
"Eh? abang sudah bangun?" tanya Marinka yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya. Kamu sudah mandinya? abang juga mau mandi, setelah itu kita cari sarapan dan langsung pulang ke rumah."
Marinka menyunggingkan senyumnya, karena mendengar Ezra mau memanggil dirinya sendiri dengan sebutan abang.
"Ya sudah abang mandi saja. Adeknya abang akan bersiap-siap."
Mendengar itu wajah Ezra memerah dan segera masuk kedalam kamar mandi.
"Astaga....Marinka ini kenapa bisa membuat perasaanku jadi meleleh, sebutan itu memang terdengar biasa, tapi sangat manis didengar. Kalau begini caranya aku bisa kena serangan jantung," ucap Ezra dari balik pintu.
Sementara itu Marinka terkekeh melihat tingkah Ezra yang kikuk. Setelah dirinya berpakaian, Marinka kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu.
Ceklekkk
Ezra keluar dengan hanya menggunakan handuk dipinggangnya, otot-otot perutnya terpampang indah membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.
"Apa bang Ezra rajin berolahraga? tubuhnya bagus sekali?" Marinka melongo.
Ezra yang melihat Marinka menatap kearahnya hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Ehemmm...air liurmu keluar tuh," ucap Ezra
Spontan Marinka mengelap mulut dengan punggung tangannya.
"Mana ada air liur? abang ngerjain adek ya?"
Ezra terkekeh melihat Marinka memanyunkan bibirnya. Pria itu segera mengenakan baju yang sudah Marinka siapkan untuknya. Setelah itu mereka bergegas pergi untuk mencari sarapan.
"Mau makan apa?" tanya Ezra saat mereka sudah tiba disalah satu kafe.
"Mau roti sama kopi aja bang,"
Ezra membuat pesanan serupa untuk dirinya dan Marinka, setelah menunggu kurang lebih 15 menit, pesanan merekapun sampai.
"Kita pulang kerumah Mama bang? atau ke Apartemenku?"
"Pulang kerumah pribadiku. Kamu kan belum pernah datang kerumahku ya?"
"Iya. Ya udah adek nurut saja,"
Marinka menyeruput kopi hangat dan menggigit roti ditangannya.
"Bang. Nanti saat jadi istri abang selama 6 bulan, kalau ada yang nggak suka dari segi sifat, masakan, atau apapun itu, abang jangan sungkan buat negur adek ya bang?"
"Kamu tidak perlu melayaniku layaknya suami sungguhan, aku tidak ingin membuatmu terbebani."
"Tidak bisa begitu. Di mata Tuhan pernikahan kita sungguhan, pokoknya adek akan bersikap layaknya sebagai seorang istri sungguhan. Kalau bagi abang yang terserah saja."
"Apa itu termasuk hubungan diatas ranjang?"
"Hu-Hubungan diatas ranjang?"
"Iya. Kalau mau jadi istri sungguhan selama 6 bulan, hal itu juga termasuk bukan?" Ezra sebisa mungkin menahan tawanya saat melihat ekspresi panik diwajah istrinya itu.
"Ya apa boleh buat, nolak juga dosa kan bang?"
Kini giliran Ezra yang terdiam, dia tidak menyangka kalau Marinka akan menyetujui ucapannya itu dengan mudah.
"Abang hanya bercanda. Pokoknya tidak akan ada hal seperti itu diantara kita," ucap Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk.
"Habiskan makananmu, setelah itu kita pulang."
Marinka bergegas menghabiskan roti ditangannya dan juga kopi hangat miliknya. Setelah selesai sarapan, mereka pun pulang di kediaman pribadi milik Ezra.
"Bang. Apa kita tidak salah masuk rumah?" tanya Marinka.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Rumah ini bahkan besarnya dua kali lipat dari rumah mama dan papa. Darimana abang dapat uang membangun rumah sebesar ini? atau jangan-jangan abang korupsi di kantor ya?"
Ctiiiittt
Ezra menyentil dahi Marinka pelan, hingga membuat Marinka mengusap-usap dahinya.
"Jangan berfikiran yang macam-macam. Abang pastikan 100% halal. Abang memang bekerja diperusahaan orang, tapi bukan berarti abang tidak memiliki penghasilan lain. Ya sudah ayo masuk,"
Marinka mengekor dibelakang Ezra, sembari melihat-lihat kearah rumah Ezra yang sangat terlihat luas dan mewah.
"Usaha apa yang abang geluti hingga bisa buat rumah sebesar ini?"
"Jual beli organ tubuh." Jawab Ezra asal.
"A-Apa? apa itu diperbolehkan?"
"Tentu saja, apalagi organ tubuh wanita polos sepertimu. Pasti akan laku keras,"
Marinka mendadak memundurkan langkahnya karena takut.
"Ya Tuhan. Apa aku sudah masuk kedalam jebakan Batman seperti di film-film? aku menikahi pria yang berpura-pura baik, tapi nyatanya dia seorang phsycopat," batin Marinka.
Ctiiitttt
Ezra kembali menyentil dahi Marinka, hingga wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Masih berfikir yang tidak-tidak rupanya. Bagaimana mungkin kamu bisa percaya begitu saja dengan ucapanku? memangnya harus abang membongkar kebusukkanku pada orang yang baru saja kunikahi."
"Ya kali aja benar bang, kita kan belum kenal lama."
"Yang mau beli organ juga pilih-pilih, meski kamu cantik tapi mereka tidak suka wanita polos dan berfikiran sempit."
"Ya ampun bang, terus terang sekali ngomongnya. Sakit nih hati adek bang," Marinka pura-pura mengelus dadanya.
"Ezra, Marinka," Seru Masayu dari ruang tamu.
"Kalian sudah lama nyampe?" tanya Marinka.
"Baru sekitar 10 menit yang lalu." Jawab Baskoro.
"Ini. Kami kesini hanya ingin memberikan ini buat kalian," ujar Masayu.
"Apa ini Ma?" tanya Marinka.
"Tiket bulan madu ke Turki."
"Ma. Kenapa jadi kalian yang menentukan kami ingin kemana?" tanya Ezra kesal.
"Ya kalian mau kemana setelah ke Turki ya terserah, ini kan hadiah dari kita berdua." ujar Masayu.
"Anggap ini bentuk usaha kita karena ingin segera menimang cucu," timpal Baskoro.
"Kalian ini suka begitu. Seharusnya bicarakan hal ini dulu denganku," ucap Ezra.
"Menunggu inisiatifmu lebaran monyet juga nggak akan kesampaian. Kamu itu gila kerja, mana perduli dengan hal begituan. Pokoknya besok kalian harus berangkat ke Turki titik."
"Iya..iya..kami akan ke Turki. Tapi sebelum kesana, bisakah kalian membiarkanku bulan madu dikamarku sendiri dulu saat ini?" tanya Ezra asal.
"Abang...kok gitu ngomong sama orang tua?"
"Iya suamimu ini memang anak kurang ajar, tapi nggak apalah. Yuk Pa pulang, anak kita udah nggak sabar mau bikinin kita cucu," ujar Masayu sembari menarik tangan suaminya.
Sementara itu Ezra hanya bisa menepuk jidatnya saat melihat tingkah orang tuanya yang Absurd.
"Ayo kita naik keatas," ucap Ezra.
Marinka cuma mengikuti apa yang Ezra katakan. Saat pria itu membuka kamar utama, mata Marinka sudah dimanjakan oleh suasana kamar itu.
__ADS_1
"Apa ini kamar kita?"
"Ya. Apa kamu menyukainya? kalau tidak suka bentuk dan letak barang-barangnya, kamu bisa mengaturnya sesuka hatimu,"
"Benarkah?"
"Emm. Tapi cuma satu yang abang pinta,"
"Apa?" tanya Marinka.
"Jangan ganti cat temboknya dengan warna pink."
Marinka terkekeh, karena sejujurnya dia juga tidak menyukai warna yang satu itu.
"Adek tidak akan merubah apapun, mungkin isi lemarinya saja yang akan adek atur."
"Ah ya, abang juga butuh itu. Pasalnya abang suka lupa menaruh barang-barang sepele."
"Abang tenang saja, selama adek jadi istri abang, nggak akan adek biarkan abang mencari barang-barang sepele itu."
"Terima kasih."
"Apa kita benar-benar akan ke Turki?"
"Ya mau bagaimana lagi, jadi kita harus bersiap-siap buat berangkat besok. Kedua orang tua itu akan murka kalau kita tidak menuruti mereka."
"Baiklah, anggap saja abang sedang pergi berlibur."
"Kamu benar, abang memang sudah lama tidak pergi berlibur. Mungkin sudah saatnya untuk refresing."
"Adek senang kita akan pergi,"
"Kenapa?"
"Karena ini kali pertama adek pergi keluar negeri dan naik pesawat."
"Benarkah?"
"Emm." Marinka mengangguk.
"Kalau begitu apa ada negara yang sangat ingin kamu kunjungi?"
"Ada satu."
"Negara mana?"
"Paris."
"Paris? kenapa?"
"Negara itu terkenal dengan fashionnya bukan? sebagai calon disigner, adek harus berkiblat pada negara itu."
"Benar juga. Baiklah, setelah ke Turki kita akan pergi ke Paris."
"Tidak perlu bang. Suatu saat adek pasti ke negara itu, dengan usahaku sendiri."
"Baiklah. Katakan saja kalau ada negara lain yang ingin kamu kunjungi,"
"Kita ke Turki saja,"
"Iya."
"Kalau begitu adek akan siapkan semuanya untuk keberangkatan kita besok. Oh iya adek hampir lupa, pakaianku kan ada di apartement semua bang?"
Sretttt
"Lupakan pakaian di apertement, disini sudah disiapkan semuanya. Sebelah sini pakaianmu, sebelah sana pakaianmu."
Marinka dibuat melongi saat melihat isi lemari yang memiliki 12 pintu itu dipenuhi oleh berbagai jenis pakaian dengan motif dan merk berbeda. Marinka hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat gaya hidup Ezra yang terbilang cukup boros, sementara Ezra hanya bisa menggaruk kepalanya sembari menyengir karena melihat Marinka yang sudah berkacak pinggang sembari menatapnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏