Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.25. Tidak Beruntung


__ADS_3

"Jadi kapan rencana pernikahan kalian akan digelar? Mama ingin pernikahan kalian dibuat semewah dan semeriah mungkin," ujar Masayu.


"Rencananya pekan depan."


"Apa semuanya sudah diatur dengan baik?" tanya Baskoro.


"Sudah Pa, kita tinggal fitting baju saja."


"Mama jadi tidak sabar melihat kalian menikah, pasti akan ada banyak tamu yang hadir. Mama jadi bisa pamer dengan teman-teman Mama, kalau mama punya mantu yang cantik seperti Marinka,"


Ezra hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang mama. Setelah acara makan siang usai, Ezra dan Marinka berpamitan pulang.


"Maafin Mamaku ya? mungkin kamu merasa tidak nyaman,"


"Tidak apa. Abang juga jangan keras-keras kalau bicara dengan orang tua, nanti bisa dikutuk jadi batu loh,"


"Abang?"


"Sepertinya aku harus membiasakan diri memanggilmu seperti itu, aku takut keceplosan memanggilmu tuan dihadapan Om dan Tante."


"Iya."


"Pasti menyenangkan punya orang tua selengkap abang, tidak sepertiku. Aku sangat tidak beruntung,"


"Apa kamu pernah berfikir ingin mencari orang tua kandungmu?"


"Tidak. Seharusnya mereka yang melakukan itu bukan?"


"Kenapa kamu berfikir begitu?"


"Aku berada di panti asuhan itu sampai usiaku 8 tahun. Seharusnya mereka bisa menemuiku dengan rentang waktu selama itu. Hingga aku di adopsi oleh keluarga angkatku, aku masih tidak pernah mendengar ada orang yang mencariku, padahal dipanti sangat jelas karena mempunyai catatan lengkap siapa orang yang telah mengadopsiku juga alamatnya. Itulah aku yakin sampai usiaku 22 tahun ini, mereka memang sengaja ingin membuangku."


"Jangan bersedih, sebentar lagi kamu akan mempunyai orang tua baru. Aku yakin mama dan papa akan menyayangimu."


"Ya aku tidak meragukan hal itu sama sekali, tapi sayang, itu hanya bertahan selama 6 bulan saja," batin Marinka.


"Emm. Terima kasih karena abang sudah memberikan kesempatan buat aku bahagia memiliki keluarga sebaik abang,"


"Jangan bicara sperti itu, sejujurnya aku merasa bersalah padamu karena sudah meyeretmu dalam masalah rumitku. Kamu itu seperti malaikat penolong bagiku,"


"Aku juga merasa abang seperti itu, abang seperti malaikat penolong bagiku. Abang tenang saja, aku pastikan abang dan kak Jihan pasti akan bersatu."


"Terima kasih Marinka,"


"Kini aku mengerti mengapa tiap kali bertemu di danau itu, Marinka selalu menagis. Mungkin dia menumpahkan segala kesedihannya disana, kesedihan yang Galang buat padanya. Galang bodoh sekali sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Marinka," batin Ezra.


"Marinka. Maukah kamu ikut aku kesuatu tempat?"


"Kemana?"


"Kamu akan tahu setelah sampai, bahkan Jihanpun belum pernah kuajak kesana."


"Benarkah? berarti aku orang pertama yang abang ajak?"


"Lebih tepatnya sih orang kedua setelah Yuda." Jawab Ezra terkekeh.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran tempat apa itu?"


Setelah memakan waktu hampir 20 menit, Ezra membelokkan mobilnya ke arah danau tempat pertama kali bertemu dengan Marinka.


"Danau?"


"Kenapa? apa kamu tidak suka danau?"


"Bukan begitu, hanya saja sejak danau buatan ini dibangun, aku sering datang kesini."


"Untuk apa kamu sering datang kesini?"


"Numpang nangis." Jawab Marinka.


Ezra tertawa keras saat mendengar jawaban polos Marinka, dan pria itu tahu Marinka sama sekali tidak berbohong. Setiap kali melihat Marinka di danau, wanita itu pasti sedang asyik menghabiskan tisu.


"Kenapa abang tertawa? apa disini dilarang menangis?"


"Bukan begitu, hanya saja pemilik danau ini juga akan merasa sedih."


"Kenapa?"


"Danau seindah ini harus bercampur dengan air mata berhargamu. Apa kamu kesini menangisi perbuatan mantan suamimu itu?"


Marinka menganggukkan kepalanya, dengan wajah yang mendadak mendung.


"Apa abang pernah merasakan tidak dihargai seseorang yang abang cintai?"


"Tidak pernah."


"Tidak pernah. Bisa dibilang Jihan adalah cinta pertama dan terakhirku."


"Berarti pasti abang juga tidak pernah diperlakukan layaknya seekor anjing peliharaan. Dan aku sudah merasakan itu semua saat bersama pria itu."


"Kenapa kamu harus bertahan hingga selama itu?"


"Aku tidak memiliki siapapun didunia ini. Hanya dia orang yang aku cintai selama ini. Hanya karena dia aku bertahan, meskipun aku diperlakukan tidak adil."


"Marinka. Ada berapa banyak wanita yang bisa hidup sendiri tanpa harus mengorbankan harga diri seperti itu,"


"Iya karena dulu aku terlalu bodoh dan dibutakan oleh cinta. Tapi sekarang tidak lagi, rasa cinta itu sudah hangus terbakar bersama terbakarnya kulitku waktu malam itu. Aku bahkan masih merasakan rasa sakitnya saat api panas itu melahap seluruh tubuhku, dan aku tidak akan melupakannya hingga aku mati sekali lagi."


Ezra bisa melihat ada kilatan amarah dan dendam yang bercampur jadi satu.


"Oh ya, bagaimana dengan kuliahmu?" Ezra berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Semua berjalan baik. Aku bisa langsung mengikuti mata pelajaran yang dosenku berikan."


"Itu sangat bagus, aku yakin kamu akan menjadi seorang disigner terkenal nantinya."


"Aku harus jadi orang sukses dan memiliki identitasku sendiri, agar kelak tidak ada lagi orang memandangku sebelah mata."


"Aku akan membantumu mewujudkan semua mimpimu itu Marinka,"


"Jangan Bang. Abang punya hati yang harus dijaga, siapapun tidak akan rela saat melihat kekasihnya membantu wanita lain secara berlebihan, meskipun itu sahabatnya sendiri. Abang harus menjaga perasaan kak Jihan,"

__ADS_1


"Jihan bukan gadis berfikiran sempit, dia pasti bisa mengerti. Lagian berkat kamu, hubungan kami jadi bisa diselamatkan."


"Baiklah terserah abang saja kalau begitu."


"Mau ice cream? di sudut situ ada pedagang ice cream yang enak."


"Oh ya? kenapa aku tidak tahu?" tanya Marinka.


"Kamu tidak akan tahu, karena tujuanmu kesini hanya numpang nangis saja."


"Iya."Marinka tersipu.


Ezra mengajak Marinka sedikit berjalan untuk mendapatkan ice cream yang mereka inginkan. Setelah makan ice cream sembari berbincang, Ezra pun mengantar Marinka pulang.


"Apa Marinka masih tidak menghubungimu?" tanya Galang.


"Kenapa kamu jadi menanyakan dia terus? kamu merasa kehilangan dia?" tanya Karin sembari mengunyah makanannya.


"Bukan begitu, rasanya aneh saja dia tiba-tiba menghilang tidak ada kabar seperti itu."


"Bukankah kamu sudah membaca surat dari dia dengan jelas? dia tidak ingin hidup satu atap lagi dengan kita, terlebih kamu tidak pernah memberikan haknya sebagai seorang istri. Tapi setelah kufikir-fikir ada bagusnya juga dia pergi,"


"Kenapa?"


"Agar anak kita tidak bingung jadinya, aku juga bingung nanti menjelaskan pada anak kita, kenapa dia harus punya dua orang ibu dalam satu rumah."


"Ya kamu benar, maaf aku sama sekali tidak memikirkan perasanmu dan perasaan anak kita . Seharusnya aku bersyukur karena kamu rela jadi istri keduaku waktu itu."


"Oh ya Mas, bukankah bulan depan adalah hari ulang tahun perusahaan kita?"


"Ya. Kenapa?"


"Aku tidak sabar menantikan hari itu tiba, aku ingin kamu mengenalkan aku sebagai istri Sah mu dihadapan semua orang."


"Tentu sayang, kamu jangan khawatir ya?"


"Apa pengusaha nomor satu dikota J akan diundang?"


"Kenapa? apa kamu mengenal dia?"


"Tidak. Aku hanya penasaran saja, dengar-dengar rumornya dia akan menikah pekan depan."


"Ya. Rumor itu sudah menyebar diberbagai media masa."


"Siapa wanita beruntung itu?"


"Dengar-Dengar seorang mahasiswi jurusan disign yang memiliki kecantikan luar biasa."


"Sayang. Kamu harus mengundang mereka, bukankah ini kesempatan bagus bagi kita untuk mendekatkan diri dengan orang hebat seperti dia?"


"Ya. Kamu juga bisa berteman dengan istrinya itu, siapa tahu mereka mau bekerjasama dengan perusahaan kita kedepannya nanti."


"Itu bagus. Aku jadi bisa ikut tergabung dengan kalangan sosialita bukan?"


"Aku percaya kamu bisa bergaul dan memantaskan diri,"

__ADS_1


Karin tersenyum penuh kemenangan, baginya saat ini hidupnya berjalan begitu sempurna.


__ADS_2