Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.90. Bertemu Cinta Pertama


__ADS_3

Shitttttttt


Mobil Yuda berhenti mendadak ketika dirinya tidak sengaja hampir menabrak seorang gadis yang menggunakan seragam putih hitam. Gadis itu terlihat syok dan mengumpat.


Brakkkk


"Keluar!" gadis itu memukul depan mobil dengan telapak tangannya.


Yuda mengerutkan dahinya karena merasa mengenali wajah gadis itu. Senyumnya mengembang, saat dirinya mulai mengingat siapa pemilik wajah manis itu.


Ceklek


Yuda keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu.


"Kamu bisa nyetir nggak sih? kamu hampir membunuhku tahu?"


"Ternyata kamu masih galak seperti dulu ya? tapi kamu tambah terlihat cantik dengan ekspresi galakmu itu."


"Eh? kamu mengenalku?"


"Tentu saja. Gendis kan?"


"I-Iya. Kamu siapa?"


"Aku jauh berbeda ya, sampai kamu tidak mengenaliku? aku Prayuda."


"Prayuda? Prayuda bagaskara?"


"Ya. Kamu ingat?"


"Prayuda yang dulu gendut dekil itu? temanku yang jatuh dari pohon jambu klutuk?"


"Ckk...kenapa yang kamu ingat hanya jeleknya saja?"


Gendis terkekeh melihat wajah protes Yuda. Yuda memutuskan mengajak Gendis makan di sebuah kafe.


"Sekarang kamu sudah sukses ya Yud?"


"Tidak juga. Tapi yah... kehidupanku memang jauh lebih baik dari 17 tahun yang lalu. Kamu kemana saja selama ini? kenapa pindah nggak bilang-bilang?"


"Maaf Yud. Orang tuaku memutuskan ingin merantau ke kota, jadi aku mau tidak mau harus ikut bukan?"


"Ya. Aku juga memutuskan ingin merantau setelah kedua orang tuaku meninggal."


"Orang tuamu sudah meninggal? kenapa nasibmu sama denganku,"


"Orang tuamu juga sudah meninggal?"


"Ya. Sudah cukup lama sih,"


"Kamu kenapa berpakaian seperti ini? cari kerja?"


"Ya. Aku baru saja risign dari pekerjaanku,".


"Kenapa?"


"Nggak cocok sama bosnya. Hidung belang,"


"Wah...baguslah, itu keputusan yang benar. Posisi apa saat kamu bekerja disana?"


"Serketaris."


"Serketaris? kamu hebat sekali, jadi kamu sempat kuliah juga?"


"Ya harus dong. Pendidikkan nomor satu, kalau tidak begitu, bagaimana mau jadi orang sukses?"


"Kamu belum menikah?" tanya Yuda.


"Belum. Kamu?"


"Belum juga. Kenapa? usiamu sudah 29 tahun, biasanya wanita sudah gelisah diumur segitu belum menikah."


"Aku ingin jadi orang sukses dulu, tapi sepertinya sangat sulit mencari pekerjaan saat ini."

__ADS_1


"Mana CV mu? aku akan mengajukannya di kantor tempatku bekerja."


"Sungguh? tapi usahakan posisinya jangan melenceng dari keahlianku ya Yud?"


"Kamu tenang saja. Nanti akan aku kabari kalau diterima,"


"Baiklah. Makasih ya Yud?"


"Emm." Yuda mengangguk.


"Akhir-Akhir ini aku sangat hoki. Kaya mendadak, dan sekarang bertemu dengan cinta pertamaku. Apa memang sudah saatnya aku melepas masa lajangku?" batin Yuda.


"Sudah selesai?"


"Ya."


"Akan aku antar pulang,"


"Tapi kamu jangan menghinaku ya Yud,"


"Menghina?"


"Ya. Soalnya aku masih tinggal di rumah kontrakkan."


"Apaan si dis, apa waktu dulu aku suka menghina orang? nggak kan?"


"Iya. soalnya dulu kamu yang sering di hina," Gendis lagi-lagi terkekeh, sementara Yuda mencebikkan bibirnya.


Yuda memutuskan mengantar Gendis dirumah kontrakkan gadis itu. Kontrakkan yang berjumlah 10 pintu dan dibangun dengan dua lantai. Yuda membaca plang yang terletak didepan pagar kontrakkan. 'Kontrakkan khusus Putri'. Membaca tulisan itu Yuda merasa cukup lega, karena itu berarti Gendis tidak tinggal dirumah kontrakkan yang bebas membawa lawan jenis, setidaknya itulah yang Yuda pikirkan.


*****


"Zra. Aku butuh bantuanmu nih," ujar Yuda.


"Bantuan apa?"


"Aku sudah bertemu dengan gadis pujaanku,"


"Gadis pujaan? yang mana?"


"Oh, yang katamu pindah nggak bilang-bilang itu?"


"Iya. Aku merasa ini jalan dari Tuhan, aku merasa keberuntunganku akhir-akhir ini sangat bagus. Aku rasa uang darimu itu memang diperuntukkan untuk jodohku."


"Lalu kamu ingin aku bagaimana?"


Yuda menyodorkan sebuah map coklat yang berisi cv gendis didalamnya.


"Gadis pujaanku itu baru saja risign dari tempat kerjanya sebagai serketaris. Kemarin aku bertemu dia dan hampir menabraknya, saat itu dia sedang pergi mencari pekerjaan."


"Jadi kamu ingin dia bekerja disini?"


"Ya. Sebagai serketaris."


"Tapi aku sudah memiliki serketaris."


"Pecat saja."


Ezra menatap mata Yuda. Menurutnya pria didepannya itu terlalu menggebu-gebu saat menginginkan sesuatu.


"Maaf Yud. Aku tidak bisa memecat Regia, aku merasa cocok dan suka dengan cara kerja gadis itu. Jangan karena kita berteman, kita jadi memutus rejeki orang. Kasihan dia,"


"Jadi bagaimana?"


"Kamu kan bisa mempekerjakan gadis itu diposisi lain. Jadi asisten pribadimu misalnya, bukankah itu bisa membuatmu lebih dekat dengan dia?"


"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran kesitu ya? makasih Zra, itu ide yang bagus." Yuda tersenyum senang.


"Ternyata dia sama sekali tidak memiliki perasaan untukku. Bahkan tanpa ragu dan pertimbangan, dia ingin menyingkirkan aku dari perusahaan ini. Dan ternyata dia sudah memiliki gadis yang dia sukai,"


Regia yang hendak menyerahkan berkas, tidak sengaja mendengar semua percakapan antara Yuda dan Ezra. Meski merasa sakit, Regia memutuskan untuk mengubur perasaannya dalam-dalam terhadap Yuda.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Ya, masuk!"


Regia berjalan sembari menunduk, gadis itu sama sekali tidak perduli meski Yuda menatapnya dari samping. Regia memasang wajah sedatar mungkin, dirinya sama sekali tidak memperlihatkan wajah takut seperti yang biasa dia perlihatkan.


"Tuan. Ini berkas yang harus anda tanda tangani, dan ini tadi ada perwakilan dari Buana Group, mengundang tuan di acara resepsi pernikahan putrinya pekan depan," ujar Regia.


"Baik. Terima kasih,"


"Permisi tuan,"


"Emm."


Regia berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan Yuda ataupun menyapa pria itu. Ezra melirik kearah Yuda yang wajahnya tampak tidak senang itu.


"Ada apa dengan kalian? apa kalian sedang bertengkar?" tanya Ezra.


"Aku tidak perduli dia mau bagaimana. Culun, tapi sok cantik. Dia kira siapa dirinya?"


"Jangan begitu. Terkadang orang yang kita benci, bisa jadi jodoh untuk kita."


"Berjodoh dengan dia? yang benar saja. Aku sudah punya Gendis, dia bukan tipeku."


Tes


Air mata Regia lagi-lagi menetes saat mendengar perkataan Yuda dari balik pintu.


*****


Yuda menatap penampilan Gendis yang terlihat cantik dan seksi. Gadis yang terbiasa bekerja sebagai serketaris itu, belum tahu bahwa peraturan di perusahaan Ezra sangat berbeda dengan perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya.


"Emm. Gendis, apa kamu tidak memiliki pakaian lain selain ini?"


"Kenapa? kurang seksi ya?"


"Eh? bu-bukan begitu. Tapi peraturan diperusahaan tidak memperbolehkan karyawan perempuan mengenakan rok diatas lutut, dan baju terbuka."


"Jadi aku harus ganti? apa bos mu itu seorang yang berpikiran kolot?"


"Aturan tetaplah aturan. Sebaiknya kita turuti saja, karena itu bukan perusahaan kita."


"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan menggantinya."


Setelah menunggu hampir 10 menit, Gendis keluar dengan menggunakan pakaian yang sedikit lebih sopan.


"Jadi aku bekerja sebagai asistenmu untuk sementara waktu?"


"Ya. Sampai ada posisi yang kosong, kamu bisa kembali bekerja sebagai serketaris."


"Baiklah. Aku akan menunjukkan kinerjaku, biar bos mu itu tahu, aku layak menjadi serketarisnya."


"Aku suka semangatmu itu. Gendis, apa kamu sudah punya pacar?"


"Belum. Aku baru putus beberapa bulan yang lalu. Kamu?"


"Belum. Aku bahkan menjomblo sudah 8 tahun."


"Wah...jomblo akut itu namanya," Gendis terkekeh.


Yuda tersenyum mendengar ejekkan dari Gendis. Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, merekapun tiba di kantor.


"Semoga kamu betah ya bekerja disini? kalau ada yang tidak tahu, kamu bisa bertanya pada Yuda atau serketarisku Regia."


"Gila, dia tampan banget. Apa dia sudah memiliki istri? pria ini sangat sempurna, sudah tampan, kaya lagi." batin Gendis.


"Eh? apa aku tidak salah lihat? pancaran mata itu, pancaran mata itu sama persis saat pertama kali Jihan melihatku. Apa itu hanya perasaanku saja?" batin Ezra.


"Ehemmm...jadi Gendis, selamat bergabung di EH Group," ujar Ezra sembari mengulurkan tangan.


"Eh? terima kasih tuan," Gendis menjabat tangan Ezra dengan erat hingga Ezra mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Yuda tersenyum saat melihat wajah Gendis yang tersenyum cantik kearah Ezra. Sementara Regia menatap Yuda yang wajahnya memancarkan aura bahagia. Regia tidak bisa memungkiri, hatinya masih merasakan berdenyut sakit, saat melihat pria yang dicintainya sudah memilikki tambatan hati.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2