
Ezra dan Marinka meninggalkan aula konfrensi pers dengan bergandengan tangan. Hingga punggung mereka menghilang dibalik pintu aula, barulah kamera itu berhenti menyala.
Brakkkkk
Ezra menutup pintu dengan lumayan keras, dan segera meraih wajah Marinka setelah wanita itu menutup pintu itu.
Cup
Ezra lagi-lagi mencium Marinka secara tiba-tiba, sehingga mata wanita itu terbelalak. Namun lambat laut Marinka memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya dileher kekar pria itu.
Hah
Hah
Hah
Pagutan mereka terlepas saat mereka merasakan pasokan oksigen mulai menipis. Ezra menempelkan keningnya di kening Marinka, mereka bisa sama-sama merasakan terpaan nafas mereka masing-masing.
"Abang bangga padamu dek," Ezra mulai bersuara.
"Apa abang sempat meragukanku?" tanya Marinka.
"Maaf," ujar Ezra tertunduk.
Marinka menyunggingkan senyumnya, wanita itu sama sekali tidak marah. Dia mengerti Ezra khawatir mungkin karena tidak pernah melihat dirinya berbicara didepan publik, ditambah jenjang pendidikkannya tidak berhubungan dengan komunikasi.
"Tidak apa, adek nggak marah atau tersinggung. Malah adek juga tidak menyangka bisa bicara seperti itu. Bukankah adek juga harus banyak-banyak latihan didepan kamera?"
"Kenapa?"
"Karena adek adalah calon designer dunia, yang akan banyak di wawancarai oleh wartawan nantinya." Jawab Marinka terkekeh.
"Abang akan mewujudkan semua cita-citamu itu dek."
"Nggak bang. Jangan lakukan apapun sebelum adek yang minta."
"Kenapa?" tanya Ezra.
"Karena adek ingin berhasil dengan hasil kerja keras adek sendiri."
"Baiklah, abang mengerti. Kalau butuh apapun tolong beritahu abang. Oh ya, bagaimana dengan uang hasil design perhiasan itu? abang ingin membagi keuntungannya denganmu,"
"Abang bicara apa? kenapa adek harus memperhitungkan soal itu. Adek ikhlas membantu abang,"
"Tidak dek. Kalau kamu ingin berhasil, kamu harus menghargai hasil karyamu sendiri. Berapapun jumlahnya, karyamu harus memiliki nilai."
"Terserah abang saja kalau begitu."
"Abang akan memasukkannya kedalam rekeningmu. Oh ya, kenapa adek nggak pernah ngambil uang di ATM yang abang berikan?"
"Adek belum membutuhkannya. Lagian kalau adek mengambil uang itu, bukankah abang akan tahu keberadaan adek?"
"Segitunya kamu ingin menjauhi abang. Apa kamu sama sekali tidak merindukan abang?"
"Abang bertanya seperti itu, rasanya adek ingin menangis."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tentu saja hal itu tidak perlu ditanyakan lagi?"
"Kangen abang ya? kalau seperti itu, apa yang biasa adek lakukan?"
"Melihat foto-foto kenangan kita."
Grepppp
Ezra membawa Marinka kedalam pelukkannya.
"Abang juga begitu. Abang mohon jangan tinggalkan abang lagi ya dek?"
"Ya. Bang...."
"Hem?"
"Ayo kita menikah," ujar Marinka.
Ezra spontan menjauhkan tubuh Marinka dari dekapannya. Dengan pandangan mata berbinar, Ezra kembali mencium Marinka sekilas.
"Adek nggak bercanda kan?" tanya Ezra, Marinkapun menggelengkan kepalanya.
Ezra kembali membawa Marinka kedalam pelukkannya, bahkan kali ini terlampau erat, karena Ezra terlalu bahagia.
"Kenapa adek berubah pikiran secepat ini? apa abang benar-benar sudah lulus ujian?"
"Sebenarnya belum. Tapi apa yang abang lakukan padaku membuatku berpikir ulang, mungkin sebaiknya ujian itu diteruskan saat kita sudah menikah saja."
"Kenapa?"
"Abang selalu sembarangan menyetuhku dan menciumku. Adek jadi merasa beban moral saat melakukannya. Lagipula kalau abang bertingkah lagi, adek sama sekali tidak keberatan jadi janda berkali-kali dengan orang yang sama."
"Adek juga berharap begitu bang."
"Jadi kapan kita akan menikah?" tanya Ezra.
"Terserah abang saja, adek menurut saja."
"Bagaimana kalau hari ini?"
"Hari ini? apa itu tidak terlalu buru-buru bang?"
"Abang rasa tidak. Biar nanti malam kita bisa..." Ezra menaik turunkan alisnya yang membuat wajah Marinka jadi merah merona.
Sedang asyik menggoda Marinka, suara ponsel Ezra tiba-tiba berdering. Ezra mengerutkan dahinya saat melihat dilayar ponselnya ada nama Lady Aceline.
"Siapa bang?" tanya Marinka yang penasaran, karena raut wajah Ezra tiba-tiba berubah aneh.
"Aceline. Mau apa dia?" ujar Ezra.
"Angkat saja. Siapa tahu penting," ucap Marinka."
Ezra menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu, dan kemudian membuat mode pengeras suara agar Marinka juga bisa mendengar percakapan itu.
"Ternyata dia memang tidak menaruh hati pada gadis bangsawan itu. Terbukti dia tidak keberatan aku mendengar percakapan mereka," batin Marinka.
"Ya Lady Aceline?"
__ADS_1
"Saya menonton anda dan istri anda yang sedang melakukan konfrensi pers beberapa menit yang lalu,"
"Oh ya? maaf kalau seandainya ada kata yang tidak berkenan,"
"Tidak masalah, saya mengerti anda melakukan itu demi menyelamatkan rumah tangga anda. Seharusnya disini saya yang meminta maaf pada anda dan istri anda, karena ulah saya keluarga anda jadi merasa tidak enak."
"Tidak masalah, sejauh ini keluarga saya masih baik-baik saja."
"Tapi saya masih merasa tidak enak hati. Untuk itu sebagai permintamaafan saya yang tulus, maukah anda dan istri anda datang diperjamuan makan siang. Saya harap anda tidak akan menolaknya, biar saya tidak merasa bersalah lagi."
Ezra menoleh kearah Marinka, dan diangguki oleh wanita itu.
"Baiklah kami akan datang. Kapan?"
"Besok siang. Dirumah pribadiku,"
"Kirimkan alamatnya, kami pasti akan datang."
"Baiklah. Saya menunggu kedatangan kalian."
Ezra mengakhiri percakapan itu sembari menghela nafas.
"Kenapa?" tanya Marinka.
"Aku takut gadis itu berulah,"
"Jangan begitu. Adek sudah mendengar suaranya, dan adek bisa menilai kalau dia tulus ingin mengundang kita."
"Pokoknya kalau besok dia macam-macam padamu, adek jangan ragu untuk melakukan hal serupa padanya."
"Hal serupa? maksud abang bagaimana?"
"Ya kalau dia mukul atau jambak kamu, ya adek mukul dan jambak balik."
Marinka tertawa saat mendengar ucapan Ezra. Ezra menatap tawa wanitanya itu dengan senyuman. Dia sangat senang, karena bisa mengembalikan senyum Marinka yang sudah lama menghilang.
Ezra dan Marinka pulang dengan bergandengan tangan. Marinka terpaksa melepaskan tangan Ezra, karena tatapan Baskoro dan Masayu begitu menghunus. Namun Ezra dengan tidak tahu malunya kembali meraih tangan istrinya itu, dan memamerkannya pada kedua orang tuanya itu.
"Adek nggak perlu takut lagi, kita kan sudah menikah."
Baskoro dan Masayu saling berpandangan mendengar ucapan Ezra itu.
"Kalian sudah menikah?" tanya Masayu.
Marinka mengangguk kemudian kembali tertunduk. Mereka memang sudah menikah kembali satu jam yang lalu. Ezra begitu tidak sabar ingin menjadikan dirinya istri kembali.
"Yah...nggak seru, kok cepat sekali nyerahnya? padahal mama kan pengen liat anak ini sedikit lebih menderita lagi," ujar Masayu.
"Kok mama ngomongnya gitu sih ma? Ezra kan anak mama? kok malah senang lihat anaknya menderita?"
"Ya kan salahmu sendiri. Lagipula kamu sangat beruntung mendapat istri pemaaf seperti dia, kalau mama yang jadi dia, tentu satu atau dua tahun belum tentu mama terima. Tapi mama jadi penasaran, kenapa kamu cepat sekali nerima anak sontoloyo ini?"
"Apalagi, melihat karakternya Marinka, tentu dia tidak ingin berbuat dosa. Kamu tahu sendiri lelaki jaman sekarang." timpal Baskoro.
"Nggak jaman sekarang, nggak jaman dulu sama aja kali pa. Ya namanya juga usaha, tapi cara itu memang lebih efektif." Jawab Ezra sembari terkekeh.
"Bilang aja kamu mesum karena kelamaan puasa," ujar Masayu.
__ADS_1
"Apapun itu, kami mau liat anak-anak dulu." Jawab Ezra yang kemudian langsung menarik tangan Marinka ke kamar.
Masayu dan Baskoro hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ezra. Mereka tahu betul apa yang akan dilakukan oleh anak muda itu, karena merekapun pernah mengalami muda serupa.