
"Adek lagi apa?" tanya Ezra ketika melihat Marinka begitu sibuk didapur bersama para pelayan.
"Masak buat makan siang kita bang,"
"Bukankah adek bilang sakit kepala? abang tadi mencarimu, tahunya adek disini. Sudahlah biarkan para pelayan saja yang mengerjakannya, adek pergi saja beristirahat."
"Tidak apa-apa kok bang, adek juga sudah agak mendingan. Apa abang sudah lapar? tunggu sebentar ya bang, mungkin sekitar 20 menitan lagi semuanya sudah selesai."
Ezra menghela nafasnya, Ezra akui Marinka sosok istri yang sempurna dimatanya. Selain kecantikan yang Marinka miliki, istrinya itu mengurus dirinya dengan baik selama ini.
"Baiklah, abang akan tunggu di meja makan saja," ujar Ezra sembari melangkah ke meja makan, untuk menunggu hidangan di siapkan.
Marinka melirik kearah Ezra yang tengah sibuk bermain ponsel di meja makan, wanita itu bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar semuanya cepat selesai.
Wangi yang berasal dari masakkan Marinka begitu menggoda seleranya, hingga membuat perut Ezra tiba-tiba keroncongan.
"Abang mau makan dengan apa?"
Ezra melihat semua menu yang ada di atas meja, semuanya benar-benar membuat liurnya ingin menetes.
"Semuanya."
"Semuanya?"
"Ya. Abang ingin mencicipi semuanya, karena semuanya terlihat enak."
Tanpa banyak bicara, Marinka menaruh dua sendok besar nasi kedalam piring. Marinka juga menaruh satu sendok cumi balado, udang goreng tepung, ayam goreng dan sayur capcay.
Ezra mulai menyantap makanan itu dengan lahap, Marinka menatap Ezra yang tampak bersemangat menghabiskan masakkan yang dia buat untuknya.
"Senang sekali melihat suami yang begitu lahap makan masakkan kita, aku harus menikmati detik-detik berakhirnya kebersamaan kami," batin Marinka.
"Masakan adek benar-benar mantap deh," ujar Ezra.
"Ditelan dulu bang, nanti abang keselek loh."
"Dek kita jalan-jalan yuk?"
"Jalan-Jalan?"
"Emm. Kita ke mall lagi, abang ingin membelikanmu sesuatu."
"Buat apa bang, buang-buang uang terus."
"Abang tidak sempat berbelanja oleh-oleh untukmu saat di Paris, jadi abang ingin membelikanmu disini saja, sesuai dengan seleramu."
"Iya. Karena abang hanya ingat saat berbelanja tas dan berlian untuk Jihan,"
"Sebaiknya tidak usah bang, lain kali saja."
"Abang tidak menerima penolakkan."
Marinka hanya bisa menghela nafas, dia tahu betul Ezra tidak suka jika dibantah.
"Baiklah, setelah ini kita pergi."
"Emm." Ezra mengangguk sembari mengunyah makanannya.
Setelah selesai makan siang, Marinka dan Ezra pun pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota J.
Tanpa Marinka duga, pria itu membawanya ke salah satu toko berlian yang terkenal disana.
"Adek pilih saja yang mana adek suka,"
"Bang. Ini toko berlian kan ya?" bisik Marinka.
"Ya. Kenapa?"
"Bang untuk apa kesini? harganya pasti mahal-mahal?" bisik Marinka.
__ADS_1
"Ckk...kenapa kamu kalau belanja selalu memikirkan harga?"
"Bang, itu kan dibeli pake duit bang, bukan pake daun."
"Ckk...kamu ini, sekarang kamu tinggal pilih saja, mau anting, gelang, kalung atau cincin? atau mau semuanya? biar abang yang pilihkan untukmu modelnya,"
"Abang suka begitu deh," bibir Marinka mengerucut.
"Wanita ini, tiap berbelanja dengannya benar-benar harus bersabar," batin Ezra.
"Jadi mau yang mana dek?"
"Cincin saja bang,"
Marinka berpikir, kalau dirinya memilih cincin, mungkin harganya sedikit lebih murah.
"Apa adek yakin cuma mau cincin saja?"
"Ya bang itu saja."
"Emm. Kalau itu pilihan adek, kalau begitu abang ingin belikan adek anting-anting juga."
"Kok gitu bang?"
"Ya kan cincin pilihanmu, abang kan mau pilih juga."
Marinka memutar bola matanya dengan malas, sehingga Ezra terkekeh melihat ekspresi aneh dari istrinya itu.
Setelah memilih cukup lama, akhirnya Marinka dan Ezra mendapatkan barang sesuai selera mereka.
"Berapa totalnya?"
"1,4 M tuan."
Mendengar itu mata Marinka melotot, dan segera menarik tangan Ezra.
"Apaan sih dek? selalu saja meributkan soal harga? adek mau abang marah lagi?" bisik Ezra.
"Hissssttt...abang ini," Marinka cemberut.
Ezra mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan memberikannya pada pelayan toko.
"Coba pake dek, abang mau melihatnya langsung. Biar abang bantu pakaikan,"
"Ya terserah abang saja,"
Marinka tidak mau membantah lagi, karena tidak ingin perang dingin kembali dengan suaminya itu.
Ezra membantu Marinka untuk memakaikan anting-anting di telinga istrinya itu.
"Cantik dek,"
Ezra memuji Marinka, saat anting-anting berlian itu sudah bertengger ditelinga istrinya.
"Makasih ya bang,"
"Emm. Sekarang cincinya juga,"
Ezra menyematkan cincin berlian dijari manis Marinka.
"Cincinya tampak indah di jarimu dek,"
"Ya. Sekali lagi makasih ya bang."
"Emm."
Setelah selesai melakukan pembayaran, Ezra mengajak Marinka berbelanja barang mahal lainnya.
"Dek, kita makan ditempat waktu itu lagi yuk?"
__ADS_1
"Yang dimana bang?"
"Itu loh dek, tempat yang kita makan lele."
"Apa abang tidak masalah? ntar kesehatan abang terganggu loh,"
"Tapi abang pengen makan itu sekarang,"
"Baiklah."
Ting
Suara ponsel Ezra berdenting, pertanda ada sebuah chat masuk. Wajah pria itu mendadak semringah, Marinka mengerti saat melihat wajah suaminya yang seperti itu, pastilah itu berasal dari Jihan.
"Dek. Abang nelpon bentar ya?"
"Ya bang."
Ezra membuat sebuah panggilan untuk Jihan diarah pojok, Sementara itu Marinka menunggu Ezra sembari melihat kearah pembatas untuk melihat aktifitas orang-orang yang sedang berbelanja dari arah atas.
"Sayang. Kamu ada dimana?" tanya Jihan.
"Emm. Aku ada di mall."
"Mall? sama siapa? apa kamu pergi bersama istri kontrakmu itu?"
"Ya. Ada sesuatu yang ingin dia beli,"
"Apa yang ingin dia beli sehingga harus pergi bersamamu?"
"Keperluan kuliah." Ezra berdusta.
"Sayang. Aku nggak mau ya kalau sampai kamu tergoda sama dia, sebentar lagi aku pulang loh. Kamu nggak mau kan kehilangan aku?"
"Tentu saja aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu wanita yang aku cintai,"
"Ya sudah, jangan pergi lama-lama sama dia. Kalau sudah selesai urusan dia, kamu cepat ajak pulang."
"Oke. Ya udah, aku tutup telponnya ya sayang?"
"Emm. Love you,"
"Love you more."
Ezra mengakhiri panggilan itu dengan menerbitkan senyumnya. Sementara itu Marinka tampak melamun, karena teralu bosan menunggu.
"Yuk dek,"
"Sudah selesai bang?"
"Sudah."
"Kita langsung pulang saja yuk bang?"
"Loh kenapa dek? kita kan mau pergi makan?"
"Adek sudah capek banget bang, sebaiknya kita makan dirumah saja."
"Ya sudah kalau adek kecapek'an, kita pulang saja kalau begitu."
"Emm."
Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka dalam perjalanan pulang. Ezra melirik kearah Marinka yang tampak memejamkan matanya. Sementara itu tanpa Ezra tahu, Marinka tenggelam dengan pikirannya sendiri selama dirinya memejamkan mata.
"Satu setengah bulan lagi semuanya akan berakhir, semakin banyak membuat kenangan bersamamu, semakin aku akan sulit melupakanmu bang. Sekarang aku harus memikirkan rencana kedapannya nanti setelah aku resmi berpisah denganmu."
Karena posisi mata terpejam, Ezra tidak bisa melihat ada setitik air mata yang jatuh disudut mata Marinka yang miring.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1