
"Tidak perlu." Jawab Marinka.
Brukkkkk
Tubuh Lilian merosot lemas di lantai. Wanita parubaya itu menangis terisak. Dia tidak menyangka Marinka terluka begitu dalam, sehingga tidak bisa menerima kehadirannya.
"Bunda. Kendalikan diri bunda. Mario yakin, setelah bertemu dengan bunda nanti, hati kakak akan luluh," ujar Mario.
"Rio. Dia membenci bunda. Hikz..." Lilian menangis dalam pelukkan Mario.
"Itu tidak benar bunda. Bukankah kakak tadi sudah mengatakan, kalau dia tidak membenci bunda. Dia hanya kecewa, dan itu sangat wajar kalau dia memiliki perasaan seperti itu. Kakak berkata seperti itu, karena kakak belum tahu kejadian sebenarnya, kalau dia sudah tahu pasti kakak akan menerima bunda," hibur Mario.
"Kenapa tidak perlu?" pertanyaan host itu kembali di simak oleh Mario dan Lilian. Mereka ingin tahu apa alasan Marinka mengatakan hal demikian.
"Alasannya cukup simpel menurutku. Selama ini kita tidak mengenal satu sama lain. Dengan saya tidak pernah bertemu dengannya, itu berati saya tidak memiliki dosa apapun terhadap dia. Masuk akal nggak sih?" ucap Marinka.
"Cukup dimengerti maksud anda." Jawab Rafly.
"Iya kan? kalau saya bertemu dengannya, bukan tidak mungkin saya akan menciptakan dosa baru akibat yang mungkin dikarenakan saya tidak bisa mengendalikan diri karena marah, atau memaki dirinya." timpal Marinka
"Kenapa anda ingin memaki ibu anda?" tanya Rafly.
"Hanya ditakutkan saja. Sangat manusiawi, ketika seseorang dilukai begitu dalam, akan marah atau mengutuk orang yang sudah melukainya. Itulah sebabnya lebih baik tidak usah bertemu sama sekali daripada saya tidak bisa mengendalikan diri. Selama ini dia sudah bahagia dengan pilihannya, dan saya sudah bahagia dengan apa yang saya jalani saat ini. Tidak perlu mengusik satu sama lain lagi."
"Jadi anda sangat terluka? bagaimana kalau dia meninggalkan anda disana, karena sebuah alasan yang masuk akal?" tanya Rafly.
__ADS_1
Air mata Marinka merebak seketika. Bahkan air mata itu laksana air terjun yang tidak bisa Marinka kendalikan.
"Kira-Kira alasan apa yang bisa saya terima, untuk seorang ibu yang meninggalkan anaknya selama 26 tahun. Tidak sekalipun saya mendengar ada orang yang mencari saya, meskipun saya sudah menitipkan pesan pada ibu panti sebelum saya pergi ke Paris. Itu artinya saya benar-benar sudah di lupakan." Jawab Marinka dengan wajah penuh air mata.
"Maaf. Bagaimana kalau orang yang kita bicarakan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini?" tanya Rafly.
Marinka lagi-lagi terdiam. Meski mulutnya bicara tidak ingin, namun jauh di lubuk hatinya dia juga merindukan pelukkan seorang ibu.
"Mungkin dia akan banyak hutang penjelasan pada para malaikat, sampai saya bertemu dengannya di akhirat kelak. Tapi saya akan tetap mendo'akan beliau." Jawab Marinka.
"Ingin rasanya aku menghapus air mata kesedihanmu. Kenapa dulu aku tidak pernah merasakan penderitaanmu, bahkan aku dengan kejam menambahkan luka demi luka dihatimu. Marinka, jika kamu mau kembali bersamaku, aku berjanji akan membuat hidupmu bahagia. Bahkan lebih bahagia dari yang Ezra berikan untukmu," batin Galang.
Galang melirik kearah Ezra yang sejak tadi dengan setia menyeka air mata Marinka sembari menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Seharusnya aku yang ada disampingmu, menguatkanmu, menghapus air matamu, dan menggenggam tanganmu. Bukan pria ini, bukan kah dulu kamu sangat mencintaiku? atau sebenarnya Ezra hanya pelarianmu saja?" batin Galang.
"Terus terang saya jadi bingung. Anda mengatakan, anda terluka, anda tidak membencinya, tapi anda tidak ingin bertemu dengannya? kenapa anda tidak ingin bertemu dengannya? bukankah lebih baik bertemu dulu dengannya, kemudian meminta penjelasan?" tanya Rafly.
"Kenapa harus saya yang melakukan itu? bukankah dia tahu kemana harus mencari saya? tapi dia tidak melakukan itu, karena dia memang tidak ingin melakukannya. Ya seperti yang saya bilang tadi, itu tidak apa-apa. Dulu mungkin saya masih punya rasa marah, karena dulu saya merasa sama sekali tidak memiliki keluarga, saya merasa tidak punya tempat bersandar, tempat membagi cerita, tapi itu dulu. Sekarang saya sudah bisa berdamai dengan keadaan itu. Saya sudah bisa menerima kalau saya itu orang yang ditinggalkan, tidak diharapkan."
"Tapi sekarang sudah berbeda mas Rafly. Tuhan itu maha adil. Disaat saya merasa seluruh dunia mengabaikan saya, saya malah dipertemukan dengan seseorang yang menurut saya sosok yang sempurna. Dia memberikan saya begitu banyak cinta dan kasih sayang. Dia juga membagi kedua orang tuanya dengan saya. Saya sangat bersyukur mempunyai mertua yang sangat sayang sama saya, mungkin rasa sayangnya itu melebihi rasa sayangnya pada suami saya. Dan saya percaya, itu adalah campur tangan dari Tuhan untuk membalikkan dunia kesedihan saya."
"Sekarang saya tidak sedih dan takut lagi. Karena sekarang saya sudah mempunyai dunia saya sendiri, suamiku adalah duniaku."
Tes
__ADS_1
Tes
Tes
Air mata haru menetes membasahi pipi Ezra. Sungguh dia tidak menyangka begitu sangat di cintai oleh Marinka. Melihat air mata suaminya menetes, Marinka menghapusnya dengan kedua tangannya. Dan suara tepuk tangan bergemuruh di dalam studio, bahkan mereka serentak berdiri seketika dengan meneteskan air mata. Mereka sangat terharu dengan cinta kasih yang di perlihatkan oleh pasangan itu.
Tidak jauh berbeda di studio, Masayu dan Baskoro selaku mertua yang menyaksikan hal itu ikut meneteskan air mata. Mereka sangat terharu, dan merasa bersyukur sudah mendapatkan menantu yang luar biasa seperti Marinka.
Sementara di sisi lain, Surya dan Rini yang mengetahui itu adalah mantan menantunya, merasa sangat malu karena gagal memepertahankan menantu yang luar biasa baik seperti Marinka
"Hufffftt...kalian ini benar-benar membuat saya iri. Saya jadi kangen dengan istri saya dirumah," ujar Rafly terkekeh.
"Saya begitu sangat beruntung di cintai oleh wanita hebat seperti dia mas Rafly. Artinya selama ini tidak hanya saya saja yang menganggap dia adalah dunia saya. Beruntung saya bukan salah satu pria bodoh yang mencampakkan berlian demi batu kerikil," ujar Ezra.
"Ya. Saya pun mengakui kalau kalian itu adalah pasangan yang sangat serasi," ujar Rafly.
"Bagaimana tuan Galang? apa anda setuju dengan pendapat saya?" tanya Rafly.
"Dia lebih serasi denganku," batin Galang.
"Tentu saja." Jawab Galang.
"Menurut anda bagaimana mbak Karin?" tanya Rafly.
"Saya juga sependapat." Jawab Karin.
__ADS_1
"Baiklah. Sebelum kita menutup acara ini, mungkin ada sesuatu yang ingin mbak MD sampaikan? atau mungkin bisa dimulai dengan pesan untuk mantan suami dan mantan madu anda?" tanya Rafly.
Marinka menatap layar kamera dengan mata jernihnya. Sesaat kemudian dia menyunggingkan senyum misterius yang Ezra sendiripun begitu ngeri melihatnya.