
"Sikap macam apa itu? sombong sekali dia?" gerutu Yuda.
Yuda segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi keruangan Ezra.
"Bagaimana?"
"Semua berjalan sesuai rencana."
"Apa dia meminta uang lagi?"
"Ya. Wanita tidak tahu malu itu ingin mengajakku berbelanja."
"Apa kamu memberikan dia uang?"
"Apa aku ini orang bodoh, setelah tahu ditipu masih ingin memberikan uang?"
"Baguslah. Jangan memberikan apapun lagi untuk wanita itu. Mulai sekarang hanya ada rasa malu yang pantas dia terima."
"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar melihat kehancuran dia,"
"Baiklah. Aku kembali keruanganku dulu, banyak hal yang harus aku kerjakan," ujar Yuda sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu!"
"Ada apa?"
"Ada hal lain yang ingin kubicarakan padanu."
"Soal apa?"
"Ini soal Gendis."
"Gendis?"
"Emm. Apa kamu yakin menyukai gadis itu?"
"Ya. Kenapa?"
"Maaf Yud. Mungkin saja tebakkanku ini salah, tapi saat pertama kali bertemu dengannya, aku merasa tatapan matanya itu persis seperti tatapan Jihan saat pertama kali melihatku."
"Maksudmu bagaimana?"
"Aku merasa dia tidak jauh berbeda dengan Jihan. Tatapan matanya itu tatapan mata lapar akan sesuatu. Maaf aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal serupa denganku."
"Terima kasih, saranmu akan kudengar. Tapi untuk saat ini aku percaya padanya. Bukan karena aku cinta buta, tapi itu karena aku belum memiliki bukti."
"Baiklah aku mengerti. Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, dan tidak salah memilih sepertiku."
__ADS_1
"Ya. Makasih Zra, aku keruanganku dulu ya?"
"Emm." Ezra mengangguk.
Tap
Tap
Tap
Yuda melewati meja Regia dan sempat berhenti sejenak disamping meja gadis itu. Regia yang diperhatikan hanya berpura-pura tidak tahu saja. Namun gadis itu melihat lewat ekor matannya, dia tahu yang memperhatikannya itu adalah sosok Yuda, meskipun hanya mencium lewat parfumnya.
"Ckk...kenapa gadis culun ini jadi menyebalkan sekarang?" batin Yuda.
Yuda melangkah pergi dari situ, sementara Regia baru bisa bernafas lega karena untuk sesaat dirinya sempat menahan nafas.
"Kenapa jantungku masih saja berdebar saat berdekatan dengannya. Seharusnya tidak lagi kan? aku sudah memutuskan untuk melupakan dia, meskipun dulunya dia superheroku," batin Regia.
Regia mencoba fokus kembali dengan pekerjaannya dan mencoba menghapus Yuda dari dalam pikirannya.
*****
"Ah...akhirnya tiba juga hari yang kunantikan. Ternyata tidak semua anak yatim piatu itu punya nasib yang malang. Buktinya aku, aku bisa mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidupku," batin Jihan.
Jihan tersenyum senang sembari menatap cermin didepannya. Sementara dua orang MUA tengah sibuk mendandani dirinya, karena sebentar lagi dirinya akan melaksanakan prosesi Ijab Qobul bersama Ezra.
"Nona. Riasannya sudah selesai,"
"Baiklah. Kita bisa langsung turun kebawah saja, semua orang pasti sudah menunggu."
"Baik." Jawab MUA.
Kedua MUA itu membantu Jihan menuruni anak tangga, meskipun penampilan Jihan terlihat cantik, tapi di mata Ezra tetap saja sosok Jihan sangan menjijikkan.
"Apa acara Ijab Qobulnya bisa dimulai?" tanya Penghulu.
"Tunggu!" ujar Ezra.
"Ada apa Sayang?" tanya Jihan.
"Sebelum acaranya dimulai, aku ingin memperlihatkan pada kalian momen-momen indah selama kami berkencan."
Wajah Jihan merona, dirinya tidak menyangka Ezra begitu tergila-gila padanya, sehingga pria itu rela membuat sesuatu yang biasa dilakukan para anak remaja pada umumnya.
"Momen ini dimulai dari kencan kami yang pertama, sekitar 4 tahun yang lalu. Tapi maaf sebelumnya kalau kalian akan melihat hal-hal yang sedikit intim,"
"Sayang, malu." bisik Jihan.
__ADS_1
"Tidak masalah. Agar semua orang tahu, kalau kamu itu milikku."
Ezra memberi kode pada Yuda. Sebuah tv dengan layar yang begitu besar terpampang jelas disetiap mata orang yang menyaksikan acara itu.
Jihan yang tidak begitu memperhatikan hanya tersenyum tersipu saat satu demi satu slide dimainkan dilayar lebar. Sementara semua orang berbisik-bisik sumbang, karena dilayar itu sangat jelas melihat foto-foto tidak senonoh Jihan bersama pria yang berbeda-beda.
"Ada apa ini? apa tuan Ezra yang terhormat akan menikahi seorang jal**g?" bisik seseorang namun bisa didengar oleh Jihan.
"Mana mungkin. Tuan Ezra bisa mendapatkan wanita yang jauh segalanya dari wanita ini. Dasar wanita tidak tahu di untung. Sudah naik mobil lambourgini, malah mau naik oplet juga," timpal yang lain.
Jihan merasa ada yang tidak beres dengan semua orang. Karena semua mata seolah sedang menghakimi dirinya. Jihan kemudian menoleh kearah belakang, matanya terbelalak saat melihat foto-foto fulgarnya terekspose dan semua mata sudah menyaksikannya.
"Stop! jangan lihat lagi, sayang tolong hentikan semuanya. Aku tidak mau fitnah ini merusak acara sakral kita," ujar Jihan.
Ezra menoleh kearah Jihan dan menampar wajah gadis itu. Ezra benar-benar lepas kendali.
"Sa-Sayang, kamu kenapa menamparku?"
"Masih belum sadar juga kamu? apa kamu pikir aku bisa terus kamu bodohi?"
"Sayang. Semua itu fitnah! jangan mudah percaya, sekarang jaman serba canggih, itu semua pasti editan. Dan aku tahu siapa pelaku semua ini, ini pasti ulah Marinka. Dia tidak rela bercerai denganmu."
"Berani-Beraninya kamu menyalahkan orang lain atas perbuatanmu sendiri? apa perlu aku keluarkan bukti nyata lagi?"
"Bukti nyata apa lagi? aku tidak merasa melakukan kesalahan. Sayang, aku mohon jangan mudah percaya perkataan orang lain. Kita pacaran sudah sangat lama, kita bahkan tidak pernah melakukan hal di luar batas. Jadi mana mungkin aku melakukan hal kotor itu dengan pria lain."
Ezra tertawa keras. Bahkan tawa itu terdengar mengerikan ditelinga orang-orang.
"Baru kali ini aku melihat wanita yang tidak tahu malu seperti dirimu. Baiklah, karena kamu begitu ingin memaksaku berbuat kejam, aku akan menunjukkan satu video yang jelas-jelas itu terpampang wajahmu,"
Ezra kemudian memberikan kode kembali pada Yuda. Hanya dengan satu kali tekan tombol play, sebuah video yang menampilkan Jihan saat sedang memadu kasih dengan beberapa pria tua di Turki bergema diruangan itu. Mata Jihan melebar seketika, sangat jelas disitu terpampang jelas wajahnya yang begitu sangat menikmati momen itu.
Jihan kemudian melihat tatapan orang-orang yang merasa jijik terhadapnya, termasuk tatapan Ezra kepadanya.
"Sayang. A-Aku bisa menjelaskan semuanya padamu," Jihan memohon sembari memegang lengan Ezra.
Ezra segera menghempaskan tangan Jihan, karena merasa jijik dengan wanita itu.
"Security...!!!" teriak Ezra.
Dua orang security datang menghampiri Ezra.
"Seret wanita hina ini keluar dari rumahku. Jangan biarkan wajah ini masuk dan menginjakkan kakinya lagi dirumah ini,"
"Baik Tuan."
Jihan segera diseret keluar. Ezra sama sekali tidak perduli meskipun Jihan menjerit ingin minta dilepaskan. Entah mengapa Ezra sama sekali tidak merasakan iba pada gadis itu. Seorah rasa cinta yang tertanam selama 4 tahun, hilang tanpa bekas.
__ADS_1
TO BE CONTINUE....🤗🙏