
"Apa mama tidak salah lihat tadi?" tanya Karin.
"Ma-Mama lihat apa?" tanya Gadlyn.
"Kamu pacaran dengan Rakha? mama melihat kalian berciuman." Jawab Karin.
Gadlyn jadi merona. Walau di lihat mama sendiri, tapi tetap saja dia merasa malu. Sementara itu Karin sangat menanti-nanti jawaban dari putrinya.
"Di-Dia bilang dia mencintaiku," ujar Gadlyn.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Karin yang dibalas anggukan oleh Gadlyn.
Mendengar itu Karin jadi menghela nafas, dengan wajah yang sedikit mendung.
"Kenapa ma? mama tidak setuju?" tanya Gadlyn.
"Bukan tidak setuju. Siapa yang tidak suka dan tidak bangga, mendapatkan menantu pengusaha nomor satu di kota ini. Tapi...."
"Tapi kenapa ma?" tanya Gadlyn.
"Gadlyn. Kalau kamu berani mencintainya, maka kamu harus berani terluka pula. Kamu tahu sendiri latar belakang keluarganya dan keluarga kita bagai bumi dengan langit. Mama tidak mau melihatmu terluka dikemudian hari, karena cinta yang tidak kesampaian. Terlebih mama punya masa lalu yang buruk dengan keluarga itu. Mama takut kamu hanya dijadikan pelampiasan dendam olehnya."
"Mama tahu pemikiran itu sangat tidak beralasan. Tapi mama hanya ingin memperingatkanmu, jangan mencintai dia terlalu dalam. Takutnya saat kamu kecewa dan terluka karena dia, kamu tidak akan bisa bangkit lagi," sambung Karin.
Gadlyn mencerna kata-kata Karin yang terdengar masuk akal. Namun Gadlyn jadi teringat dengan kata-kata Rakha yang ingin berubah jadi manusia lebih baik lagi. Gadlyn jadi bertekad ingin mempercayai Rakha meskipun hanya satu kali.
"Berikan dia kesempatan meski sekali untuk membuktikkan dirinya. Kita tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi jujur saja meski kami baru berpacaran dua hari, aku bisa merasakan kalau dia benar-benar mencintaiku. Hanya saja dia masih terlalu kaku, karena tidak memiliki pengalaman berpacaran dengan seorang gadis," ujar Gadlyn.
"Semoga saja kekhawatiran mama tidak beralasan," ujar Karin.
*****
"Sa-Sayang. Maukah kamu menemaniku?" tanya Gadlyn.
Ckiiiiiittttttt
Rakha tiba-tiba ngerem Mendadak, hingga kening Gadlyn sedikit terbentur.
__ADS_1
"Aduhhhh," Gadlyn meringis kesakitan.
"Ma-Maaf. Sakit ya?" tanya Rakha sembari memeriksa kening Gadlyn.
"Kamu kenapa ngerem mendadak sih? bisa celaka taukkk," ujar Gadlyn dengan bibir mengerucut.
"A-Aku mau mendengar sekali lagi kata yang kamu ucapkan tadi," ujar Rakha.
"Kata mana yang kamu maksud?" tanya Gadlyn.
"Yang tadi. Yang pertama." Jawab Rakha.
"Kata yang pertama? kata sayang?" tanya Gadlyn yang kemudian diangguki oleh Rakha.
"Sayangku. Aku mencintaimu," ujar Gadlyn sembari mencubit pelan pipi Rakha yang sudah memerah.
Rakha secepat kilat menarik kepala Gadlyn. Rakha dan Gadlyn kembali berciuman mesra, seolah mereka lupa kalau saat ini mereka tengah berada di pinggir jalan raya.
"Aku juga mencintaimu sa-sayang," ujar Rakha kaku yang membuat Gadlyn jadi menahan tawanya.
Rakha melirik Gadlyn dengan tatapan kesal, karena Gadlyn menahan tawanya.
"Maaf. Kamu terlalu kaku soalnya. Jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggilku dengan kata sayang, biar lidahhmu tidak terlalu kaku lagi," ucap Gadlyn.
"Memangnya mantanmu itu memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Rakha yang kembali melanjutkan perjalanan.
"Sayang juga." Jawab Gadlyn.
"Kalau begitu aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan yang sama. Enak saja aku disamakan dengan si brengsek itu," ujar Rakha yang dibalas tepukkan dahi oleh Gadlyn.
"Jadi kamu mau memanggilku dengan sebutan apa?" tanya Gadlyn.
"Akan aku pikirkan." Jawab Rakha yang dibalas putaran bola mata malas dari Gadlyn.
"Sayang. Temani aku yuk?" tanya Gadlyn.
"Kemana? kamu baru saja pulih. Lebih baik kamu istirahat saja," ucap Rakha.
__ADS_1
"Kamu nggak mau mengunjungi camer dan memberitahu hubungan kita?" tanya Gadlyn.
"Camer? apa itu camer?" tanya Rakha.
"Calon mertua. Aku sudah lama tidak menjenguk papa dirumah sakit jiwa. Kamu nggak malu kan punya pacar dari anak orang gila?" tanya Gadlyn sembari menatap Rakha untuk melihat ekspresi wajah kekasihnya itu.
"Kita akan kesana sekarang." Jawab Rakha tanpa menjawab pertanyaan inti dari Gadlyn.
Suasana mendadak hening. Gadlyn larut dalam pemikirannya sendiri yang memiliki banyak pertanyaan dibenaknya.
"Apa dia tidak bisa menerima kekurangan keluargaku? apa dia tidak mencintaiku apa adanya? sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini?" batin Gadlyn.
Gadlyn larut dalam pemikirannya sendiri dengan mata yang terpejam. Rakha melirik kearah Gadlyn, dan kemudian menyunggingkan senyum tipis.
Setelah melewati perjalanan sekitar 25 menit, Rakha dan Gadlyn tiba di rumah sakit jiwa. Gadlyn memang sudah lama tidak berkunjung, gadis itu mengunjungi Galang sekitar 3 bulan yang lalu.
Gadlyn meneteskan air mata, saat melihat Galang masih dengan kondisi yang sama, seperti puluhan tahun yang lalu. Pria itu masih saja termenung diatas tempat tidur, sembari menatap kearah tembok polos berwarna putih.
"Papa Gadlyn datang. kali ini Gadlyn tidak datang sendiri, tapi datang bersama pacar Gadlyn. Dia orang pertama yang Gadlyn bawa kesini, namanya Rakha. Kami saling mencintai. Papa cepat sembuh ya? Gadlyn mau disaat menikah, papalah yang menjadi wali nikah Gadlyn. Hikz...." Gadlyn terisak sembari memeluk Galang yang seperti mayat hidup itu.
Rakha menatap mata Galang. Galang tiba-tiba menatap kearahnya. Tatapan mata mereka bertemu.
"Honey. Carikan aku air minum, aku sangat haus," ujar Rakha.
Gadlyn menyeka air matanya dan kemudian mengangguk. Setelah Gadlyn keluar, Rakha mendekat kearah Galang.
"Aku tidak tahu kenapa Om terjebak begitu dalam di masa lalu yang buruk itu. Hingga puluhan tahun om membiarkan Gadlyn menghadapi rintangan hidup sendirian. Dia dicaci, dan juga di hina semua orang. Punya mama dipenjara, sementara papanya di rumah sakit jiwa. Lupakan masa lalu buruk itu om, kasihan Gadlyn. Aku adalah anak dari musuh om. Ezra Hawiranata dan juga Marinka Diningrat. Tapi aku akan berusaha menjadi jembatan, agar keluarga kita bisa bersatu. Mama papaku juga tidak lagi menaruh dendam dengan om, karena mereka sudah menyadari. Mereka terlalu tua untuk berebut urusan dunia."
"Sadarlah om. Kasihan Gadlyn, minimal om melakukan itu demi putri om. Aku juga kesini ingin meminta restu, saat ini kami sudah resmi berpacaran meskipun baru tiga hari."
Dari balik tembok, Gadlyn hanya bisa menutup mulutnya, agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Rakha. Namun disisi lain, dirinya sangat bahagia saat ini karena Rakha sebenarnya memang sangat mencintainya.
Gadlyn kemudian pergi dari situ, karena ingin mencarikan Rakha air minum yang pria itu inginkan.
Setelah berkata panjang lebar, Rakha memutuskan menyusul Gadlyn karena kekasihnya itu sudah pergi terlalu lama menurutnya. Dia tidak ingin ada orang mengganggunya, terlebih di ganggu oleh orang gila. Namun saat pria itu sudah berbalik badan, suara seseorang cukup membuat langkahnya terhenti seketika.
"Rakha Hawiranata. Itukan namamu?"
__ADS_1
Rakha berbalik badan kembali, saat mendengar suara pria yang katanya gila puluhan tahun, dan tidak mengeluarkan suara puluhan tahun, sekarang malah berkata dengan lantangnya. Rakha kembali mendekati pria yang tampak tidak terurus itu dengan saling menatap satu sama lain.
To be continue...🤗🙏