapan kamu jadi pak comblang begitu?"


"Mungkin dengan aku menyatukan banyak orang, aku jadi cepat bersatu dengan Marinka. Bagaimana dengan pencarian kita?'


"Masih belum menemukan titik temu."


"Oh ya, aku ingin memberitahumu tentang Gendis."


"Tentang apa?"


"Saat dipesta pernikahan malam itu, Gendis sempat menghilang beberapa saat. Aku kemudian mencarinya melalui cctv hotel. Apa kau tahu apa yang kutemukan?"


"Apa?"


"Bukankah dia tidak ingin memberitahumu tempatnya bekerja sebelum disini?"


"Ya."


"Kamu bisa menyelidikinya mulai dari perusahaan SS Group."


"SS Group? direntur Sutomo Sudiro?"


"Ya. Aku melihat dia menghampiri pria itu dan pergi kesalah satu kamar hotel."


"Baiklah aku mengerti. Sebenarnya aku tidak ingin lagi menyelidiki dia. Entah mengapa aku jadi hilang minat. Tapi karena ini menyangkut reputasi perusahaan, tentu saja harus diselidikki."


"Emm."


"Aku kembali keruanganku dulu,"


"Ya."


"Dia sudah keluar dari ruanganku, sekarang giliran kamu bereaksi." chat Ezra.


"Baik tuan," balas Regia.


Regia segera bangkit dari tempat duduknya dan membawa sebuah amplop berwarna putih. Regia berjalan sembari menunduk, dan...


Brukkk


Regia menabrak seseorang yang tak lain adalah Yuda.


Plukkk

__ADS_1


Sebuah amplop putih terjatuh tepat di kaki Yuda. Pria itu kemudian memungutnya dan membukanya. Matanya terbelalak saat membaca isi amplop itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2