Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.281. Berubah


__ADS_3

"Selamat datang di rumah baru kita sayang," ujar Meiza.


Seorang perawat membantu Ilyas mendorong kursi rodanya. Meiza merapikan tempat tidur mereka yang terlihat sedikit kusut karena bekas ia tiduri.


"Apa ini kamarmu?" tanya Ilyas.


"Kamar kita sayang." Jawab Meiza.


"Aku minta kamar terpisah denganmu," ujar Ilyas.


"Sa-Sayang. Kenapa begitu? akan lebih baik kita tidur bersama. Aku bisa merawatmu, terlebih sangat bagus untuk anak-anak kita," ucap Meiza.


Ilyas terdiam. Dia lagi-lagi lemah, saat Meiza menyebutkan soal anak mereka.


"Baiklah." Jawab Ilyas.


"Dia berubah sejak mengalami amnesia. Bersabarlah Meiza. Apapun kekurangannya dia adalah suamimu, ayah dari anak-anakmu. Lagipula dia celaka karena ada andil kamu di dalamnya," batin Meiza.


"Dia terlihat sedih dengan sikapku. Maafkan aku sayang. Aku lagi-lagi membuatmu sedih. Kenapa kamu mau menerimaku yang cacat ini. Seharusnya kamu tidak usah perduli saja denganku," batin Ilyas.


Ilyas berusaha naik keatas tempat tidur sendiri, namun gagal. Perawatpun membantunya untuk berbaring diatas tempat tidur. Suasana hati Ilyas begitu kacau saat ini. Dia begitu malu terlihat lemah di depan Meiza. Meiza yang mengerti perasaan Ilyas, mencoba menawarkannya sesuatu.


"Sayang. Apa kamu mau teh atau kopi? aku ambil makanan buat kamu sebentar ya?"


Meiza berbalik badan, namun tangannya dihalangi oleh Ilyas.


"Jangan lakukan apapun, sebelum aku menyuruhmu. Kamu tengah mengandung. Jangan terlalu banyak naik turun tangga, kalau tidak ingin anak-anak celaka," ujar Ilyas.


Meski ucapan Ilyas terdengar ketus dan dingin. Tapi Meiza sangat bahagia, karena Ilyas begitu memperhatikan dirinya dan anak-anak mereka.


"Iya. Akuakan selalu ada disisimu. Kamu nggak mau aku tinggal ya?" goda Meiza yang membuat Ilyas jadi salah tingkah.


"Omong kosong," ujar Ilyas sembari memalingkan wajahnya.


Meiza memberikan kode pada pelayan dan perawat, agar meninggalkan mereka setelah membantu Ilyas berbaring diatas tempat tidur. Meiza pun berbaring disamping Ilyas, dan memeluk pria itu dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku sayang, maafkan aku....hikz...." Meiza tiba-tiba terisak. Dia sangat sedih melihat keadaan Ilyas seperti itu.

__ADS_1


Tanpa Meiza tahu, Ilyas juga meneteskan air mata, namun secepat kilat dia menyekanya.


"Sudahlah jangan banyak menangis. Tidak bagus untuk anakmu. Aku mau tidur," ujar Ilyas sembari berbalik badan.


Meiza terdiam. Dia memang sedih dengan sikap Ilyas. Namun dia cukup mengerti, karena menurutnya rasa percaya diri Ilyas sangat menurun saat ini.


Grepppp


Meiza memeluk Ilyas dari belakang. Tanpa Meiza tahu, air mata pria itu sudah membasahi wajahnya. Ilyas memang sengaja minta dipulangkan pada malam hari. Karena dia tidak ingin tetangga mereka mengetahui tentang keberadaannya dirumah itu, yang bisa membuat Meiza malu.


Tidak berapa lama kemudian, Ilyas mendengar suara dengkuran Meiza. Ilyas tahu Meiza pasti kelelahan. Ilyas membalikkan tubuhnya dan menatap wajah lelah istrinya.


Cup


Ilyas mengecup kening Meiza dan kemudian mengelus perut buncit istrinya itu.


"Maafkan papa nak. Papa tidak bermaksud mengabaikan kalian. Papa sangat sayang kalian,"


Ilyas kembali terisak dalam diam. Ilyas memperhatikan tubuh Meiza yang sedikit kurus. Seharusnya diusia kehamilan yang lumayan besar itu tubuh Meiza sudah agak berisi. Tapi tidak dengan istrinya itu. Meiza terlihat kurus dan lemah. Ilyas menyadari itu pasti karena Meiza terus memikirkan dirinya selama berbulan-bulan ini.


Ilyas membawa Meiza kedalam pelukkannya. Hanya saat Meiza tertidur, dirinya punya kesempatan untuk memeluk dan mencium istrinya itu sepuasnya.


Dua minggu kemudian...


"Aku percayakan istriku pada kalian. Lakukan yang terbaik, jangan sampai mengecewakanku," ujar Rakha saat sedang berada di depan ruang operasi.


Ezra, Marinka dan keluarga yang lain hanya bisa memijat keningnya saat mendengar ucapan Rakha.


"Sayang. Aku akan selalu mendo'akanmu disini. Kamu jangan takut ya?" ujar Rakha.


"Kenapa kamu tidak ikut kedalam saja?" tanya Gadlyn yang begitu enggan melepaskan tangan Gadlyn.


Rakha melirik kearah tim dokter yang akan menangani istrinya itu. Wajah mereka sudah tampak tegang.


"Akan lebih baik suamimu menunggu diluar saja. Tidak baik kalau dia membuat tim dokter jadi kacau balau kerjaannya," ujar Ezra.


"Kamu pasti bisa kok nak. Ingatlah putra dan putrimu sudah menunggumu untuk dia lihat pertama kalinya," ujar Karin mencoba membujuk Gadlyn.

__ADS_1


"Iya Lilin tidak usah khawtir. Papa juga ada disini akan berdo'a buat kamu," timpal Galang.


Gadlyn seolah tidak perduli dengan yang lainnya. Dia hanya bisa merasa nyaman dan aman kalau ada Rakha disampingnya. Melihat wajah Gadlyn yang sedih, dengan mata yang berkaca-kaca, Rakhapun jadi tidak tega.


"Baiklah. Akan kutemani kamu kedalam," ujar Rakha yang membuat tim dokter jadi tegang seketika.


"Kalau kamu mau ikut, berjanjilah jangan mengeluarkan sepatah katapun.Saat tim dokter melakukan apapun pada istrimu. Satu kata dari mulutmu bisa mengacaukan segalanya," ujar Ezra.


"Ya pa." Jawab Rakha.


Merekapun masuk kedalam ruangan operasi, setelah Rakha mengenakan seragam khusus. Mulut Rakha terasa gatal ingin mengeluarkan suaranya, terlebih saat dokter mulai menyayat perut istrinya itu.


Jujur saja Rakha jadi tidak tega. Tubuhnya sampai bergetar, saat menyaksikan hal luar biasa itu. Terlebih saat mereka mengangkat bayinya dari perut sang istri. Rakha tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Setelah bayi mereka lahir, Rakha memutuskan untuk keluar ruang operasi karena ingin mencari keberadaan Marinka.


"Ma," seru Rakha yang wajahnya sudah basah dengan air mata.


"Ada apa Uda?" Marinka jadi panik, saat melihat putranya menangis tersedu-sedu.


Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka mengira sudah terjadi sesuatu pada Gadlyn.


Brukkkkkk


Rakha tiba-tiba berlutut dihadapan Marinka dan memeluk kedua kaki wanita yang melahirkannya itu.


"Maafin Uda kalau selama ini Uda punya salah Ma. Uda pernah dengar orang melahirkan memang sakit, tapi Uda tidak menyangka sakitnya bakal separah itu. Maafin Uda kalau pernah bersikap durhaka sama Mama. Hikz...."


Marinka menyeka air matanya, dan kemudian memegang bahu putranya itu. Dikecupnya kening Rakha dan dipeluknya putra semata wayangnya itu.


"Maka dari itu. Hargai semua wanita yang ada dimuka bumi. Terutama seorang ibu. Jangan pernah sakiti hatinya, karena mereka melahirkan anak-anaknya dengan taruhan nyawa," ujar Marinka.


Semua orang yang melihat adegan itu jadi ikut terharu. Terlebih Karin. Dia sangat bahagia, karena putrinya mendapat suami seperti Rakha.


Setelah menunggu hampir 1 jam, Gadlyn akhirnya dibawa keruang perawatan setelah sadar. Rakha yang baru datang keruang perawatan setelah melihat putra putrinya di ruang bayi, langsung berjalan dengan langkah besar dan memeluk istrinya itu.


Cup


Cup

__ADS_1


Cup


Diciumnya tiap inci wajah Gadlyn. Dan terakhir dia mencium bibir Gadlyn cukup lama. Hingga orang-orang yang menyaksikan adegan itu jadi tersipu malu sendiri.


__ADS_2