
"Sayang rencananya besok abang kembali ketanah air," ujar Ezra.
"Besok? kenapa cepat sekali?" tanya Marinka dengan wajah mendung.
Ezra mendekati istrinya dan memeluk pinggang wanita itu dengan posesif.
"Kenapa? nggak rela abang pergi. Hem?"
Marinka mengalungkan kedua tangan dipinggang suaminya, kemudian merebahkan kepalanya didada bidang pria itu.
"Kita baru saja bersama, tentu saja adek belum rela berpisah secepat ini. Kenapa abang tidak menetap di Paris saja? minimal hingga adek lulus kuliah,"
"Akan abang diskusikan dulu dengan Yuda. Walau bagaimanapun pusat perusahaan kita ada di Kota J. Tentu pekerjaan disana lebih banyak daripada disini, abang takut Yuda keberatan."
"Hah...baiklah adek mengerti, cuma dua tahun lagi juga. Adek akan usahakam lulus lebih cepat."
"Ya bersabarlah. Selama dua tahun itu adek bisa langsung mengembangkan sayap. Mulailah untuk banyak mendesign. Abang akan buatkan satu pabrik untukmu secepatnya."
"Nggak usah bang, adek mau atas usaha adek sendiri."
"Untuk yang satu ini adek dilarang nolak ya? satu lagi, abang benar-benar tidak ingin kamu bekerja lagi di butik si Ando."
"Kok gitu bang? kan perjanjian kemarin nggak kayak gitu?"
"Sayang. Apa kamu tidak kasihan dengan anak-anak? kamu membawanya kesana tiap hari, mereka akan terkena polusi udara luar, kamu pasti nggak mau kan anak kita sakit?"
Marinka menggelengkan kepalanya dengan bibir cemberut.
"Jadi menurutlah, itulah sebabnya abang ingin mendirikan pabrik untukmu. Agar kamu bisa sibuk dengan usahamu sendiri. Disana nanti akan aku buatkan ruangan khusus untuk anak-anak, biar mereka nyaman."
"Tapi ini bukan karena abang cemburu dengan Ando kan?"
Ezra menyunggingkan senyumnya dan menyelipkan rambut ditelinga istrinya.
"Abang sudah memilikimu seutuhnya, jadi abang yakin adek tidak akan berpaling dariku. Jika Ando bukan sahabatku, mungkin abang akan khawatir. Tapi abang sangat mengenal dia dengan baik, dia tidak mungkin melakukan hal-hal diluar batas."
"Bang. Apa tidak sebaiknya sebelum abang pergi, kita menemui kak Ando lebih dulu? kita harus memberitahu dia tentang pernikahan kita, karena adek tidak mengizinkan Sera untuk memberitahunya."
"Baiklah. Abang juga berpikir demikian, abang akan menghubungi dia dulu kalau begitu."
"Emm." Marinka mengangguk.
Setelah menghubungi Ando, pria itu setuju untuk bertemu Marinka dan dirinya. Setelah menentukan tempat, akhirnya merekapun berbincang bersama disebuah kafe. Untuk mengurangi kecanggungan, Ando mengajak Sera untuk pergi bersama ketempat itu.
Wajah Ando tidak seceria biasanya, pria itu memasang wajah datar bahkan nyaris mendung. Setelah memesan beberapa menu minuman, merekapun mulai berbincang bersama.
"Ando. Kami ingin memberitahu hal penting padamu, kami perlu memberitahumu mengingat waktu itu kita sempat bersitegang karena masalah ini," ujar Ezra.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ando.
"Dua hari yang lalu aku dan Arin sudah menikah kembali." Ezra terdiam sejenak, pria itu ingin tahu bagaima respon sahabatnya itu.
Ando mengalihkan pandangan matanya pada Marinka. Suasana mendadak hening seketika. Namun diluar dugaan, sejenak kemudian Ando menyunggingkan senyum dan mengulurkan tangannya.
"Selamat ya Zra. Aku turut bahagia untuk kalian," ujar Ando.
"Kamu tidak marah?" tanya Ezra.
"Kenapa harus marah? sejak awal Arin memang milikmu, aku hanya selingan dari kisah cinta kalian." Jawab Ando.
Ezra mengembangkan senyumnya, begitu juga Marinka dan Sera.
"Hah...syukurlah, padahal tadinya aku sempat mengira kamu akan ngamuk-ngamuk," ujar Ezra.
"Kamu terlalu mikir berlebihan. Meski aku jomblo akut, aku nggak berminat juga jadi pebinor." Jawab Ando sembari terkekeh.
Dalam hati Sera gadis itu juga merasa lega, dirinya mungkin akan lebih berterus terang kedepannya untuk mendekati Ando.
"Arin minta maaf ya kak, karena kesannya waktu itu Arin memberikan kesempatan untuk kakak. Padahal Arin tahu, hati Arin cuma buat abang."
"Tidak masalah. Kakak hargai keputusanmu, lagipula kakak tahu kamu sudah bersama dengan orang yang tepat. Kalian memutuskan untuk kembali bersama adalah keputusan yang sangat tepat juga, soalnya ada anak-anak diantara kalian. Mereka butuh keluarga yang utuh,"
"Terima kasih atas pengertian kakak. Kakak juga harus segera membuka diri, terkadang kita terlalu sibuk mengejar hal yang tak pasti, padahal disekitar kita tanpa kita sadari ada yang memperhatikan kita," Marinka melirik kearah Sera. Namun gadis itu memberikan kode dengan gelengan kepala.
"Ya itu. Kadang kita terlalu sibuk menangisi pintu yang tertutup, padahal tanpa kita sadari disebelah ada pintu yang terbuka."
"Huuffftt...kakak masih saja lambat loading. Kalau disuruh berteka-teki kakak nyerahnya paling depan," ujar Ando.
Marinka, Ezra dan Sera terkekeh mendengar ucapan Ando.
"Oh ya Ndo. Kedepannya istriku juga nggak lagi kerja ditempatmu," ujar Ezra.
"Kenapa? apa kamu takut aku tikung?"
"Nggak, bukan itu. Aku hanya ingin istriku fokus ngurus anak-anak dan kuliah saja. Kalaupun ingin menyibukkan diri, paling dia akan mendesign yang banyak. Rencananya aku ingin membangun pabrik sendiri untuk dia kelolah."
"Aihhh...ya aku percaya saja yang lagi banyak duit," ujar Ando.
"Aku harus mewujudkan cita-cita istriku untuk menjadi designer dunia."
"Emm. Aku yakin Arin akan menjadi orang sukses kedepannya," ujar Ando.
"Ya sudah Ndo. Kami mau pulang dulu, kasihan anak-anak lama ditinggal. Oh ya, besok rencananya aku akan kembali ke tanah air,"
"Hati-Hati saja, apa kamu akan LDR dengan Arin?"
__ADS_1
"Aku akan mendiskusikan hal ini dulu dengan Yuda. Sepertinya aku nggak sanggup berpisah jauh dari istri dan anak-anakku," ujar Ezra yang membuat pipi Marinka merona.
"Ya. Kebersamaan itu lebih penting, aku dengar om dan tante juga disini?"
"Ya. Rencananya mereka akan pulang bersamaku besok."
"Titip salam saja kalau begitu,"
"Emm." Ezra mengangguk.
Ezra dan Marinka pun melenggang pulang, tinggalah Ando dan Sera yang masih berada di kafe.
"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Sera.
"Kakak baik. Kamu benar, kalau kita ikhlas melepaskan sesuatu, ada rasa longgar didada kita."
"Ya. Syukurlah kalau kakak baik-baik saja, aku lega dengernya."
"Kita pulang yuk?" tanya Ando.
"Emm." Sera mengangguk.
Saat Ando dan Sera akan beranjak dari tempat duduknya, seseorang datang menyapa mereka.
"Ando? kamu Ando kan?"
"Renata? kamu ada di Paris?
"Ya. Kamu apa kabar? ini siapa? istrimu?" tanya Renata bertubi-tubi.
"Aku baik. Ini Sera temanku,"
"Kamu sama siapa kesini?"
"Sendiri."
"Oh, suamimu sedang bekerja ya?"
"Tidak tahu. Aku sudah bercerai dari dia,"
Ando terkejut. Karena setahunya Renata memang menikahi seorang pengusaha kaya raya setelah putus dari Ezra.
"Rena, aku sedang buru-buru nih. Aku pamit pergi ya?"
"Ando. Bolehkah aku meminta nomor kontakmu?"
"Tentu saja boleh," Ando memberikan nomor kontaknya pada Renata, mereka pun akhirnya berpisah disana.
__ADS_1
Sera diam saja disepanjang perjalanan, dia jadi hilang mood saat menyadari akan datang lagi saingan cinta yang baru. Terlebih saingan itu terlihat cantik, seksi dan glamor. Sera jadi hilang kepercayaan dirinya.