
"Inka. Kamu sering-sering datang kemari ya? Tante ingin mencoba masakan kamu," ucap Masayu saat mengantar Marinka dan Ezra didepan teras rumahnya.
"Iya tante. Kapan-Kapan kita masak bareng ya?"
"Janji loh, emm...gimana kalau akhir pekan depan kamu kesini lagi? kita bisa masak dan makan siang bersama lagi,"
Marinka menoleh kearah Ezra yang sudah menggaruk pelipisnya.
"Tidak usah hiraukan anak bandel itu, dia memang selalu begitu. Kalau saja dia bukan anak semata wayangku, tentu aku lebih memilih anak gadis sepertimu."
"Apaan sih Ma? iya-iya, pekan depan Marinka boleh kesini lagi," ujar Ezra.
"Sekalian pekan depan kita bahas masalah pernikahan kalian,"
"Apa sebaiknya bertunagan saja dulu ma?" tanya Ezra.
"Tidak...tidak...tidak...tidak usaha lagi ada acara bertunangan segala. Kami sudah bosan kamu tipu terus, jadi mama dan papa menginginkan kalian segera menikah saja."
"Hah, ya baiklah. Terserah kalian saja," Ezra menghela nafas kasar.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya tante, om," ucap Marinka.
"Ya. Hati-Hati ya?"
Ezra membukakan pintu mobil untuk Marinka. Marinka, memasuki mobil itu setelah mencium tangan Baskoro dan Masayu. Mobil yang Ezra kendaraipun hilang dibalik tikungan pagar rumah megah itu setelah membunyikan satu klakson.
"Bagaimana menurut Papa gadis yang Ezra bawa tadi?"
"Papa suka. Anaknya sopan dan lemah lembut,"
"Iya, mama juga suka. Sikapnya sangat manis dan apa adanya, dan yang pasti dia sangat serasi bersanding dengan putra kita."
"Ya, semoga saja kali ini bukan akal-akalan Ezra lagi. Kalau dia berani menipu kita lagi, aku tidak ingin bicara lagi dengan anak itu."
"Emm. Mama setuju, kita akan mogok bicara padanya," timpal Masayu.
Sementara itu, dijalanan lenggang, Ezra kembali membuka pembicaraan dengan Marinka.
"Terima kasih sudah membantuku malam ini,"
"Apa yang tuan bicarakan. Ini kan sudah jadi kesepakatan kita, aku akan menganggap diriku sedang bekerja saat ini. Anggap saja aku bekerja sebagai aktris. Apa aktingku tadi lumayan bagus?"
"Bukan hanya lumayan, kamu berperan sangat sempurna." Ezra mengacungkan jempolnya.
"Benarkah? ya baguslah, setidaknya kamu tidak dirugikan sudah membayar aktris amatiran sepertiku."
"Besok kamu akan diantar Yuda untuk mendaftar kuliahmu,"
"Secepat itu?"
"Lebih cepat lebih baik. Aku takut orang tuaku menyelidikimu, termasuk latar belakang pendidikkanmu."
"Baiklah, aku akan menurut saja apa katamu."
"Maafkan orang tuaku ya? aku takut mereka membuatmu tidak nyaman,"
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku malah menyukai mereka, mereka sangat luwes dan membuatku tidak canggung sama sekali."
"Benarkah?"
"Emm. Aku merasa seperti sedang bicara dengan orang tuaku sendiri."
"Ya, sebentar lagi mereka juga akan jadi orang tuamu."
"Bolehkah aku menganggap mereka orang tuaku juga? ya meskipun 6 bulan saja,"
"Boleh."
"Terima kasih, tuan sangat baik sekali. Oh ya, ceritakan padaku tentang kekasih tuan itu. Apa dia sangat cantik?"
"Bagiku dia wanita tercantik didunia ini. Dia seorang model internasional di Amerika saat ini. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun, itulah aku tidak bisa melupakan dia begitu saja saat orang tuaku ingin menjodohkanku dengan wanita yang tidak jelas."
"Aku percaya dengan pilihanmu, wanitamu itu pasti sangat berkelas. Kamu harus membujuk orang tuamu pelan-pelan setelah kita bercerai nanti."
"Ya. Aku akan lakukan itu. Aku tidak bisa berpisah dari Jihan, karena kami saling mencintai."
"Tuan. Kenapa kamu harus memilihku untuk kamu nikahi? bukankah aku wanita yang tidak jelas juga? atau karena aku punya hutang besar padamu?"
"Maaf Marinka, aku sama sekali tidak pernah berfikiran seperti itu meskipun kamu berhutang triliunan padaku. Tapi aku merasa cuma kamu yang cocok dan bisa membantuku keluar dari masalah ini,"
"Ya aku mengerti. Maaf sudah menyudutkanmu."
"Tidak masalah, aku memaklumi kalau kamu berfikiran seperti itu. Lagipula terus terang aku mempercayaimu."
"Terima kasih. Oh ya, aku mau tanya. Ya mungkin pertanyaanku ini sedikit konyol, tapi ini sangat penting bagiku."
"Apa?"
"Sapu tangan? apa itu pemberian seseorang? atau itu dari mantan suamimu?"
"Bukan. Aku juga tidak tahu itu milik siapa, tapi yang memberikannya pasti orang baik. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika suatu saat bertemu dengannya, aku akan mengembalikkan itu padanya."
"Kenapa dikembalikan?"
"Soalnya tidak jelas, apa dia memberikannya untukku, atau hanya meminjamkannya."
"Aku tidak melihatnya." Ezra berdusta.
"Sayang sekali, padahal itu sapu tangan yang bagus. Aku suka dengan bahannya, di sapu tangan itu juga ada merknya "EH". Mungkin itu nama brandnya kali ya?"
"Mungkin," timpal Ezra.
"Apa tuan akan langsung mengantarku ke Apartement?"
"Ya."
"Tuan. Aku baru ingat, aku tidak memiliki pakaian ganti,"
"Disana sudah disiapkan semua kebutuhanmu."
"Semuanya? apa itu termasuk pakaian da-lam?" tanya Marinka canggung.
__ADS_1
"Ya."
"Bagaimana bisa? kan tidak ada yang tahu ukuran..."
Marinka menutup mulutnya karena merasa malu untuk meneruskan kata-katanya.
"Kamu coba saja, kalau memang tidak muat atau kebesaran, kamu bisa mengatakannya nanti."
"Ba-Baiklah."
Ezra membelokkan mobilnya kearah kawasan Apartemen mewah. Marinka dibuat takjub dengan kemewahan yang ditawarkan oleh apartement itu.
"Tuan. Beneran deh, menurutku ini sangat berlebihan."
"Jangan sungkan. Anggap saja ini investasimu setelah kita bercerai nanti,"
"Ah ya baiklah...aku benar-benar merasa terharu. Bahkan dengan mantan suamiku yang lumayan kaya saja, aku tidak mendapatkan apa-apa selain niatnya yang ingin melenyapkanku. Sangat menyedihkan!"
"Sudahlah lupakan masa lalumu itu. Kamu pasti akan menemukan orang yang lebih baik dari dia."
"Semoga saja."
"Ya sudah, kamu beristirahat saja. Didalam kulkas sudah ada isinya, barangkali kamu lapar tengah malam."
"Terima kasih tuan,"
"Emmm. Aku pulang dulu,"
"Ya. Selamat beristirahat dan hati-hati dijalan," ujar Marinka.
"Emm."
Ezra pun segera berbalik badan dan pergi meninggalkan kawasan apartemen mewah itu. Marinka yang lelah, kemudian membersihkan dirinya, setelah itu dia membuka lemari pakaian untuk mencari baju tidurnya.
"Astaga...apa dia sudah gila? lemari sebesar ini sudah dia penuhi dengan pakaian wanita? boros sekali hidupnya. Pakaian sebanyak ini kapan aku akan memakainya?"
"Tapi biarlah, orang kaya mah bebas. Aku tidak bisa membayangkan seroyal apa dia dengan kekasihnya itu."
Marinka menyambar sebuah gaun tidur berwarna cream. Karena terlalu lelah, Marinka cepat sekali terlelap.
"Gimana pertemuannya?"
"Semua lancar, aku tidak menyangka Marinka bisa berperan begitu baik. Bahkan begitu baik, sehingga sangat berjalan natural."
"Aku sudah bilang, Marinka itu cocok denganmu, aku sudah yakin om dan tante pasti akan setuju kamu menikah dengannya."
"Makasih atas saranmu Yud, kalau tidak, aku akan menikahi wanita yang tidak jelas pilihan mereka itu."
"Siapkan saja bonus untukku."
"Akan aku berikan setelah pernikahannya berhasil."
"Oke deal ya?"
"Ya sudah aku tutup dulu telponnya, sebentar lagi sudah nyampai rumah."
__ADS_1
"Oke."
Ezra mengakhiri panggilan telpon itu, tidak lama kemudian dirinya tiba dikediaman mewahnya.