Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.109. Operasi


__ADS_3

"Yes." Ezra bersorak soray, karena sang bangsawan menerima 3 disign yang dia ajukan.


Saking senangnya dengan disign itu, sang bangsawan yang mulanya hanya memesan satu disign, jadi tertarik memesan ketiga disign itu. Sudah terlihat berapa keuntungan didepan mata kali ini.


"Ndo,"


"Ada apa?"


"Ini luar biasa Ndo. Dari keriga disign yang aku ajukan, ketiga disign itu mereka pesan semua. Ini benar-benar rejeki nomplok,"


"Baguslah. Aku jadi ikutan bangga, Arin pasti sangat senang dengar disignnya bisa diterima oleh kalangan atas."


"Ya. Katakan pada bidadarimu itu, terima kasih. Aku tidak akan melupakan dia, kalau duitnya udah cair."


"Baguslah kalau tahu diri. Oh ya, kamu do'akan juga dia, nanti sore adalah jadwal operasi cesarnya Arin,"


"Benarkah? apa kamu menemaninya saat operasi nanti?"


"Aku tidak bisa. Ada acara keluarga soalnya, lagipula sangat canggung karena aku belum punya status sama dia."


"Jadi dia kerumah sakit sendiri?"


"Tidak. Untunglah ada sahabatnya disana, sebenarnya aku sangat ingin menemaninya, tapi acara keluarga kali ini benar-benar penting."


"Ya sudah kamu do'akan saja yang terbaik buat dia. Rencananya aku nanti sore mau langsung terbang ke tanah air?"


"Kenapa cepat sekali?"


"Ya. Yuda lagi kena sindrom pernikahan, dia butuh aku mengurus semua pernikahannya,"


"Ya elah lebay banget si Yuda. Udah kayak anak perawan aja,"


"Nggak apalah. Lagian selama ini dia yang selalu mengurus keperluanku, dan juga menghandle semua urusanku. Jadi sudah sepatutnya kali ini aku membantu dia."


"Katakan pada Yuda. Maaf aku tidak bisa bantu apa-apa, aku benar-benar sibuk."


"Ya. Katakan juga pada Arin, suatu saat aku pasti mengucapkan terima kasih secara langsung padanya. Tapi untuk kali ini ucapan itu aku tunda dulu,"


"Baiklah. Ati-ati ya?"


"Oh ya. Motormu akan aku kembalikan sebelum berangkat, sekalian aku pergi ke bandara nanti."


"Ya. Kamu berikan saja pada Security, kalau aku nggak ada dirumah nanti."


"Oke."


Ezra dan Ando mengakhiri percakapan itu. Setelah panggilan berakhir, tiba-tiba panggilan dari Yuda masuk.


"Hallo?"

__ADS_1


"Kamu jadi pulang hari ini kan Zra?"


"Iya jadi. Kenapa?"


"Nggak apa-apa, aku cuma mau memastikannya aja,"


"Ckk...lebay. Kamu semenjak ada rencana mau kawin tambah lebay deh,"


"Kamu nggak ngerasain gitu, karena kamu dan Marinka belum punya benih-benih cinta. Kalau tidak, pasti akan mengalami hal serupa denganku."


"Iya..iya percaya. Ya udah, aku mau siap-siap dulu. Sekarang aku masih ada di kantor, jadi mau pulang kepenginapan dulu."


"Ya. Hati-Hati ya?"


"Emm."


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, saat Marinka dan Sera pergi kerumah sakit untuk melakukan operasi cesar. Segala persiapan sudah Marinka bawa, termasuk segala kebutuhannya selama dirinya berada dirumah sakit.


Setelah melakukan berbagai pemeriksaan dan dinyatakan bisa melakukan operasi cesar, Marinka dianjurkan untuk mengenakan pakaian pasien.


"Ra. Aku gugup banget," ujar Marinka sembari memegang tangan Sera.


Dapat Sera rasakan, kedua tangan Marinka sangat dingin. Bukan karena dinginnya ac, melainkan dingin karena gugup.


"Banyak-Banyak berdo'a ya Rin. Aku percaya kamu pasti bisa," ucap Sera.


"Emm." Marinka mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Abang. Sekarang adek sedang berada dimeja operasi. Hari ini anak-anak kita lahir bang, aku janji akan membesarkan mereka tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Andai Tuhan mengizinkan, sebenarnya aku sangat ingin orang yang mengadzankan anak-anak kita papanya sendiri. Tapi itu tidak mungkin kan? bang, dimanapun abang berada, semoga abang selalu bahagia,"


Mata Marinka makin lama makin meredup, saat efek obat anastesi mulai bekerja melalui pembuluh darahnya. Ada setetes cairan bening, yang sempat menetes, sebelum Marinka benar-benar menutup mata.


Deg


Deg


Deg


Ditempat berbeda jantung Ezra berdebar tak menentu. Berulang kali pria itu mengusap dadanya karena perasaannya mendadak cemas.


"Ada apa ini? kenapa perasaanku seperti ini? kenapa pula jantungku berdebar-debar. Apa terjadi sesuatu dengan keluargaku? tapi aku baru saja menelpon papa, semuanya baik-baik saja. Atau..."


Ezra tiba-tiba terkenang akan sosok Marinka. Wanita yang sangat dirindukannya itu sering kali hadir dalam mimpinya akhir-akhir ini.


"Dek. dimanapun kamu berada, abang harap adek baik-baik saja. Abang sangat merindukanmu, adek cepat pulang ya?"


Pikiran Ezra menerawang entah kemana. Bahkan pria itu lupa, kalau saat ini dia sedang berada dijalan raya sembari mengendarai motor. Karena kurang konsentrasi, Ezra terserempet mobil dan jatuh.


"Awwww..."

__ADS_1


Ezra meringis kesakitan saat dirinya tertimpa motor, dan lengannya luka menghantam aspal. Namun naas, sang penyerempet sama sekali tidak menolongnya.


Ezra berusaha bangkit sendiri, dengan berjuang cukup lama, akhirnya dia berhasil bangun meskipun sedikit tertatih. Dengan tekadnya, Ezra membawa dirinya sendiri berobat ke rumah sakit terdekat.


Saat tiba di rumah sakit, Ezra langsung dibawa keruang tindakan untuk di obati. Setelah lukanya di obati, Ezrapun berniat meneruskan niat awalnya yang ingin mengembalikan motor.


"Bukankah itu Ezra? kebetulan macam apa ini? apa ini pertanda dari Tuhan?"


Sera bergegas menghampiri Ezra yang hendak pergi. Dia tidak ingin kehilangan momen langka itu. Dia harus membuat Marinka tersenyum bahagia.


"Tuan," sapa Sera.


"Kamu?"


"Ya. Saya yang ada di butik waktu itu. Ingat kan?"


"Ya saya ingat. Kamu kenapa ada disini?"


"Tuan pasti ingat dengan wanita bisu yang hamil waktu itu kan?"


"Ya."


"Saat ini dia sedang dimeja operasi, karena akan melahirkan."


"Oh ya? selamat ya,"


"Tapi masalahnya, suaminya tidak bisa mendampingi karena masih tugas. Hanya aku yang menemani dia. Dia sangat sedih karena saat lahir anaknya tidak ada yang mengadzani. Tuan, maukah anda menolong dia sekali lagi?"


"Menolong apa?"


"Bisakah anda mengadzani putra dan putrinya? kasihan mereka kan kalau tidak diadzani?"


"Tapi saya sangat buru-buru. Saya mau kembali ketanah air jam 5 sore nanti."


"Sekarabg baru pukul 15.30. Sebentar lagi anak itu pasti lahir, anda hanya perlu mengadzankannya, setelah itu anda boleh pergi."


Ezra tampak berpikir keras, ini sungguh beban moral dan juga beban ahlak baginya. Tidak mungkin baginya menolak kaum sendiri, sementara di negara ini kaumnya sangat minim. Ezra memutuskan untuk membantu wanita yang dia anggap sebagai orang asing itu.


Benar yang Sera katakan, sekitar 20 menit kemudian, Kedua bayi kembar itu sudah lahir dan dibawa keruang bayi.


Deg


Deg


Deg


Ezra perlahan mendekat keruang bayi itu bersama Sera. Entah mengapa Ezra merasakan euforia tersendiri saat mendengar suara tangis dari kedua bayi mungil itu. Sera mengabadikan momen-moment itu dengan kamera ponselnya. Terutama saat Ezra mengadzankan kedua anaknya, Sera mengabadikan itu lewat video. Semua itu dia lakukan demi sahabatnya yang selalu terluka.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2