Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.253. Terharu


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Suasana tampak ramai dikediaman Gadlyn. Hari ini adalah hari pernikahan antara Gadlyn dan Rakha. Dengan harap-harap cemas, Gadlyn menunggu mempelai pria, karena waktu sudah lewat 10 menit dari waktu yang sudah ditetapkan.


"Sabarlah. Rakha pasti datang, dia bilang ingin memberikan kejutan untukmu," ujar Marinka yang sedang mencoba menenangkan calon menantunya itu.


"Lilin tidak butuh kejutan ma. Gadlyn sangat mengkhawatirkan dia. Kenapa dia harus pergi disituasi penting seperti ini."Jawab Gadlyn.


"Dia bilang ingin membuatmu bahagia hari ini, karena ada seseorang yang sangat ingin hadir di pernikahanmu," ujar Marinka.


"Benarkah? tapi siapa?" tanya Gadlyn.


"Kalau itu lebih baik kita lihat saja kejutannya seperti apa." Jawab Marinka.


Setelah menunggu hampir 30 menit, sebuah mobil sport mewah berwarna hitam parkir dihalaman rumah. Dua orang berjas turun dari mobil mewah itu, yang menjadi pusat perhatian orang-orang.


Gadlyn bergegas keluar rumah, untuk memastikan kehadiran Rakha. Namun Gadlyn terpaksa menutup mulutnya, saat melihat seseorang yang Rakha bawa. Air mata Gadlyn terjun bebas, saat melihat sosok yang sangat dia rindukan.


Galang merentangkan tangannya dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.


"Pa-Papa," bibir Gadlyn bergetar. Sesaat kemudian dia berhambur kepelukkan Galang dengan tangis yang pecah.


"Maafkan papa...maafkan papa. Hikz...." tubuh Galang bergetar, dengan air mata yang tumpah ruah.


Gadlyn bergegas menyeka air matanya, dia tidak ingin melewatkan moment langka dalam hidupnya.


"Papa yang akan jadi wali nikah Gadlyn kan pa? iya kan pa?" tanya Gadlyn penuh harap.


"Tentu sayang." Jawab Galang sembari mengusap puncak kepala putrinya.


"Ah...Gadlyn sangat bahagia hari ini. Pokoknya papa jangn pergi lagi. Gadlyn kangen papa," ujar Gadlyn.


"Papa janji nggak akan pergi lagi." Jawab Galang.


"Terus yang bawa hadiah ini dapat apa dong?" tanya Rakha sembari menaik turunkan alisnya.


Gadlyn melepas pelukkannya pada Galang, dan perlahan menghampiri Rakha. Gadlyn meraih kedua tangan Rakha dan menciumnya berkali-kali.


"Terima kasih atas hadiahnya. Ini adalah kado pernikahan yang paling berharga dalam hidupku. Tuhan mengirimmu untukku, karena ingin membuatmu bahagia setelah melewati rentetan hidup yang menyedihkan. Terima kasih ya?" ucap Gadlyn.


Rakha mengelus pipi Gadlyn sembari mengedipkan mata.

__ADS_1


"Ayo kita mulai acaranya. Kasihan pak penghulu juga banyak kerjaan," ujar Ezra.


Galang menatap Ezra dan Marinka. Jujur saja pria itu saat ini sedang dilanda malu. Puluhan tahun tak bertemu, membuat dirinya jadi teringat atas kesalahan dirinya dimasa lalu yang sangat memalukkan.


Ezra perlahan mendekati Galang yang tengah tertunduk malu. Pria itu kemudian merangkul pundak Galang dan mengajaknya masuk kedalam.


"Lupakan masa lalu. Kita sudah tua, sudah saatnya kita memikirkan kebahagiaan anak-anak kita," ujar Ezra.


"Terima kasih tuan." Jawab Galang.


"Tuan apa. Sekarang kita adalah besan, jadi kita sudah mempunyai hubungan keluarga. Jangan lagi memanggilku seperti itu. Panggil nama saja," ujar Ezra.


"Emm." Galang mengangguk.


"Ayo kita mulai acaranya," ujar Ezra.


Semua tamu undangan dan para saksi sudah berkumpul ditempat yang sudah disediakan. Dengan satu tarikkan nafas, Rakha berhasil mengucap ijab qobul dengan lancar, dan Gadlynpun sudah sah menjadi istrinya.


Suasana haru tampak meliputi acara itu, terutama bagi Galang. Pria parubaya itu sangat bersyukur, saat ini dia bisa menajdi wali langsung dipernikahan putrinya.


Setelah acara pernikahan itu berjalan lancar, pada malam harinya mereka menggelar resepsi mewah disalah satu hotel berbintang. Gadlyn di rias bak putri di negeri dongeng, hingga Rakha terpana saat melihat kecantikan istrinya itu.


"Terima kasih." Jawab Gadlyn.


Sementara itu dari kejauhan Vania melihat Yure tengah menggandeng mesra Ezka. Sembari sesekali mengelus perut istrinya itu. Vania tersenyum kearah Yure, saat tidak sengaja mereka bersitatap dan Yure memberikan senyum yang sama.


"Apa Vania masih mencintai kak Yure? apa kasih sayang dan perhatianku selama ini kurang? hingga Vania sama sekali tidak tersentuh. Hubungan kami memang sudah membaik, tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Vania terhadapku. Lalu bagaimana caraku untuk membuktikan, bahwa dia memiliki perasaan padaku?" batin Yugie.


Yugie meminum cairan berwarna orange, sembari sesekali menatap kearah Vania yang masih menatap kearah Yure dan Ezka.


Pukkkk


"Kenapa bro? mukamu kelihatan suntuk banget?" tanya Anser setelah menepuk bahu Yugie.


"Bagaimana caranya agar kita bisa tahu, kalau wanita itu punya perasaan sama kita?" tanya Yugie.


"Pfffffff...jangan bilang hubunganmu dan Vania belum ada kemajuan?" tanya Anser terkekeh.


"Memang tidak sekaku dulu, tapi coba kamu perhatikan dia. Sejak tadi matanya hanya tertuju pada satu orang saja, yaitu kak Yure." Jawab Yugie.


"Kenapa? cemburu?" tanya Anser.

__ADS_1


"Tentu saja, dia adalah istriku." Jawab Yugie.


"Meski tidak ada pengalaman, tapi cara paling mudah untuk mengetahuinya tentu saja dengan menyentuh lebih dirinya. Aku yakin kalian belum sampai ketahap itu kan?" tanya Anser.


"I-Iya." Jawab Yugie.


"Kamu kok payah sih? diakan istri kamu. Kamu bebas melakukannya kalau kamu mau," ujar Anser.


"Ngomomg mah enak Ans. Tapi gimana kalau akhirnya kena gampar?" tanya Yugue.


"Ya elah Gie. Sesakit apa sih gamparan cewek? coba bayangin bayarannya." Jawab Ans.


Pukkk


"Kayak kamu udah banyak pengalaman aja Ans. Jangan kira aku nggak tahu ya, kamu suka Meiza kan?" tanya Yugie.


"Eh? kok kamu tahu? perasaan nggak pernah aku perlihatkan," ujar Anser.


"Jangan kira aku nggak tahu, kamu sering diam-diam memperhatikan dia. Kamu kalau lihat dia, biji matamu sudah kayak mau keluar. Lagian apa yang kamu lihat dari gadis galak berwajah datar itu? serem tau Ans," tanya Yugie.


"Justru yabg bergitu terjaga keasliannya. Terus membuat jiwaku tertantang." Jawab Anser sembari terkekeh.


Yugie kembali melihat kearah Vania, yang ternyata sudah menghilang dari pandangan matanya, dan secara kebetulan Yure pun juga tidak ada disana. Yugie undur diri dari Anser untuk mencari Vania, dia tidak ingin kecolongan .


Setelah mencari diberbagai sudut ruangan, akhirnya Yugie berhasil menemukan keberadaan Vania dan Yure yang sedang berpelukkan.


Tes


Tes


Tes


Untuk pertama kalinya Yugie jatuh cinta pada seorang wanita, namun untuk pertana kakinya pula dia merasakan patah hati. Dia sangat kecewa pada Vania, terlebih pada kakaknya sendiri. Yugie bergegas menyeka air matanya dan berjalan mendekat kearah mereka.


"Kalau kalian saling mencintai, kenapa harus menjadikan aku tameng untuk pernikahanmu dan Ezka. Atau kakak menginginkan keduanya?" ucap Yugie.


Vania dan Yure yang terkejut, dan langsung melerai pelukkan mereka.


"Yugie kamu...."


Yugie menahan ucapan Vania dengan tangannya. Sementara Yure jadi memijat keningnya yang tak pening.

__ADS_1


__ADS_2