Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.219. Belum Terlambat


__ADS_3

"Tidak terasa keasyikan berbincang, membuat kita jadi lupa waktu pulang," ujar Rakha.


"Pulang kemana? ini rumah kalian juga," tanya Ezra.


"Iya. Menginaplah, besok kalian bisa bekerja dari sini kan?" ucap Marinka.


Yure melirik ke arah Ezka yang tampak menggenggam satu tangannya dengan erat.


"Ya sudah Ka. Kita menginap saja malam ini," ujar Yure.


"Baiklah." Jawab Rakha.


Rakha dan Yure naik keatas untuk pergi beristirahat. Kamar Rakha dan Ezka memang besebelahan. Hingga saat Yure akan masuk, tidak sengaja matanya melihat ke arah Ezka yang akan memasuki kamarnya juga.


Meski Ezka tahu saat ini Yure tengah melihat kearahnya, tapi gadis itu berpura-pura tidak tahu dan kemudian menutup pintu setelah dirinya masuk kedalam kamar.


"Huffffttt...Yure brengsek. Kenapa bocah tengil itu selalu bisa merusak suasana hatiku," gerutu Ezka.


*****


Waktu menunjukkan pukul 1 malam, saat Yure dengan berani menyelinap ke kamar Ezka. Pria itu selalu mengagumi kecantikkan gadis yang pernah dia tiduri itu, terlebih saat ini Ezka hanya mengenakan gaun malam tipis dengan tali spagetti.


"Apa artinya kamu mengenakan cincin pemberianku ini? padahal kamu memiliki puluhan atau bahkan ratusan koleksi cincin berlian. Tapi kamu mengenakan pemberian dariku, namun kamu menolak orang yang memberikannya. Apa ini tidak terlalu kejam?" batin Yure.


Ezka yang memiliki indra penciuman yang sangat peka, merasa terganggu dengan aroma yang ada disekitarnya. Gadis itu tiba-tiba membuka matanya, dan melihat sosok Yure berada dihadapannya.


"Yure. Apa-Apaan kamu? bukankah kamu sudah berjanji tidak akan menggangguku lagi? bukan kah kamu sudah memutuskan akan menikah? lalu kenapa kamu memasuki kamar gadis lain?" ucap Ezka setengah berbisik.


"Aku hanya ingin memastikankan kamu baik-baik saja, saat mendengar berita pernikahanku. Ezka, apa berita ini benar-benar tidak mempengaruhimu sedikitpun?" tanya Yure.


"Tidak." Jawab Ezka sembari memalingkan wajah.


Yure meraih dagu Ezka, agar gadis itu menjawab sembari menatap matanya.


"Masih belum terlambat kalau kamu ingin berubah pikiran," ujar Yure.


"Yure kamu bajingan. Apa kamu ingin mempermainkan perasan semua wanita?" ucap Ezka.


"Darimana kamu punya pikiran kalau aku ini seorang bajingan? sementara kamulah wanita pertama yang pernah aku sentuh. Dan itupun kamulah yang menolakku untuk bertanggung jawab. Jadi aku bajingan darimananya?" tanya Yure.


"Pergilah. Bertamu di rumah orang juga harus punya aturan. Jangan sembarangan memasuki kamar orang, terlebih itu kamar seorang gadis," ujar Ezka sembari bersedekap di dadanya.


"Ternyata aku masih saja percaya diri. Aku pikir kamu akan memintaku membatalkan pertunaganku, tapi ternyata kamu sama sekali tidak terpengaruh. Sekarang aku sudah lega, aku bisa pergi dengan tenang meskipun itu harus bersama wanita lain. Ezka, semoga kamu bahagia dengan keputusanmu," ucap Yure.


Ezka terdiam. Tanpa Yure tahu, hatinya berkecamuk saat ini.

__ADS_1


"Dan saat nanti aku sudah bertunangan, aku harap kita sama-sama tidak menyesali apapun keputusan yang kita ambil. Jangan pernah menyalahkan aku jika suatu saat kamu menyesalinya, karena aku sudah berulang kali meraihmu, namun berulang kali pula kamu menepisku."


"Aku sadar aku ini tidak setampan dan sekaya seperti yang kamu inginkan. Harusnya aku sadar diri, hubungan satu malam waktu itu bukan hal yang berarti bagi gadis yang hidup di kota besar seperti ini. Hanya aku saja yang naif," sambung Yure.


"Ezka. Sebelum aku benar-benar melepaskanmu dan bersama dengan wanita lain, bolehkah aku meminta satu permintaan?" tanya Yure.


"Ap-Apa?"


"Bolehkah aku menciummu?" tanya Yure.


Ezka dan Yure kembali saling bertatapan. Ezka mengalami dilema yang berat saat ini. Namun sedetik kemudian, gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak mengerti kenapa harus menyetujui permintaan itu, yang jelas-jelas bibirnya selalu menolak kehadiran pria itu di hatinya.


Cup


Yure mencium bibir Ezka dan perlahan melu**tnya dengan lembut. Yure menuntun kedua tangan Ezka, agar mengalungkannya dileher pria itu. Entah apa pula yang ada di pikiran Ezka saat ini, gadis itu membalas ciuman Yure yang membuat pria itu bertanya-tanya dalam hatinya.


"Aku bisa merasakan ciumannya benar-benar penuh perasaan. Tapi kenapa kamu menolakku? aku harus memastikannya lebih jauh lagi," batin Yure.


Yure semakin mengeksplor semua isi dalam mulut gadis itu. Ciuman yang semula hanya menuntun, kini sudah berubah saling menuntut. Yure dengan lancang sudah bermain di ceruk leher gadis itu, dengan tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Yure menurunkan tali gaun yang Ezka kenakan tanpa penolakkan dari Ezka. Entah punya keahlian darimana, pria itu sudah berhasil melepaskan pengait penyangga dada milik Ezka.


"Ahhh...Yure....,"


Ezka tidak kuasa menahan suaranya saat Yure dengan lihat bermain di puncak dadanya. Sementara tangan Yure sudah sibuk di bawah sana, untuk melepaskan kain segitiga yang menutupi surga dunia itu.


Srakkkk


Srakkk


Srakkkk


Dengan kecepatan kilat, Yure berhasil menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuhnya, dan juga yang ada pada Ezka. Mata gadis itu seolah tersihir saat melihat bentuk tubuh pria di hadapannya itu. Yure dengan segala pikiran kotornya sangat berharap, setelah penyatuan mereka nanti akan membuat gadis yang tengah terpesona padanya itu akan berubah pikiran.


"Sentulah,"


Dan anehnya Ezka seperti tersihir dengan ucapan Yure. Tangannya meraba otot-otot perut Yure yang menonjol.


"Kamu menyukainya?" tanya Yure.


Ezka tersadar dengan apa yang dia lakukan, terlebih saat melihat benda besar dan tumpul sudah mengacung di dekat tangannya. Yure melihat Ezka akan menutupi dirinya, namun secepat kilat Yure membuat gadis itu bergairah kembali.


"Sudah terlambat," bisik Yure dengan suara sensualnya.


"Ahhh....emmmppttthh"

__ADS_1


Ezka menutup mulutnya, menahan suara merdunya saat Yure tiba-tiba membenamkan wajahnya di lembah lembab miliknya.


"Yur-Yure...hen-hentikan,"


Namun perkataan dan tubuh Ezka sama sekali tidak sejalan. Bahkan sejujurnya gadis itu menginginkan lebih dan lebih. Yure sama sekali tidak perduli apa yang di pikirkan Ezka tentang dirinya saat ini. Dia benar-benar menginginkan Ezka malam ini. Yure kemudian memposisikan diri diantara kedua kaki gadis itu, dan perlahan membenamkan miliknya.


"Emmpppttthhh....ahhh...."


Ezka lagi-lagi bersuara merdu, saat kejantanan milik Yure menyeruak kedalam milik Ezka sepenuhnya. Yure perlahan memompa miliknya, hingga menimbulkan suara derit ranjang yang berirama. Sebenarnya kamar itu kedap suara, tapi Yure tidak ingin mengambil resiko ada orang lain yang mengetahui percintaan panas mereka. Yure berkali-kali meredam suara merdu Ezka, dengan ciuman yang memabukkan.


"Yur-Yuree...ahhh..." Ezka meneriakkan nama Yure, saat gelombang dahsyat miliknya datang menghampirinya.


Yure semakin mempercepat laju gerakkannya, karena dirinya juga akan menuju puncak yang sama.


"Ahhhh...Ezkaaa..." Yure semakin membenamkan miliknya jauh kedalam sana, saat dirinya mengerang panjang dan mendapatkan pelepasannya.


Hosh


Hosh


Hosh


Nafas keduanya saling memburu satu sama lain.


Cup


Cup


Cup


Yure mencium tiap inci wajah Ezka tanpa ada yang terlewatkan.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Menikahlah denganku Ezka," ujar Yure setelah menarik kepemilikkannya.


Ezka menatap mata Yure dengan lekat. Namun di luar dugaan Yure, Ezka malah menggelengkan kepalanya. Yure mengepalkan tangannya dengan erat, sejatinya seorang wanita yang akan merasa tidak punya harga diri setelah di nodai, tapi kali ini berbeda. Yure benar-benar merasa di manfaatkan, dan harga dirinya terinjak-injak.


Yure bergegas mengenakan pakaiannya, dan menoleh sejenak sebelum benar-benar pergi dari kamar itu.


"Aku harap kamu tidak akan menyesalinya. Karena setelah aku bertunangan dengan wanita lain, meskipun kamu bersujud padaku memintaku untuk kembali padamu, aku tidak akan menerimamu."


"Ezka. Kamu adalah gadis yang berhasil mematahkan hatiku secara sempurna. Terima kasih sudah memberikan aku luka yang begitu dalam. Kamu seorang gadis kejam yang pernah aku kenal," sambung Yure.


Yure kemudian membuka pintu dan menutupnya dengan sangat kasar.


Braaaakkkk

__ADS_1


Jatuh sudah air mata Ezka. Baru beberapa menit yang lalu mereka sama-sama menikmati surga dunia, namun beberapa detik kemudian sudah berubah menjadi prahara. Tidak ada yang tahu kenapa Ezka begitu keras kepala menolak Yure. Hanya dirinya dan segala pikiran konyolnya yang tahu kenapa semua itu dia lakukan.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2