Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
57. Nabrak Pohon


__ADS_3

Marinka bergegas turun kebawah ketika seorang pelayan memberitahunya bahwa ada seorang pria berseragam khusus sedang mencari dirinya. Marinka yang seingatnya tidak pernah membuat janji, sama sekali tidak menyangka kalau Ezra benar-benar akan menyuruh seorang ahli untuk mengajarinya menyetir.


"Maaf nyonya, perkenalkan nama saya Ridwan. Saya ditugaskan tuan Ezra untuk mengajari anda menyetir mobil,"


"Oh...ah iya, sebentar saya harus konfirmasi dulu dengan suami saya,"


"Ya silahkan."


Marinka menekan nomor ponsel Ezra, untuk memberitahukan kedatangan pria yang bernama Ridwan tersebut.


Melihat ada nama Marinka tertera dilayar, Senyum Ezra terbit dari sudut bibirnya. Pria itu mengira Marinka sengaja menghubunginya karena sangat merindukannya.


"Ya dek?"


"Abang udah nyampe kantor?"


"Ya. Kenapa?"


"Emm...anu, ada pak Ridwan datang kesini, dia bilang abang menyuruhnya datang karena ingin mengajariku menyetir."


"Oh..." Ezra kecewa.


"Jadinya gimana bang? apa adek ikut dia?"


"Bawa saja salah satu mobil yang ada di garasi. Kamu bisa menanyakan kuncinya pada Mang Udin."


"Baik bang,"


"Hati-Hati,"


"Emm." Marinka segera mengakhiri panggilan itu.


"Kata suami saya, kita bawa mobil kami saja,"


"Baik Nyonya."


Marinka dan Ridwan menuju sebuah garasi yang bisa menampung puluhan mobil mewah milik Ezra. Jangan ditanya bagaimana reaksi Ridwan. Mata Ridwan berbinar, saat melihat koleksi mobil mewah milik Ezra.


"Mang udin. Diantara mobil ini, mobil mana yang harganya paling murah? tolong keluarkan itu saja," ujar Marinka.


"Baik Nyonya." Jawab Mang Udin.


Ridwan mengajak Marinka berlatih mengendarai mobil disebuah lapangan khusus. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Marinka berhasil menyerap ilmu yang diajarkan oleh Ridwan.


"Apa Nyonya ingin langsung belajar di jalan besar?"


"Boleh. Biar cepat mahirnya,"


"Baiklah."


Pada awalnya tidak ada masalah apapun saat mereka mulai meniti jalan raya yang sengaja Ridwan pilih, karena jalan itu lumayan sepi dari tempat lainnya. Terlebih Marinka juga membawa mobilnya dengan santai, dan tidak menggunakan kecepatan diatas rata-rata.


Namun kejadian tak terdugapun terjadi, tiba-tiba seorang pejalan kaki menyebrang tanpa aturan, sehingga membuat Marinka terkejut dan terpaksa membanting stir mobilnya kesebelah kiri.


Brakkkk


Mobil yang Marinka gunakan menabrak salah satu pohon yang ada dipinggir jalan. Sementara itu kondisi Marinka dan Ridwan tampak baik-baik saja, meskipun dahi mereka ada sedikit memar.


"Apa nyonya tidak apa-apa?" tanya Ridwan yang sedikit cemas.


"Tidak apa-apa. Maaf ya pak, sudah membuat anda terluka."


"Tidak apa-apa, itu bukan kesalahan nyonya. Orang itu nyebrang jalan nggak pakai aturan."


"Apa perlu pak Ridwan pergi kerumah sakit?"


"Tidak perlu nyonya, mungkin sebaiknya andalah yang perlu kerumah sakit."


"Tidak usah pak. Saya baik-baik saja, mungkin saya butuh bapak buat cek keadaan mobil yang kita pakai ini."

__ADS_1


"Baiklah."


Ridwan turun dari mobil, dan mengecek keadaan mobil itu dari arah depan.


"Bagaimana pak?"


"Lumayan penyok nyonya, tapi nggak parah juga. Masih bisa diperbaiki dan bisa mulus lagi."


"Kalau begitu saya harus memberitahu suami saya dulu."


Marinka kembali membuat panggilan untuk Ezra. Ezra yang tengah mengadakan meeting, melirik kearah ponselnya. Dengan gerakan cepat Ezra pun menerima panggilan itu.


"Bang, adek minta maaf ya?"


"Kenapa?"


"Adek mengalami musibah bang, adek kecelakaan menabrak pohon,"


"Apa? kamu dimana sekarang?"


"Dijalan xx,"


"Abang kesana sekarang."


"Ti..."


Belum sempat Marinka meneruskan kata-katanya, Ezra sudah mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


"Yud. Gantikan aku memimpin rapat,"


"Ada apa?"


"Marinka kecelakaan."


"A-Apa? bagaimana keadaannya?"


"Aku tidak tahu, sekarang aku mau melihat kondisinya. Jadi tolong gantikan aku memimpin rapatnya,"


Ezra bergegas pergi dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. Dengan kecepatan penuh dia memacu kendaraannya agar cepat sampai. Setelah memakan waktu hampir 25 menit, Ezra akhirnya berhasil menemukan keberadaan mobil yang masih dalam kondisi menabrak pohon.


Ezra bergegas turun dari mobilnya, saat melihat Marinka berdiri ditepi jalan.


"Bang maaf adek..."


greppppp


Belum sempat Marinka menyelesaikan kata-katanya, Ezra sudah memeluk erat istri kecilnya itu. Perlahan Marinka membalas pelukkan Ezra itu sembari mengusap punggung suaminya itu.


"Apa adek baik-baik saja?"


"Adek baik-baik saja bang,"


Ezra melerai pelukkan mereka. Pria itu menatap Marinka dan menemukan memar dikening istrinya itu.


"Apa ini sakit? kita pergi kerumah sakit ya?"


Ezra mengelus lembut kearah dahi Marinka yang terdapat memar.


"Tidak perlu bang, ini cukup dikompres pakai es batu saja dirumah nanti."


"Apa kamu yakin?"


"Ya. Tapi bang mobilmu..."


"Ckk...kenapa masih memikirkan benda mati ini, kamu yang hidup jauh lebih penting."


"Jangan terpengaruh dengan ucapannya Marinka, itu cuma bentuk dari perhatian antara adik dan kakak saja," batin Marinka.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Ezra mengalihkan pandangan matanya kearah Ridwan. Pria itu wajahnya sudah memucat.

__ADS_1


"Ini bukan kesalahan pak Ridwan bang, tadi ada orang nyebrang jalan sembarangan, karena reflek, adek jadi banting stir mobilnya dan menabrak pohon."


"Nyebrang sembarangan?"


"Ya."


"Kenapa tidak adek tabrak saja orang itu? kenapa harus membuat diri sendiri yang celaka?"


"Abang ngomong apa sih bang? yang ada adek bukan masuk rumah skit, tapi malah masuk penjara."


"Ya habisnya dia nyebrang nggak pakai mata,"


"Ya sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Yang penting semuanya baik-baik saja."


"Kamu! bawa mobilnya kebengkel,"


"Baik tuan." Jawab Ridwan.


"Ayo kita pulang," ujar Ezra.


"Emm." Marinka mengangguk dan mengikuti Ezra kemobil.


"Abang kembali lagi ke kantor kan?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Nggak mood lagi."


"Jangan begitu, nanti kerjaan abang tambah numpuk loh,"


"Tidak masalah, abang juga bosnya."


"Huuu...sombong," bibir Marinka mengerucut.


Tidak berapa lama kemudian, merekapun tiba dirumah. Ezra membukakan pintu mobil untuk Marinka, dan segera menggenggam tangan istrinya itu, kemudian membawanya keruang tamu.


"Duduk disini,"


"Abang mau kemana?"


"Abang mau ambil es batu dulu, buat kompres dahimu."


"Biar adek sendiri saja bang,"


"Jangan membantah, diamlah disini!"


"I-Iya." Marinka mendadak takut, karena Ezra sedikit menaikkan nada suaranya.


Pria itu kemudian melangkah kearah dapur, dan membuka kulkas untuk mencari es batu. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Ezra kemudian menghampiri Marinka dan mulai mengompres dahi istrinya itu.


"Makasih ya bang, seharusnya abang tidak repot begini gara-gara adek."


"Adek itu ngmong apa, sudah seharusnya abang melakukan ini. Adek itu istriku, tanggung jawabku."


"Andai saja, kata-kata istri itu benar-benar dari lubuk hatimu bang, dan kita benar-benar menjalankan biduk rumah tangga dalam artian sesungguhnya, aku pasti akan merasa sangat beruntung dan bahagia. Tapi aku sadar itu tidak mungkin, hatimu cuma milik dia." batin Marinka.


"Apa ini sangat sakit?" tanya Ezra sembari menekan lembut pada daerah yang memar.


"Sedikit." Jawab Marinka.


"Maafkan abang, seharusnya abang tidak memaksamu buat belajar nyetir. Kalau tidak, kamu pasti tidak akan mengalami hal seperti ini,"


"Ini bukan salah abang, inilah yang namanya musibah bang,"


Cup


Tiba-Tiba Ezra mencium Marinka tepat didaerah yang terkena memar. Marinka yang tidak sempat menghindar, hanya bisa diam saja dan mencoba menguatkan hatinya, agar pertahanannya tidak goyah.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2