Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.224. Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Meiza." Jawab Ezka.


"Meiza? mana mungkin. Kalau kamu bilang Moza, mungkin aku akan percaya. Sebab Moza gadis yang ekspresif. Tapi ini Meiza loh, gadis berwajah datar dan dingin," ujar Yure tak percaya.


"Dia sangat mencintaimu, itulah dia bertekad kuliah keluar negeri agar menjadi lulusan terbaik dan bisa menjadi orang yang bisa kamu banggakan. Yure, dia sangat patah hati saat tahu kamu sudah bertunangan dengan wanita lain. Aku nggak mau tambah menyakiti hatinya, saat dia tahu kamu menikah denganku. Apa yang akan dia pikirkan tentangku nanti? kakak yang menusuk dari belakang," tanya Ezka.


"Gadis bodoh. Apa setiap gadis yang mengatakan suka padaku, aku harus menikahi mereka semua? cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sekarang aku ingin tahu, sejak kapan gadisku mulai menyukaiku? sebab kalau boleh jujur, aku juga sudah lama menyukaimu," ucap Yure.


"Be-Benarkah? kamu nggak bilang gitu hanya karena kasihan padaku kan?" tanya Ezka terkejut.


"Tentu saja. Aku jatuh cinta pada gadis yang aku gendong di hari hujan. Dia menangis karena lututnya berdarah. Dia bilang habis menjambak rambut teman sekelasnya, kemudian temannya mendorong dia dan tersungkur. Waktu itu lewatlah adik kelas, namanya Yure. Dia membantu kakaknya dan menggendongnya. Kakaknya itu merengek minta diantar pulang, jadilah mereka bolos sebelum kelas selesai. Si Yure...."


"Si Yure pernah berkata, kalau dia akan selalu menjaga kakaknya. Setelah tumbuh besar, dia akan menikahi kakaknya," Ezka memotong ucapan Yure dengan air mata yang sudah tumpah ruah.


"Yah...aku menyukaimu sejak saat aku menggendongmu waktu itu. Karena wajahmu sangat lucu saat menangis," ujar Yure sembari menyeka air mata Ezka.


"Yure. Apa dengan kita menikah, itu adalah keputusan terbaik? aku sangat takut menyakiti banyak pihak," tanya Ezka.


"Aku saja masih kepikiran soal Meiza. Belum lagi tunanganmu, dan juga kedua orang tua kita," sambung Ezka.


Yure membawa Ezka kedalam pelukkannya. Dan mencium puncak kepala gadis itu beberapa kali.


"Meiza akan mengerti, terlebih sudah ada calon keponakannya didalam perutmu. Kalau soal keluarga kita akan hadapi sama-sama. Kalau soal keluarga Vania, itu akan menjadi urusanku. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu cukup jaga anak kita baik-baik dan jangan terlalu banyak pikiran," ucap Yure.


"Tapi..."


"Husssttt nggak ada tapi-tapian. Sebagai istri harus menurut kata suami," ujar Yure.


Pukkk


Ezka menepuk dada Yure pelan. dengan wajah yang merona.


"Siapa yang istrimu? aku belum bilang setuju jadi istrimu," ucap Ezka dengam bibir mengerucut.


Cup


Yure mengecup bibir Ezka yang tampak maju itu dan sedikit melu**tnya. Ezka mendorong dada Yure dan menyeka sisa ciuman Yure.


"Aku belum gosok gigi," ujar Ezka sembari menutup mulutnya.


"Jadi kalau sudah gosok gigi, aku boleh menciummu?" tanya Yure.


"Aku nggak bilang gitu?" lagi-lagi pipi Ezka merona merah.


"Sayang aku....hoekk...hoekkk...hoekkk...." Yure tiba-tiba berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Yur-Yure, kamu kenapa?" teriak Ezka dari luar pintu kamar mandi.


Hoekkk


Hoekkk


Hoekkk


Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam, hanya ada suara Yure yang tengah muntah-muntah.


"Yure kenapa ya? apa karena ciuman denganku yang belum gosok gigi? hah...hah...hah...tapi perasaan nggak sebau itu juga," ucap Ezka lirih.


Dor


Dor


Dor


"Yure buka pintunya! kamu kenapa? jangan buat aku khawatir," Ezka menggedor pintu kamar mandi, berharap Yure segera keluar dari sana.


Krieekkk


Yure memegang perutnya, dengan wajah yang sudah pucat.


"Yure kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Ezka cemas.


Mendengar itu Ezka memutar bola mata dengan malas.


"Kamu ngerjain aku ya?" tanya Ezka.


"Kok ngerjain sih? apa wajahku tidak cukup membuktikan kalau saat ini aku butuh perhatian?" tanya Yure.


"Wajah Yure benar-benar pucat," batin Ezka.


"Kamu kenapa? apa perutmu sedang bermasalah?" tanya Ezka.


"Karena hal ini aku jadi tahu, kalau gadis yang aku cintai sedang mengandung anakku. Kata dokter aku mengalami kehamilan simpatik,"


"Kehamilan simpatik? apa itu?" tanya Ezka.


"Kamu yang hamil, tapi gejala hamilnya aku yang ngerasain. Mual muntah, termasuk mengidam." Jawab Yure.


"Sepertinya sekarang aku sedang ngidam tidur dipangkuanmu, sembari mengelus anak kita," sambung Yure.


"Eh? ap-apa memang ada ngidam seperti itu?" tanya Ezka.

__ADS_1


"Ada. Ini buktinya aku." Jawab Yure.


Ezka lagi-lagi memutar bola matanya, dia tahu betul Yure saat ini sedang modus. Terlebih saat melihat senyum Yure yang menampakkan gigi-giginya yang putih.


Ezka kemudian duduk di atas tempat tidur, sementara Yure berbaring dipangkuan Ezka sembari mengelus calon buah hatinya.


"Apa bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Yure


"Mana aku tahu. Aku bahkan belum memeriksakan kandunganku sama sekali." Jawab Ezka.


"Apa???" Yure langsung bangkit seketika.


"Ke-Kenapa? aku hanya belum siap," ujar Ezka.


Yure menghela nafas, dia harus banyak bersabar mengahadapi Ezka yang keras kepala.


"Kamu tidak boleh begitu. Kamu boleh cuek padaku, tapi jangan dengan anak kita. Dia butuh perhatianmu juga," ujar Yure sembari membelai rambut Ezka.


"Ya sudah kalau begitu kita periksa anak kita hari ini ya?" tanya Yure.


"Ya." Ezka mengangguk.


"Hari ini kita urus segalanya Besok kita harus kembali ke tanah air," ucap Yure.


"Besok? kenapa buru-buru?" tanya Ezka.


"Sayang. makin cepat makin bagus. Aku tidak punya banyak waktu lagi, karena pernikahan akan digelar bulan depan. Kalau kita memberitahu keluarga di waktu yang terlalu dekat, takutnya semua persiapan keburu kelar." Jawab Yure.


"Ta-Tapi aku belum siap. Aku takut," ujar Ezka.


"Kamu tenang saja. Biar aku yang menjelaskan semuanya. Kita hadapi sama-sama ya?"


"Aku takut uda Rakha akan menghajarmu," ujar Ezka.


"Apapun itu akan aku hadapi. Aku tahu resiko kedepannya akan lebih sulit. Tapi aku tidak perduli, selagi kamu berada disisiku , aku sama sekali tidak merasakan takut." Ucap Yure.


"Hah...rasanya langit mau runtuh menimpaku. Tidak pernah terbayangkan olehku, kalau aku akan mepermalukan keluaraga begini," ujar Ezka dengan mata berkaca-kaca.


"Ini semua salahku, bukan salahmu. Seharusnya aku bisa menahan diri saat itu. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Tapi aku sama sekali tidak menyesal, dengan begitu kita jadi bisa bersatu," ucap Yure.


"Hah...sudahlah, tidak perlu kita sesali lagi. Aku akan berjuang bersamamu. Aku akan menerima apapun hukuman dari mereka. Jawab Ezka.


"Tak akan ku biarkan mereka menyakitimu. Biarkan aku yang menanggung semuanya. Ezka, aku mencintaimu," ujar Yure.


"Aku juga mencintaimu Yure," ucap Ezka.

__ADS_1


Entah siapa yang lebih dulu memulai, mereka lagi-lagi tenggelam dalam ciuman yang panjang dan memabukkan.


__ADS_2