Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.89. Regia Pulang


__ADS_3

"Bunda belum tidur? ini sudah larut malam, nanti bunda masuk angin," tanya Mario.


Mario, nama hasil pemberian Lilian untuk putra dari pernikahannya dengan pria yang terpaut 15 tahun tua darinya. Nama yang sempat jadi pertentangan, karena Lilian tidak ingin memberi nama putranya sesuai gelar keraton. Tidak hanya itu, Lilian juga tidak ingin nama panggilan dirinya sesuai peraturan, Lilian hanya menginginkn dirinya dipanggil Bunda, bukan kanjeng ibu atau sebutan lainnya.


"Bunda tidak bisa tidur,"


"Kenapa? apa sedang memikirkan kakak lagi? kenapa bunda tidak pernah mengizinkan aku untuk menemuinya? ini sudah 22 tahun, pemikirannya pasti sudah dewasa, aku takut dia akan semakin salah faham."


"Tidak masalah. Sejak bunda memutuskan menitipkan dia disana, bunda sudah tahu resiko apa yang akan terjadi kedepannya. Bunda tidak masalah dibenci olehnya, asal dia bisa tumbuh dengan baik."


"Bulan depan ijazah ku keluar, aku sudah memutuskan ingin mendaftar kuliah di kota J, bunda bisa memberikan alamat panti itu padaku, aku akan menanyakan kabarnya,"


"Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu! orang-orang Romo mu pasti akan memantau apapun yang kamu lakukan disana. Bunda tidak ingin menyulitkan kakakmu kedepannya. Mario, berjanjilah pada bunda, kamu tidak akan mencari informasi apapun tentang kakakmu."


"Sampai kapan?"


"Sampai Romo mu mati," batin Lilian.


"Bunda tidak tahu sampai kapan,"


"Bunda. Romo sudah tua, mungkin saja dia tidak sekeras dulu lagi. Mario yakin Romo bisa menerima kakak, meskipun dia bukan anak kandungnya."


"Tidak Mario. Tidak ada orang yang mengenal dengan baik Romomu selain bunda. Bunda tidak ingin menceritakannya padamu, tapi bunda harap kamu mengerti keputusan bunda."


"Aku sangat tahu seperti apa Romo itu. Dia bahkan tidak segan-segan menyiksa istrinya walau hanya melakukan kesalahan kecil sekalipun,"


Mario teringat saat kejadian 10 tahun yang lalu. Ketika Lilian ketahuan menangisi putrinya yang berulang tahun. Sang Romo tidak terima lilian menangisi putri dari hasil hubungan diluar nikah antara Lilian dan Dirham diningrat. Pria itu begitu cemburu buta, bahkan tidak pernah mengizinkan Lilian keluar dari rumah selama bertahun-tahun. Saat Lilian ketahuan menangisi putrinya, sang Romo dengan tega memukul Lilian dengan sebilah rotan, dan itu disaksikn oleh Mario dari balik celah pintu.


"Baiklah, terserah bunda saja kalau begitu. Sekarang lebih baik bunda kembali kekamar,"


"Emm." Lilian mengangguk.


Mario menatap punggung bunda yang sudah melahirkannya itu. Wanita yang usianya hampir menginjak setengah abad itu berjalan sedikit lemah. Mario tahu, Lilian tidak hanya mengalami sakit fisik, tetapi pikiran wanita itu sedikit terganggu karena rasa rindunya pada sang putri.


"Mungkin saat Romo telah mangkat, bunda baru bisa bahagia," ucap Mario lirih.


Mario berbalik badan dan pergi masuk ke kamarnya sendiri. Sementara itu Lilian kembali meringkuk didalam selimut, berharap dirinya segera terlelap meskipun itu terasa sulit.


Blammmmmm


Mata Regia terbuka, gadis itu merasakan tenggorokkannya terasa kering. Perlahan dirinya meraih gelas yang ada di samping kepalanya dan meminum air didalamnya hingga tandas.


Regia melihat jam diponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Gadis itu menoleh kearah sofa panjang, tempat pria yang dia cintai berbaring memejamkan mata.

__ADS_1


Regia berjalan berjengkit, agar suara langkah kakinya tidak membangunkan Yuda yang tengah terlelap. Regia terpaksa membawa tiang infus bersama dirinya, karena dia ingin sekali melihat Yuda yang tengah tertidur.


"Dia sangat tampan, wajahnya juga adem saat dilihat. Memang enak kalau natap orang galak saat tidur, sebab kalau sudah bangun, dia lebih garang dari anaconda," batin Regia.


"Ughh...mataku ini memamg tidak bisa diajak kompromi, baru melihatnya tanpa kaca mata saja, sudah terasa perih," Regia mengucek-ngucek matanya.


Tap


Tangan Regia dicekal erat oleh Yuda, pria itu menatap mata Regia yang sedikit memerah.


"Jangan dikucek, nanti iritasi!" ujar Yuda.


"Huuuuuuuuuaaaa...."


Brukkkkkkk


Buggghhhh


Klontangggggggg


"Awwwwwwwww,"


Regia yang duduk ditepi sofa tempat Yuda berbaring, terkejut setengah mati karena Yuda terbangun. Gadis itu ingin beranjak, namun hilang keseimbangan tubuh dan jatuh diatas tubuh Yuda. Namun naas dua kali bagi pria itu, sudah sakit tertimpa tubuh Regia, kini harus menahan sakit di kepala karena tiang infus Regia jatuh mengenai kepalanya.


"Berdiri! jauhkan tubuh jelekmu dari atas tubuhku!" hardik Yuda.


"Awww..." Yuda meraba keningnya yang terasa berdenyut.


"Tu-Tuan maafkan aku," ujar Regia tertunduk.


"Dasar idiot. Apa yang kamu lakukan malam-malam begini? apa kamu kurang kerjaan?"


Regian diam saja, wajahnya tertunduk karena ketakutan dimarahi Yuda.


"Harusnya aku tidak usah menemanimu disini, berdekatan denganmu selalu membuatku terkena sial."


Yuda beranjak dari tempat duduknya, dan berniat meninggalkan Regia sendirian di rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika melihat darah yang berceceran dilantai.


"Darah? darah apa ini?"


Yuda meraba keningnya, hingga seluruh kepalanya, namun tidak menemukan darah disana. Matanya tiba-tiba tertuju pada punggung tangan Regia, yang banyak sekali meneteskan darah.


"Kamu ini membuatku kesal setengah mati,"

__ADS_1


Tap


Yuda menarik tangan Regia, dan menyeret wanita itu ke atas tempat tidur pasien.


Klik


Yuda menekan tombol emergency dan seorang perawat masuk untuk membantu pasien yang membutuhkan pertolongan.


"Pasang infusnya kembali, tadi tidak sengaja tercabut!"


"Baik tuan."


Perawat itupun memasang infus kembali di punggung tangan Regia yang lain. Regia menatap wajah Yuda yang terlihat dingin, dan itu membuat Regia benar-benar takut.


Setelah perawat keluar, Yuda mendekati Regia dan menyentil dahi gadis itu sebanyak tiga kali.


"Awww tuan sakit,"


"Tahu sakit rupanya? apa kamu itu benar-benar bodoh? bahkan darah keluar saja tidak sadar? kamu yang begini pintar darimananya? kenapa bisa masuk jadi serketaris di EH Group. Aku sarankan cepat mengundurkan diri, aku takut kamu merugikan perusahaan karena kamu bodoh dan ceroboh."


Tes


Tes


Regia sama sekali tidak menjawab ucapan Yuda, tapi air mata gadis itu seakan mewakili mulutnya.


"Ckk...itulah aku lebih suka hidup sendiri. Wanita selalu merepotkan, bisanya cuma nangis."


Yuda beranjak pergi dan menutup pintu sedikit lebih keras.


"Hikzz...dia sangat membenciku,"


Regia menatap wajahnya dicermin, alergi yang dia alami nyaris disekujur tubuh itu kini sudah hilang. Regia memutuskan ingin pulang lebih awal, tanpa menunggu Yuda kembali.


Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, saat Regia menandatangani surat pernyataan pulang paksa. Regia tidak perduli lagi meski Yuda akan memarahinya lagi nanti, dia hanya ingin pulang bertemu ibu dan adiknya, orang yang bisa membuatnya nyaman dan tidak menerima teriakkan yang menyakitkan.


"Apa? dia sudah pulang? kenapa kalian tidak menelponku lebih dulu?" Yuda emosi.


"Maaf tuan. Tapi nona Regia bilang, itu atas persetujuan anda."


"Bagaimana keadaan dia?"


"Nona sudah baik-baik saja. Hari ini memang diperbolehkan pulang."

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan perawat, Yuda bergegas pulang kerumahnya. Pria itu tidak lagi memastikan keberadaan Regia, dia berpikir Regia pasti akan baik-baik saja.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2