Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.311. Menghilangkan Dahaga


__ADS_3

Disarankan baca pas buka🙈🙈🙈


Setelah melewati hari yang panjang bersama keluarga besar Hawiranata. Meiza dan Ilyaspun akhirnya bisa memisahkan diri dari keluarga itu dan pulang kerumah mereka sendiri. Anak-Anak langsung diambil alih baby sitter mereka di rumah, sementara Ilyas dan Meiza langsung menuju kamar mereka sendiri.


Brakkkk


Pintu kamar mereka tertutup agak lumayan kasar. Ilyas bergegas mendorong Meiza kedaun pintu, dan merekapun berpagut mesra. Ciuman itu sama sekali tidak lembut. Ciuman itu bisa dibilang sangat rakus dan tamak, seolah mereka benar-benar sangat dahaga.


Suara decap keduanya memenuhi kamar itu. Hanya sesekali mereka menghentikan pagutan itu, dan kemudian kembali berciuman panas lagi.


Srekkkk


Srekkk


Srekkkk


Mereka sama-sama melepaskan pakaian mereka dengan tidak sabar. Hingga kini mereka sama sekali tidak mengenakan apapun lagi. Ilyas segera menggendong tubuh Meiza, untuk dibaringkan diatas tempat tidur. Ilyas kembali mencumbu Meiza, dengan tangan sudah bergerilya ke liang basah milik Meiza.


"Ah...sayang..."


Akhirnya suara merdu itu lolos juga dari mulut Meiza, ketika Ilyas sudah mempermainkan puncak dada Meiza secara bergantian. Ilyas dengan lihai men**lat me**mat kedua puncak itu, hingga membuat Meiza bergelinjang.


"Ah...sayang... Aku mencintaimu," ujar meiza.


Ilyas yang tidak sabar lagi, langsung memposisikan diri diantara kedua kaki Meiza. Dengan lembut dia menekankan miliknya, hingga secara perlahan-lahan pusaka kebanggaannya masuk sempurna.


"Heeggghh...emmmpptt aahh...".


Meiza merasakan sesak penuh dibawah sana. Ilyas kemudian mulai memompakan miliknya, hingga suara ranjangpun mulai berdecit.


Krieettt


Kriettt


Krieett


"Enak?" tanya Ilyas.


Meiza tersenyum, dan kemudian mencium bibir suaminya itu dan akhirnya terpejam karena sangat menikmati hujaman-hujaman lembut dari Ilyas. Sama seperti Meiza, Ilyas juga memejamkan matanya, karena sangat menikmati liang hangat milik Meiza yang sudah 6 bulan lebih tidak di nikmatinya.


"Sayang...lebih cepat," ucap Meiza lirih.


Ilyas menuruti permintaan Meiza, karena dia tahu sepertinya Meiza akan mendapatkan pelepasan pertamanya.

__ADS_1


"Emmpptt...ah...ah...ah....sayang..."


Tubuh Meiza tiba-tiba mengejang, dengan kepala jauh terdorong kebelakang. Ilyas yang belum mendapatkan pelepasannya, mengingingkan Meiza memimpin pertempuran itu. Meiza kemudian berada diatas suaminya, dan segera meraih kejantanan Ilyas dan menelan benda itu dengan liang basah miliknya.


Meiza kemudian mulai menaik turunkan pinggulnya, lambat laun dirinya mulai berga*rah kembali. Ilyas yang gemas melihat dua benda menggantung di dada Meiza, langsung melahapnya sembari menikmati sensasi luar biasa dari arah bawa sana.


"Yah...lebih cepat lagi sayang..."


Ilyas menuntun pinggul Meiza agar bergerak lebih cepat lagi. Meiza dengan lincah menuruti apa yang suaminya inginkan, namun hal itu malah membuat dirinya kembali mendapatkan pelepasan keduanya. Meiza ambruk diatas tubuh Ilyas. Ilyas kemudian menginginkan dirinya berada di belakang Meiza, Meiza yang mengerti langsung mengambil posisi yang di inginkan oleh Ilyas.


"Ahh...sayang...aku mencintaimu,"


Suara ranjang kembali berdecit, saat Ilyas kembali memaju mundurkan pinggulnya dari arah belakang Meiza. Posisi ini paling disukai oleh Ilyas, karena seluruh miliknya bisa terbenam sempurna. Hujaman demi hujaman keras, Ilyas berikan. Hingga suara pertemuan kulit dan daging mereka, membuat irama sendiri diantara suara derit ranjang yang tak lagi beraturan. Jangan ditanya bagaimana suara Meiza, saat mendapat hujaman-hujaman keras itu, suara wanita itu melengking-lengking karena menahan rasa nikmat yang luar biasa dia rasakan saat ini.


Dan setelah beberapa saat kemudian, Ilyas dan Meiza akhirnya sama-sama mengerang panjang, karena mereka mendapatkan pelepasan yang sempurna.


Hosh


Hosh


Hosh


Suara nafas Meiza dan Ilyas saling memburu.


Ilyas berbaring telentang karena lelah. Keringatnya dan Meiza masih menetes, saat mereka kini saling berpelukkan karena merasa puas dengan permainan mereka.


"Sayang. Apa kamu lelah?" tanya Meiza.


"Kenapa?" tanya Meiza.


"Jangan tidur dulu, aku ingin kita bermain sekali lagi." Jawab Meiza.


Ilyas terkekeh mendengar ucapan Meiza sembari mencium puncak kepala Meiza yang sedang berada di lengannya itu.


"Kenapa? apa tadi aku tidak bisa memuaskanmu?" tanya Ilyas.


"Bukan. Kamu selalu bisa memuaskanku, tapi rasa dahagaku yang belum hilang. Aku ingin bercinta denganmu sepuasnya."Jawab Meiza.


"Kenapa? apa kamu sudah bosan?" tanya Meiza.


"Mana mungkin. Aku malah takut kamu yang kelelahan, kamu kan baru saja siuman. Kalau aku mah tahu sendiri, aku bisa puas kalau kita main sebanyak 5 ronde." Jawab Ilyas.


"Kalau begitu ayo kita bermain sebanyak 7 ronde untuk hari ini. Kita puaskan rasa dahaga kita," ujar Meiza yang membuat mata Ilyas jadi melotot.

__ADS_1


Setelah istirahat beberapa saat, merekapun kembali bertempur. Namun keinginan tidak selalu berjalan sesuai espektasi. Meiza yang ingin bermain sebanyak 7 ronde, harus menyerah saat di ronde ke 5.


"Ampun yank. Nggak kuat lagi akunya," ujar Meiza dengan peluh yang masih merebak ditubuhnya.


"Kok udahan? katanya mau ronde ke 7?" tanya Ilyas sembari terkekeh.


"Nggak kuat yank. Rasanya badanku remuk, pinggangku juga rasanya mau patah." Jawab Meiza dengan wajah memelas.


Ilyas beranjak dari tempat tidur, dan masuk kedalam kamar mandi. Ilyas menyiapkan air hangat untuk dirinya dan Meiza berendam. Setelah selesai Ilyas menggendong Meiza, dan memasukkan istrinya itu kedalam bathup, dan diikuti dirinya yang duduk dibelakang istrinya itu.


"Bagaimana. Apa kamu merasa nyaman. Hem?" tanya Ilyas sembari menggosok punggung istrinya itu.


"Ya. Saking nyamannya aku jadi pengen gituan lagi." Jawab Meiza sembari terkekeh.


"Waktu kita masih panjang. Kita bisa melakukanya setiap hari nanti. Aku tidak mau kamu sampai sakit lagi," ujar Ilyas.


"Yah...kamu benar, lain kali mungkin anak kita akan jadi lagi," ucap Meiza.


"Astaga sayang. Aku lupa kita nggak pakai pengaman. Kalau tidak salah, kamu sedang masa subur sekarang ini," ujar Ilyas.


"Be-benarkah?" tanya Meiza terkejut.


"Selama aku koma, siapa yang memasangkan aku pembalut?" sambung Meiza dengan malu.


"Tentu saja aku. Aku tidak mengizinkan orang lain melihat punyaku yang berharga, termasuk perawat itu." Jawab Ilyas.


"Benarkah?" Meiza tertunduk malu.


"Kenapa. Hem?" tanya Ilyas.


"Aku malu, karena sudah merepotknamu seperti itu." Jawab Meiza.


"Sayang. Kamu itu istriku. Sudah sepatutnya kamu itu aku yang merawat," ujar Ilyas.


"Tapi saat itu kamu juga belum bisa jalan. Kamu pasti kerepotan," ucap Meiza.


"Memasang itu pakai tangan, bukan pakai kaki. Lagipula saat itu aku sudah bisa jalan. Apa kanu lupa, aku bisa jalan saat mengantarmu ke rumah sakit. Apa kamu lupa," ujar Ilyas.


Cup


Meiza meraih kepala Ilyas dari belakang, dan mencium bibir suaminya itu. Sementara itu di tempat berbeda, Joana tengah menangis di kamar mandi. Wanita itu nangis sampai tersedu-sedu.


"Sayang. Keluarlah! tidak apa-apa, nanti kita coba lagi," ujar Abizard dari arah luar pintu kamar mandi.

__ADS_1


Joana akhirnya keluar, dalam keadaan mata sembab.


__ADS_2