
Ezra melirik kearah ponselnya saat dirinya tengah rapat. Panggilan dari Jihan itu sedikit mengganggu, namun sama sekali tidak ada niat bagi Ezra untuk menerimanya.
"Yud. Kamu angkat bentar, katakan kalau aku sedang rapat saat ini."
"Emm."
Yuda membawa ponsel Ezra keluar ruangan, dan menerima panggilan yang sebenarnya Yuda sendiri sangat malas mendengar suara musuh bebuyutannya itu.
"Sayang. Kok ngangkat telponnya lama banget sih?" Jihan merengek dengan suara manja dan menggoda.
"Aku bukan sayangmu." ketus Yuda.
"Kemana calon suamiku? kenapa ponselnya ada sama kamu?" tanya Jihan kesal.
"Dia sedang rapat, tidak bisa diganggu. Ada apa? jangan bilang kamu nelpon mau minta duit lagi."
"Memangnya masalah buat kamu? kan itu uang calon suamiku, bukan uang kamu."
"Tentu saja tidak masalah buatku. Hanya saja Ezra sudah buta bisa suka sama cewek matre kayak kamu."
"Kamu kan tidak laku, tidak ada yang mau sama kamu, makanya kamu itu iri kan sama Ezra yang punya pacar berkelas kayak aku?"
"Cuihh...mending aku pacaran sama kera, daripada pacaran sama wanita sepertimu."
"Ya...ya..ya...kamu memang cocoknya sama kera."
"Menyebalkan! jangan nelpon lagi, nanti Ezra yang akan menghubungimu."
Yuda langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
"Si Yuda ini lama-lama ngelunjak juga. Lihat aja, nanti kalau aku sudah menikah dengan Ezra, aku akan membuang anjing itu kejalanan." gerutu Jihan.
Yuda meletakkan kembali ponsel Ezra diatas meja rapat dengan wajah masam. Melihat wajah sahabatnya itu berkerut, Ezra sudah bisa menebak kalau Yuda pasti habis bertengkar lagi dengan Jihan. Setelah menyelesaikan rapat, Ezra kemudian membuat panggilan untuk Jihan.
"Kamu beneran rapat tadi?" tanya Jihan dengan suara manjanya.
"Iya. Masa rapatnya bohongan?"
"Itu asisten kamu makin nyebelin deh, apa nggak mau diganti aja?"
"Siapa? Yuda?"
"Siapa lagi yang suka cari gara-gara selain dia,"
"Tidak usah diambil hati. Lagipula kenapa suka sekali meladeni dia bertengkar,"
"Tapi kan sebel."
"Sudahlah, tidak usaha bahas dia."
"Sayang. Kamu masih belum nyentuh wanita itu kan?"
"Jangan berpikiran macam-macam terus. Kamu kan tahu wanita yang kucintai cuma kamu saja."
"Ya, aku tahu. Lagipula tinggal dua bulan lagi, aku akan kembali kesisimu. Apa kamu sudah menyiapkan berkas perceraiannya?"
"Belum. Itu urusan gampang,"
"Hah...aku sudah tidak sabar menikah denganmu,"
"Sama. Kangen juga sama kamu,"
"Sabar ya sayang. Dua bulan lagi aku pulang,"
"Emm."
"Sayang,"
"Hem?"
"Pengen beli tas lagi."
"Berapa?"
__ADS_1
"700 juta."
"Ya nanti akan kutransfer,"
"Ih....baik banget sih, tambah sayang deh sama kamu."
"Aku juga sayang sama kamu."
"Ya udah, aku matiin ya telponnya? kabarin kalau udah transfer."
"Oke."
Ezra menyunggingkan senyum saat panggilan itu sudah berakhir.
"Duit lagi?" tanya Yuda.
"Transfer 700 juta."
Tanpa menjawab Yuda langsung berdiri, giginya benar-benar bergemeratuk karena melihat kebodohan sahabatnya itu.
Sudah pukul 5 sore, ketika Ezra tiba dikediamannya. Pria itu mendapati Marinka meringkuk didalam selimut, saat dirinya membuka pintu kamar.
"Tumben dia tidur jam segini? apa dia sedang sakit?" batin Ezra.
Ezra mendekati Marinka dan menatap kening istrinya itu.
"Dek..." bisik Ezra.
Marinka perlahan membuka matanya dan melihat Ezra sudah berada didepan matanya.
"Kamu kenapa? kamu sakit?"
"Perut adek sakit bang,"
"Kenapa? diare?"
"Bukan. Adek lagi datang bulan."
"Emm. Tapi biasanya cuma hari pertama dan kedua saja sih."
"Lalu obat apa yang biasa kamu minum?"
"Nggak ada. Palingan suka minum air jahe dan gula merah."
"Sudah?"
"Belum."
"Abang akan kebawah, biar pelayan membuatkannya untukmu."
"Emm. Makasih ya bang, maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa. Kamu tunggu sebentar ya?"
"Ya."
Ezra turun kebawah untuk menyuruh pelayan agar membuatkan air gula merah plus jahe untuk Marinka. setelah itu Ezra kembali keatas karena ingin membersihkan diri.
"Apa pelayan sudah membuatkan air jahe untukmu?" tanya Ezra setelah keluar dari kamar mandi.
"Itu." Marinka menunjuk kearah segelas air jahe hangat yang berada diatas meja.
"Baguslah. Sekarang kamu harus beristirahat,"
"Emm." Marinka mengangguk.
"Apa makan malammu mau dibawa kekamar saja?"
"Tidak usah bang, nanti kita makan bersama saja."
"Tapi perutmu?"
"Tidak masalah, biasanya sakitnya akan reda setelah satu atau dua jam meminum air jahe."
__ADS_1
"Baiklah. Abang keruang kerja dulu, ada pekerjaan yang belum abang selesaikan."
"Emm."
Sementara itu disisi lain, Karin dan Galang tengah berbincang dengan didalam kamar mereka.
"Sayang."
"Hem."
"Tempo hari aku main kerumah Marinka."
"Marinka?"
"Ckk...bukan Marinka itu, tapi Marinkanya tuan Ezra.
"Kamu kesana? ngapain?"
"Tentu saja biar lebih akrab dengan istrinya itu, dengan begitu kalau kita butuh apa-apa kan jadi enak."
"Baguslah,"
"Tapi enak banget loh jadi istri si Ezra itu,"
"Kenapa?"
"Dia mendapat uang bulanan dari suaminya 5 milyar."
"Kami tidak usah iri sama dia, lagipula wajar saja, uang Ezra memang nggak akan habis 7 turunan. Bisnis pria itu sudah mencakar disegala bidang. Bahkan cabang perusahaannya tersebar baik didalam maupun luar negeri."
"Kok bisa ya?"
"Nanti aku juga bisa begitu, sekarang aku sedang berusaha mengembangkan usaha kita."
"Tapi mana bisa kamu seperti Ezra? pria itu benar-benar idaman setiap wanita. Meskipun jadi istri keduapun pasti akan bergelimangan harta," batin Karin.
"Ngomong-Ngomong soal Marinka, apa kakakmu itu sama sekali tidak pernah menghubungimu?"
"Buat apa kamu menanyakan dia? kamu kengen sama dia?"
"Apaan sih? kan cuma nanya, habisnya aku heran saja, dia seperti hilang ditelan bumi gitu."
"Kalau mau ketemu, ketemu saja dineraka." batin Karin.
"Mungkin dia tidak ingin menganggu kehidupan kita lagi, dia sudah sadar kalau dirinya memang tidak cocok berada ditengah-tengah kita." Jawab Karin.
"Mungkin juga."
"Sayang. Kapan kamu mau temanin aku buat USG? apa kamu tidak mau melihat jenis kelamin anak kita?"
"Ya mau dong, gimana kalau weekend saja? jadi kita bisa jalan-jalan sekalian."
"Sungguh?"
"Ya."
"Apa aku boleh membeli apapun?"
"Memangnya kapan aku pernah melarangnu membeli apapun? yang penting harganya sesuaikan dengan isi dompet ya sayang."
"Uggghh sebal, coba kalau suamiku si Ezra, pasti dia akan membelikan barang mahal untukku. Secara nafkah aja 5 M sebulan," batin Karin.
"Ya pokoknya aku mau minta dibelikan tas keluaran terbaru,"
"Oke iya, tapi kamu harus membayar mahal untuk itu," Galang mengedipkan mata.
Karin menyunggingkan senyumnya, dia mengerti apa yang Galang inginkan. Entah mengapa gairah keduanya semakin besar saat usia kehamilan Karin memasuki trimester ketiga.
"Kamu terlihat seksi dengan perut besarmu baby," bisik Galang disela-sela pinggulnya yang sedang asyik memacu.
"Emmpphhh...ahhh..."
Karin tidak mampu lagi menjawab ucapan galang, saat pria itu bertambah gencar menungganginya dari arah belakang. Tidak berapa lama kemudian mereka sama-sama mengerang panjang, saat keduanya sama-sama mendapat pelepasan yang melegakan.
__ADS_1