
"Adek yakin nggak mau ikut?" tanya Ezra yang sudah berpakaian rapi.
Pria itu terlihat tampan dengan jas hitam miliknya. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona, termasuk Marinka.
"Nggak bang. Adek lagi nggak enak badan." Jawab Marinka.
"Kamu sakit? ya sudah abang tidak usah pergi saja," ujar Ezra yang tampak khawatir.
"Jangan bang. Disini sudah ada mama dan papa. Lagipula abang mau nganter cincin tunangan itu kan? abang pergilah, pasti mereka sedang nungguin abang."
"Kamu yakin abang boleh pergi?"
"Ya. Hati-Hati aja abang perginya,"
"Ya sudah. Jangan lupa minum obat sebelum tidur ya?"
"Emm." Marinka mengangguk.
Cup Ezra mengecup kening Marinka, hingga wanita itu jadi tersipu malu.
"Abang pergi ya?"
"Emm." Marinka mengangguk.
Ezrapun keluar kamar, Marinka baru bisa bernafas lega saat pria itu sudah keluar dari kamarnya.
Sementara itu Ezra memacu mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Dia ingin segera sampai agar cepat pulang. Suasana tampak begitu meriah, saat Ezra tiba disebuah Aula yang dari arah pintu masuk sudah dipasangi karpet berwarna merah.
Beberapa fotografer mengabadikan tiap tamu yang datang dari arah depan, termasuk Ezra. Lady Aceline menerbitkan senyumnya saat dirinya melihat kedatangan Ezra. Gadis itu bergegas menghampiri Ezra untuk menyambut tamu undangannya.
"Terima kasih tuan Ezra sudah bersedia datang," ujar Lady Acellyn.
"Suatu kehormatan bagi saya, bisa menyaksikan acara yang begitu mengagumkan seperti ini Lady Aceline."
"Kalau begitu nikmatilah! mari saya antar anda untuk menemui kakakku yang akan bertunangan," ujar Lady Aceline.
"Mari, saya juga harus menyerahkan cincin pesanan anda bukan?"
"Ya."
Greppp
Aceline melingkarkan tangannya di lengan Ezra, yang membuat pria itu sedikit terkejut. Jangan ditanya bagaimana reaksi para fotografer saat melihat pemandangan langka itu, cahaya dari lampu kamera sampai membuat mata Ezra sedikit silau.
"Kakak. Ini kenalkan tuan Ezra, pemilik Diamond Crop," ujar Aceline.
"Wah... jadi ini tuan Ezra yang sering kamu bicarakan itu? anda masih terlihat muda dan tampan rupanya," ujar Lady Margareth.
"Terima kasih atas pujian anda lady. Oh iya, ini cincin tunangan anda yang Lady Aceline pesan waktu itu. Semoga anda tidak kecewa dengan hasilnya," ucap Ezra sembari menyodorkan sebuah kotak berwarna navy.
"Keluargaku selalu puas dengan hasil design anda." Jawab Margareth sembari meraih kotak cincin itu.
"Saya sangat senang jika pelanggan puas dengan hasil karya kami," ucap Ezra.
"Nikmatilah acaranya tuan Ezra. Aceline, ajak tuan Ezra berbincang sembari menikmati hidangan atau minuman disini," ujar Margareth.
__ADS_1
"Ya kak." Jawab Aceline.
Ezra dan Aceline pergi menuju meja minuman, mereka minum bersama sembari berbincang.
"Kemana pasangan anda?" tanya Ezra berbasa-basi.
"Pasangan? saya belum memiliki orang spesial seperti itu." Jawab Aceline tersipu.
"Sungguh? seharusnya gadis secantik dan sepopuler anda, sudah laku lebih dulu. Apa anda termasuk gadis yang pemilih?" tanya Ezra sembari terkekeh.
Aceline pun jadi ikut terkekeh, kemudian menatap lembut kearah Ezra.
"Sungguh, saya belum memilikinya. Tapi saat ini saya memang sedang menyukai seseorang,"
"Wah...kalau begitu harus bergerak cepat," ujar Ezra sembari menyesap minumannya.
"Bagaimana dengan anda sendiri?" tanya Aceline sembari tersenyum.
"Saya? kebetulan saya sedikit beruntung dari anda, saya sudah memiliki seorang istri dan sepasang anak kembar." Jawab Ezra.
Pria itu tiba-tiba teringat dengan wajah cantik Marinka. Entah kenapa sejak bertemu dengan wanita itu, Ezra merasa rindu setiap saat dan begitu enggan berpisah.
Namun berbeda dengan Ezra yang tersenyum saat mengingat wanita pujaannya, Senyum Aceline malah tiba-tiba lenyap dari sudut bibirnya saat tahu Ezra sudah memilikki istri dan anak.
"Anda sudah memiliki istri dan anak?"
"Ya. Mereka adalah harta dan nyawaku yang paling berharga." Jawab Ezra.
Aceline tersenyum kecut, saat Ezra beralih menatapnya.
"Saya do'akan anda segera mendapat pasangan," ujar Ezra.
"Dia masih seorang Mahasiswa,"
"Mahasiswa? apa itu tidak jadi masalah dengan status anda yang seorang pengusaha sukses dan terkenal?"
"Kenapa harus masalah? saya malah berharap istri saya diam dirumah. Mengurus suami dan anak-anak saja."
"Maaf pemikiran anda sangat aneh sekali tuan. Rata-Rata orang akan senang dan bangga mendapat istri cerdas dan berkelas, karena itu bisa meningkatkan harga diri seorang pria."
"Saya tidak butuh wanita untuk menaikan popularitas saya. Saya akan meraih itu dengan prestasi saya sendiri. Wanitaku cukup mendukungku dari belakang," ucap Ezra.
"Wanita itu sangat beruntung mendapatkan pria ini. Aku jadi penasaran, seperti apa selera pria ini?" batin Aceline.
"Aku jadi penasaran, seperti apa wanita beruntung yang memilikki anda itu tuan Ezra," ujar Aceline.
"Bukan dia yang beruntung Lady Aceline, tapi sayalah yang beruntung memiliki dia."
Mendegar itu hati Aceline sedikit dongkol. Ezra terdengar seperti memuji mati-matian Marinka.
"Emm...Lady. Sepertinya saya tidak bisa menemani anda sampai acara ini selesai, karena saya harus segera pulang."
"Kenapa begitu buru-buru?"
"Saya harus pulang karena istri saya sedang tidak enak badan dirumah." Jawab Ezra.
__ADS_1
Hati Aceline semakin memanas. Dia seolah tidak rela membiarkan Ezra pulang begitu saja, terlebih dengan alasan istrinya.
"Saya pamit undur diri dulu, titip salam saja untuk kakak anda," ujar Ezra.
"Baiklah. Berhati-hatilah," ucap Aceline.
Ezra kemudian bergegas pergi, pria itu cukup lega karena berhasil lepas dari godaan berat.
"Ah...seharusnya Marinka ikut saja tadi. Ternyata benar dugaanku, Aceline punya maksud lain mengundangku keacara itu. Tapi maaf saja, biarpun anak saudagar minyakpun akan aku tolak. Hatiku hanya untuk Marinka seorang, ayo Zra semangat!" ujar ezra menyemangati dirinya sendiri.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, saat Ezra tiba di apartemen milik Marinka. Semua orang tampak lelap termasuk Marinka dan kedua anaknya.
Cup
Ezra kembali mencium kening Marinka yang tampak lelah. Diam-Diam Ezra naik keatas tempat tidur dan merapatkan diri kearah Marinka.
Grepppp
Pria itu membawa Marinka yang pulas kedalam pelukkannya.
"Ah...ya Tuhan...aku sangat merindukan pelukkan ini. Aku pasti tidur nyenyak malam ini," batin Ezra sembari mengeratkan pelukkannya.
Seperti yang Ezra katakan, pria itu benar-benar tertidur lelap sembari memeluk wanitanya itu.
*****
Marinka menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Wanita itu selalu terbangun di jam yang sama, meskipun dia tidak memasang jam pengingat di ponselnya. Namun kali ini dia sangat terkejut, saat terbangun mendapati Ezra berada disamping tempat tidurnya.
"Bang. Bangun bang, abang kenapa tidur disini? gimana kalau papa dan mama liat bang," ujar Marinka panik.
"Biarin aja." Jawab Ezra sembari mata masih terpejam.
"Eh...kok biarin sih bang?"
Ezra membuka matanya dan menatap Marinka yang berjarak kurang dari satu hasta. Bukannya pergi, Ezra malah membuat Marinka berada dibawah kungkungannya.
"Ba-Bang. Abang mau apa?" tanya Marinka gugup.
"Menurutmu? apa sebaiknya kita segerakan saja menikahnya dek?"
"Kenapa?"
"Agar tidak terjadi hal-hal yang di inginkan."
"Hal-Hal yang diinginkan?"
"Emm. Abang ingin sekali menyentuhmu," bisik Ezra yang membuat Marinka jadi merinding.
"Ab-Abang jangan begitu. Dirumah ini ada papa dan mama. Mereka bisa salah paham nantinya,"
Ezra sama sekali tidak fokus dengan ucapan Marinka. Dia lebih fokus dengan bibir Marinka yang tampak menggodanya. Dengan gerakkan lembut dan tanpa izin, Ezra melu**t lembut bibir wanita pujaannya itu.
Marinka yang semulanya tegang, ikut terhanyut dengan permainan Ezra yang begitu menuntun sekaligus menuntut. Perlahan tapi pasti, Marinkapun membalas dengan mengalungkan kedua tangan dileher kekar milik pria itu.
"I love you," bisik Ezra setelah pagutan mereka terlepas.
__ADS_1
Meski ingin membalas ucapan serupa, namun Marinka masih menahannya. Dia tidak ingin jatuh terlalu mudah, sampai dirinya benar-benar yakin Ezra tidak akan menduakannya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏