
Ezra menggenggam erat tangan Marinka dan tidak melepaskannya barang sedikitpun. Sesekali pria itu bahkan mencium tangan itu karena merasa sangat bersalah.
"Sayang. Maafin abang, please bangun! seharusnya abang tidak perlu memaksamu mengingat semuanya. Abang sangat egois karena cemburu. Saat kamu sadar nanti, abang tidak perduli kalau kamu mau ingat atau mau lupa selamanya. Karena aku percaya, kamu itu cinta sejatiku. Aku akan berusaha mendapatkan cintamu dari awal lagi, abang janji akan sabar."
"Apa abang nggak akan cemburu lagi, kalau adek dekat dengan pelatih yoga itu?" ujar Marinka yang sudah membuka matanya sejak tadi.
"Sayang? kamu sudah sadar? ah...terima kasih Tuhan, abang benar-benar takut tadi. Maafin abang ya? tidak masalah kalau adek melupakan abang, abang akan membangun memori baru tentang kita."
"Adek sudah ingat semuanya bang," ujar Marinka tersenyum.
"Be-Benarkah? bagaimana mungkin? kalau disinetron-sinetron kan nggak gitu proses penyembuhannya?"
"Mana adek tahu bang. Tapi saat abang menyentuh bekas luka operasi itu, adek jadi teringat pas habis operasi itu sakitnya luar biasa. Apa abang senang adek sudah sembuh?"
"Tenti saja. Itu berarti abang tidak perlu puasa lagi kan?" Ezra mengedipkan mata.
"Ckk...abang mah itu aja yang ada dalam ingatannya. Abang lagi sakit sekarang, jadi jangan macam-macam," ujar Marinka.
"Aih...disaat seperti ini malah kena demam." Ezra hanya memeluk istrinya untuk mengalihkan hasratnya.
"Abang istirahat saja, adek mau lihat anak-anak dulu."
"Anak-Anak sehat semua. Yang butuh perhatian itu abang. Kan abang yang sakit,"
Marinka memutar bola matanya dengan malas. Wanita itu terpaksa menemani Ezra, hingga pria itu tertidur lelap. Setelah lelap, Marinka pergi untuk melihat keadaan anak-anak.
Krieeekkkk
__ADS_1
Marinka membuka pintu kamar, dan melihat Rakha dan Ezka sedang menoleh kearahnya. Kini Marinka teringat satu hal, selama dia hilang ingatan, kedua anaknya itu tidak lagi terdengar cekcok. Mereka tampak akur, terutama Rakha yang tidak lagi bersikap jahil dengan Ezka.
"Uda," ujar Marinka.
Rakha mengerutkan dahinya, seingatnya Marinka tidak pernah menyebut nama kecilnya selama wanita itu kehilangan ingatan.
"Mama?" Rakha beranjak dari tempat tidur dan meletakkan ponselnya diatas ranjang.
Bocah kecil itu berlari dengan kaki-kaki pendeknya, dan berhambur kepelukkan Marinka.
"Mama sudah ingat Uda?" tanya Rakha.
"Tentu saja. Mana mungkin mama melupakan anak-anak mama terlalu lama. Kalian itu nafas kehidupan mama," ucap Marinka.
Ezka segera turun dari ranjangnya dan ikut bergabung dalam pelukkan Marinka.
"Mama nggak akan sakit lagi. Mulai nanti malam, mama akan menyanyikan lagu sebelum kalian tidur," ucap Marinka.
Siang itu Marinka tidur siang bersama anak-anaknya. Dia sangat bersyukur tidak melupakan anak-anaknya terlalu lama.
*****
"Aku sudah membelikan Karin jam tangan mahal, tapi kenapa dia mengirim foto seperti ini lagi?" tanya Galang pada dirinya sendiri.
Foto itu menampilkan Karin tengah berada didepan sebuah pintu yang tertutup. Galang jadi bingung mengartikan maksud dari foto itu.
Hari berikutnya Galang kembali mendapat selembar foto lagi, yang memperlihatkan Karin berada didepan pintu yang sama, namun ada tangan misterius dengan jam tangan yang sama sedang memegang tangan Karin. Seolah tubuh Karin tertarik keadah tangan misterius itu.
__ADS_1
"Ini maksudnya apa sih? apa aku harus menanyakan ini pada Karin? atau jangan-jangan bukan Karin yang mengirim foto ini? sepertinya aku harus bersabar, mungkin saja ada yang ingin memberitahuku sesuatu."
Seperti hari kemarin, hari ini Galang kembali mendapat selembar foto. Kali ini foto itu memperlihatkan seorang laki-laki tanpa baju, memperlihatkan otot perutnya. Sementara tangan Karin tampak menyentuh otot perut itu.
Melihat hal itu perasaan Galang sedikit terganggu, namun pria itu tetap bersabar karena ingin tahu apa yang ingin diperlihatkan sang pengirim padanya. Dan pada hari berikutnya, galang kembali mendapat foto itu lagi. Kali ini adegan didalam foto tampak lebih intim. Pria itu tampak memegang kedua sisi wajah Karin, sementara Karin mengalungkan kedua tangan dileher pria itu. Kepala keduanya tampak miring berlawanan.
Galang bukan tidak mengerti adegan di foto itu. Di foto itu sudah jelas, bahwa Karin sedang berciuman dengan pemilik tubuh atletis dan tangan berjam tangan misteris.
"Apa si pengirim masih ingin mengirimkan sesuatu yang lain lagi setelah ini? baiklah, aku akan bersabar menunggu sampai besok. Aku rasa batas kesabaranku sedang di uji saat ini. Aku ingin tahu, apa tujuan si pengirim ini sebenarnya," ujar Galang lirih.
Hari ini perasaan galang benar-benar kacau. Ingin rasanya dia langung mempertanyakan tentang foto itu pada Karin, tapi otak cerdasnya masih berpungsi dengan baik. Foto itu dia bawa pada temannya, yang memilikki keahlian IT yang sangat bagus. Dia ingin menyelidiki keaslian foto itu. Takutnya di era zaman canggih seperti ini, foto itu disalah gunakan mengingat dirinya yang seorang pengusaha.
"Sorry bro. Dengan sangat menyesal gue harus katakan, kalau foto ini asli 100%. Ada apa? kenapa bisa kecolongan? apa kamu tidak bisa memuaskan dia saat diranjang?" tanya pria itu sembari terkekeh.
"Meski durasinya tidak sepanjang jembatan suramadu, tapi seingatku dia selalu ******* saat main denganku. Jadi tidak ada alasan bagi dia untuk berselingkuh, itupun jika hubungan itu sudah tahap sana." Jawab Galang dengan geram.
"Jadi langkah apa yang ingin kamu ambil, kalau memang dia berselingkuh seperti ini?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak menyangka dia melakukan ini padaku, padahal aku sudah memberikan dia segalanya."
"Sepertinya ini karma dari Marinka. Dulu aku sudah mengatakannya padamu, seandainya kamu mendengarkan aku tentu kamu sudah bahagia dengan gadis penurut itu. Tapi hanya karena kamu tergoda dengan kecantikan palsu, nyatanya malah menghancurkan hidupmu."
Galang terdiam. Sekilas dia jadi teringat tentang Marinka yang dia campakkan dan berjanji akan menikahinya secara sirih kembali. Galang teringat hari-hari yang dilalui Marinka saat bersamanya sangatlah buruk. Bahkan mata wanita itu selalu bengkak karena selalu dibuat menangis olehnya. Padahal sejujurnya diapun menyadari, kalau Marinka wanita yang baik dan bisa diandalkan dalam segala hal.
Tanpa banyak bicara Galang bergegas pulang, saat tiba dirumah Karin tampak sedang mengenakan krim kecantikkan diwajahnya. Galang yang biasanya pulang selalu mencium Karin lebih dulu, kali ini dia langsung masuk kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun yang membuat kening Karin jadi mengerut.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1