
Keluarga besar Ezra pulang ke negara I dengan menggunakan jet pribadi. Abizard yang duduk bersebelahan dengan Joana selalu mencuri-curi kesempatan agar bisa mencium gadis itu. Meiza dan Ilyas hanya bisa menggelengkan kepala mereka, saat melihat kebucinan Abizard.
"Katakan padaku. Seperti apa pernikahan impianmu?" tanya Abizard sembari sesekali mencium punggung tangan Joana yang bening.
"Tidak ada. Aku cuma ingin pernikahan sederhana saja." Jawab Joana.
"Oh ya. Dimana orang tuamu dimakamkan? bukankah kita harus meminta restu mereka?" tanya Abizard.
"Aku tidak ingat dimana mereka di makamkan. Saat itu usiaku memang sudah 10 tahun. Aku cuma pernah satu kali berkunjung kesana, tapi itupun aku tertidur karena terlalu sering menangis. Setelah itu aku dipindahkan di panti sosial, dan kemudian kabur dari sana." Jawab Joana.
"Kemudian kamu bertemu deryl?" tanya Abizard.
"Ya." Jawab Joana.
"Apa dia tidak pernah melecehkanmu? si Deryl itu penjahat kelamin juga kan?" tanya Abizard.
"Mungkin dia tidak berani. Karena sejak usia 16 tahun, aku sudah menjadi penembak Jitu yang handal." Jawab Joana terkekeh.
"Apa kamu tidak punya saudara di Rusia?" tanya Abizard.
"Mungkin saja ada. Tapi aku tidak tahu dimna mereka tinggal. Sudahlah, tidak usah diingat juga. Aku sudah biasa sendiri, kalau mereka tiba-tiba muncul pasti akan terasa aneh," ucap Joana.
"Ya. Lagipula kamu tidak membutuhkan keluarga yang lain lagi. Karena mulai sekarang keluargaku adalah keluargamu juga," ujar Abizard yang dijawab senyum manis dari Joana.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh , akhirnya mereka tiba di negara I. Mereka memutuskan kembali dulu ke rumah Ezra, dan disambut hangat oleh keluarga itu.
"Kakak. Apa kakak baik-baik saja?" tanya Moza yang langsung memeluk Meiza.
"Aku baik. Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Meiza.
"Anak-Anak sehat." Jawab Moza.
"Kenalkan ini Joana. Calon istri Abizard," ujar Meiza.
"Oh...hai. Selamat datang, salam kenal. Aku Moza, saudara kembar Meiza," ujar Moza semabari mengulurkan tangannya.
"Hai...aku Joana," ucap Joana sembari menjabat tangan Moza.
"Bik. Tolong tunjukkan kamar tamu ya? biar mereka bisa beristirahat," ujar Meiza.
"Eh? papa mana?" tanya Moza yang tidak melihat Ezra.
"Papa?" kepala Meiza memutar, karena seingatnya Ezra masuk ke dalam rumah bersama mereka.
Sementara itu tanpa mereka tahu, Ezra sudah menyelinap naik keatas. Pria itu ingin segera menemui belahan jiwanya.
"Sayang? kamu sudah pulang?" tanya Marinka yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Bukannya menjawab, Ezra malah melucuti pakaiannya hingga tanpa mengenakan apapun.
"Sayang...ih..." Marinka tersenyum malu saat melihat pusaka keramat Ezra sudah mengacung sempurna.
Sreetttt
Marinka melepaskan handuk dari tubuhnya. Dia sudah tahu apa yang diinginkan suaminya itu. Karena meski usia mereka tidak muda lagi, bereka masih cukup berga*rah saat saling melayani diatas ranjang.
"Abang merindukanmu sayang," bisik Ezra sebelum akhirnya me**mat bibir Marinka.
__ADS_1
Merekapun akhirnya sudah tenggelam bersama telaga rindu yang sudah dua minggu lebih tidak bertemu.
"Nah...jo. Ini kamarmu ya. Moga kamu betah ya? jangan lupa kalau malam kunci pintumu, takutnya ada ular masuk," sindir Meiza.
Joana mengulum senyumnya. Karena dia mengerti apa yang Meiza maksud.
"Sana pergi. Kamarmu di ujung sana. Awas aja kamu bikin Joana bunting sebelum waktunya," usir Meiza pada Abizard.
Abizard tidak menjawab ucapan Meiza. Pria itu mengedipkan mata kearah Joana, sebelum pria itu berlalu ke kamarnya.
Krieeeekkkk
Abizard membuka pintu kamar Joana saat waktu menunjukkan pukul 1 malam. Joana merasa terganggu, saat dirinya merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"A-Abi. Bukankah pintunya sudah aku kunci? kok kamu bisa masuk?" tanya Joana.
"Sebuah pintu tidak bisa menyurutkan aku, kalau aku ingin tidur bersamamu." Jawab Abizard.
"Abi nanti orang-orang bisa salah faham," ujar Joana.
"Paling-paling kita digrebek, dan langsung dikawinkan. Itu memang kemauanku dinikahkan cepat denganmu," ucap Abizard.
"Ckk...kamu ini,"
"Aku kangen ini," ujar Abizard sembari menunjuk arah dada Joana.
Joana spontan menyilangkan tangan di dada. Karena dia sadar saat ini dia sama sekali tidak mengenakan penyangga dada.
"Kenapa harus ditutup? aku bahkan sudah pernah mencicipinya," tanya Abizard jahil.
"Abi...." mata Joana melotot.
Abizard mengecup kening Joana, dan memeluk erat gadis itu.
"Tidurlah. Aku hanya ingin tidur sembari memelukmu," ujar Abizard.
Joana tersenyum bahagia, dan membalas pelukkan kekasihnya itu hingga terlelap.
*****
Tok
Tok
Tok
"Joan. Ayo kita sarapan bersama," ujar Meiza yang mengetuk pintu dari luar.
Blammmm
Mata Joana dan Abizard terbuka bersamaan. Mereka terlalu nyaman tidur berpelukkan, hingga bangun tidurpun kesiangan.
"I-Iya. Aku turun segera. Lagi pakai baju ini," teriak Joana dari dalam kamar.
"Oke. Kami tunggu dibawah ya,"
"Ya." Jawab Joana.
__ADS_1
Abizard tersenyum melihat wajah panik Joana. Tanpa gadis itu sadari, dia sudah memberikan pemandangan indah di depan mata pria itu karena baju dalam Joana memiliki belahan dada rendah, ditambah gadis itu tidak mengunakan penyangga dadanya.
"Kamu sexy sekali sayang," bisik Abizard sembari sedikit me**mas salah satu dada Joana.
Pakkkk
"Abi...."
Joana memukul tangan Abizard dan langsung berlari ke kamar mandi. Abizard pun keluar kamar itu, karena ingin membersihkan diri ke kamarnya.
Krieeeekkk
Abizard terkejut saat melihat Meiza berada tepat di depan pintu sembari bertolak pinggang.
"Bagus Abizard. Sudah kuperingatkan jangan berbuat tidak senonoh sebelum nikah, ini malah tidur dikamar Joana. Apa kamu pikir bisa mengelabuhi aku?"
"Awwww sakitttt kak. Aku nggak ngapa-ngapain Joana. Suerrr tekewer kewer," Abizard merasakan panas ditelinganya, karena Meiza menarik terlinganya.
"Awas saja kalau kamu berbuat yang bikin malu sebelum nikah,"
"Nggak. Sumpah nggak kok. Udah ah aku mau mandi. Ntar telat sarapan bersama," ujar Abizard yang kemudian kabur.
Setelah mereka sarapan bersama, merekapun pergi ke markas besar Hawiranata. Deryl cukup terkejut, karena mereka datang secara beramai-ramai.
"Ah...akhirnya kalian datang juga. Apa kalian sudah menyiapkan perjanjian damainya?" tanya Deryl.
"Soal itu aku tidak menginginkannya lagi. Mau damai atau tidak aku tidak perduli." Jawab Ezra.
"Sekarang yang jadi masalahnya, bagaimana kamu mau menebus atas apa yang kamu lakukan pada putraku," ujar Mario.
"Paman jangan terlalu perhitungan. Kalian tentu tahu apa pemicu dari kejadian itu. Seharusnya kalian juga bisa memahami aku." Jawab Deryl.
"Orang muka tembok sepertimu mana mengerti kalau orang-orang tidak menginginkan perdamaian," ujar Abizard.
"Cuma sakit sedikit. Kamu itu anak laki-laki, jadi harus tahan banting," ucap Deryl.
"Terus terang aku juga sudah lelah dengan dendam yang tidak berkesudahan ini. Itulah sebabnya aku ingin berdamai dengan kalian," sambung Deryl.
Joana memutar bola mata dengan malas. Dia paling mengenal sifat Deryl, tentu sama sekali tidak percaya dengan ucapannya itu.
"Om boleh langsung beralih kejatahku saja?" tanya Joana sembari memasukkan beberapa peluru.
Deryl yang hafal dengan sifat Joana, tubuhnya mendadak bergetar.
"Jo. Kamu mau apa? ingat! aku yang membesarkanmu selama ini, aku yang memberimu makan, dan aku yang memberikanmu pekerjaan. Aku yang...."
Door
Door
Door
Tanpa basa basi Joana menembak kepala Deryl sebanyak tiga kali. Pria itu tewas dengan mengenaskan.
"Otak pria ini dipenuhi dengan pemikiran sampah. Lama bicara dengannya bias membuat kalian terbuai dan melepaskannya. Sekarang aku sudah melepaskan nyawa dia dari raganya. Semoga dia damai di neraka," ujar Joana sembri meniup sisa asap di ujung pelatuknya.
Sementara itu semua orang jadi melongo dengan aksi yang Joana lakukan. Tak terkecuali Abizard.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏