Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.266. Pertemuan Darurat.


__ADS_3

"Selamat ya sayang. Aku bangga padamu karena kamu menjadi salah satu lulusan cumlaude," ujar dokter Ilyas.


"Makasih sayang." Jawab Meiza dengan senyum semringah.


"Apa yang kamu inginkan sebagai hadiah?" tanya dokter Ilyas.


"Cukup kamu selalu mencintaiku saja." Jawab Meiza.


"Kalau begitu dikabulkan," ujar dokter Ilyas sembari terkekeh.


Pemandangan manis itu tidak luput dari penglihatan Ezra sekeluarga dan juga Ando sekeluarga. Sementara itu, Moza yang baru saja keluar dari toilet merasa tegang saat melihat keluarganya menatap tajam kearah Meiza yang tidak tahu apa-apa itu.


"Meiza," seru Ezra dengan suara lantang.


Jangan ditanya bagaimana raut wajah Ezra saat ini. Baginya tidakkan Meiza sudah sangat memalukan bagi keluarganya. Sementara itu Anser menatap dengan wajah datar. Matanya lebih fokus pada sosok Moza yang terlihat cantik dengan baju toga dan kain panjang yang dia kenakan. Moza juga melengkapi penampilannya dengan jilbab yang sudah dibentuk sedemikian rupa.


Karena suasana yang tegang, tidak ada raut bahagia diwajah keluarga ezra saat mengetahui kedua putrinya wisuda dengan keduanya merupakan lulusan cumlaude.


"Masuk mobil! kamu, ikut kami," ujar Ezra.


Meiza menoleh kearah Ilyas dengan wajah tegang. Sementara Ilyas memberikan senyum untuk gadisnya itu. Dia tidak ingin membuat Meiza khawatir.


Suasana didalam mobil tampak hening. Dokter Ilyas memang dibuat satu mobil dengan kaum laki-laki. Sementara Meiza satu mobil dengan kaum wanita. Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, merekapun tiba di Apartement Meiza dan Moza.


Mozapun bergegas membuat minuman. Sungguh dirinya harap-harap cemas dengan hasil perkumpulan darurat itu.


Ezra menatap Meiza dan Ilyas secara bergantian. Kedua muda mudi itu tampak tertunduk takut.


"Apa ini Meiza? papa dan mama tidak pernah mengajarkanmu jadi orang yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu putuskan," tanya Ezra.


"Maaf om. Meiza...."


"Aku nggak nanya kamu. Aku nanya putriku. Nanti akan ada sendiri giliranmu. Kamu pikir kamu siapa disini," Ezra memotong ucapan dokter Ilyas.

__ADS_1


"Pa maafin Meiza pa. Tapi Mei mencintai Ilyas, bukan Anser. Mei tahu Mei salah karena sudah menerima Anser tanpa cinta waktu itu. Mei juga sudah mencoba membuka hati. Tapi walau bagaimanapun cinta tidak bisa dipaksakan kan pa?"


"Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Tapi seharusnya kamu beritahu dari jauh-jauh hari. Sekarang papa mau tanya. Sejak kapan kamu berhubungan dengan dia?"


"6 bulan yang lalu." Jawab Meiza tertunduk.


"6 bulan? selama 6 bulan kamu tidak mengatakan apa-apa? jadi kamu sudah bermain api sejak lama?" tanya Ezra.


Anser memejamkan mata. Kini dirinya mengerti kenapa Meiza tiba-tiba berubah waktu itu. Dan Meiza tiba-tiba menghindarinya dan sulit dihubungi. Ternyata dirinya sudah lama di duakan.


"Maafin Meiza pa."


"Bukan dengan papa atau mama maaf kamu itu bisa berlaku. Disini keluarga Om Andolah yang paling kecewa atas tindakanmu ini," ujar Ezra.


"Terlebih pada Anser. Dialah pria yang paling kamu lukai," sambung Ezra dengan tatapan rasa bersalah.


Meiza tidak pernah melihat Ezra merasa rendah diri seperti itu. Pria yang selalu mendominasi itu, kini seperti orang yang tertekan karena ulahnya.


Wajah Ezra dan Marinka merasa tertampar. Moza yang baru saja keluar dan membawa nampan minuman, merasa kasihan dengan kedua orag tuanya. Moza tahu Marinka dan Ezra merasa malu saat ini. Ando dan Sera yang mendengar ucapan tajam putranya juga merasa terkejut, karena putranya itu bisa berkata seperti itu.


"Apa yang kamu katakan. Kenapa kamu bisa berkata begitu di depan om dan tantemu," ujar Ando yang ingin menyelamatkan harga diri sahabatnya.


"Tidak apa. Apa yang dia katakan benar adanya. Putramu yang pemberani, dia hanya mengungkapkan apa yang dia rasakan saja. Kalau aku yang berada di posisinya, aku pasti tidak hanya akan berkata begitu. Aku bahkan akan menghajar habis-habisan selingkuhan tunanganku," ucap Ezra.


Moza melirik kearah Anser, dan pria itu juga menatap kearahnya.


"Kenapa dia sangat cantik hari ini. Sangat berbeda saat melihatnya tanpa polesan," batin Anser.


"Kenapa Anser menatapku begitu? apa dia sangat membenciku? aku pasti sangat mengecewakan dia?" Moza tertunduk.


"Anser. Om mewakili Meiza meminta maaf atas insiden ini. Om tidak tahu putri om sagat bodoh menyia-nyiakan pria sebaik kamu. Hah...andai dia berkata dari awal, tentu keluarga kita tidak akan mengalami rasa malu. Andai saja undangan itu belum disebar, tentu kita tidak akan di gunjing orang nantinya," ucap Ezra dengan wajah tertunduk.


Hati Moza terasa diremas saat melihat Ezra berekspresi seperti itu. Pria yang biasa menegakkan kepala dan membusungkan dada itu, kini pertahanannya runtuh juga. Moza menyeka air matanya, yang sempat tertangkap oleh Anser.

__ADS_1


Gadis itu tiba-tiba menghampiri Anser dan dia bersitatap dengan mata pria itu.


"Anser aku mau bicara denganmu," ujar Moza sembari menarik tangan pria itu.


Semua orang yang melihat adegan itu, menjadi bingung. Namun Anser menuruti keinginan Moza. Mozapun membawa Anser ke balkon. Gadis itu menatap mata Anser, dan sebelum bicara dia menelan ludahnya untuk mengurangi kegugupannya.


"Ans. Aku tahu aku tidak secantik Meiza, tidak feminin seperti dia. Aku tidak suka berdandan apalagi memakai rok. Aku sama sekali bukan tipe yang kamu inginkan. Tapi jika kamu mengizinkan, aku ingin menggantikan posisi Meiza menikah denganmu. Minimal kamu menerimaku karena ingin menyelamatkan reputasi keluaraga kita."


"Terus terang seumur hidupku baru pertama kali ini aku melihat papa menundukkan wajahnya di depan orang lain. Baru pertama kali pula aku melihatnya bersedih. Dan aku tidak bisa melihatnya seperti itu," air mata Moza mengalir begitu saja.


Anser tersenyum melihat gadis yang sedang tertunduk dihadapannya sembari menangis. Anser mengikis jarak diantara mereka dan menaikkan dagu Moza. Di sekanya air mata gadis itu dan dikecupnya kening Moza yang membuat tubuh gadis itu menegang.


"Ternyata mataku bisa salah menilai seorang gadis. Kini aku baru sadar setelah mengingat semuanya. Kamulah yang paling banyak bicara padaku, kamulah orang yang pertama kali mendengar keluh kesahku. Kamu selalu ada disaat aku butuh didengarkan."


"Moza. Aku tidak tahu kedepannya kita bisa saling mencintai atau tidak. Tapi aku ingin memberi kesempatan bagi kita untuk memulai hubungan dari awal. Aku janji padamu akan setia sampai akhir, karena aku yakin pada akhirnya lambat laun kita pasti bisa saling mencintai satu sama lain,"


"Ja-jadi kamu menerimaku sebagai pengganti. Meiza?" tanya Moza terbata.


"Tentu saja. Kenapa aku harus menolak lamaran seorang gadis cantik." Jawab Anser sembari mengedipkan matanya.


Pukkkk


Moza memukul bahu Anser dengan lumayan keras.


"Awwww...kok mukul beneran? mentang bisa bela diri. Jangan-Jangan nanti KDRT sama aku?"Jahil Anser.


"Eh? ma-maaf kelepasan," ujar Moza.


"Awas saja saat dikasur tidak seganas ini," usil Anser yang membuat mata Moza jadi melotot saat mendengarnya.


Anser kemudian menggenggam tangan Moza dan mengajak gadis itu untuk memberitahu keluarga mereka tentang keputusan mereka untuk bersama.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2