Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.33. Undangan


__ADS_3

Plakkk


Yuda menaruh sebuah undangan berwarna merah diatas meja kerja Ezra. Ezra yang tengah menandatangani banyak berkas jadi terpaksa menghentikan gerakkan tangannya.


"Apa ini?" tanya Ezra


"Undangan dari GS Group."


"GS Grouop?"


"Ya. Pekan depan mereka akan merayakan ulang tahun perusahaan mereka,"


"Kalau begitu kamu saja yang pergi."


"Kenapa aku yang pergi? alangkah bagusnya kamu dan Marinka yang pergi."


"Kenapa harus melibatkan wanita dalam urusan perusahaan?"


"Marinka sekarang adalah istrimu, apa kamu tidak penasaran bagaimana reaksi Marinka saat bertemu kembali dengan mantan suami dan mantan madunya itu?"


Ezra mengerutkan dahinya, dirinya baru menyadari bahwa pemilik dari GS Group adalah mantan suami dari istri kecilnya. Ezra tampak meletakkan tangan didagunya seperti menimbang sesuatu.


"Akan aku bicarakan dulu dengan Marinka,"


"Tidak perlu, berpura-pura tidak tahu jauh lebih baik, agar Marinka tidak canggung."


"Apa kamu yakin Marinka tidak akan bersedih?"


"Seharusnya ini kesempatan bagus untuk Marinka, dia bisa menunjukkan eksistensinya sebagai istri dari seorang pengusaha nomor satu di kota J."


"Dia bahkan tidak tahu kalau suaminya ini seorang pengusaha ternama,"


"Apa? jadi Marinka masih belum tahu,"


Ezra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Apa kau tahu rasanya saat istrimu sendiri tidak tahu pekerjaanmu? rasanya gelar yang kudapatkan selama ini terasa percuma, ternyata aku masih belum tenar seperti yang kubayangkan selama ini."


Tawa Yuda pecah saat mendengar ucapan miris Ezra, pria itu kemudian melirik kearah rantang kecil berwarna biru yang berada diatas meja Ezra.


"Tumben bawa bekal, buat aku aja ya?"


Yuda bermaksud ingin meraih rantang berwarna biru itu.


Plakkkk


Ezra menepis tangan Yuda yang membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.


"Kalau mau buruan punya istri, ini Marinka buatin khusus buat aku."


"Marinka istri idaman banget ya? jadi nggak sabar nunggu 6 bulan,"


"Kenapa dengan 6 bulan?"


"Kan kamu mau menceraikan dia, jadi setelah kamu membuangnya, aku yang akan memungutnya."


Ezra tiba-tiba berwajah masam, Dia tidak suka Yuda berbicara tentang perceraiannya dengan Marinka.


"Tapi ngomong-ngomong belum terjadi sesuatu kan saat di Turki?"


"Maksudmu?"


"Apa disana kalian benar-benar melaksanakan ritual bulan madu?"


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, bahkan tiba-tiba Jihan datang kesana."

__ADS_1


"Jihan datang kesana? mau apa dia kesana?"


"Tentu saja karena merindukanku. Ya maklum saja, sahabatmu ini punya sejuta pesona yang digilai kaum hawa,"


Yuda mencibirkan bibirnya saat mendengar Ezra membanggakan dirinya sendiri.


"Lalu bagaimana reaksi Jihan saat bertemu dengan Marinka?"


"Sejujurnya aku sangat takut waktu itu Marinka akan marah atau Jihan mengamuk, tapi ketakutanku tidak terjadi. Marinka sangat pengertian orangnya,"


"Terus?"


"Ya, akhirnya aku membuka kamar baru dan tidur bersama Jihan."


"What? apa kamu sudah gila?"


"Ckk..jangan negatif thingking dulu, meskipun Jihan sempat menggodaku, tapi kami tidak melakukan hal seperti itu."


"Ya tapi apapun alasannya, kasihan Marinka. Wanita mana yang rela melihat suaminya tidur sekamar dengan wanita lain."


"Tapi Marinka tidak seperti itu, dia bahkan baik-baik saja dan mendukung semua keputusanku. Lagian aku dan Marinka sudah memutuskan hubungan kami akan berlanjut seperti hubungan adik dan kakak,"


"Ezra. Aku hanya takut kamu akan menyesal pada akhirnya,"


"Ckk...selalu omonganmu begitu terus, kamu ingin aku jadi suami Marinka selamanya? lalu Jihan bagaimana? kamu kan tahu aku hanya mencintai Jihan seorang,"


"Terserah saja. Lalu bagaimana dengan undangan ini?"


"Ya sudah. Kamu siapkan saja pakaianku dan gaun untuk Marinka. Kami akan menghadiri acara itu. Aku ingin melihat lebih dekat, siapa orang yang sudah menyakiti adikku sedemikian rupa."


"Yang pasti dia seorang pembunuh, sayang sekali Marinka tidak mengizinkan kita untuk membuat perhitungan untuk pria itu dan seluruh keluarganya,"


"Biarkan saja. Mungkin Marinka memiliki perhitungan sendiri. Kalau kita ikut campur, takutnya dia tidak akan merasa puas,"


"Kamu benar, itulah sebabnya aku ingin kamu mengajaknya ke pesta itu, aku ingin tahu reaksi Marinka saat bertemu kembali dengan suaminya yang penghianat itu."


"sipp. Kita akan menyulap Marinka menjadi bak seorang dewi diacara itu, kita harus merebut perhatian semua orang, sehingga yang punya acara jadi tersingkirkan."


"Bagus. Aku ingin melihat mata istri pria itu keluar dari sarangnya. Jangan lupa hubungi Yuanita untuk mengosongkan jadwalnya di hari itu,"


"Baiklah."


"Sudah waktunya makan siang, aku mau makan dulu, jangan menggangguku."


"Pelit sekali, apa kamu tidak ingin membiarkanku mencicipi masakan Marinka?"


"Kamu belum layak. Kalau mau hari libur saja datang kerumah, kamu bisa mencicipi masakannya sepuasmu."


"Benarkah?"


"Tapi jangan sering-sering."


"Kenapa kamu tidak menyuruh Marinka membuatkan bekal untukku juga? jadi kita bisa makan siang bersama bukan?"


"Enak saja, bilang saja kamu mau makan gratis terus kan? sana pergi, jangan menggangguku,"


Yuda mencebikkan bibirnya kembali dan keluar dari ruangan itu.


"Adek. Abang pulang,"


Marinka tersenyum dan meraih tangan Ezra untuk menciumnya. Marinka kemudian mengambil tas kerja Ezra dan meletakkannya pada tempatnya. Marinka juga membantu Ezra melepaskan Jas dan menggantungnya.


"Capek?"


"Lumayan,"

__ADS_1


"Ya sudah, adek siapin air hangat untuk mandi abang ya?"


"Emm." Ezra mengangguk.


Marinka kemudian menyiapkan air mandi untuk Ezra, setelah Ezra masuk kedalam kamar mandi, Marinka menyiapkan makan malam untuk suaminya.


"Adek sudah makan malam?"


"Belum. Adek nungguin abang soalnya."


"Kok nunggu abang? beruntung hari ini abang pulang cepat, biasanya abang suka pulang telat sampai jam 11 malam."


"Kalau begitu lain kali kalau abang pulang telat harus beritahu adek, kalau pulang cepat kita bisa makan malam bersama."


"Baiklah, begitu juga lebih baik."


"Ayo kita makan malam,"


"Emm."


Ezra dan Marinka kembali menuruni anak tangga bersama sembari bergandengan tangan. Mereka pun makan malam sembari berbincang.


"Dek. Pekan depan mau nggak menemani abang pergi keacara ulang tahun perusahaan salah seorang pengusaha."


"Apa adek tidak akan merepotkan abang?"


"Tentu saja tidak. Abang bosan pergi bersama Yuda terus, sekali-kali pergi dengan wanita cantik boleh kan?"


Marinka terkekeh mendengar ucapan Ezra, kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Apa disana semua kalangan pebisnis akan hadir?"


"Bisa jadi. Biasanya acara seperti itu berujung dengan mencari rekan bisnis baru. Kamu bersiap saja, pasti akan banyak wanita-wanita dari kalangan sosialita yang akan menghampirimu."


"Kok Adek?"


"Karena abang akan mewakili direktur utama EH Group menghadiri acara itu."


"Oh begitu. Aduh...berarti adek tidak boleh malu-maluin abang dong. Adek harus menyiapkan baju bagus nih,"


"Itu tidak diperlukan. Yuda sudah menyiapkan semuanya untuk kita, dan nanti Yuanita yang akan meriasmu."


"Apa memang butuh jasa MUA untuk pergi keacara seperti itu?"


"Ya tidak juga, cuma abang ingin menjadikanmu wanita tercantik disana nanti."


"Aih...abang bisa saja, mau ngeledekin adek ya?"


"Serius."


"Bang. Adek minta maaf ya kalau disana nanti bikin abang malu atau tidak berkenan."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Ya jujur saja, itu baru pertama kalinya bagiku datang ketempat resmi seperti itu. Adek takut saja membuat abang malu."


"Abang yakin kamu bisa. Sekarang penampilanmu sangat berbeda dari dulu, dengan kecantikan yang kamu miliki sekarang, kamu bisa menggiring opini siapapun yang kamu inginkan."


"Satu lagi. Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri disana, jadilah dirimu sendiri jangan menunduk pada siapapun. Apa kamu mengerti?"


"Ya bang."


"Bagus."


Ezra mengusap puncak kepala Marinka sembari tersenyum. Setelah makan malam bersama, Ezra dan Marinka naik keatas untuk beristirahat.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2