Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.122. Sudah Diduga


__ADS_3

"Abang cepat keluar ya? nanti papa mama bisa salah paham," ujar Marinka sembari mendorong Ezra menjauh.


"Sebelum abang keluar, abang ingin memberi tahu satu hal."


"Apa?"


"Hari ini pasti ada hal yang tidak biasa. Abang minta adek jangan percaya apapun yang adek lihat ataupun yang adek dengar. Jika ada yang mengganjal, adek tanyakan langsung pada abang, jangan pernah membuat kesimpulan sendiri."


"Sebenarnya ada apa bang?"


"Nanti adek akan tahu sendiri. Sekarang abang mau pulang ke hotel dulu, nanti abang akan kesini lagi,"


"Emm." Marinka mengangguk.


Marinka menatap punggung Ezra yang semakin menjauh, dan hilang dibalik pintu. Marinka menyunggingkan senyumnya sembari memegang bibirnya.


"Jadi begini rasanya dicintai? jadi seperti ini rasanya cinta terbalaskan? rasanya sungguh luar biasa, tadi itu ciuman pertama kami saat sadar bukan?" Marinka senyum-senyum sendiri.


Marinka bergegas membersihkan diri, kemudian pergi kedapur untuk membuat sarapan.


"Eh? mama sudah bangun? apa yang mama buat?"


"Cuma nasi goreng. Papa minta dibuatin soalnya, kalian kalau kurang suka bisa buat menu sarapan yang lain," ujar Masayu sembari mengaduk-aduk nasi yang terdengar ribut di wajan.


"Samain aja ma, kita nggak pilih-pilih makanan


kok."


"Ya sudah panggillah temanmu, kita sarapan bersama," ujar Masayu.


"Iya." Jawab Marinka.


Marinka mengetuk pintu kamar Sera dan dibukai oleh gadis itu.


"Kamu sudah siap-siap pergi? kalau kak Ando kebutik, bilang sama dia kalau aku belum masuk dulu."


"Ya kamu tenang aja." ujar Sera.


"Emm...apa semalam kalian tidur bersama?" sambung Sera yang membuat mata Marinka terbelalak.


"Ap-Apa kamu melihatnya?"


"Melihat apa? memangnya apa yang kalian lakukan?"


"Tidak ada." Jawab Marinka cepat.


"Dia semalam tidur dikamarmu kan? kamu sudah nerima dia?"


"Belum."


"Lalu kenapa dia tidur dikamarmu?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, pas bangun dia sudah ada disebelahku. Lagian kamu kok bisa tahu?"


"Semalam aku ke dapur mau ngambil minum. Aku nggak sengaja lihat dia ngendap-ngendap masuk ke kamarmu. Apa kamu yakin kalian nggak ngapa-ngapain."


"Nggak kok," wajah Marinka merona, sementara Sera menyipitkan matanya.


"Hah...iya...tidak usah melihatku seperti itu, aku kayak tersangaka dipengadilan tahu nggak."


"Ya habisnya mulut dan wajahmu menunjukkan beda. Ingat ya Rin, kamu itu sedang menguji dia. Kalau kamu cepat luluh, keenakkan dianya."


"Iya aku tahu,"


"Jadi intinya kalian ngapain semalam?"


"Apaan si Ra? kok jadi kepo,"


"Ya harus tahu dong, aku ini kan saksi mata."


"Nggak ngapa-ngapain, cuma...cu-cuma ciuman aja."


"Huuu..kamu pikir aku percaya?"


"Kenapa nggak percaya?"


"Ya kamu pikir aja sendiri, laki-laki dan perempuan dewasa berada di satu kamar yang sama. Apalagi yang dikerjakan,"


"Kamu mikirnya terlalu berlebihan, aku juga tahu dosa kali Ra,"


"Kamu mau pergi sekarang? mama nunggu kita buat sarapan bersama,"


"Ya udah ayo,"


Sera dan Marinkapun pergi keruang makan. Mereka sarapan pagi bersama sembari berbincang. Setelah selesai, Sera pamit pergi bekerja, sementara Marinka memandikan anak-anaknya.


"Ckk...buat ulah lagi dia," ujar Baskoro.


"Kenapa Pa?" tanya Masayu sembari mendekati suaminya.


"Lihat kelakuan anakmu, baru juga minta kesempatan, udah bertingkah lagi."


Baskoro memperbesar volume tv, agar mereka jelas mendengar apa yang diberitakan saat ini. Jelas sekali berita itu mengatakan bahwa Ezra dan Acelline merupakan pasangan yang digadang-gadang akan meramaikan dunia pemberitaan saat ini.


"Marinka...kemarilah!" ujar Masayu.


Marinka yang baru saja menidurkan anaknya, bergegas keruang tamu menghampiri mertuanya.


"Ada apa ma?" tanya Marinka.


"Coba kamu lihat berita ini. Apa pendapatmu tentang ini? apa ini sungguh-sungguh?" tanya Masayu.


Marinka menoleh kearah televisi, diatas meja juga sudah ada koran dan majalah hari ini. Sepertinya hari ini memuat semua tentang pemberitaan Ezra.

__ADS_1


"Apa ini maksud bang Ezra tadi pagi?" batin Marinka.


Belum sempat Marinka menjawab, Ezra datang dan langsung mendapat tatapan yang tidak biasa dari ketiga orang didepannya. Ezra menghela nafas, pria itu kemudian mendekati orang tuanya dan juga Marinka.


"Kenapa papa dan mama heran melihat berita seperti itu? bukankah ini bukan pertama kalinya aku diberitakan di media masa, media online atau lain sebagainya?"


"Ini memang bukan pertama kalinya. Tapi lain dulu lain sekarang. Sekarang kamu sudah punya anak dan istri yang harus dijaga perasaannya. Lagipula siapa wanita itu? mama akan memukulmu sampai mati, kalau sampai kamu menyakiti Marinka lagi,"


"Ma. Dia itu Lady Aceline, salah satu langganan berlian. Tempo hari dia memesan berlian sebanyak 3 set, ditambah sepasang cincin tunangan. Semalam aku pergi karena diundang dan sekalian mengantar cincin pertunangan itu. Marinka juga tahu kok, iya kan dek?"


"Ya." Jawab Marinka singkat, karena masih ingin mendengar penjelasan Ezra.


"Ya terus kenapa dia main gandeng tangan kamu gitu aja?" tanya Masayu.


"Itu diluar dugaanku, saat datang dia langsung menyambutku dan menggandeng tanganku. Coba mama pikir, disaat semua kamera memotret kami, apa mungkin aku menepis tangannya? gadis itu akan kehilangan muka dan dipermalukan. Masalahnya kita berurusan dengan keluarga bangsawan di kota ini,"


"Aku tidak menepisnya karena aku ingin memberikan muka padanya," sambung Ezra.


"Tapi kamu mengorbankan perasaan istrimu. Selama sepekan kedepan, kamu pasti masuk pemberitaan, bisa-bisa jadi incaran media. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Marinka tiap hari melihatmu jadi bahan omongan?" tanya Baskoro.


"Lagipula dilihat dari sudut manapun, gadis itu terlihat sekali dia sangat menyukaimu," sambung Baskoro yang membuat perasaan Marinka jadi tidak enak.


Ezra melirik kearah Marinka yang diam dan memasang wajah datar.


"Aku tahu. Itulah sebabnya aku pulang cepat semalam. Aku juga sudah mengatakan padanya bahwa aku sudah memiliki istri dan dua anak."


"Benarkah dia mengatakan itu pada gadis bangsawan itu?"


Marinka kembali melirik televisi, berita itu di ulang-ulang beberapa kali, terutama saat Aceline menggandeng Ezra dari arah pintu depan, dengan senyum ceria dan bersinar.


Marinka akui Ezra tampak serasi dengan Aceline, sehingga rasa percaya diri Marinka jadi turun seketika. Baskoro mencubit paha Ezra, agar pria itu sedikit peka. Ezra yang kesakitan, hanya bisa mengusap pahanya itu dengan mulut menganga. Pria itu hampir saja bersuara, kalau saja Baskoro tidak memberikan kode.


Ezra melihat wajah Marinka yang mendung, pria itu malah menyunggingkan senyumnya karena tahu Marinka saat ini sedang dalam mode cemburu.


Ezra perlahan mendekati Marinka, pria itu meraih dagu Marinka karena wanita itu tertunduk sembari diam membisu.


"Apa adek tidak punya pendapat tentang berita itu? bagaimana menurutmu? apa suamimu layak dipercaya?" tanya Ezra sembari menatap dalam Marinka.


"Bukankah abang sendiri yang bilang, adek tidak boleh menarik kesimpulan sendiri?"


"Bagus. Itu berarti adek masih mau mendengarkan penjelasan abang, hingga masalahnya tidak berlarut-larut dan cepat selesai."


"Tapi bagaimana dengan wanita itu?"


"Itu urusan dia. Lagipula kita tidak bisa meredam mulut semua orang yang ingin membicarakan kita bukan? media tidak akan dapat duit, kalau mereka tidak punya bahan untuk diberitakan."


"Sebaiknya kita bicara ditempat lain saja bang, malu didengar papa dan mama," ujar Marinka setengah berbisik.


"Emm." Ezra mengangguk.


Marinka mengajak Ezra untuk berbicara di balkon rumah. Pikirannya saat ini sedang campur aduk. Tapi jauh dilubuk hatinya, dia percaya Ezra 99%.

__ADS_1


__ADS_2