
"Hati-Hati," ujar Ezra.
"Ya pa." Jawab Moza.
Moza kemudian berjalan dengan langkah besar. Cukup sulit bagi Anser untuk mengimbangi langkah kaki istrinya itu.
"Kita pergi pakai motor?" tanya Anser saat istrinya itu menaiki sebuah motor sport.
"Naiklah kalau mau ikut. Kalau tidak mau diam saja dirumah," ujar Moza.
"Biar aku yang bonceng. Apa-Apaan laki dibonceng perempuan. Turun!" ucap Anser.
Moza turun dari motor, dan membiarjan Anser membawa motornya. Namun saat dirinya sudah naik, motor itu sama sekali tidak jalan.
"Kenapa?" tanya Moza.
"Ogah gerak kalau cuma dijadikan tukang ojek." Jawab Anser.
"Tukang ojek?"
"Ya iyalah. Peluk dong," ujar Anser yang dijawab putaran bola mata 360 derajat.
Moza dengan enggan melingkarkan tangan dipinggang Anser. Setelah itu barulah Anser menjalankan motornya dengn kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit, merekapun sampai ditempat tujuan. Moza segera turun dari motor dan masuk ke markas. Anser segera menyusul Moza dengan langkah cepat.
Srettttt
Moza melepas jaket yang dia kenakan, dan hanya menyisakan tanktop berwarna hitam. Rambutnya dia ikat menjadi satu bagian.
Setelah cukup melakukan pemanasan , Moza menghadap kearah benda yang bentuknya seperti bantal guling.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
Moza mulai memukuli benda itu. Dapat Anser lihat pukulan yang Moza layangkan penuh emosi. Peluh menetes dari pelipis Moza, dan wanita itu terlihat sexy dimata Anser.
"Aku ingin menjajal kemampuan bela dirimu," ujar Anser.
"Jangan banyak bacot. Serang saja," ucap Moza.
Anser kemudian menyerang Moza dan dapat di tangkis oleh wanita itu. Bisa Anser rasakan serangan yang dilakukan Moza penuh dengan emosi. Seolah Moza benar-benar akan menghabisi dirinya.
__ADS_1
Tap
Tap
"Kamu terlihat sexy," bisik Anser saat pria itu berhasil menangkap serangan tangan Moza. Moza tidak memperdulikan ucapan Anser, dia kembali menyerang Pria itu dengan membabi buta.
Tap
Tap
Lagi-Lagi Anser berhasil menangkap tangan Moza yang menyerang dengan serangan memutar. Dengan nakal Anser memasukkan tangannya kedalam baju Moza dari arah bawah dan sedikit me**mas salah satu aset berharga Moza.
"An-Anser mesum," ucap Moza lirih.
"Ini hukuman karena sudah berani meninggalkanku tidur dimalam pertama kita," ujar Anser.
Moza menarik tangan Anser. Sungguh dia hampir saja tidak bisa mengendalikn suaranya saat pria itu melakukan hal itu padanya.
"Anser. Mari kita buat kesepakatan," ujar Moza.
"Kesepakatan?" kesepakatan apa?" tanya Anser.
Moza berjalan kearah lemari dan meraih selembar handuk bersih untuk menyeka keringatnya. Moza kemudian meneguk air mineral dan hanya menyisakan separuhnya.
"Aku ingin kamu tidak menyentuhku, sebelum benar-benar ada cinta di hatimu," ujar Moza.
"Aku tidak setuju. Apa-Apaan seperti itu? aku juga ingin merasakan surga dunia," ucap Anser.
"Eh? maksudnya apa? apa dia cemburu saat aku memperhatikan Meiza?" batin Anser.
"Aku ingin kita membuat kesepakatan selama 1 tahun. Kalau dalam satu tahun kamu tidak cinta padaku, maka kita akan mengambil langkah bercerai," ucap Moza.
"Hati-Hati kalau ngomong. Aku pribadi nggak pernah berpikir kita akan bercerai," ucap Anser.
"Ya untuk apa kita bersama kalau tidak ada rasa? jangan perdulikan apa kata orang tuaku, yang menjalani rumah tangga kita berdua. Kalau memang tidak bahagia jangan menyiksa diri sendiri," ujar Moza.
"Hah...aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku saat ini. Tapi Moza, sampai mati aku tidak ingin bercerai denganmu terlepas itu kita saling cinta atau tidak,"
"Lalu meski kamu menemukan gadis yang kamu cinta, yang bisa membuatmu jatuh cinta lagi, kamu tetap tidak ingin bercerai denganku?" tanya Moza.
"Iya." Jawab Anser asal.
Moza mengerutkan dahinya dan kemudian tersenyum sinis kearah suaminya itu.
"Apa kamu tidak pernah berpikir kalau wanitalah yang paling dirugikan disini. Kamu ingin menyentuhku, tapi tidak mencintaiku dan bahkan ingin mencari wanita lain yang bisa kamu cintai?"
"Kalau begitu aku ingin membuat kesepakatan yang lain denganmu,"
__ADS_1
"Apa?" tanya Anser.
"Kalau kamu ingin berselingkuh, maka jangan larang aku untuk mencari cinta diluar sana. Bagaimana? adilkan?"
"Tidak masalah." Jawab Anser.
Jawaban Anser benar-benar membuat Moza terluka. Moza pikir Anser akan menyangkal ucapannya, dan tidak setuju dengan ide gila yang dia ucapkan.
Tanpa banyak bicara Moza pergi ke lapangan tembak yang ada di belakang markas. Setelah sampai disitu, Moza segera melampiaskan rasa kesalnya dengan menghabiskan nyaris 100 butir peluru.
Tanpa Moza tahu, Anser tersenyum dari kejauhan. Saat peluru terakhir habis, Moza membanting pistol itu ketanah.
"Sudah capek belum? ayo kita pulang. Ada hal yang harus kita bahas," ujar Anser.
"Ya." Jawab Moza singkat.
Merekapun memutuskan untuk pulang. Setelah sampai dirumah, Mereka melihat Meiza dan Ilyas tengah berada di taman samping rumah sedang bercengkrama. Langkah Anser kembali terhenti, Moza yang melihat Anser belum bisa move on langsung meninggalkan suaminya itu untuk pergi ke kamar lebih dulu.
"Hufffffffft...." Moza menghembuskan nafas sembari tubuhnya dialiri air dari atas shower.
"Sial. Kenapa aku merasakan hal seperti ini? bukankah aku sudah tahu sejak awal, kalau hatinya memang bukan untukku. Moza bertahanlah, jangan egois. Bukankah niat awalmu ingin membahagiakan kedua orang tuamu?" ujar Moza lirih.
Setelah selesai mandi Moza akhirnya keluar dengan hanya menggunakan handuk. Dia cukup terkejut, karena ada Anser didalam kamar itu.
Moza bergegas mencari baju di dalam lemari, Anser perlahan mendekat kearahnya dan memeluk Moza dari belakang.
"Kita mau bulan madu kemana?" tanya Anser.
"Tidak perlu. Kalau mau bikin anak dimanapun bisa, termasuk didalam toilet sekalipun." Jawab Moza asal.
"Toilet? ternyata fantasimu cukup liar. Nanti kita akan coba di toilet," ujar Anser yang dijawab putran bola mata malas oleh Moza.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Moza.
"Tidak ada. Cuma soal bulan madu itu saja." Jawab Anser.
"Meiza dan Ilyas ingin bulan madu di raja ampat. Apa kamu juga ingin pergi kesana?" tanya Anser.
"Mungkin pertanyaan itu lebih cocok untukmu. Bukankah kamu yang ingin pergi ke Raja ampat?" tanya Moza.
"Tidak. Kali ini aku ingin mengikuti apa kata istriku." Jawab Anser.
"Kalau begitu ikut mereka saja. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan disana," ujar Moza.
"Baiklah. Aku akan mengurus tiketnya untuk kita. Kamu tunggulah dirumah,"
"Emm." Moza mengangguk.
__ADS_1
Anserpun pergi untuk mengurus tiket keberangkatan mereka besok ke raja ampat. Sementara Moza dirumah sedang berkemas untuk menyiapkan keperluan mereka kesana.
To be continue....🤗🙏