Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab. 276. Kecewa


__ADS_3

Kriett


Kriett


Kriettt


"Ah..ah..ah.."


Meiza dan Ilyas saling berpacu saat mereka tiba di penginapan. Meiza merasa Ilyas lebih bergairah dari biasanya. Bahkan permainannya sedikit lebih ganas dari sebelumnya.


"Emmmppttt...ahh...sayang...ahh..." Meiza tidak bisa menahan suara merdunya, tiap kali Ilyas menghujam dirinya dengan cukup keras.


"Ah...Meiza...aku mencintaimu,"


"Ah....emmptth..."


Ilyas semakin mempercepat hujamannya, karena mereka sudah sama-sama hampir mencapai puncak. Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian, merekapun sama-sama mengerang panjang.


Hosh


Hosh


Hosh


Nafas keduanya saling memburu setelah percintaan panjang itu sudah usai. Setelah mencabut kepemilikkannya, Ilyas membawa Meiza dalam pelukkannya. Pelukkan yang sangat erat, pelukkan takut kehilangan.


"Sayang. Seandainya aku melakukan kesalahn fatal, apa kamu akan memaafkan aku?" tanya Ilyas.


"Kesalahan fatal? kesalahannya apa dulu?" tanya Meiza.


"Kesalahan apa saja. Yang bisa membuatmu marah besar padaku." Jawab Ilyas.


"Bagiku kesalahan apapun bisa aku maafkan, asalkan bukan masalah orang ketiga. Kalau masalah yang satu itu, aku sama sekali tidak bisa memaafkan apapun alasannya," ujar Meiza.


"Percayalah. Kalau soal itu sampai matipun aku tidak akan pernah menduakanmu," ujar Ilyas.


"Pokoknya apapun yang terjadi, kita tidak boleh terpisahkan. Aku tidak ingin berpisah denganmu, ataupun dipaksa pisah dengamu. Kamu adalah hidupku, aku tidak bisa hidup tanpamu," sambung Ilyas.


"Hey...ada apa denganmu. Hem? siang ini aku merasa kamu sangat aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu? kamu bisa membaginya denganku," tanya Meiza.


"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku sangat mencintaimu." Jawab Ilyas sembari mengeratkan pelukkannya pada Meiza.


*****


Dua minggu sudah berlalu. Kini kondisi Moza sudah jauh lebih baik. Moza juga sudah pulang ke kota J dan sudah di rawat di rumah. Namun ada hal yang lebih menegangkan dari itu. Kini keluarga besar Hawiranata sedang berkumpul di ruang tamu, karena ingin membahas masalah penting.


Rakha sengaja ingin mengumpulkan keluarganya, agar mereka mendengar semua yang akan dia katakan.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? apa kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Ezra.


"Tentu saja. Apa papa meragukan kehebatan putramu ini?" ujar Rakha.


"Tentu saja tidak. Papa percaya kamu akan berhasil dalam segala hal." Jawab Ezra.


"Siapa pelakunya Da?" tanya Meiza.


"Mungkin kamu bisa langsung bertanya dengan suamimu." Jawab Rakha.


"Su-Suamiku? ada apa dengan suamiku?" tanya Meiza.


Meiza kemudian menoleh kearah Ilyas yang wajahnya sudah tertunduk dengan tangan yang saling bertautan.


"Ada apa ini? apa kamu bisa menjelaskannya padaku?" tanya Meiza pada Ilyas.


"Maaf," ujar Ilyas lirih.


Brukkkk


Meiza yang semula duduk tegak langsung tersandar di sofa. Satu kata yang keluar dari mulut Ilyas sudah cukup menjelaskan semuanya. Meiza jadi terngiang-ngiang ucapan Ilyas beberapa waktu yang lalu. Tentang kesalahan fatal yang Ilyas tanyakan. Air mata meiza meluncur bebas tanpa di pinta.


Brukkkkk


"Sayang. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak lagi menjadi pion orang itu. Aku benar-benar ingin bertaubat, dan itu semua karena kamu yang merubahku. Please...maafin aku. Hikz..." tubuh Ilyas bergetar karena terisak. Pria itu merangkul kedua kaki Meiza sembari tergugu.


Namun tiba-tiba Meiza mendorong tubuh Ilyas dengan kuat, hingga pria itu jatuh kebelakang. Meiza sudah seperti orang kesurupan saat ini.


Meiza menampar Ilyas dengan membabi buta, namun dengan membabi buta pula air matanya keluar.


"Tampar aku sebanyak yang kamu mau, pukul aku sampai kamu puas," ujar Ilyas tanpa melawan.


"Aku akan melakukannya brengsek! penipu kamu. Aku benci kamu," hardik Meiza.


Bagh


Bugh


Bagh


Bugh


Meiza memukul Ilyas, hingga tangannya terasa sakit. Sementara semua orang yang ada disitu hanya menyaksikan tontonan gratis itu. Terutama Anser, dia sangat puas melihat Ilyas dipukuli oleh Meiza hingga babak belur


Tap


Ilyas menangkap tangan Meiza yang sudah tampak memerah.

__ADS_1


"Sayang sudah. Nanti tanganmu sakit," ujar Ilyas.


"Lebih sakit mana dengan hatiku yang sudah kamu khianati? sakit mana ha?" hardik Meiza.


"Maaf," ujar Ilyas sembari mencium kedua telapak tangan Meiza yang tampak memerah.


Meiza menarik kedua tangannya sembari memalingkan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan air mata.


"Sesuai janjiku waktu itu. Aku akan menceraikanmu!" ujar Meiza.


Jderrrrrrrrr


Ilyas sangat syok mendengar ucapan Meiza. Ilyas kembali merangkul kaki Meiza sembari terisak.


"Tidak sayang. Jangan lakukan itu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa tanpa kamu. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja. Aku akan buktikan padamu, kalau aku benar-benar sudah berubah,"


Meiza menarik kakinya dan mendorong tubuh Ilyas.


Drappp


Drappp


Drappp


Ilyas mendekat kearah Moza dan berlutut di depan iparnya itu.


"Moza maafkan kakak. Kakak tahu kakak salah, tapi kakak tidak ingin berpisah dari Meiza. Tolong bujuk dia, agar tidak meninggalkanku. Please..." Moza tindak menjawab apapun atau menghakimi Ilyas.


Ilyas kemudian beralih pada Ezra dan Marinka. Pria itu bahkan mencium kaki Ezra agar minta di maafkan. Namun Ezra dan Marinka sama sekali tidak bergeming.


"Pergilah! masih untung kamu kami lepaskan tanpa mengadilimu dengan cara mafia. Kalau kamu ingin bertaubat, bertaubat saja. Tapi adikku, tidak akan mau kembali padamu," ucap Rakha.


"Tidak. Jangan Uda katakan itu. Aku mohon beri aku kesempatan. Sayang...aku mohon padamu, aku tidak mau berpisah darimu," Ilyas kembali meraih tangan Meiza.


"Pergilah. Beberapa hari lagi kamu akan menerima surat dari pengadilan!" ucap Meiza sembari menarik tangannya.


"Apa cintamu padaku sudah menguap begitu saja?" tanya Ilyas.


"Mungkin tidak. Tapi asal kamu tahu, hubungan darahku dan Moza sangat kental. Aku bisa membunuh beribu-ribu cinta dihatiku, asal adikku bisa bahagia. Sebelumnya aku hidup tanpa cinta, jadi tidak mengapa kehilangan cinta berkali-kali. Pergilah Ilyas, bagiku saat ini kamu sudah mati," ucap Meiza dan kemudian berlari menaiki anak tangga sembari terisak.


"Sayang...tunggu!" Ilyas mencoba mengejar Meiza, namun dihalangi oleh Rakha.


"Berani kamu melangkah satu langkah saja, aku akan mematahkan kakimu. Sebaiknya kamu pulang, dan beri kabar pada bosmu itu. Kami akan datang menghabisinya," unar Rakha.


"Apa kamu tuli? kamu tidak diterima lagi disini. Meiza sudah ingin menceraikanmu, itu sudah membuatku puas. Kalau dia tidak mengambil langkah itu, maka aku akan memberimu pelajaran karena sudah membuat istriku terluka," ujar Anser.


Ilyas melangkah pergi dengan langkah gontai. Penyesalan dihatinya tidak cukup membuatnya lega. Terutama niat Meiza yang ingin menceraikan dirinya, membuat dia kehilangan semangat hidup.

__ADS_1


To be continue....🤗🙏


__ADS_2