
Gadlyn meremas jari jemarinya satu sama lain. Saat ini Gadlyn tengah berada di kediaman Hawiranata. Marinka dan Ezra menginginkan Rakha membawa Gadlyn untuk makan siang bersama dirumah mereka.
Tanpa mereka tahu, Marinka dan Ezra memiliki rencana sendiri untuk putranya itu. Rakha yang berpikir itu hanya makna siang biasa, bersikap cuek dan santai.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Marinka.
Gadlyn melirik kearah Rakha. Pria itu tampak cuek dan sibuk dengan makan siangnya.
"Se-Seminggu tante." Jawab Gadlyn yng kemudian tertunduk.
"Seminggu? bukankah itu waktu kamu dan Yure ditemukan dari pulau terpencil itu?" tanya Ezra
"I-Iya." Jawab Gadlyn gugup.
"Emmm...pantas saja Rakha seperti orang gila melakukan pencarian itu. Ternyata elang kita baru menyadari perasaanya waktu itu," sindir Ezra.
Rakha masih sibuk dengan makanannya, sementara Gadlyn sudah gemetaran karena grogi.
"Katakan pada orang tuamu, minggu depan keluarga kami akan datang kerumahmu untuk melamarmu," ujar Marinka tanpa basa basi.
Uhuuukkk
Uhukkkk
Uhukkkk
Gadlyn dan Rakha terbatuk bersamaan. Ezra dan Marinka kompak menyodorkan air minum pada sejoli itu.
"La-Lamaran ma?" tanya Rakha setelah meminum segelas air hingga tandas.
"Iyalah. Kalian mau nunggu sampai berapa lama lagi?" tanya Marinka.
Gadlyn dan Rakha saling menoleh satu sama lain. Sesaat kemudian, senyum mereka terbit dari bibir mereka masing-masing.
"Ta-Tante. Apa itu tidak apa-apa bagi keluarga tante? tahu sendiri latar belakang keluargaku seperti apa. Aku nggak mau buat keluarga tante jadi malu," ujar Gadlyn dengan wajah mendung.
"Lalu kalau begitu apa tujuan kalian berpacaran kalau tidak menikah?" tanya Marinka.
"Bagiku pribadi aku hanya menjalani sesuai apa yang aku rasakan. Soalnya aku tahu diri siapa aku dan keluargaku. Aku hanya tidak berani bermimpi bisa masuk dalam keluarga ini." Jawab Gadlyn sembaru tertunduk
"Manusia itu di ciptakan sama. Tante percaya kamu itu gadis yang baik. Lagi pula tante nggak mau kalian berbuat dosa terus, tanpa hubungan yang jelas. Jadi lebih baik kalian menikah saja," ujar Marinka.
"Jadi intinya nanti kamu bilang pada orang tuamu, minggu depan kami akan datang untuk melamarmu," timpal Ezra.
"Baik om." Jawab Gadlyn.
Mereka kembali makan dalam diam. Terutama Gadlyn. Gadis itu mendadak berwajah mendung, hingga Rakha mengantarnya pulangpun, wajah gadis itu masih terlihat muram.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rakha yang merasa tidak nyaman melihat Gadlyn diam membisu.
Karena tidak ada respon, Rakha menepikan mobilnya yang kebetulan berhenti pada sebuah taman umum.
"Ada apa? apa ada yang mengganggu pikiranmu? apa kamu tidak suka usulan orang tuaku yang ingin melamarmu untukku?" tanya Rakha.
"Bu-Bukan itu. Hanya saja aku jadi berpikir. Apa saat aku menikah nanti, papa bisa menikahkan aku denganmu? karena itu sungguh-sungguh keinginanku." Jawab Gadlyn.
Rakha membawa kepala Gadlyn ke dadanya, dan mengusap-usap puncak kepala kekasihnya itu.
"Jangan lelah berdo'a. Aku yakin do'amu akan terkabul nanti," ucap Rakha.
"Terima kasih sudah menghiburku. Tapi aku tahu itu suatu hal yang mustahil. Tidak apa-apa, mungkin ini memang sudah takdirku," ujar Gadlyn.
"Jangan sedih ya? jangan pernah putus harapan," ucap Rakha.
"Emm." Gadlyn mengangguk.
"Kita lanjut jalan lagi ya?" tanya Rajha.
"Ya." Jawab Gadlyn.
Rakha kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Gadlyn pulang. Gadlyn dengan wajah semringah memeberitahu Karin bahwa minggu depan dirinya akan dilamar. Tentu saja kabar itu mengejutkan bagi Karin. Pasalnya dia masih tidak percaya orang besar seperti Ezra dan Marinka mau menerima keluarga kecilnya.
*****
Seperti yang sudah disepakati, keluarga Ezra benar-benar datang menemui keluarga Gadlyn untuk melamar gadis itu. Tidak banyak yang hadir dalam acara itu, mereka hanya datang mengajak keluarga inti saja.
Gadlyn keluar dengan pakaian sederhana, begitu juga dengan Karin. Mereka menyambut hangat keluarga Hawiranata, dengan menyediakan berbagai macam kue dan minuman.
"Jadi maksud kedatangan kami kesini, ingin melamar Gadlyn untuk putra kami Rakha. Yang ternyata mereka ini sudah menjalin hubungan selama ini. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya kita nikahkan saja mereka ini. Apakah kamu setuju dengan usul kami?" tanya Ezra pada Karin.
"Usul diterima." Jawab Karin singkat.
"Bagaimana Gadlyn? apa lamaran Rakha kamu terima?" tanya Ezra.
"Diterima." Jawab Gadlyn dengan tegas.
"Alhamdulillahirobbil 'alamin," semua orang yang hadir mengucap syukur.
"Kalau begitu, bagaimana kalau pernikahan mereka kita adakan bulan depan? apa kalian setuju?" tanya Ezra.
Gadlyn dan Karin saling melihat satu sama lain. Dan kemudian mereka mengangguk secara bersamaan.
"Baiklah kalau begitu sudah sepakat," ucap Ezra.
"Silahkan dihaturi," ujar Karin sembari membuka tutup makanan serta kue yang disiapkan diatas meja.
__ADS_1
Keluarga Ezrapun mencicipi aneka kue dan minuman yang Karin siapkan. Mereka juga berbincang-bincang banyak hal.
"Bagaimana? lega?" tanya Rakha.
"Bukan lagi. Rasanya beban yang menghimpit dadaku terangkat semua." Jawab Gadkun..
"Sekarang kamu percaya kan? kalau aku benar-benar serius dengan hubungan kita?" tanya Rakha.
"Ya. Terima kasih sudah memilihku. Rasanya ini seperti mimpi bagiku," ujar Gadlyn.
"Kamu layak mendapatkan kebahagiaan, setelah melalui berbagai macam penderitaan." Jawab Rakha.
Gadlyn menyandarkan kepala pada bahu Rakha, dengan pandangan mata lurus kedepan.
"Aku tidak mengklaim diriku baik dan sempurna. Semua kekurangan dan kelemahan mungkin akulah sarangnya. Tapi aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Menemanimu dalam keadaan suka dan duka," ujar Gadlyn.
"Terima kasih. Perkataan itu sudah cukup bagiku. Aku tidak minta apa-apa darimu. Aku hanya butuh kesetiaanmu saja," ucap Rakha.
"Kita pulang," ujar Ezra menyeru Rakha yang sedang berada di teras rumah Gadlyn.
"Oke pa." Jawab Rakha.
"Sayang. Aku pulang dulu ya? sampai ketemu di kantor besok," ucap Rakha.
"Ya. Hati-Hati ya." Jawab Gadlyn.
"Emm." Rakha mengangguk.
Ezra sekeluargapun pulang. Gadlyn masuk medalam rumah, dan mendapati Karin tengah termenung di ruang tamu.
"Ada apa ma?" tanya Gadlyn.
"Lin. Apa sebaiknya kita pergi kerumah sakit hari ini? bukankah kamu harus meminta restu sama papamu?" tanya Karin.
"Mama benar. Ya sudah, kita jenguk papa sebentar. Meski keadaan papa begitu, tapi kita juga harus memberi kabar gembira ini." Jawab Gadlyn.
"Ya sudah ayo bersiap-siap. Takutnya keburu sore," ujar Karin.
Gadlyn dan Karin memutuskan untuk pergi kerumah sakit jiwa. Setelah sampai disana, seperti biasa Galang masih menatap kearah tembok. Namun kali ini dengan posisi berbaring.
"Pa," seru Gadlyn dari belakang punggung Galang.
Galang yang semula memejamkan matanya, jadi membuka matanya karena mendengar suara Gadlyn.
"Pa. Gadlyn dan Mama bawa kabar gembira. bulan depan Gadlyn menikah. Papa cepat sembuh ya? Gadlyn mau papa yang jadi wali nikah Gadlyn," ucap Gadlyn sembari meneteskan air mata.
Karin mendekat kearah Galang. Meski dia tahu Galang berada di rumah sakit jiwa, tapi dia tidak sekalipun menjenguk Galang. Kali ini untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, akhirnya dia bertemu kembali dengan Galang. Dapat Karin lihat, seluruh rambut pria yang pernh dia cintai itu sudah nyaris memutih sebagian. Dengan tuhuh yang sedikit ringkih.
__ADS_1