
Hari ini adalah hari ketiga Rakha menjadi relawan. Korban yang dicari pun hanya tinggal 12 orang lagi. Meskipun sedikit pesimis, tapi Rakha tidak ingin menyerah. Pasalnya dari 54 orang yang ditemukan, tidak ada satupun dicurigai ada nama Yure dan Gadlyn. Harapan besar masih tumbuh didadanya.
Pencarian dihari ketiga hanya menemukan 8 orang korban dalam kondisi tidak bernyawa. Tingkat stres yang Rakha alami semakin meningkat saat ini. Namun dirinya cukup merasa lega, karena dari 8 korban yang ditemukan, tidak ada Yure dan Gadlyn diantaranya.
"Yure. Aku tahu kamu cerdas. Jangan pernah kamu mengecewakan aku. Kalau sampai kamu mengecewakanku, aku tidak akan memaafkanmu," batin Rakha.
Tok
Tok
Tok
Kriekkkk
Anser memasuki ruang kerja Rakha yang tampak gelap gulita.
Ctekkkkk
Anser menyalakan lampu, dan mendapati Rakha tengah termenung sembari menatap arah luar jendela.
"Uda," sapa Anser yang membawa dua cangkir coklat panas untuk mereka berdua.
Rakha menoleh kearah Anser lalu berjalan mendekati sofa yang ada diruangan itu.
"Duduklah!" ujar Rakha.
"Uda belum makan malam. Sebaiknya uda makan dulu, nanti uda sakit," ujar Anser
"Hah...bagaimana aku bisa makan dengan benar, mereka belum ditemukan sampai saat ini," ujar Rakha.
"Mereka?"
"Ya. Yure dan Gadlyn,"
"Gadlyn? siapa dia?" tanya Anser penasaran.
"Serketaris pribadiku, sekaligus orang yang aku cintai." Jawab Rakha.
Anser terkejut mendengar penuturan Rakha. Pasalnya dia baru tahu kalau ada orang lain lagi yang Rakha khawatirkan.
__ADS_1
"Pantas saja dia terlihat sangat stres. Masuk akal kalau yang hilang juga ada kekasihnya," batin Anser.
"Bersabarlah uda. Kita berdo'a saja, semoga mereka berdua selamat," ucap Anser.
"Tapi rasanya itu sangat mustahil. Hikz..."
Tubuh Rakha tiba-tiba bergetar hebat. Seumur hidup Anser, baru kali ini melihat Rakha menangis dan serapuh ini. Anser jadi merasa kasihan padanya.
Sementara itu dilain tempat, Regia tampak demam panas tinggi. Yuda jadi panik, karena Regia merupakan ujung tombak dirumah tangganya. Semua pekerjaan rumah, urusan kantornya nyaris semuanya Regia handle. Kini Yuda jadi kelabakkan, saat Regia sakit karena drop memikirkan keselamatan Yure.
"Mama makan sedikit ya ma?" bujuk Yugie, namun dijawab gelengan kepala oleh Regia.
"Sayang. Yure pasti sedih melihatmu seperti ini. Kamu harus sehat, agar bisa menyambut kepulangan Yure nanti. Apa kamu tahu? kata Rakha sudah ada titik terang tentang Yure," dusta Yuda.
Mendengar itu Regia jadi duduk seketika, hingga kompresan diatas keningnya jatuh dipangkuannya.
"Dimana dia mas?" tanya Regia sembari mencengkram tangan Yuda.
Yuda jadi bingung menjawab pertanyaan Regia, karena dia tidak pernah berbohong pada istrinya itu. Melihat Yuda yang kebingungan, Yugie menyelamatkan Yuda dari amukkan Regia.
"Titik terang memang sudah ada. Tapi saat ini siapapun belum boleh mendekati posko, karena kemarin ada insiden kehilangan barang bukti." Jawab Yugie asal.
"Disana banyak barang-barang berharga korban. Itu sebagai barang bukti identitas korban juga kan? dengan menunjukkan barang-barang itu, keluarga korban akan mengenali keluarga mereka. Nah barang berharga itu ada yang mencurinya, jadi untuk saat ini semua keluarga korban tidak ada yang boleh mendekati area posko. Mereka ingin bekerja dengan tenang," ujar Yugie dengan karangan bebasnya.
Regia tampak terdiam setelah mendengar ucapan Yugie.
"Maafkan Yugie ma. Yugie terpaksa berbohong. Yugie mau mama sembuh," batin Yugi.
Regia meraih piring yang ada ditangan Yuda. Melihat Regia ingin makan, Yuda dan Yugie menjadi senang.
"Jangan karena ingin membuat mama makan, kalian bisa mengarang bebas sesuka hati kalian. Mama ini tidak sebodoh itu," ujar Regia sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Maaf ma," ujar Yuda dan Yugie secara bersamaan.
Cup
Yuda mencium puncak kepala Regia sembari mengelusnya.
"Cepat sembuh sayang. Rumah ini terasa sepi kalau tidak mendengar kebawelanmu. Yakinlah, anak kita pasti akan baik-baik saja. Kamu tahu sendiri kan? kita ini di anugerahi anak-anak yang luar biasa cerdas. Aku yakin Yure pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri," ujar Yuda.
__ADS_1
"Tapi aku sangat pesimis mas. Hikz...." Regia terisak.
Yuda membawa Regia dalam pelukkannya.
"Husssttt...jangan pernah kehilangan harapan. Kita harus yakin Yure pasti baik-baik saja. Ada Rakha yang sedang berusaha menemukan dia. Rakha pasti tidak akan membiarkan Yure tiada dengan mudah," ucap Yuda.
"Sekarang mama makan lagi ya? kak Yuda pasti akan sedih kalau melihat mama seperti ini," ucap Yugie yang diangguki oleh Regia.
"Sini. Biar mas suapi kamu," ujar Yuda sembari mengambil piring dari tangan Regia dan mulai menyuapi istrinya itu.
*****
Ting tong
Ting tong
Rakha yang tengah bersiap untuk menjadi relawan lagi, terpaksa membuka pintu rumah nya sendiri, karena kebetulan dirinya sudah hampir mencapai pintu.
Ceklekkk
Rakha terkejut saat tiba-tiba seorang wanita parubaya berlutut di hadapanya sembari terisak .
"Tante mohon temukan Gadlyn buat tante. Tante tahu ini permintaan yang mustahil dan tidak tahu diri, tapi Gadlyn putri tante satu-satunya. Tante cuma punya dia di dunia ini. Kalau bisa ditukar, biar nyawa tante saja yang hilang daripada tante kehilangan dia. Hikz..."
Rakha menarik kedua pundak Karin, agar berdiri tepat dihadapannya.
"Aku tidak bisa berjanji untuk membawanya pulang dengan selamat. Tapi aku akan melakukan yang terbaik, agar bisa menemukan dia. Besabarlah!" ucap Rakha yang diangguki oleh Karin.
"Sekarang aku mau pergi dulu," ujar Rakha.
"Ya." Jawab Karin.
Rakha segera pergi. Dia tidak ingin terlambat untuk ikut berpartisipasi dalam pencarian itu. Ini adalah hari keempat pencarian mereka, Rakha ingin mendapatkan titik terang, meski harus menerima kenyataan pahit sekalipun.
Seperti hari-hari sebelumnya. Rakha pergi menuju pulau B dengan menggunakan hellykopter. Setelah sampai disana, Rakhapun langsung ikut tim SAR untuk mencari sisa korban yang belum ditemukan. Namun dihari keempat mereka terpaksa menelan kekecewaan, karena keempat korban itu sama sekali tidak ditemukan. Yang membuat Rakha kecewa adalah, mereka malah menyimpulkan kalau korban mungkin sudah dimakan hewan laut, sehingga mayat mereka sama sekali tidak ditemukan.
"Aku menolak percaya kalau Yure dan Gadlyn sudah tiada. Dari puluhan orang yang ditemukan, sangat mustahil Yure dan Gadlyn tidak ada diantara orang itu. Masih ada kemungkinan mereka selamat bukan?" ucap Rakha lirih.
Meski pencarian para korban dihentikan, Rakha tidak ingin hilang harapan. Rakha memutuskan keesokkan harinya bergerak sendiri mencari Gadlyn dan Yure bersama anak buahnya. Empat hellykopter dikerahkan, mereka mencari disetiap pesisir pantai hingga puluhan kilometer jauhnya.
__ADS_1
Rakha melihat dengan teropong dari ketinggian puluhan kaki. Matanya tidak lelah, tanpa mengalihkan pandangannya dari teropong karena tidak ingin ada yang terlewatkan sedikitpun.