
Ezra memijat keningnya yang sama sekali tidak pening. Di pikirkan seribu kalipun, alasan yang Jihan berikan padanya sama sekali tidak masuk akal. Ezra bukan pria bodoh, meskipun dia bukan pencinta lubang kenikmatan, tapi dirinya bukan orang suci yang tidak memahami hal-hal seperti itu.
"Apa selama ini kamu sudah membodohiku? kalau itu benar, alangkah teganya dirimu. Aku mencintai dan menyayangimu dengan tulus, tapi kalau sampai kamu menghianatiku maka akan kukikis habis rasa cintaku padamu."
Tok
Tok
Tok
Yuda mengetuk pintu dengan membawa tumpukkan berkas ditangannya.
"Masuk!"
Yuda menekan handle pintu, dan melangkah masuk dengan wajah datar. Ezra menghela nafas panjang, sudah lebih dari 3 hari pria itu mendapati sahabatnya berwajah masam. Yuda jadi irit bicara sejak Ezra menggugat cerai Marinka.
"Kamu masih marah padaku?" tanya Ezra.
"Tidak."
"Tapi wajahmu menunjukkan demikian. Aku minta maaf kalau keputusanku membuatmu kecewa."
"Kamu tidak perlu meminta maaf, ini adalah hidupmu. Tidak seorangpun berhak ikut campur. Kami sebagai orang luar hanya bisa mendo'akan semoga kamu bahagia,"
Ezra terdiam, wajah pria itu sedikit pucat karena sejak pagi dirinya belum makan, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Kamu kenapa? sakit? wajahmu pucat sekali,"
"Ah...ya...aku lupa, aku belum sarapan pagi dan makan siang."
"Ckk.. apa kamu mau bunuh diri? ingat, kamu itu punya sakit magh."
"Iya, aku lupa. Tolong suruh OB pesankan makanan untukku."
"Tunggu sebentar,"
Yuda beranjak pergi, saat pria itu ingin menekan handle pintu, Ezra memanggil namanya.
"Yud. Setelah selesai, kembali keruanganku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Baiklah."
Yuda bergegas keluar untuk menyuruh OB membeli makanan untuk Ezra. Setelah selesai, Yuda kembali kedalam ruangan Ezra, untuk berbincang dengan pria itu.
"Ada apa?"
"Semalam aku hampir membuat kesalahan,"
"Kesalahan apa?"
"Semalam aku bercinta dengan Jihan, tapi..."
__ADS_1
"Tapi?"
"Tapi ternyata dia sudah tidak perawan lagi."
Yuda terdiam, pria itu seolah tahu arah perbincangannya dengan Ezra.
"Terus?"
"Aku tidak melakukannya hingga akhir. Entah mengapa seperti ada yang mengganjal dihatiku. Terlebih alasan yang Jihan buat belum bisa dipastikan kebenarannya."
"Jadi apa yang ingin kamu lakukan"
"Aku ingin menyelidiki kebenarannya. Yud, apa kamu mau membantuku?"
"Hah...akhirnya tiba juga saatnya. Jihan, tamatlah riwayatmu kali ini. Sudah lama aku ingin membuka kedokmu, tapi Ezra selalu melarangku karena dia ingin menjalin hubungan denganmu atas dasar kepercayaan. Tapi tidak lagi kali ini, kali ini aku akan membongkar semua kebusukkanmu sampai ke akar-akarnya,"
"Tentu. Dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu, tapi kenapa kamu baru meragukan dia sekarang?"
"Entahlah, kejadian semalam membuat perasaanku jadi gelisah."
"Sebenarnya ada banyak fakta yang belum kamu ketahui tentang Jihan. Tapi aku tidak ingin mengatakannya sekarang padamu, biarkan aku menyelidiki dia dulu hingga akhir. Setelah itu baru aku akan membuat matamu terbuka lebar."
"Sebenarnya apa yang terjadi? jangan membuatku penasaran."
"Tidak akan. Sudah ku katakan, aku akan mengatakannya setelah aku berhasil membongkar semuanya."
"Satu lagi. Apa akhir-akhir ini kamu pernah berhubungan dengan Marinka?" tanya Ezra.
"Sudah 3 hari aku tidak bisa menghubungi ponselnya, saat aku datangi apartementnya dia juga tidak ada disana."
"Apa kamu sudah mendatangi kampusnya?"
"Belum. Apa mungkin dia menginap dirumah sahabatnya? tapi kenapa harus tidak mengaktifkan ponsel?"
"Mungkin dia sedang banyak tugas kuliah. Aku terakhir bertemu dengannya saat hari kalian memutuskan kontrak pernikahan itu."
"Tapi buat apa kamu mencari dia? kalian kan sudah mau bercerai? lalu kapan sidang perceraian kalian dimulai?"
"Aku tidak tahu. Karena berkas itu belum aku masukkan kembali ke pengadilan."
"Bagaimana ceritanya begitu? bukankah kamu berencana ingin menikah dengan Jihan."
"Aku ingin menikah secara sirih dulu dengannya. Tapi dengan kejadian semalam, aku jadi sedikit ragu. Jadi Yud, bisakah kamu mempercepat penyelidikanmu? karena akhir pekan ini rencananya kami akan menikah."
"Jika memang alasan yang dia buat benar, aku tidak masalah menikah dengannya meskipun dia tidak perawan lagi," sambung Ezra.
"Lalu bagaimana kalau itu cuma kebohongan?" tanya Yuda.
"Apa kamu pikir aku ini pria bodoh? mana aku mau dengan wanita yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri seperti itu. Bahkan Marinka 1000 kali lebih baik dari dia, meskipun janda, dia masih bersegel." Ezra keceplosan
"Apa maksudmu?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Eh? a-anu,"
Yuda menaikkan alisnya, menunggu ucapan Ezra selanjutnya.
"Hah...ya Marinka memang masih perawan saat aku pernah bercinta dengannya ketika dia sedang mabuk waktu itu."
Greetttttt
Yuda mengepalkan tangannya, rasa kesalnya bangkit kembali pada sahabatnya itu.
"Aku tidak menyangka kamu sebajingan itu Zra. Kamu mencampakkan dia, setelah kamu merenggut semuanya dari dia. Kebebasannya, haknya, dan juga mahkota yang berharga dari dirinya. Kenapa kamu tega melakukan itu padanya, apa kamu tidak sadar sudah membuatnya terluka selama ini?"
"Ala yang kamu bicarakan? dia tidak keberatan sama sekali. Aku tahu aku salah waktu itu karena sudah memanfaatkan dia saat dirinya sedang mabuk. Tapi aku sudah minta maaf padanya, dan dia bilang tidak mempermasalahkan hal itu."
"Bodoh! memangnya kalau dia marah-marah keperawanannya akan kembali? terlebih posisinya sangat lemah, karena kamu adalah suaminya. Zra, aku harap setelah kebenaran terungkap nanti, kamu tidak akan menyesal."
"Sebaiknya kamu segera menyelidiki hal ini, aku ingin hasil yang cepat. Akhir-Akhir ini aku memang selalu kepikiran tentang Marinka, setelah semuanya selesai, aku ingin menemui dia secepatnya."
"Baiklaklah. Aku pastikan sebelum hari pernikahanmu semuanya akan terungkap. Aku harap siapkan mentalmu, aku tidak mau kamu jadi orang gila setelah tahu yang sebenarnya."
"Ckk...kamu ini, berhentilah meledekku. Ini mana si OB. Perutku jadi mendadak sangat lapar."
Tidak berapa lama kemudian seorang OB datang dengan membawa beberapa jenis makanan untuk Ezra. Pria itupun menyantap makanan itu dengan lahap.
"Yud. Kamu suruh orang gih beliin aku bakso beranak."
"Bakso beranak? bakso macam apa itu?"
"Kamu tidak gaul sekali, bakso beranak saja tidak tahu. Kalau begitu kamu saja yang beli, biar kamu makan juga bersamaku."
"Aduh Zra, aku udah lama nggak makan itu. Aku tidak tahu perutku bisa nerima apa nggak."
"Songong amat. Jadi kamu mau bilang bos mu ini tidak berkelas?"
"Ya nggak gitu juga. Lagian kamu aneh sekali, tumben banget mau makan yang begituan?"
"Pengen aja. Aku pernah makan itu sama Marinka di jalan YY. Jadi kamu belikan bakso itu disana."
"Hah...baiklah. Kalau bukan karena kamu seorang pria, aku nyaris mengira kamu sedang ngidam."
"Ngidam?"
"Ya. Semacam keinginan ibu hamil yang harus dituruti dan tidak bisa di tunda-tunda."
"Sembarangan!" ujar Ezra.
"Ya udah, aku berangkat beli. Kamu tunggu saja, tapi mungkin aku kembali sekitar 2 jam lagi, aku mau memberitahu orang-orang kita untuk menyelidiki Jihan."
"Baiklah."
Yuda bergegas pergi dari ruangan Ezra. Pria itu sangat senang, karena akhirnya dia memiliki kesempatan buat menyelidiki kebusukkan Jihan.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏