
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ando.
"Ini maksudnya apa ya? kok kak Ando bilang sama si Stevi kalau aku calon istrinya kakak?" tanya Sera.
"Kenapa? nggak mau?"
"Maksud ini cowok apaan sih? pengen banget ya kita ngakuin mau jadi istrinya. Kenapa harus kita yang bilang? kenapa nggak dia aja yang ngajakin nikah? menyebalkan!" batin Sera.
Tanpa menjawab, Sera nyelonong pergi dari hadapan Ando.
"Eh? kok main pergi aja? jadinya mau apa nggak?"
"Sebaiknya kakak nikah aja ama gedebong pisang," teriak Sera tanpa menoleh dan terus berjalan meninggalkan ruangan.
"Ngajakin nikah kayak mau ngajakin kondangan," gerutu Sera namun masih bisa didengar oleh Ando.
"Aih...sepertinya aku harus berjuang keras buat dapetin perawan ting-ting. Lagipula gedebong pisang lobangnya dimana?" ujar Ando lirih.
Tringg
Tringg
Tringg
"Ya sepupu," ujar Ando lewat panggilan telpon.
"Aku baru nyampe bandara nih. Sibuk nggak? kalau nggak sibuk jemput aku dong," kata Rehan.
"Kamu ke Paris? ngapain?" tanya Ando.
"Liburan. Kan baru selesai semesteran."Jawab Rehan.
"Naik taksi aja gih, aku lagi di butik ini."
"Butik mana?"
"Tempat Sera sama Arin waktu itu."
"Oh...oke deh, aku langsung kesana aja kalau gitu."
"Ya."
Rehan mengakhiri panggilan itu, dan bergegas memanggil taksi. Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, Rehan akhirnya sampai di butik.
"Sera? kamu Sera kan?" tanya Rehan yang pangling melihat perubahan Sera.
"Rehan? kamu ke Paris?"
"Ya. Liburan semester. Gila, lama di Paris kamu udah berubah banget ya sekarang."
"Ya. Harus berubah lebih baik bukan?"
"Tentu saja. Kalau kamu cantik begini, dijamin para bule ngantri buat dapetin kamu," Sera dan Rehan terkekeh bersama.
Dari kejauhan Ando melihat keakraban Rehan dan Sera tampak tidak senang.
"Oh ya, Arin mana?" tanya Rehan.
"Ada di apartemen."
"Apartemen? bukannya dia nginap disini sama kamu? apartemen siapa? setahuku kak Ando nggak ada apartemen,"
Sera menepuk dahinya. Sera dan Marinka benar-benar lupa mengabari Rehan. Terlebih memberitahu tentang rujuknya Marinka dan Ezra. Sera tidak tahu bagaimana respon Rehan saat mendengar itu semua.
__ADS_1
"Itu Apartement yang dibelikan suaminya."
"Suami? Arin udah nikah lagi? sama siapa?" tanya Rehan yang terkejut.
"Ezra ." Jawab Sera.
"Apa? jadi dia rujuk lagi ama bajingan tengik itu?"
"Hah...mau gimana lagi. Kalau udah cinta mati mah payah. Biar disakitin kayak apa juga tetap aja mau maafin. Tapi sebenarnya Ezra orang baik kok, cuma dianya agak kurang beruntung dapetin Jihan yang penipu."
"Ya nggak bisa gitu dong. Enak aja itu si Ezra. Saat Arin menderita dia ada dimana? rasanya pengen ku tampol itu orang."
"Udahlah Re, biarin ajalah. Lagian kasihan sama anak-anak si Arin. Mereka juga sekarang sudah bahagia banget. Bahkan Ezra udah mulai membangun pabrik buat Arin."
"Hah...benar juga. Kalau bukan si Arin ada anak, mending suruh nyari laki-laki lain aja."
"Sepertinya kalian tambah asyik aja ngobrolnya," ujar Ando yang semakin kesal karena obrolan Rehan dan Sera semakin panjang.
"Apa kabar bro sepupu?" ucap Rehan sembari memeluk kakak sepupunya itu.
"Baik. Istirahat dulu sana, Sera buatin kakak teh." ucap Ando.
"Teh? bukannya tadi udah ya? rasanya belum kakak minum juga." ucap Sera.
"Tadi lupa minum, udah dingin. Kakak mau yang panas," ujar Ando.
Tanpa menjawab Sera langsung pergi ke dapur membuatkan teh untuk Ando.
"Nanti sore kamu tolong temani Stevi ya?"
"Kemana?" tanya Rehan.
"Anak manja itu sedang gila mengkoleksi ponsel."
"Emm."Ando mengangguk.
"Kamu jangan terlalu manjain dia kak. Bisa-Bisa kamu bangkrut nantinya."
Ando terkekeh mendengar ucapan Rehan, sembari berjalan kembali keruangannya bersama Rehan.
"Mana mungkin bangkrut hanya karena beli satu ponsel. Lagian tidak apa-apa, dia adik sepupu perempuan satu-satunya. Sudah sewajarnya kita memanjakan dia,"
"Kak. Ini teh nya," ujar Sera sembari meletakkan teh diatas meja, kemudian langsung beranjak keluar ruangan.
"Ra. Ntar sore temenin gue yuk?" tanya Rehan sebelum Sera benar-benar mencapai pintu keluar.
"Kemana?" tanya Sera.
"Mau beliin adek sepupu HP. Ntar pulangnya gue antar,"
"Jangan. Sera pasti capek kan Ra?" ujar Ando.
"Nggak apa kok, nggak capek."
"Kamu itu harus banyak istirahat, biar kerja besok badan fit lagi," timpal Ando.
"Beneran aku nggak capek kok," bantah Sera.
Wajah Ando berubah jadi masam, sementara Rehan hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Ya sudah kita pergi berempat aja," ujar Ando.
"Kok jadi berempat? kalau kakak sempat nemenin Stevi cari HP, ya kakak aja yang pergi. Aku mau nganter Sera aja, soalnya mau ketemu sama Arin juga," ujar Rehan.
__ADS_1
"Lagian kamu masih jomblo kan Ra? kita jalan berdua aja, biar kayak pasangan gitu." sambung Rehan sembari terkekeh.
"Ya pasangan, yang ada aku kena tampol ama pacar kamu." jawab Sera.
"Aku baru putus. Kalau kamu mau jadi pacarku boleh juga Ra."
"Sontoloyo," ujar Sera sembari pergi dari ambang pintu.
"Sepertinya banyak cerita baru selama aku pergi," ujar Rehan.
"Cerita apa?" tanya Ando dengan malas.
"Bagaimana cerita bisa berganti dengan cepat? apa karena Arin udah rujuk sama si Ezra?"
"Maksud kamu apaan sih?" tanya Ando sembari menyesap teh buatan Sera.
"Nggak apa, di ujung senja akan aku beritahu. Tapi untuk sekarang aku belum puas bermain."
"Bahasamu di ujung senja, penyair nggak laku ya?" ujar Ando yang hanya dibalas cengiran oleh Rehan.
Sera sedang bersiap-siap, karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sudah diputuskan mereka akhirnya pergi berempat. Sera tidak tahu kenapa Ando jadi berubah pikiran, yang pasti dia sama sekali tidak mengajak pria itu bicara dan malah asyik bersenda gurau dengan Rehan.
"Kakak tidak cemburu? awas loh kena tikung sepupu sendiri. Mana saingan masih daun muda lagi," bisik Stevi gadis kecil dengan jiwa usil yang tingkat tinggi.
Ando tidak menjawab, dia hanya memperhatikan canda tawa Rehan dan Sera dari kursi belakang, karena Rehan yang sedang menyetir saat ini. Setelah ponsel Stevi sudah dibeli, mereka pun pergi kerumah Marinka untuk mengantar Sera dan sekalian pergi mengunjungi Marinka.
"Rehan?" mata Marinka berbinar, saat melihat kehadiran Rehan. Marinka pun reflek ingin memeluk sahabatnya itu, namun urung karena suara menggelegar dari belakang menghentikan niatnya itu.
"Sayang...bukan muhrim!" ujar Ezra dengan nada tidak senang.
"Maaf bang, lupa." ucap Marinka sembari nyengir.
"Masuk yuk?" Rehan mengangguk sembari masuk diiringi dengan yang lain.
"Eh? ini siapa? manis sekali," tanya Marinka sembari melihat kearah Stevi.
"Stevi. Sepupuku." Jawab Ando.
"Kalian duduk dulu ya, biar aku buatin minuman buat kalian," ujar Marinka.
"Aku masuk dulu, ganti baju. Stevi mau ikut kakak?" tanya Sera.
"Boleh deh," ujar Stevi sembari mengekor dibelakang Sera.
"Renata datangin kamu?" tanya Ezra yang bersikap cuek pada Rehan.
Dirinya baru tahu setelah Marinka bercerita, kalau pria itulah yang membantu istrinya kabur dan sulit ditemukan.
"Ya. Tadi siang." Jawab Ando.
"Pasti ngeluarin jurus maut," ujar Ezra terkekeh.
"Bukan main tu cewek nggak tahu malunya. Perempuan kayak gitu, bukan dia yang takut diperkosa, tapi malah sebaliknya pria yang ketakutan sama dia."
Sera membantu Marinka membawa minuman dan camilan. Kemudian meletakkannya diatas meja.
"Ah...makasih calon pacar, udah buatin abang teh yang nikmat," ucap Rehan yang tertuju buat Sera.
"Sama-Sama abang tampan." Jawab Sera dengan senyum yang dibuat-buat.
Ezra melirik kearah Ando, pria itu mengulum senyumnya karena melihat kecemburuan di wajah sahabatnya itu.
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote teman-teman, biar author tambah semangat buat nulis🤭🤭🤭🤭
__ADS_1