
Prakkkkk
Prangggg
Prangggg
Meiza mengamuk. Semua isi kamar jadi berantakan. Bahkan foto pernikahannyapun dia hancurkan. Cermin riaspun tidak luput dari sasarannya.
"Ilyas pembohong. Brengsek! jadi cintanya selama ini palsu? bisa-bisanya aku tertipu wajah lugunya. Bisa-Bisanya aku menyerahkan segalanya. Bahkan aku mencampakkan Anser demi pria bajingan seperti itu. Hikz...Ilyas, aku benci kamu....hikz...aku benci kamu...hikz ...hikz...."
Meiza terisak. Bahkan tubuhnya sudah merosok kelantai, dan menjadikan tempat tidur sebagai sandaran kepalanya.
Sementara itu Ilyas dengan wajah penuh air mata, menoleh kearah jendela kamar Meiza. Berharap dia bisa melihat wajah Meiza sebentar saja.
Tring
Sebuah chat masuk ke dalam ponsel Meiza. Meiza segera menghapus air matanya, dan membaca isi chat itu.
"Sayang. Lihatlah aku dibawah jendela. Aku ingin melihatmu sebentar saja,"
Meiza yang kesal langsung menghapus isi chat itu. Karena tak ada respon, Ilyas mengirim chat kembali.
"Aku mencintaimu Meiza. Aku sangat mencintaimu. Kalau kamu tidak bersamaku, apa gunanya aku hidup lagi,"
Deg
Jantung Meiza seolah hendak berhenti saat membaca isi chat Ilyas. Tapi dia tidak ingin lemah. Kesalahan yang dilakukan Ilyas, menurutnya sangat fatal dan tidak bisa di maafkan.
"Kalau mau mati, mati saja. Aku mau lihat seberapa beraninya kamu menghadapi kematian,"
"Apa jika aku mati kamu akan memaafkan aku?"
"Tergantung. Kalau kamu mati dengan cara mengenaskan. Baru aku akan memaafkanmu,"
"Baiklah. Tapi sebelum aku mati, izinkan aku melihat wajahmu untuk terakhir kalinya,"
"Dasar penipu. Jangan bermain trik lagi. Aku tidak akan tertipu lagi. Pergilah ke neraka!
Hening
Tidak ada balasan dari Ilyas lagi. Yang membuat Meiza jadi penasaran, dan mengintip dari tirai jendela kamarnya. Dapat Meiza lihat, Ilyas tengah menatap layar ponselnya. Dan kemudian mengetik sesuatu sebelum akhirnya masuk kedalam ponsel Meiza.
__ADS_1
Tring
"Aku mencintaimu,"
Ilyas kemudian berbalik badan dan pergi. Air mata Meiza merebak tanpa bisa di kendalikan. Ada denyutan sakit didadanya.
Ezra perlahan membuka pintu kamar Meiza. Dapat pria itu lihat kamar Meiza sudah seperti kapal pecah. Meiza menoleh kearah Ezra dan segera berhambur kepelukkan pria itu.
"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Ezra yang hanya diangguki cepat oleh Meiza.
Meiza terisak di dada Ezra, hingga wanita itu kesulitan bicara.
"Pada dasarnya Ilyas orang baik. Dia cuma dimanfaatkan oleh seseorang yang menanam budi pada Ilyas. Mereka membuat perjanjian, jika Ilyas mau membantu misi orang itu, maka orang itu akan menyekolahkannya hingga lulus."
"Apapun alasannya, aku tidak bisa bersamanya lagi. Dia sudah mencelaikai adikku, bahkan menciptakan kesalahfahaman yang besar, antara aku, Moza dan Anser. Dia sudah menipuku dan aku hampir kehilangan Moza. Aku tidak bisa memaafkannya," ucap Meiza sembari menyeka air matanya.
"Aku tidak apa-apa kak. Aku sudah memaafkannya. Jangan lihat yang dulu, tapi lihat dia yang sekarang sudah berubah. Setiap orang harus punya kesempatan kedua, agar niat berubah tidak jadi sia-sia,"
"Tidak bisa. Lagipula aku akan menepati janjiku dengan Anser, jika terbukti Ilyas bersalah." Jawab Meiza.
"Jangan perdulikan dengan janji itu. Nanti kakak sendiri yang akan menderita," ujar Moza.
"Tidak Moza. Aku sudah memutuskan kalau aku ingin tetap bercerai," ucap Meiza.
"Jadi bagaimana keputusanmu? apa perceraian sudah keputusan akhirmu?" tanya Rakha.
"Ya. Aku minta kalian segera mengurus perceraianku dengannya. Nanti akan ku tanda tangani kalau sudah selesai." Jawab Meiza sembari berbaring diatas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ezra memberikan kode, agar mereka keluar dari kamar itu, dan membiarkan Meiza sendiri dulu.
"Jadi bagaimana ini pa? apa perceraian itu akan kita ajukan?" tanya Rakha.
"Turuti saja kemauan Meiza. Kalau memang itu sudah keputusannya. Tapi kalau suatu saat dia berubah pikiran, jangan ada satupun dari kalian yang menghalanginya untuk bersatu dengan Ilyas," ucap Ezra.
"Jadi papa mengizinkan Ilyas kembali pada Meiza? apa kalian tidak ingat kalau dia sudah membuat Moza celaka?" tanya Anser.
"Walau bagaimanapun Ilyas sudah berubah. Kita harus menghargai niat baiknya itu." Jawab Ezra.
"Tapi pa. Bagaimana kalau ini cuma akal-akalan dia. Dan suatu saat malah mencelakai Meiza?" tanya Anser.
"Aku jamin dia tidak akan berani melajukan itu." Jawab Ezra.
__ADS_1
"Kenapa Anser begitu semangat menginginkan kak Meiza dan kak Ilyas bercerai? apa dia masih memiliki perasaan pada kak Meiza? apa setelah kak Meiza bercerai, dia akan kembali bersama kak Meiza?" batin Moza.
"Jadi sudah disepakati, selama proses perceraian Meiza, tidak ada yang boleh mempengaruhi emosinya," sambung Ezra.
"Baik pa." Jawab mereka serentak.
Anser naik keatas karena ingin kembali ke kamarnya. Namun saat melewati kamar Meiza, Anser melihat seorang pelayan membersihkan kamar Meiza yang penuh dengan pecahan kaca. Sementara Meiza terdengar menangis terisak di dalam selimut.
"Mei," seru Anser yang sudah berada disamping tempat tidur Meiza.
Mendengar suara Anser, Meiza langsung membuka selimutnya. Dapat Anser lihat wajah Meiza sudah dipenuhi air mata.
"Ans. Hikz...." Meiza berhambur kepelukkan Anser.
"Maafin aku Ans. Aku sudah kena karmanya sekarang. Aku di khianati, sama seperti aku yang mengkhianatimu. Andai waktu bisa di putar kembali, aku pasti tidak akan melepaskanmu. Hikz...."
Anser diam saja. Dia tidak mengucapkan kata apapun, ataupun membalas pelukkan Meiza. Sementara itu tanpa mereka sadari, Moza yang baru melewati kamar Meiza, menyaksikan kedua orang yang dia sayangi itu sedang berpelukkan.
Moza segera berbalik badan sembari menyeka air matanya.
Kriekkkkkk
Anser membuka pintu kamarnya dan mendapati Moza tengah berbaring diatas tempat tidur. Mendengar suara pintu dibuka, Moza bergegas menyeka air matanya agar Anser tidak tahu dirinya tengah menangis.
"Sayang. Kamu tidur?" tanya Anser sembari membelai rambut hitam milik istrinya itu.
Moza berbalik badan, dan Anser tekejut saat menemukan sisa air mata diwajah istrinya itu.
"Hey...kenapa? kamu habis menangis?" tanya Anser sembari menyeka sisa air mata Moza.
Moza duduk dan menatap mata suaminya dengan lekat.
"Ada apa. Hem? sepertinya kamu ingin ada yang disampaikan," tanya Anser.
"Jika seandainya Meiza dan Ilyas bercerai, apa kamu ingin kembali pada kak Meiza?" tanya Moza dengan jantung yang berdegup dengan kencang.
Moza sangat gugup, saat menunggu jawaban dari Anser.
"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu?" tanya Anser.
"Kenapa? bukankah kamu masih mencintainya? jadi tidak ada lagi penghalang antara kamu dan dia kan?" pertanyaan Moza sudah sarat akan emosi.
__ADS_1
Namun Moza sangat kesal, karena Anser malah memberikan senyum misterius kearahnya.