
"Benar-Benar luar biasa. Sayang, selamat ya? kita akan jadi orang tua kembali. Mereka dalam keadaan sehat," ujjar Anser sembari mengelap sisa Gel diperut Moza.
"Mereka?" tanya Moza.
"Ya. Anak-Anak kita kembar lagi." Jawab Anser sembari terkekeh.
"Ap-Apa?" wajah Moza terlihat pucat.
"Hey...sayang. Kenapa kamu harus khawatir. Setelah ini baru kita tutup pabrik. Atau kalau mau, kamu bisa hamil lagi," goda Anser.
"Hiks...hamil gundulmu, kamu tidak mengerti perasaanku saat ini gimana? hiks..." Moza kembali terisak.
Anser membawa Moza dalam pelukkannya. Namun tiba-tiba dia ingin menguji istrinya itu.
"Ya sudah kalau kamu memamg tidak menginginkan bayi inu, bagaimana kalau kita melakukan aborsi saja?" tanya Anser.
Tiba-Tiba Moza mendorong Anser menjauh, tatapan matanya seolah ingin membunuh.
"Kalau kamu berani bicara seperti itu lagi, bukan anak ini yang akan aku bunuh. Tapi kamu yang akan aku lenyapkan," ucap Moza.
"Loh kok aku? bukankah kamu yang sedih saat tahu kehadiran anak-anak itu?" tanya Anser.
"Sudahlah. Ngomong sama kamu bikin capek hati. Dasar orang gila, enak saja mau membunuh anak-anakku," gerutu Moza sembari turun dari tempat tidur dan nyelonong pergi.
Anser diam-diam tersenyum dari belakang punggung istrinya. Karena meski Moza terlihat tidak menerima kehamilannya, tapi tanpa di sadari Moza, rasa ingin melindungi dan mempertahan kehamilannya jauh lebih besar.
Brakkkk
Moza membanting pintu mobil dengan cukup keras
"Pokoknya kalau kamu masih mengeluh tentang anak itu, aku akan bius kamu dan langsung mengambil tindakkan aborsi," ujar Anser karena ingin melanjutkan aksinya menjahili Moza.
"Kalau kamu berani menyakiti anak-anakku, lihat saja. Aku pasti akan membunuhmu juga," ucap Moza.
"loh, kan kamu sendiri yang nggak mau hamil?" tanya Anser.
"Bu-Bukannya nggak mau, hanya saja belum siap." Jawab Moza.
"Ya karena kamu belum siap, ayo kita gugurkan saja," ucap Anser.
"Kamu kenapa sih? udah gila ya? meski mereka belum berbentuk, tapi dia darah dagingku. Aku akan mempertahankan anakku apapun yang terjadi. Kamu kalau ngomong gitu lagi, tidur di luar ya?" bisa Anser lihat, kalau Moza betul-betul marah kali ini.
"Cuma bercanda sayangku," ujar Anser sembari mencolek dagu Moza namun langsung ditepis oleh Istrinya itu.
"Sepertinya hamil kali ini dia lebih sensitif dan agresif. Aku harus waspada, bisa-bisa aku benar-benar tidur di luar. Kan rugi nggak bisa peluk guling hangat," batin Anser.
"Sayang. Apa ada makanan yang pengen kamu makan?" tanya Anser yang berusaha membujuk Moza, agar tidak marah lagi.
"Nggak ada, aku mau pulang saja." Jawab Moza dengan wajah datar.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil mendadak hening. Anser tidak berani lagi bersuara, karena macan betinanya saat ini moodnya sedang tidak baik. Setelah sampai di rumah Moza langsung pergi ke kamarnya dan meraih ponselnya, dia ingin mencari teman curhat yang bisa menenangkan perasaannya saat ini.
Tring
Tring
Tring
Ponsel Joana berdering. Wanita yang tengah bersiap akan pergi ke Jepang itu melihat Moza sedang membuat panggilan untuk dirinya.
"Ya kak?" tanya Joana sembari menjepit ponsel dengan bahunya, sementara tangannya sedang sibuk menutup kopernya.
"Joan. Apa kamu sedang sibuk? aku mau curhat," tanya Moza.
"Sebenarnya sebentar lagi kami akan berangkat ke bandara kak " Jawab Joana.
"Bandara? kalian mau kemana memangnya?" tanya Moza.
"Mau liburan ke jepang." Jawab Joana.
"Oh...ya sudahlah lain kali saja curhatnya," ujar Moza.
"Eh? nggak apa kak. Kan bisa sambil dijalan nuju bandara kita ngobrolnya. Emang kakak mau curhat apa sih?" tanya Joana.
"Joan. Aku sedang galau saat ini," ujar Moza.
"Apa kamu tahu? aku saat ini sedang hamil lagi. Mana kembar lagi. Joan aku bingung apa aku bisa mengurus empat anak sekaligus. Aku takut tidak bisa membagi kasih sayangku secara merata." Jawab Moza.
Deg
Ucapan Moza membuat palung hati Joana yang terdalam merasa tersentil. Secara tidak sadar, air matanya merebak tanpa di komando.
"Joan. Menurutmu aku harus bagaimana? aku juga lagi kesal sama Anser. Bisa-Bisanya dia nyuruh aku buat gugurin, kalau memang aku nggak mau. Padahal ada banyak orang yang pengen punya anak, tapi belum bisa. Dia seenaknya saja bilang gitu. Nyebelin deh pokoknya," ujar Moza.
Moza tanpa sadar sudah melukai hati Joana. Air mata Joana sudah memenuhi wajahnya.
Kriekkkk
"Sayang. Sudah siap belum?" tanya Abizard.
Tapi Abizard mendadak panik saat melihat Joana menangis sembari menahan isak.
"
"Kak sudah dulu ya? lain kita sambung lagi,
kami sudah mau berangkat," ujar Joana dengan sebisa mungkin mengatur suaranya agar Moza tidak tahu, kalau dirinya tengah menangis saat ini.
"Oke happy ya?"
__ADS_1
"Emm." Jawab Joana.
Joana mengakhir percakapan itu lebih dulu, Setelah itu dia menoleh kearah Abizard dengan air mata yang kembalik merebak.
"Hikz...." Tubuh Joana bergetar karena terisak.
Drap
Drap
Drap
Abizard menghampiri Joana dan meraih ponsel istrinya untuk mengetahui siapa yang sudah membuat istrinya itu menangis.
"Kak Moza? kenapa dia jadi menangis setelah menerima telpon dari kak Moza?" batin Abizard.
Abizard membawa Joana dalam pelukkannya. Tangis Joana bertambah pecah, sehinga Abizard jadi bingung cara menenangkan istrinya itu. Setelah tangis Joana mereda, barulah Abizard bertanya dengan suara selembut mungkin.
"Ada apa. Hem? kenapa ngobrol dengan kak Moza kamu jadi menangis histeris begini?" tanya Abizard.
"Abi. Apa kamu sungguh tidak keberatan, jika ternyata aku ini memang tidak bisa memberikan kamu anak? aku hanya merasa jadi istri tidak berguna buat kamu. Hiks..."
"Hey....sayang. Kok bahas itu lagi sih? tujuan kita kejepang kan buat hanymoon kita yang kedua. Moga aja kali ini langsung jadi," ujar Abizard.
"Kamu tidak usah menghiburku.Kamu kan tahu kita pergi dalam keadaan aku tidak masa subur. Mana mungkin bisa jadi," ucap Joana.
"Sebenarnya kak Moza ngomong apa sama kamu, sehingga kamu jadi begini?" tanya Abizard penasaran.
"K-Kak Moza bilang dia sedang hamil lagi sekarang, alias kebobolan. Anaknya juga kembar lagi. Aku merasa jadi orang yang tidak beruntung. Kak Moza yang tidak menginginkan, malah bisa dikasih sekaligus dua." Jawab Joana terisak sedih.
Abizard jadi ikut terdiam. Dia jadi berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mengembalikan keceriaan istrinya itu lagi.
"Kak Moza ini seperti nggak ada orang lain saja, kenapa harus bicara dengan Joana. Kalau begini, aku yang repot," batin Abizard.
"Sayang. Setiap orang rejekinya berbeda-beda. Tuhan itu memberikan sesuatu sesuai yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Mungkin Tuhan akan memberikan kita anugerah itu setelah dinilainya kita benar-benar butuh. Berpikir positif saja, mungkin Tuhan ingin kita terus bersikap mesra sehingga saat ada anak hubungan kita jadi semakin erat,"
"Hadeh...aku sendiri nggak tahu aku ngomong apa. Bagaimana Joana bisa nerima ucapanku?" batin Abizard.
"Ayo kita pergi. Nanti saat disana, kalau kamu mau duluan pulang nggak apa. Aku mau nenangin diri disana lebih lama," ujar Joana.
"Kok gitu? masak happy nggak mau ngajak-ngajak?" Abizard pura-pura cemberut.
"Ya kan kamu nggak bisa lama. Kamu kan harus bekerja, cari uang yang banyak buat bayarin penginapan aku yang bakal lama disana nanti." Jawab Joana.
"Kamu mau lama-lama disana, emang nggak kangen aku? sepertinya kamu bisa hidup tanpa aku ya?" tanya Abizard.
"Jangan kekanakkan. Aku sedang nggak mood bercanda. Ayo pergi," ujar Joana yang langsung menyeret kopernya.
Abizard hanya bisa menghela nafas. Dan kemudian menyusul istrinya. Dia inginembuat Joana kembali ceria dengan caranya sendiri
__ADS_1