Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.146. Akan Kuhancurkan


__ADS_3

Jihan menatap keluarga kecil yang tampak bahagia dari kejauhan. Kaca mata hitam yang bertengger diatas hidungnya itu sama sekali tidak dia lepaskan, karena dia tidak ingin menatap keluarga yang menurutnya sudah membuat hidupnya hancur secara langsung.


"Ezra. Kamu sudah menghancurkan semua mimpiku yang ingin menjadi seorang nyonya kaya raya, dan kamu malah kembali dengan wanita yang diam-diam sudah mencuri hatimu. Apa kamu pikir aku akan membiarkan keluarga kalian hidup dengan tenang?" ujar Jihan lirih.


Jihan melirik kearah dua anak yang sepertinya memiliki perangai berbeda. Jika gadis kecil yang dia lihat tampak begitu lincah berlarian bersama Marinka, Tapi tidak dengan seorang anak laki-laki yang duduk diam dikursi sembari memainkan ponsel. Anak itu lebih tenang, sementara Ezra duduk disebelah putranya itu sembari membaca koran pagi.


Marinka tampak menggelitik putrinya, yang menjatuhkan diri dengan sengaja diatas rumput yang menghijau. Taman kecil itu mereka jadikan sebagai sarana untuk bermain dan berkumpul.


"Seharusnya aku yang berada disitu Zra, hidup bahagia bersama anak-anak kita. Tapi kamu tenang saja, mimpi yang belum terwujud akan aku wujudkan sebentar lagi. Bukankah dulu kamu bilang ingin punya anak satu lusin denganku?" ujar Jihan lirih.


"Sekarang aku sudah kembali dengan sosok yang baru. Kamu sangat menyukai wanita cantik bukan? aku sudah merubah wajahku demi kamu, termasuk identitasku. Ezra, tunggu aku! biarkan aku menyingkirkan dulu sang pengganggu," Jihan mengalihkan pandangannya pada Marinka, tatapan itu penuh dengan tatapan kebencian.


Jihan menginjak gas mobilnya. Mobil itu perlahan maju dan meninggalkan wilayah kediaman Ezra. Gadis yang sudah merubah identitasnya menjadi Veronica itu, berniat mendekati keluarga Ezra secara natural. Dia ingin menjadikan Musuhnya sebagai teman, sebelum dia menyingkirkan untuk selamanya.


"Aku suka penampilan barumu," ujar seorang pria parubaya yang merupakan sugar dady Jihan sejak dulu.


"Makasih ya Pi. Papi sudah modalin Jihan buat operasi."


"Tidak masalah. Lagian kecantikkanmu juga aku menikmatinya, kita sama-sama saling memuaskan saja. Kamu puas dengan uangku,, aku puas dengan tubuhmu," ujar pria itu.


"Pi. Apa Papi punya kenalan seorang penembak jitu?" tanya Jihan.


"Penembak Jitu? buat apa? apa kamu ingin bermain-main dengan nyawa seseorang?"


"Tentu saja ini serius. Lagipula aku tidak suka bermain, aku suka sesuatu yang ekstrim." Jawab Jihan sembari memainkan dada pria itu dengan jari terlunjuknya.


"Ada. Tapi bayarannya sangat mahal,"


"Apa lebih mahal dari biaya operasi wajah?"


"Tentu saja lebih mahal operasi."


"Kalau begitu Papi tentu tidak keberatan buat menyewakan satu untukku," rayu Jihan.


Pria itu hanya bisa menghela nafas, dan kemudian menyetujui kemauan Jihan. Tapi tentu saja itu tidak gratis, Jihan harus melayani pria itu hingga tubuhnya terasa remuk.


"Sayang. Apa kamu jadi meninjau pabriknya besok?" tanya Ezra.

__ADS_1


"Iya. Adek harus melihat proses pembuatan pakaian dan juga ingin melihat barangkali pabrik membutuhkan tambahan karyawan."


"Baiklah. Orang-Orangnya abang akan mengawalmu nanti. Abang nggak bisa menemanimu, karena abang ada pekerjaan penting."


"Tidak masalah, abang pergi saja. Biarkan orangnya abang yang menemaniku."


"Oh ya bagaimana untuk pembangunan gerai pusatnya? apa sudah selesai?" tanya Marinka.


"Sudah hampir selesai. Bisa dipastikan saat barang-barang sudah diproduksi, maka gerainya siap di pakai."


"Baguslah, adek juga lega. Saat grand opening nanti, adek akan membuat diskon 30% untuk setiap item."


"Lalu saat meninjau pabrik nanti, kamu ingin berperan sebagai apalagi?" tanya Ezra.


"Seperti biasa. Aku akan mengaku sebagai manager dari MD. Agar mereka tidak mencurigaiku, maka aku harus menyamarkan penampilanku seperti biasanya." Jawab Marinka.


"Baiklah kalau begitu," ujar Ezra.


"Apa anak-anak akan adek bawa?" tanya Ezra


"Tidak bang. Anak-Anak akan adek titipkan saja dirumah mama dan papa. Adek nggak mau ngambil resiko." Jawab Marinka.


"Pasti abang teringat kita masih berada di Paris ya?" ucap Marinka sembari terkekeh.


"Iya. 3 tahun menetap di Paris, abang jadi terbiasa tanpa mereka. Padahal sebelumnya juga tinggal dirumah terpisah."


"Sepertinya akhir pekan kita harus menginap dirumah mama."


"Tidak perlu, kalau anak tidak ingat orang tua, maka biar orang tua saja yang lebih dulu mengunjungi anak-anaknya," ujar Masayu yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


"Papa, Mama?" Marinka senyum semringah saat melihat mama dan papa mertuanya datang mengunjungi mereka.


Marinka kemudian memeluk Masayu dengan erat dan kemudian mencium tangan Baskoro.


"Maaf ya ma, kami belum sempat kesana," ucap Marinka.


"Tidak masalah, kami mengerti kesibukkan kalian. Oh ya, dimana cucu-cucu mama?" tanya Masayu.

__ADS_1


"Ada di kamar. Mungkin mereka sedang bermain." Jawab Marinka.


"Kalian ngobrol dulu saja, nanti Inka buatin minuman segar," sambung Marinka.


Marinka bergegas ke dapur, dan memutuskan ingin membuat es buah. Setelah selesai membuatnya, Marinkapun menyuguhkannya dan ikut berbincang bersama.


"Kata suamimu, besok kamu mau pergi?" tanya Masayu.


"Iya Ma. Mau ninjau pabrik. Sudah selesai sampai masa pembuatan pakaian yang designnya Inka berikan sejak 2 bulan yang lalu."


"Memangnya berapa target yang harus diproduksi sampai grand opening nanti?"


"Sebenarnya dalam satu design, Inka menginginkan satu juta lembar pakaian. Dan Inka sudah menyerahkan sebanyak 100 design."


"Wah...Mama jadi penasaran. Seperti apa pakaian itu. Kalau yang sudah-sudah, responnya meledak. Semoga ini lebih berhasil dari yang kemarin."


"Amiin." Jawab mereka serentak.


"Nanti Inka bakal sering ngerepotin mama dan papa. Rencananya tiap Inka keluar kota, Inka akan menitipkan anak-anak," ujar Marinka.


"Tidak masalah, mama malah senang mendengarnya. Itu artinya kami nggak kesepian." Jawab Masayu.


"Kamu kalau memamg kerepotan, harus mencari asisten pribadi," ujar Baskoro.


"Rencananya memang begitu Pa. Inka sedang menunggu Regia istri Yuda lahiran dulu." Jawab Marinka.


"Ya masih lama kalau nunggu itu, papa mama sempat ketemu mereka di mall, katanya Regia baru hamil 7 bulan. Itu artinya kamu minimal mau nunggu dia selama 3 bulanan. Apa itu tidak akan merepotkanmu?"


Marinka nampak berpikir, apa yang dikatakan papa mertuanya ada benarnya juga.


"Baiklah. Nanti Inka cari saja. Kebetulan besok Inka ninjau pabrik. Pasti ada saja lamaran yang masuk ke HRD."


"Itu bagus. Jangan mempersulit diri sendiri, apalagi sampai kelelahan."


"Iya Pa." Jawab Marinka.


Banyak hal yang Marinka, Ezra dan mertuanya perbincangan. Tanpa Marinka tahu, rumah tangganya akan di timpa badai yang amat besar nantinya. Badai yang akan menguji kembali kisah cintanya dengan suami, dan badai yang akan membuat Ezra kembali berjuang untuk kedua kalinya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2