
Marinka melihat mobil Ando yang datang dipelataran butik milik pria itu. Pria tampan itu datang dengan pakaian santai, dan tersenyum saat melihat Marinka menyambutnya dengan perutnya yang membuncit.
"Sepertinya makin ramai," ujar Ando.
"Seperti yang kakak lihat, kita harus mencari pegawai tambahan terlebih sebentar lagi aku mau lahiran, Sera akan kelabakkan kalau mengurus ini dengan dua karyawan itu."
"Menurutmu kita butuh tambahan berapa orang?"
"Tiga. Selama aku dalam masa pemulihan, biarkan Sera yang menjadi kepala butiknya,"
"Baiklah. Emm..Rin, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,"
"Kita bisa membicarakannya diruanganku," ujar Marinka.
Ando mengekor dibelakang Marinka, yang berjalan terkesan lambat karena usia kandungannya yang sudah besar.
"Kakak duduk dulu, biar aku buatkan minuman dulu kebelakang."
"Tidak perlu, kakak juga nggak bisa lama."
Marinka duduk disebelah Ando, yang sudah duduk lebih dulu disebuah sofa panjang berwarna merah jambu.
"Ada apa? kelihatannya serius sekali?" tanya Marinka.
"Kata Rehan kamu pandai mendisign perhiasan. Apa itu benar?" tanya Ando tanpa basa basi.
Mendengar itu, Marinka jadi terkekeh.
"Rehan memang suka berlebihan nih, karya receh diumbar-umbar. Lagian buat apa kakak menanyakan itu? apa kakak ingin merambah bisnis perhiasan juga?" tanya Marinka.
"Tidak. Ini sahabatku yang membutuhkannya, dia lagi terkena masalah saat ini."
"Masalah apa?" tanya Marinka.
Ando kemudian menceritakan semua duduk permasalahannya, hingga membuat Marinka menutup mulutnya karena merasa prihatin.
"Sebenarnya aku belum merasa percaya diri untuk memperlihatkan disignku itu pada orang hebat seperti teman kakak itu. Tapi kalau memang disignku bisa membantu dia dalam kesulitan, aku akan merasa senang. Berarti aku bisa bermanfaat untuk orang lain. Sebentar, biar aku tunjukkan dulu pada kakak,"
Marinka berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya. Tempat biasa dirinya berkreasi membuat disign-disign yang bagus.
Marinka mengambil sesuatu dari dalam loker mejanya. Map berwarna biru itu berisi beberapa disign khusus perhiasan yang Marinka buat selama di Paris.
"Kakak bisa memilihnya, barangkali ada disign yang teman kakak sukai. Disitu cuma ada 10 disign, teman kakak bisa memakainya semua kalau mau."
"Sungguh? apa kamu tidak ingin memberikan harga untuk karya-karyamu ini?"
"Tidak perlu, dia teman kakak kan? itu artinya dia temanku juga. Sama-Sama teman harus saling membantu," ujar Marinka.
"Tapi sebaiknya kakak lihat dulu deh, soalnya aku rada pesimis gitu. Apalagi disignnya mau dibuat untuk bangsawan, rasanya akan ditolak mentah-mentah." sambung Marinka.
Ando membuka map itu, dan begitu terkesima melihat hasil disign Marinka yang begitu terasa hidup disetiap detailnya.
"Apa ini sungguh hasil buatanmu?"
__ADS_1
"Iya. Memangnya kenapa kak? jelek ya?"
"Jelek apanya? ini sangat luar biasa bagus. Aku yakin temanku itu pasti akan sangat menyukainya."
"Baguslah kalau teman kakak suka."
"Arin. Kakak yakin, suatu saat kamu akan jadi orang sukses. Nanti saat kamu lulus, aku akan membuatmu bekerjasama dengan temanku ini sebagai langkah awal kesuksesanmu."
"Benarkah?"
"Emm. Kakak akan membantumu mewujudkan semua cita-citamu untuk menjadi seorang disigner terkenal."
"Wah...kalau begitu, bisnis kakak bisa tutup. Orang-Orang akan beralih dengan brand buatanku."
"Tidak masalah. Akan selalu tiba waktunya hal seperti itu akan terjadi. Dimana akan ada disign dan produk baru yang muncul, hingga produk lama akan tenggelam. Tapi itu tidak mengapa, justru akan membuat semangat baru untuk disigner lama untuk lebih berkreasi lagi."
"Ya sudah, kakak bawa dulu disignmu ya?" tanya Ando.
"Ya kak. Semoga teman kakak menyukai disign yang kubuat,"
"Emm. Makasih ya?"
"Ya."
Ando pergi dari butik itu dan membuat panggilan untuk sahabatnya itu setelah masuk kedalam mobil.
"Ya Ndo?"
"Aku ada kejutan untukmu. Kamu ada dimana sekarang?"
"Apa selesainya masih lama?"
"1 jam lagi. Ada apa?"
"Aku mendapatkan disignnya untukmu. Disign yang sudah jadi buatan tangan Arin."
"Benarkah? kalau begitu kamu datanglah kekantorku sekarang!"
"Eh? bukankah kamu bilang mau meeting?"
"Aku meeting karena masalah disign itu. Kalau disignnya sudah ada, buat apa meeting lagi "
"Baiklah. Aku kesana sekarang,"
Ando dan Ezra mengakhiri percakapan itu. Ando bergegas pergi menemui Ezra di kantor, untuk menyerahkan disign itu.
Ezra mondar mandir diruangannya, dia sangat gugup kalau-kalau disign yang Arin buat tidak sesuai dengan selera bangsawan itu.
Setelah menunggu hampir 20 menit, Ando datang dengan membawa map berwarna biru ditangannya.
"Semoga disign-disign ini memenuhi semua keinginan bangsawan itu," ujar Ando sembari meletakkan map itu tepat didepan Ezra.
Ezra dengan tidak sabar membuka map itu, untuk melihat disign yang Arin buat. Seperti Ando, Ezra juga terkesima melihat hasil disign yang Arin buat.
__ADS_1
"Gambarnya benar-benar hidup," ujar Ezra.
"Iya kan? penilaianku juga sama,"
"Apa dia ini sungguh seorang pemula? dia seperti seorang disigner dunia, kalau hasil gambarnya seperti ini."
"Terima kasih untuk pujiannya pada calon istriku," ujar Ando terkekeh.
"Cihh...calon istri, apa kamu yakin saat aku muncul dihadapannya dia tidak akan kepincut denganku?"
"Sialan. Jangan merebut yang satu ini dariku, kamu boleh mengambil yang lainnya, kalau yang satu ini tidak akan aku biarkan."
"Gitu amat ya efek kelamaan jomblo? sekalinya bucin, akutnya setengah mati," ujar Ezra terkekeh.
"Dia wanita yang istimewa, jadi nggak akan aku biarkan dia lepas gitu aja,"
"Bagaimana dengan keluargamu? apa mereka setuju kamu menyukai janda beranak dua?"
"Yang mau makai kan aku, jadi nggak ada yang boleh ikut campur. Lagipula keluargaku bukan penganut jaman datuk maringgi. Mereka membebaskan pilihan ada ditanganku."
"Baguslah. Oh ya, apa Arin menyebutkan nominal untuk disignnya ini?"
"Tidak. Bahkan dia bilang, kamu boleh memakai semua disign ini kalau kamu menginginkannya."
"Benarkah? baik sekali dia,"
"Iya kan? aku juga mengira mencintai seorang bidadari surga,"
"Ckk...mulai lebay nya."
Ando tertawa keras, karena Ezra tampak tidak senang tiap kali dia memuji Arin terlalu berlebihan.
"Oh ya, kapan Yuda akan menikahi donatnya itu?" tanya Ando yang membuat Ezra jadi terkekeh mendengar kata-kata donat dari Ando.
"Kamu masih ingat saja, pasal donat sama apem. Habis lebaran haji ini, itulah sebabnya aku ingin menyelesaikan ini secepatnya. Aku belum mencarikan rumah buat dia,"
"Lebaran haji? dua minggu lagi dong, kamu berjanji akan membelikan rumah buat dia?"
"Ya. Dia sudah banyak membantuku selama ini, apalagi saat mencari keberadaan istriku."
"Kamu nggak berusaha buat move on dari dia? mau sampai kapan?"
"Aku nggak akan menyerah sampai kapanpun. Aku yakin suatu saat dia akan kembali."
"Bagaimana saat dia kembali, tapi dia sudah bersama dengan orang lain?"
"Kami belum resmi bercerai dipengadilan, dia harus mendapat akta cerai dulu baru bisa menikah secara sah dengan pria lain. Selama kami belum pisah, aku akan berusaha merebut hatinya lagi."
"Oh, jadi itu sebabnya kamu sangat yakin dia akan kembali mencarimu?"
"Emm. Entah itu dua atu tiga tahun atau bahkan 10 tahun lagi, aku akan setia menunggunya."
"Semoga saat dia kembali, dia setuju untuk kembali lagi bersamamu Zra."
__ADS_1
"Amiin."
Setelah berbincang cukup lama, Ando akhirnya pamit pulang, karena banyak hal yang harus dia kerjakan. Sementara itu Ezra memilih 3 disign yang dianggapnya sangat bagus, meskipun dia kebingungan untuk menentukan karena semua disign Arin sangatlah bagus.