
"Hap,"
Yuda menangkap sebuah kunci dari Ezra.
"Apaan ini?" tanya Yuda.
"Sesuai janjiku, aku menghadiahkan sebuah rumah buat kalian. Ini sertifikat rumahnya, sudah ku urus atas namamu." Jawab Ezra.
"Woah ...thanks bro," ujar Yuda semringah.
"Ando nyuruh kamu bulan madu ke paris tuh, tiket dan penginapan dia yang bayari,"
"Yang bener?"
"Emm. Kabarin dia kalau kamu setuju, biar dia yang urus semuanya."
"Kalau gitu aku izin cuti seminggu ya?"
"Untukmu 2 minggu boleh,"
"Woah ... ini rejeki yang luar biasa namanya. Makasih Zra."
"Ya. Tapi nggak usah peluk-peluk, nanti istrimu bisa salah faham," Ezra segera mendorong Yuda menjauh.
"Aku akan menemui Regia dulu, biar dia bisa menyiapkan kepergian kami besok."
"Besok? gerak cepat juga kamu Yud."
"Ya iya dong. Kalau yang enak-enak jangan ditunda, harus disegerakan."
Yuda melenggang pergi sembari bersiul, Ezra hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Istriku..." sapa Yuda dengan genit.
"Mas. Jangan gitu, ini kantor loh."
"Mas punya kejutan untukmu,"
"Kejutan?"
"Ya. Kejutannya ada dua, pertama ini."
Yuda menunjukkan sebuah kunci rumah dihadapan Regia.
"Kunci? itu bukan kunci apartement kita kan ya? mainan kuncinya beda soalnya."
"Tentu saja bukan. Ini kunci rumah baru kita,"
"Rumah baru? buat apa kita beli rumah baru mas? kita kan cuma tinggal berdua?"
"Ini bukan beli, tapi dikasih sama Ezra."
"Benarkah?" Regia terkejut.
"Iya. Jadi nanti Ibu dan Bulan bisa menempati Apartement kita, sementara kita tinggal dirumah baru. Atau ibu dan Bulan juga bisa tinggal bersama kita."
Grepppp
Regia masuk kedalam pelukkan Yuda sembari meneteskan air mata.
"Makasih ya Mas. Mas sudah sangat baik padaku dan juga keluargaku. Mas adalah hal terbaik yang Tuhan kirimkan untukku," ujar Regia.
Yuda mengusap puncak kepala dan mencium kening istrinya itu.
"Kamu juga hal terindah yang dikirimkan Tuhan untukku." Yuda mengeratkan pelukkannya.
"Ehemmm" Ezra berdehem.
__ADS_1
Pelukkan Yuda dan Regia terlerai begitu saja saat mendengar deheman yang cukup keras dari Ezra.
"Bikin kaget aja Zra."
"Lagian yang benar aja dong Yud. Kantorku bukan buat syuting film india,"
"Ya maaf, namanya juga baper Zra."
"Re. Tolong suruh OB antar kopi buat saya ya?"
"Baik tuan."
"Aihhh...aku belum selesai menyampaikan kejutan untuk istriku Zra,"
"Nanti lanjut dirumah aja, aku ngantuk nih butuh kopi."
"Tunggu sebentar tuan," ujar Regia.
Regia segera berlalu, sementara Yuda dan Ezra kembali keruangan masing-masing.
*****
"Sayang. Kita masih punya waktu 2 jam kalau mau lihat rumah baru, sebelum kita berangkat ke Paris."
"Apa kita tidak akan terlambat ke bandara nantinya? bukankah lokasi rumah itu sedikit jauh?"
"Ada jalan pintas menuju rumah itu. Mungkin sekitar 20 menit dari sini,"
"Benarkah?"
"Ya. Mau pergi kesana? biar kamu bisa memikirkan apapun yang ingin dibeli saat di Paris nanti,"
"Memangnya mau beli apa?"
"Tentu saja perabotan rumah."
"Ya sudah kalau begitu kita lihat saja. aku jadi ikut penasaran."
Regia mengekor dibelakang Yuda. Dua sejoli itupun pergi untuk melihat rumah baru mereka. Seperti yang Yuda perkirakan, hanya memakan waktu 22 menit, mereka akhirnya tiba dikawasan rumah elit yang Ezra belikan untuk mereka.
"Apa ini tidak salah alamatnya?"
"Kenapa?" tanya Yuda.
"Bukankah ini perumahan elite yang terkenal mahal itu?"
"Ya. Tapi sayangnya alamat ini benar, ini memang perumahan yang akan kita tinggali nanti."
"Ya Tuhan Mas...ini kan harganya milyaran. Apa tuan Ezra kelebihan uang?"
"Dia memang begitu orangnya. Sangat royal pada semua orang. Apa kamu ingat pasal uang 160 milyar itu?"
"Ya. Mana mungkin aku melupakannya,"
"Jihan yang sekedar pacar saja, bisa dia berikan uang sebanyak itu. Ezra memang nggak perhitungan orangnya,"
"Mas harus bersyukur punya teman seperti dia,"
"Ya. Itulah sebabny aku akan mengabdikan diri sama dia seumur hidup. Dia sangat berjasa dalam hidup Mas, hingga mas bisa jadi seperti sekarang ini,"
"Yuk kita masuk kedalam," sambung Yuda.
Regia sangat takjub saat memasuki rumah mewah itu. Semua ruangan dibuat luas, Regia benar-benar dibuat puas karena memang Ezra membeli rumah itu diurutan kedua.
"Suka?"
"Sangat Mas. Bahkan aku tidak pernah bermimpi punya rumah sebagus ini."
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu suka, itu artinya aku sudah sukses membuatmu bahagia hari ini,"
"Mas. Tanpa materipun aku bahagia bisa bersama dengan mas,"
"Aku tahu."
Yuda mencium lembut bibir istrinya itu, yang kemudian dibalas oleh Regia dengan penuh perasaan.
****
"Sudah yakin tidak ada yang ketinggalan?"
"Ya." Jawab Regia.
"Ya sudah kita berangkat sekarang, pesawat kita akan terbang 1 jam lagi."
"Emm."
Yuda Regiapun pergi kebandara. Setelah melewati berbagai pengecekkan, merekapun akhirnya terbang ke Paris.
"Apa kita akan menginap dirumah sahabatmu itu?"
"Tidak. Tapi dia sudah menyiapkan penginapan untuk kita,"
"Oh gitu. Apa kita akan lama di Paris?"
"Kalau Ezra kasih izin sih 2 minggu, tapi yang kudengar dia juga akan nyusul ke Paris."
"Loh, bukannya dia baru pulang dari Paris kan ya?"
"Iya. Tapi ini menyangkut soal dana yang cair dari bangsawan yang membeli perhiasan di Perusahaan dia di Paris."
"Kenapa? apa ada masalah lagi?"
"Tidak. Uang itu sudah dibayar oleh bangsawan itu, Ezra ingin berterima kasih pada wanita yang sedang dekat dengan Ando. Dia ingin memberikan uang itu secara langsung."
"Oh gitu. Tuan Ezra sangat hamble banget ya? padahal kan dia bisa mentransfer uang itu,"
"Iya soalnya tanpa bantuan Arin, mungkin sampai saat ini Ezra masih kebingungan. Lagipula bangsawan itu katanya ingin ketemu langsung dengan pemilik langganan perhiasan dia."
"Waduh pasti bangga banget ya jadi tuan Ezra."
"Emm. Aku juga bangga punya teman seperti Ezra,"
"Tapi kenapa ya, orang baik seperti tuan Ezra cobaannya miris sekali,"
"Ciri-Ciri orang ingin naik kelas memang begitu,"
"Semoga ujian cinta kita nggak begitu ya mas? nggak sanggup soalnya,"
"Amiin."
Yuda melihat Regia yang beberapa kali menguap, meletakkan kepala istrinya itu dipundaknya. Karena perjalanan mereka yang masih jauh, Yuda dan Regiapun akhirnya tertidur.
"Ah...akhirnya sampai juga, pinggangku rasanya pegel banget mas," ujar Regia saat mereka tiba dipenginapan.
"Mandilah! setelah itu kita bisa makan malam kemudian istirahat."
"Ya." Regia bergegas membuka koper, untuk mengambil peralatan mandi.
"Mandi bersama ajalah, biar cepat kelar."
"Nggak ah mas, malu."
"Kenapa musti malu? wong kita udah pada liat semuanya,"
"Tapi rasanya beda aja mas."
__ADS_1
"Ckk... ayo," Yuda menyeret tangan Regia, yang terpaksa dituruti oleh Regia.
Namun naas bagi istri Prayuda Bagaskara itu. Iman suaminya terlalu lemah, saat menatap Regia yang tanpa mengenakan apapun disana. Acara mandi bersamapun berubah jadi mandi berlama-lama.