
Yugie memutuskan sepulang dari rumah Yure langsung pergi kerumah mertuanya. Jantung Yugie berdegup dengan kencang, saat pria itu tiba di kediaman Sudirjo. Bayang-Bayang terkena tamparan panas, membuat Yugie sejenak mengelus pipinya sembari menelan ludahnya.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Yugie menekan bel rumah itu sebanyak tiga kali. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Yugie.
"Tuan muda. Silahkan masuk tuan," ujar pelayan rumah Sudirjo.
"Apa nona muda ada diatas?" tanya Yugie.
"Nona muda? nona muda belum pernah kesini lagi sejak sebulanan yang lalu." Jawab Pelayan itu.
Yugie tertegun mendengarnya. Yugie mendadak panik, karena Vania sudah pergi dari rumah sejak kemarin sore. Dan kepanikkan itu semakin menjadi, karena Yugie sama sekali tidak tahu tentang istrinya itu. Baik itu pergaulannya, teman-temannya, ataupun kebiasaannya.
"Kemana Nyonya besar dan Tuan besar?" tanya Yugie.
"Ada diatas Tuan muda. Apa mau saya panggilkan?" tanya Pelayan.
"Tolong ya bik," ujar Yugie dengan senyuman.
Pelayan itupun memanggil Susan dan Sudirjo. Selang 5 menit kemudian pasangan suami istri itu turun sembari bergandengan tangan.
"Mampus! sudah tuwir saja masih terlihat romantis. Sedangkan aku sudah berhasil membuat anaknya kabur dari rumah," batin Yugie.
"Yugie? kamu datang sendiri? Vania mana?" tanya Susan.
Glekkkk
Yugie menelan air ludahnya. Pria itu sangat gugup, saat mertuanya itu bertanya tentang istrinya itu.
"Ma, Pa," Yugie mencium tangan Susan dan Sudirjo.
"Kamu sakit? tanganmu dingin sekali. Apa Ac diruangan ini terlalu dingin?" tanya Sudirjo.
"Pa, ma. Yugie mau minta maaf sebelumnya. Kemarin Yugie dan Vania bertengkar, dan Vania pergi dari rumah. Yugie pikir Vania pulang kesini, tapi kata pelayan Vania sudah lama tidak kesini. Yugie jadi khawatir takut terjadi sesuatu pada Vania," ucap Yugie.
Sudirjo dan Susan kompak memegang keningnya. Karena mereka tahu betul perangai putrinya yang sangat suka kabur-kaburan jika sedang ada masalah, atau sedang merajuk pada orang tuanya.
"Kamu tidak usah khawatirkan dia. Nanti dia pasti pulang sendiri," ujar Sudirjo.
__ADS_1
"Eh? kok gitu pa? bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padanya?" tanya Yugie heran.
"Memangnya kalian bertengkar kenapa sih. Hem?" tanya Susan.
"Ada kesalahpahaman diantara kami. Dia mengira aku selingkuh dengah teman kerjaku," ucap Yugie.
Mendengar itu Susan dan Sudirjo jadi terkekeh. Mereka bisa memaklumi kalau rumah tangga anaknya pasti dibumbui prahara kecemburuan. Karena mereka tahu, butuh waktu bagi Vania dan Yugie mengenal satu sama lain.
"Dia Pasti kerumah Anita," ujar Susan.
"Anita? apa itu nama teman akrabnya?" tanya Yugie.
"Tidak hanya teman akrab, tapi teman gilanya juga." Jawab Susan.
"Teman gila? maksudnya teman Vania itu orang gila? apa gimana sih?" Yugie tampak bingung, dan itu membuat Susan dan Sudirjo kembali terkekeh.
"Carilah dia di alun-alun jam 12 malam ini," ujar Susan.
"Alun-Alun? apa yang dia lakukan disana malam-malam begitu?" tanya Yugie.
Berbagai pikiran buruk sudah menjalar di otak Yugie. Pasalnya disana setahunya adalah tempat para muda mudi liar suka nongkrong tidak jelas. Bahkan dia ingat betul, salah satu temannya pernah menangkap pelaku transaksi narkoba disana.
"Daripada berpikiran yang tidak-tidak, lebih baik kamu lihat langsung saja disana," ujar Susan.
"Ya sudah Pa, ma, Yugie pulang dulu. Nanti malam Yugie akan mencari Vania," ujar Yugie.
"Bersabarlah menghadapi Vania. Dia itu sangat manja, dan kekanakkan. Kami percaya kalau kamu bisa membimbing Vania menjadi istri yang baik," ujar Sudirjo.
"Makasih atas kepercayaannya pa. Yugie pamit dulu," ucap Yugie.
Yugie kemudian mencium tangan Sudirjo dan Susan. Setelah itu Yugie memutuskan kembali pulang kerumahnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia akan mencari Vania malam nanti.
"Ren. Ada kerjaan nggak nanti malam?" tanya Yugie.
"Ada apa?" tanya Renti.
"Istriku melihat kita di toko perhiasan itu. Dia mengira kita punya hubungan spesial. Aku mau kamu jelasin sama dia." Jawab Yugie.
"Malas ah gie...ngapain aku ikut-ikut urusan rumah tanggamu. Lagian tinggal kamu berikan saja kalung itu, semua pasti beres," ujar Renti.
"Masalahnya tidak sesederhana itu. Kalau dia melihat wajahmu langsung, dia pasti percaya dengan ucapanmu," ucap Yugie.
"Dimana?" tanya Renti.
__ADS_1
"Alun-Alun jam 12 malam." Jawab Yugie.
"Gila. Ngapain aku tengah malam kesono? ogah ah...besok aja aku jelasin ama binimu. Lagian binimu ngapain disana jan 12 malam? ngondek?" tanya Renti.
"Sialan. Emangnya aku ngawinin bencong." Jawab Yugie.
"Ya sudahlah kalau nggak mau. Biar aku pergi sendiri saja. Besok aja kamu jelasin sama dia," sambung Yugie.
"Nah gitu dong...biar kata aku Polwan, tapi aku ini anak perawan. Ngapain aku keluyuran malam-malam yang tidak bermanfaat. Kalian laki bini pasti ribut bentaran doang, abis itu kuda-kudaan lagi," ujar Renti.
"Sontoloyo loe Ren," ujar Yugie sembari mengakhiri percakapan itu.
"Huffffttt mana aku lupa lagi minta nomor si Anita sana mama, papa tadi. Mau minta sekarang malah malu. Lagipula nanti Vania keburu kabur, kalau aku memberitahu temannya," ujar Yugie lirih.
Yugie yang lelah berpikir akhirnya tertidur pulas siang itu. Hingga tidak sadar dirinya terbangun saat matahari sudah hampir tenggelam. Yugie bergegas mandi dan menunaikan kewajibannya sebagai mahluk Tuhan. Setelah itu Yugie memasak untuk makan malamnya, untuk persiapan dirinya mencari istrinya tengah malam nanti.
Sementara itu ditempat berbeda, Vania tampak melamun sembari menatap jendela kamar Anita sahabatnya.
"Nanti malam jadi kan? taruhannya besar loh," tanya Anita.
"Jadi." Jawab Vania.
"Tapi apa kamu rela dicium Nando? katamu itu ciuman pertamamu loh," ujar Anita.
"Aku nggak akan kalah. Karena aku selalu jadi pemenangnya." Jawab Vania.
"Kalau gitu semangat. Kita bisa dapat duit banyak, kalau motor ninja itu jadi milik kita," ujar Anita.
"Pasti." Jawab Vania.
"Kamu nggak mau ngubungin suami kamu? kalau marahan jangan lama-lama. Apalagi kabur-kaburan begini," tanya Anita.
"Hubungan kami tidak seperti suami istri kayak orang-orang. Dia mana perduli aku ada dimana. Dia mencintai orang lain, sementara aku jadi terjebak oleh perasaanku sendiri. Suami sialanku itu sngat pandai menarik perhatianku, hingga aku salah paham dan jatuh cinta padanya lebih dulu. Tapi ternyata dia sama saja, Biawak juga!" ujar Vania.
"Kamu kan cantik Van, masak kalah saing sih?" tanya Anita.
"Namanya juga cinta Nit. Kan nggak bisa dipaksa. Biar kata yang dia sukai kera, aku bisa apa?" ucap Vania.
Anita terkekeh mendengar ucapan Vania. Anitapun mengajak Vania makan malam, agar Vania berkonsentrasi dengan taruhan yang mereka sepakati.
Yugie menyusuri kegelapan malam dengan mobil kesayangannya. Waktu menunjukkan pukul 23.45 saat dirinya tiba disebuah alun-alun. Sesuai dugaannya, tempat itu ditengah malam dijadikan anak-anak muda menjadi tempat nongkrong, dan tempat berkencan. Namun yang menjadi perhatiannya saat ini adalah, ada segerombolan muda mudi yang mengerumuni sesuatu. Bahkan kerumunan itu berbentuk memanjang, hingga benar-benar menurupi apa yang mereka sedang lihat saat ini.
To be continue....🤗🙏
__ADS_1