
Akhir pekan sudah tiba, kini Ezra dan Marinka tengah berada dijalan karena saat ini mereka sedang melakukan perjalanan menuju luar kota dengan sebuah mobil sport.
Yah..saat ini Ezra ingin menepati janjinya mengajak Marinka pergi ke pemandian air panas yang ada di kota B. Disepanjang jalan mereka berbicara banyak hal, terutama Marinka, wanita itu sama sekali tidak ingin memperlihatkan bahwa saat ini hatinya sedang menangis dan terluka.
Ketika tiba ditempat pemandian air panas, merekapun mandi ditempat yang sama. Mereka juga menyewa sebuah kamar hotel berbintang disekitar sana. Marinka seakan tidak mau membuang moment sedikitpun dan mengajak Ezra untuk pergi jalan-jalan sepuasnya.
"Adek pintar banget deh ngambil fotonya, semuanya bagus-bagus," ujar Ezra saat Marinka menunjukkan beberapa hasil foto yang diambil Marinka untuk mengabadikan moment indah mereka.
"Oh ya iya dong bang, namanya juga mengabadikan moment, jadi harus bagus dong hasilnya." Jawab Marinka.
"Yuk kita foto sebelah sana lagi dek," tunjuk Ezra kearah sebuah taman yang banyak sekali terdapat beraneka ragam bunga.
"Yuk,"
Marinka melangkah lebih dulu, karena dia ingin mencari tempat yang pas untuk melakukan sesi foto-foto. Setelah menemukan tempat yang pas, merekapun melakukan beberapa sesi foto baik di ponsel Ezra maupun ponsel Marinka.
"Hufffttt capek banget ya bang?" ujar Marinka saat mereka tiba di kamar hotel.
Marinka terlihat sedang memijat-minat kakinya yang terasa pegal karena seharian pergi jalan-jalan.
"Mau abang pijat?"
"Eh? nggak usah bang. Adek mau langsung mandi saja, rasanya gerah banget."
"Mau mandi bareng?" goda Ezra.
"Eh? nggak usah bang, adek mau mandi sendiri saja."
Marinka bergegas masuk kedalam kamar mandi, sementara Ezra terkekeh melihat Marinka yang malu-malu.
"Abang nggak mandi?" tanya Marinka saat wanita itu baru keluar dari kamar mandi, setelah menghabiskan waktu selama 20 menit.
"Ya. Rasanya lengket kalau nggak mandi,"
"Mandilah, adek sudah menyiapkan air hangat buat abang."
"Makasih adikku sayang," Ezra mengusap puncak kepala Marinka sembari berlalu kedalam kamar mandi.
"Hah...indahnya...andai saja ini untuk selamanya," tutur Marinka lirih.
Setelah berganti pakaian, Marinka naik keatas tempat tidur dan bermain ponsel. Marinka menerbitkan senyumnya saat melihat hasil-hasil foto yang sempat mereka abadikan.
Tes
Tak terasa air mata Marinka menetes, dia tidak bisa mengendalikan perasaannya saat melihat semua moment indah itu.
"Dek. Ambilin abang handuk dong, tadi lupa soalnyanya," teriak Ezra.
Mendengar suara Ezra memanggil namanya, Marinka segera menghapus air matanya dengan tergesa-gesa.
"Iya bang."
Marinka bergegas memberikan handuk Ezra dan memberikannya pada suaminya itu. Setelah berpakaian, Ezra ikut berbaring diatas tempat tidur disisi tempat tidur yang lain.
"Lagi liat apa sih? serius sekali," tanya Ezra saat melihat Marinka tengah serius menatap ponselnya.
__ADS_1
"Ini, liat hasil foto-foto kita tadi."
"Kirim fotonya di hp abang dong dek,"
"Buat apa bang? nanti di lihat kak Jihan, ntar kena semprot loh." sindir Marinka.
"Loh kenapa? lagian dia nggak usil kok, dia tahu hubungan kita cuma sebatas adik dan kakak."
"Rasanya aku ingin tertawa sekaligus ingin menangis mendengar ucapanmu itu bang," batin Marinka.
"Iya benar. Adek hampir lupa, hubungan kita kan cuma adik dan kakak ya bang?" ucap Marinka dengan wajah muram.
"Ya sudah, ntar adek kirim semua ya bang."
Marinka membuka salah satu aplikasi chat dan mengirimkan puluhan foto yang ada didalam galerynya.
"Sudah bang. Coba abang cek deh, kalau ada yang nggak bagus, abang bisa menghapusnya."
"Ya."
Ezra mulai membuka satu persatu foto yang dikirim oleh Marinka. Sesekali senyumnya terbit dari bibirnya, saat melihat moment-moment indah dan lucu yang mereka abadikan siang tadi.
"Sungguh kenangan yang indah," batin Ezra.
Ezra menutup ponselnya dan melihat ke arah Marinka.
"Ada apa bang?"
"Tidak apa-apa, apa adek belum mengantuk?"
"Kemarilah, kita tidur bersama."
Marinka meletakkan ponsel diatas meja, dan mendekat ke arah Ezra. Pria itu kembali menggeser tubuhnya agar semakin merapat kearah Marinka dan berakhir memeluk istri kecilnya itu.
Nyaman, satu kata itu yang mampu Ezra rasakan saat memeluk erat Marinka. Sementara itu Marinka diam-diam menyembunyikan air matanya. Sungguh moment indah ini tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
"Tuhan...andai ini untuk selamanya, rasanya sesak sekali saat mengingat pekan depan kami akan berpisah," Marinka semakin mengeratkan pelukkannya.
"Aku tidak tahu apa yang akan kamu rasakan saat kita berpisah nanti, tapi kenapa aku merasa tidak rela berpisah denganmu? apa kamu juga merasakan hal yang sama?"
Ezra mengeratkan pelukkannya pada Marinka.
"Bang, adek mau ke kamar mandi sebentar."
Marinka mendorong tubuh Ezra karena dia sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan kesedihannya didalam ruangan yang kaya akan air itu.
Tanpa melihat kearah Ezra, Marinka segera berlari kekamar mandi, dan menutup pintu dengan rapat.
"Hikz....kenapa...kenapa aku harus merasakan ini lagi...kenapa..."
Marinka terisak, hingga nafasnya terasa sesak.
"Apa aku salah lihat? dia tadi menangis kan? atau cuma perasaanmu saja? tapi kalau nangis, nangis kenapa? aku tidak mengatakan apapun padanya," ucap Ezra lirih.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Dek. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ezra.
Marinka bergegas menghapus air matanya dan mencuci mukanya.
"Adek baik-baik saja bang."
"Kenapa lama sekali?"
"Tunggu, adek lagi sakit perut bang."
"Sakit perut? apa kita perlu kerumah sakit?"
"Tidak usah bang. Adek cuma sakit perut biasa saja,"
"Keluarlah!"
Krieeeekkkk
Marinka keluar dari kamar mandi, Ezra menatap Marinka yang sedang menundukkan kepalanya tanpa melihat kearahnya.
"Apa yakin adek baik-baik saja?" tanya Ezra sembari melihat kearah mata Marinka yang sedikit memerah.
"Adek nggak apa-apa bang."
"Adek habis nangis?"
"Nggak."
Ezra menatap kearah Marinka, untuk mencari kejujuran di mata istrinya itu. Namun sepertinya dia tahu, Marinka saat ini sedang berbohong padanya.
"Dia nangis kenapa ya?"
"Ya sudah, ayo kita tidur," ucap Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk dan langsung naik keatas tempat tidur.
Marinka masuk kedalam selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
"Dek. Kenapa begitu? nanti sesak nafas loh?"
"Adek merasa kedinginan bang."
"Kita matikan saja Ac nya ya?"
"Nggak usah bang,"
"Kalau begitu biarkan abang memelukmu ya?"
Marinka terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Wanita itu terpaksa diam saja saat Ezra memeluk dirinya dari belakang. Marinka memejamkan matanya, menikmati hangatnya pelukkan Ezra yang begitu merasuk kedalam sanubarinya. Pelukkan yang akan selalu dia rindukan saat perpisahan mereka tiba nanti.
Marinka menggenggam erat tangan Ezra, dia ingin egois untuk malam ini saja. Dia ingin menikmati moment-moment terakhir kebersamaannya dengan orang yang dia cintai sepenuh hati.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏